
Sejak saat itu Fadly dan Loly tidak lagi bertemu. Namun apa yang Fadly lakukan dengan memeluk Loly yang menangis begitu membekas dihati keduanya.
Hal itu juga semakin membuat Loly salah memahami maksud Fadly. Loly menganggap Fadly sangat membencinya sehingga sebisa mungkin Loly menghindari sesuatu yang berhubungan dengan Fadly. Loly bahkan selalu waspada dimanapun dan kemanapun dirinya pergi dan meminta untuk Mona memastikan tidak ada tanda tanda Fadly ditempat dirinya berada.
Itu juga dirasakan oleh Sinta. Wanita itu tidak bisa lagi menghubungi Loly karena Loly yang memblokir nomornya.
Ya, Loly memang sudah tidak ingin lagi ada hubungan apapun dengan Fadly maupun dengan keluarganya kecuali dengan Zahra.
“Ly...”
Fadly sedang menyantap sandwichnya saat menyauti panggilan sang mamah.
“Ya mah.. Kenapa?” Tanya Fadly pelan.
Sinta menghela napas. Sudah hampir sebulan dirinya tidak bisa lagi menghubungi Loly. Bahkan Sinta mencoba datang pun asisten rumah tangganya selalu mengatakan Loly sedang tidak ada dirumah.
“Boleh mamah bicara sama kamu tentang Loly?”
Fadly menelan sandwich yang sudah selesai dia kunyah. Fadly menghela napas kemudian mengangguk pelan. Tidak biasanya mamahnya meminta izin lebih dulu untuk membicarakan tentang Loly.
“Hampir sebulan ini mamah enggak bisa hubungi Loly. Mamah khawatir sama dia Ly... Apa lagi setiap mamah dateng asisten rumah tangganya juga bilang Loly nggak ada.”
Fadly tampak berpikir sebentar. Sejak pagi itu Loly memang tidak pernah lagi Fadly lihat.
“Ya mungkin dia memang sedang sibuk mah. Mamah kan tau sendiri gimana sibuknya seorang direktur. Ya nggak beda lah sama kak Faza yang selalu sibuk setiap hari.” Kata Fadly berusaha untuk tenang.
Sinta menghela napas. Sinta tau menjadi pemimpin diperusahaan memang sangat sibuk. Tapi yang membuat Sinta bertanya tanya adalah nomor Loly yang sudah tidak bisa Sinta hubungi. Sinta tidak bodoh. Sinta tau bahwa Loly memblokir nomornya.
__ADS_1
“Fadly.. Apa kamu membuat kesalahan?”
Pertanyaan itu seperti sebuah pernyataan bahwa Fadly memang sudah sangat menyakiti Loly dengan merendahkan-nya. Fadly juga sangat meyakini apa yang dikatakan-nya juga lebih menyakitkan dari apa yang sudah Fadly lakukan sebelumnya.
“Bukankah laki laki itu memang selalu salah dimata perempuan mah?” Tanya balik Fadly dengan senyuman santai yang menghiasi bibirnya.
Sinta berdecak. Pertanyaan Fadly membuatnya malas untuk kembali melanjutkan apa yang ingin dia katakan.
Tidak ingin mamahnya semakin panjang membahas tentang Loly, Fadly pun buru buru menyelesaikan sarapan-nya kemudian pamit untuk langsung berangkat bekerja.
Namun Fadly tidak langsung menuju tempat kerjanya. Fadly lebih dulu mampir ke rumah kakaknya untuk bertemu dengan keponakan kesayangan-nya, Fahri.
“Kakak mana Ra?” Tanya Fadly saat sedang menggendong Fahri yang memang mulai bisa merespon orang orang disekitarnya yang sedang mengajaknya berbicara.
“Mas Faza sudah berangkat Ly.. Ada meeting pagi katanya.” Senyum Zahra menjawab.
Fadly mengangguk pelan. Fadly masih mengingat apa yang mamahnya katakan tentang Loly yang tidak ada kabar sebulan ini.
Zahra mengeryit mendengar pertanyaan Fadly tentang Loly. Zahra pikir juga hubungan Fadly dan Loly sudah selesai mengingat Loly yang tidak pernah mau ada nama Fadly setiap mampir kerumahnya.
“Eemm.. Kemarin juga Loly kesini kok Ly.. Dia bawain banyak mainan buat Fahri. Kenapa memangnya?”
“Oh enggak, nggak papa. Ya udah kalau begitu aku berangkat yah.. Dan untuk jagoan om yang ganteng. Besok kita ketemu lagi. Oke?”
Fadly menciumi wajah gembul Fahri sebelum menyerahkan Fahri pada Zahra. Sekarang Fadly semakin yakin bahwa Loly memang sengaja menghindar dari keluarganya.
Setelah menyerahkan Fahri pada Zahra, Fadly pun bergegas keluar dari rumah Faza dan Zahra. Pria itu kini berniat menyambangi kediaman Loly untuk memastikan sendiri bagaimana keadaan Loly sekarang.
__ADS_1
Dengan kecepatan penuh Fadly mengendarai mobilnya. Fadly bahkan tidak perduli dengan jalanan padat pagi itu dan tetap memacu kendaraan roda empatnya dengan kecepatan full.
Fadly benar benar tidak bisa menahan diri sekarang. Fadly harus memastikan sendiri bahwa Loly baik baik saja.
Begitu sampai didepan gerbang kediaman Loly, Fadly menghentikan mobilnya. Fadly tidak membunyikan klakson dan hanya diam didalam mobilnya mengawasi kediaman Loly yang tampak sepi dan hanya ada asisten rumah tangga yang sedang menyiram tanaman didepan teras rumah.
Fadly terus mengawasi hingga beberapa menit akhirnya Loly keluar dengan piyama tidur warna pink lembut yang masih melekat ditubuh rampingnya.
“Apa dia nggak kerja?” Gumam Fadly bertanya tanya sendiri.
Fadly menghela napas. Sebulan tidak pernah bertatap mata langsung Loly membuat Fadly merasa ada sesuatu yang hilang dari hidupnya.
Fadly terus mengawasi Loly yang sedang berbincang dengan asisten rumah tangganya. Sedikitpun Fadly tidak ingin tau apa yang sedang Loly bicarakan dengan asisten rumah tangganya. Fadly hanya ingin menatap Loly meskipun hanya bisa dia lakukan dari kejauhan. Karena Fadly tidak mungkin mendekat pada Loly yang memang sedang menghindar darinya.
Puas menatap Loly, Fadly pun kembali menghidupkan mesin mobilnya. Fadly berlalu dengan kecepatan sedang berlalu dari depan gerbang kediaman Loly. Kini Fadly sudah merasa tenang karena ternyata Loly baik baik saja.
“Dia udah lama mbak disitu?” Tanya Loly pada asisten rumah tangganya itu.
“Sekitar 10 menit sebelum anda keluar tuan Fadly juga sudah disitu nona..” Jawab asisten rumah tangga Loly.
Loly menganggukan kepalanya. Loly juga menyadari kehadiran Fadly sebenarnya. Bagaimana mungkin tidak, kalau mobil Fadly saja berhenti tepat didepan gerbang rumahnya. Tapi sebisa mungkin Loly berpura pura tidak menyadari kehadiran Fadly dirumahnya. Loly masih sangat tidak terima dengan apa yang Fadly katakan tentangnya. Meskipun setelahnya Fadly terlihat sangat menyesali ucapan-nya kemudian memeluk dan mencium keningnya sekilas. Namun apa yang sudah Fadly katakan benar benar sangat menyayat hati dan semakin membuat Loly yakin bahwa dirinya memang harus menjauhi Fadly juga keluarganya. Kini Loly sadar bahwa apa yang daddy nya katakan tentang hubungan-nya dengan Fadly memang benar. Fadly tidak baik untuknya dan juga hubungan mereka akan sangat tidak sehat jika terus memaksa untuk bersama.
“Ya udah mbak saya mau siap siap dulu. Tolong bikinin saya sandwich saja ya buat sarapan.” Senyum Loly pada asisten rumah tangganya.
“Baik nona..” Angguk si asisten rumah tangga yang akrab disapa mbak tersebut.
Setelah mendapat jawaban dari asisten rumah tangganya, Loly pun kembali masuk kedalam rumah untuk segera bersiap siap karena dirinya harus kembali bekerja.
__ADS_1
Loly juga sebenarnya tau Sinta beberapa kali datang kerumahnya karena Loly juga yang berpesan untuk selalu mengatakan bahwa Loly tidak ada dirumah.
Loly tidak marah ataupun dendam pada keluarga Akbar. Loly hanya menyadari bahwa hubungan-nya yang terlalu dekat dengan Sinta akan menyebabkan sesuatu yang tidak baik untuknya sendiri. Salah satunya adalah prasangka buruk Fadly padanya.