PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 86


__ADS_3

Keesokan harinya.


“Apa? Faza dan Zahra pergi? Kemana?”


“Nyonya sama tuan pergi ke paris untuk bulan madu nyonya.” Jawab mbak Lasmi.


Kedua mata Sinta membulat sempurna begitu juga dengan Loly yang berada disampingnya. Pagi ini mereka berdua kembali datang dengan Loly yang membawa banyak makanan.


Niat mamah Faza datang bersama Loly tidak lain adalah untuk semakin mendekatkan Faza dan Loly. Tapi sayangnya pagi ini Sinta harus menerima kenyataan bahwa Faza dan Zahra sedang pergi berdua untuk bulan madu ke paris.


“Tante, kok...”


“Tante nggak tau Loly kalau mereka pergi pagi ini.. Tapi...”


Ucapan Sinta berhenti begitu mengingat apa yang dibicarakan oleh suami dan putra bungsunya Fadly pagi buta tadi.


“Loly.. Lebih baik kita pulang sekarang.” Katanya kemudian.


“Tante tapi mas Faza...”


“Faza sudah pergi dengan Zahra Loly. Mengejar juga tidak mungkin. Kalaupun mau menyusul juga tidak mungkin sekarang kan?”


Loly berdecak. Kali ini Loly benar benar kecolongan. Faza dan Zahra pergi tanpa sepengetahuan-nya juga Sinta.


“Ayo Loly..”


“Iya tante...” Angguk Loly pelan.


Loly sangat marah sebenarnya. Tapi Loly tetap harus tenang. Loly tidak ingin memperlihatkan kemarahan-nya didepan Sinta. Itu pasti akan mengubah pandangan Sinta terhadapnya. Citranya sebagai wanita elegan didepan Sinta akan sirna.


Sinta dan Loly melangkah menuju mobil Loly. Mereka berdua masuk kedalam kendaraan beroda empat itu kemudian berlalu dari pekarangan luas kediaman Faza dan Zahra dengan kecepatan sedang.


Sepanjang perjalanan menuju pulang Sinta terus mengepalkan kedua tangan-nya. Sekarang Sinta tau mengapa putranya Fadly pagi pagi sekali sudah keluar rumah dan mengatakan akan ke bandara.


“Tante aku langsung pulang yah...” Ujar Loly ketika mereka mulai memasuki kompleks perumahan tempat tinggal keluarga Akbar.

__ADS_1


“Ya sayang.. Tante bener bener minta maaf sama kamu.. Tante nggak tau kalau Faza pergi ke paris dengan Zahra.. Kalau tante tau tante pasti akan mencegahnya..”


Sinta merasa sangat bersalah pada Loly. Wanita itu bahkan berkata dengan wajah penuh sesal karna tidak tau tentang rencana perginya Faza dan Zahra jauh jauh hari.


“Tenang Loly.. Jangan perlihatkan kemarahan kamu sekarang.. Tenang... Semuanya akan baik baik saja.. Mas Faza akan menjadi milik kamu..” Batin Loly terus berusaha tenang.


Loly menoleh sesaat dan tersenyum dengan sangat tenang.


“Enggak papa tante.. Ini bukan salah tante kok..”


Jeda sejenak. Loly menghela napas pelan kemudian kembali menyunggingkan senyuman dibibir pink nya.


“Sebenarnya aku yang salah disini tante.. Aku sudah tau mas Faza punya istri tapi masih berharap. Harusnya aku mundur begitu mas Faza menolak perjodohan ini dan memilih Zahra sebagai istrinya.”


Sinta menggelengkan kepalanya tidak menerima apa yang Loly katakan. Baginya tetap Loly lah yang terbaik dan pantas menjadi menantunya. Baik dari segi fisik bahkan materi.


“Loly kamu nggak boleh ngomong begitu. Bagi Tante tetap kamu yang paling baik dan paling pantas untuk Faza.. Kamu nggak boleh patah semangat sayang. Kamu harus yakin bahwa Faza itu memang jodoh kamu.”


Loly tersenyum.


“Tante aku..”


“Aku cinta sama mas Faza tante bahkan sangat mencintai mas Faza. Tapi aku nggak mungkin terus terusan berjuang sedang mas Faza selalu menolak kehadiran aku..”


“Kamu tenang saja Loly. Faza akan mencintai kamu nanti. Dia akan menyadari semua itu tidak lama setelah tau bagaimana Zahra yang sebenarnya. Kamu harus yakin sayang.. Kamu yang terbaik.”


“Tante aku..”


“Loly tolong.. Jangan membuat tante semakin merasa bersalah.. Tante akan selalu dipihak kamu. Tante akan bantu kamu supaya kamu bisa bersama dengan Faza.”


Loly tersenyum. Saat itu juga mobil Loly berhenti didepan gerbang kediaman keluarga Akbar.


“Makasih ya tante.. Tante udah baik banget sama aku.. Tante udah percaya sama aku..” Ujar Loly meraih tangan Sinta menggenggamnya dengan lembut.


“Sama sama sayang.. Pokonya tante minta kamu harus tetap semangat dan tetap yakin. Mungkin sekarang Faza belum menyadarinya. Tapi nanti Faza akan sadar dan berbalik mengejar kamu.” Senyum Sinta membalas genggaman tangan Loly.

__ADS_1


“Kalau begitu tante turun dulu yah.. Kamu hati hati dijalan.”


“Ya tante..” Angguk Loly tersenyum manis.


Sinta kemudian turun dari mobil Loly. Dengan sangat angkuh Sinta melangkah masuk kedalam pekarangan rumah tanpa menghiraukan sapaan pak Umar yang membukakan gerbang untuknya.


Begitu masuk kedalam rumah, Sinta langsung mencari keberadaan Fadly. Sinta yakin Fadly tau kepergian Faza dan Zahra ke paris. Dan Sinta mendapati Fadly sedang fokus dengan laptopnya diruang tengah.


“Mamah.. Mamah kenapa kok gitu banget natap Fadly?” Fadly mengeryit bingung melihat ekspresi datar mamahnya. Fadly bangkit dari duduknya dan berdiri berhadapan dengan Sinta.


“Jujur sama mamah Fadly. Tadi pagi kamu ke bandara nganterin Faza dan Zahra kan?!” Tanya Sinta dengan nada marah.


Fadly menghela napas. Faza memang meminta padanya agar merahasiakan kepergian-nya. Tapi sekarang Sinta sudah bertanya padanya secara langsung. Tidak mungkin rasanya jika Fadly berbohong.


“Ya mah.. Kakak dan Zahra mau pergi ke paris untuk honeymoon. Ah ya mah, mamah harus tau juga tentang kak Faza yang naik jabatan. Sekarang kak Faza bukan lagi manager tapi sudah jadi direktur.”


Fadly begitu sumringah saat menceritakan tentang kenaikan jabatan Faza sebagai direktur. Fadly juga ikut bahagia dengan kabar tersebut.


“Mamah nggak perduli. Yang mamah ingin tanya kenapa kamu nggak bilang sama mamah tentang rencana mereka untuk bulan madu? Kamu tau nggak sih Fadly, mamah nggak suka Faza sama Zahra. Mamah maunya Faza sama Loly.”


Fadly berdecak pelan. Mamahnya masih saja kukuh menjodohkan Faza dengan Loly meskipun pada kenyataan-nya Faza sudah menikah dengan wanita pilihan hatinya yaitu Zahra.


“Mamah bisa nggak sih berhenti jodoh jodohin kakak sama Loly. Kakak itu sudah menikah dengan Zahra. Dan perempuan yang kakak mau itu dari dulu bahkan dari kakak lulus SMA itu hanya Zahra mah.. Bukan Loly atau siapapun.”


“Mamah nggak butuh pendapat apapun dari kamu Fadly. Yang jelas mamah cuma mau Loly yang jadi menantu mamah.” Sinta berkata dengan nada tinggi serta kedua mata sedikit melebar menatap Fadly.


Fadly menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan jalan pikiran mamahnya. Padahal Sinta juga seorang wanita dan seorang istri, sama seperti Zahra.


“Perlu kamu tau Fadly, dari dulu yang mamah mau yang menjadi istri Faza itu hanya Loly.” Tekan Sinta kemudian.


“Tapi kak Faza nggak pernah mau sama Loly mah.. Yang kak Faza cintai itu Zahra.” Kali ini Fadly tidak mau kalah. Fadly tidak mau mamahnya salah langkah dan merusak kebahagiaan anaknya sendiri.


“Kamu berani mendebat mamah Fadly?” Tanya Sinta tajam.


“Fadly nggak maksud ngelawan mamah. Fadly cuma nggak mau mamah menyesal. Itu saja.”

__ADS_1


“Cukup Fadly. Mamah kecewa sama kamu. Kamu, kakak kamu, juga papah kamu semuanya sama. Kalian tidak pernah menghargai keputusan mamah.”


Sinta berlalu dari hadapan Fadly setelah itu dengan sangat marah. Sinta melangkah menaiki satu persatu anak tangga meninggalkan Fadly yang hanya bisa menghela napas diruang tengah menghadapi sikap keras mamahnya.


__ADS_2