
Malam ini langit gelap tanpa gemerlap bintang juga cahaya lembut rembulan. Semua itu karna cuaca yang memang sedang mendung. Se-mendung perasaan Loly sekarang.
Loly, dia sedang berdiri dibalkon kamarnya memikirkan apa yang selalu saja membuatnya merana.
Ya, siapa lagi kalau bukan Fadly. Fadly memang benar benar berhasil membuat Loly jatuh kedalam perasaan yang hampir saja membuat Loly mengakhiri hidupnya.
Loly menghela napas. Jika saja dirinya tidak tertarik pada Fadly mungkin sampai sekarang Loly masih berusaha menarik perhatian Faza. Mungkin juga Loly masih berperilaku tidak baik dan sedang menyusun rencana dengan Sinta untuk memisahkan Faza dan Zahra.
Tapi berkat perasaan-nya pada Fadly, Loly menyadari semua kesalahan-nya. Loly menyadari bahwa memisahkan Faza dan Zahra yang jelas adalah suami istri adalah perbuatan yang sangat tidak baik. Nuraninya sebagai wanita tergugah karna Fadly yang membatalkan perbuatan-nya ditengah hutan padanya dulu.
Loly memejamkan kedua matanya merasakan semilir angin malam yang menerpa wajah, kulit, juga seluruh tubuhnya. Angin itu terasa sejuk namun lama kelamaan terasa dingin.
Tiba tiba bayangan Fadly yang tersenyum padanya muncul. Hal itu membuat sudut bibir Loly perlahan tertarik kebelakang membentuk sebuah senyuman. Bahkan hanya bayangan-nya saja mampu membuat tubuh Loly yang sedang kedinginan terasa menghangat. Pengaruh Fadly benar benar begitu besar untuk Loly.
Pelan pelan Loly membuka kedua matanya. Saat itu juga rasa dingin kembali menerpa tubuhnya. Tentu saja setelah bayangan Fadly menghilang.
Loly tertawa pelan. Loly mengakui dirinya bodoh karna bisa dengan mudah diperbudak oleh perasaan-nya sendiri pada Fadly. Pada akhirnya sekarang dirinya merasa hampa. Fadly tidak lagi perduli padanya. Fadly bahkan membencinya sekarang.
“Kenapa aku begitu bodoh.. Kenapa aku bahkan tidak pernah sedikitpun menyadari sandiwara yang Fadly perankan untuk menghancurkan aku..” Gumam Loly tersenyum kecut.
Loly menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya perlahan. Dadanya selalu terasa sesak jika mengingat masa masa kebersamaan-nya dengan Fadly yang begitu manis. Masa yang sebenarnya hanya Loly yang merasakan indah. Sementara Fadly, mungkin saja pria itu sebenarnya sangat muak saat bersamanya. Bisa juga Fadly mual mual dibelakangnya setiap pria itu izin untuk ke toilet saat sedang makan bersama dengan-nya.
“Fadly.. Kamu benar benar begitu apik memerankan sandiwara cinta itu..”
Loly menelan ludahnya. Fadly hampir saja menghancurkan segalanya. Salah satunya adalah perusahaan yang Loly pimpin juga hubungan baik Loly dengan Mona yang hampir saja renggang karna Fadly yang sepertinya memang sengaja agar tidak ada satu orang pun yang perduli pada Loly.
__ADS_1
Tapi semua itu tidak mampu menghapus rasa cinta dihati Loly. Fadly sudah sangat kejam dan jahat. Tapi Loly tidak bisa membuang rasa cintanya. Bahkan untuk sedikit mengikisnya saja Loly tidak mampu. Rasa indah itu terus saja bersemayam dihati Loly begitu subur dan semakin terasa indah.
“Tuhan... Kenapa engkau jadikan laki laki seperti Fadly sebagai perantara untuk menyadarkan hamba.. Kenapa tidak engkau kirim saja laki laki lain? Apa ini adalah karma untuk hamba? Ini balasan atas apa yang sudah hamba perbuat pada Zahra selama ini?” Batin Loly menengadahkan kepalanya menatap langit mendung.
Loly tidak munafik. Perasaan-nya sekarang dengan yang dulu sangat berbeda. Mencintai Faza membuat hati Loly setiap hari bahkan setiap detik dipenuhi oleh rasa benci juga dengki. Sedangkan mencintai Fadly yang Loly pikirkan hanya indahnya hari esok saat dirinya bertemu dengan Fadly. Tapi ke indahan itu juga membutakan hati Loly dari segala kenyataan yang ada bahwa Fadly tidak pernah sedikitpun mencintainya.
Loly sadar dirinya bukan wanita sempurna. Loly juga sadar diluar sana masih banyak wanita cantik dengan segala apa yang dimilikinya. Tapi Loly juga merasa dirinya berhak bahagia seperti wanita diluar sana. Mungkin seperti Zahra yang dicintai oleh pria yang juga dia cintai.
“Zahra.. Aku yakin kamu sangat bahagia karna dicintai oleh laki laki yang juga sangat kamu cintai. Tidak seperti aku yang lagi lagi harus menelan pil pahit. Setiap laki laki yang aku cintai tidak pernah mau membalasnya. Mulai dari mas Faza bahkan sampai ke Fadly yang hanya berpura pura bersikap baik untuk menghancurkan aku..”
Loly menggeleng dengan senyuman mirisnya. Loly berpikir bahwa Zahra adalah wanita paling bahagia tanpa tau apa yang Zahra rasakan dalam menjalani hubungan-nya dengan Faza selama ini.
Deringan ponsel yang berada digenggaman-nya membuat lamunan Loly buyar seketika. Loly menatap layar menyala ponsel berkesing gold miliknya. Loly tersenyum. Daddy nya menelepon. Tanpa berpikir apapun Loly pun mengangkat telepon dari sang Daddy.
Meskipun kedua orang tuanya sangat sibuk dengan bisnisnya diluar negeri tapi Loly tidak pernah kehilangan perhatian dari keduanya. Meskipun perhatian itu tercurah hanya lewat sambungan telepon tapi Loly tidak pernah protes. Setidaknya ditengah kesibukan bisnisnya mereka berdua masih mempunyai waktu untuk menelepon dan memperhatikan-nya dari jauh.
---------
Ditempat lain Fadly pun merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan Loly. Entah kenapa malam ini tiba tiba Fadly terus teringat pada Loly. Sebenarnya bukan baru kali ini saja Fadly mengingat Loly. Tapi jauh sebelum dirinya benar benar mengutarakan niatnya mendekati Loly pada Loly, Fadly sering teringat akan sosok cantik tersebut.
Loly memang sangat manja dan pemaksa. Tapi dibalik sikapnya itu Loly adalah sosok yang baik yang tidak mementingkan dirinya sendiri.
Fadly berdecak kemudian mengusap kasar wajah tampan-nya. Fadly kemudian mendongak menatap langit tanpa bintang.
“Jangan bodoh Fadly.. Kamu harus selalu ingat bahwa Loly bukan perempuan baik baik. Dia adalah perempuan egois yang selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau. Buktinya Loly hampir saja mengorbankan perusahaan-nya karna demi bisa bersamaku.” Batin Fadly terus saja meyakinkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Fadly kemudian menghela napas dan kembali menatap kedepan. Perlahan Fadly memutar tubuhnya namun dirinya dikejutkan oleh Sinta yang sudah berdiri di ambang pintu penghubung antara kamar dan balkon.
“Mamah...” Gumam Fadly.
Sinta tersenyum menatap putra bungsunya kemudian perlahan melangkah mendekat. Sinta menatap lembut pada Fadly yang berdiri menjulang didepan-nya. Dengan lembut Sinta membelai puncak kepala Fadly.
“Kenapa belum tidur hem?” Tanya Sinta lembut.
“Eemm.. Aku belum ngantuk mah.. Mamah sendiri kenapa sudah malam belum tidur?” Jawab Fadly kemudian balik bertanya pada mamahnya itu.
“Mamah masih nungguin papah kamu. Katanya papah masih dijalan dan belum sempat makan malam. Makan-nya mamah tungguin sampai sekarang.” Jawab Sinta pelan dan penuh dengan perhatian menatap Fadly.
Fadly yang melihat tatapan lembut sang mamah sedikit bingung. Tidak biasanya mamahnya begitu lembut bersikap padanya setelah apa yang Loly katakan yang berhasil menghancurkan kepercayaan Sinta padanya.
“Ah ya nak.. Boleh mamah tanya sesuatu?” Tanya Sinta dengan senyuman dibibirnya.
“Tanya apa mah?” Bingung Fadly.
“Bagaimana kedekatan kamu dengan Loly sekarang?”
Pertanyaan Sinta berhasil mengejutkan Fadly. Bagaimana mungkin mamahnya tiba tiba menanyakan perihal kedekatan-nya dengan Loly sementara saat tau Loly dan Fadly dekat saja mamahnya marah dan tidak setuju.
“Entah kenapa mamah tiba tiba sadar bahwa mungkin Loly tidak Tuhan takdirkan untuk bersama kakak kamu.”
Fadly benar benar bungkam. Fadly tidak tau harus menjelaskan apa pada mamahnya sedang dirinya saja tidak serius mendekati Loly.
__ADS_1