PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 154


__ADS_3

Hari ini tepat satu minggu kepergian Faza ke Amerika. Zahra merasa sangat merindukan suaminya itu. Apa lagi sekarang Faza sudah dua hari sama sekali tidak menghubunginya. Saat di telepon pun tidak di angkat. Mengirim pesan juga hanya dibaca dan sama sekali tidak dibales.


“Hhh.. Pasti papah kamu sibuk banget deh sayang.. Kasihan yah... Dia harus kerja keras demi kita berdua..”


Zahra bergumam sambil mengusap usap perut besarnya. Pagi ini Zahra bangun lebih awal karna memang sudah dua malam tidak bisa tidur dengan nyenyak.


“Mamah kangen banget sayang sama papah.. Kira kira sekarang papah sedang apa ya disana?”


Zahra meluruskan pandangan-nya sembari berpikir. Tiba tiba Zahra terpikirkan akan Siska yang nota benenya adalah sekretaris Faza.


“Siska, dia pasti juga ada di Amerika. Apa aku telepon dia aja buat nanyain mas Faza?”


Zahra memang sudah mengenal Siska dengan baik karna beberapa kali Siska pernah datang untuk mengantarkan berkas berkas.


“Ya.. Coba saja lah..” Gumam Zahra kemudian meraih kembali ponselnya yang belum lama dia letakan diatas meja disamping kursi tempatnya duduk dibalkon sekarang.


Zahra mencoba menelepon Siska. Satu sampai dua kali hingga akhirnya Siska mengangkat telepon darinya.


“Halo, Siska..”


“Ya bu.. Halo.. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Siska dari seberang telepon.


“Ah iya.. Ini saya mau nanya, mas Faza lagi sibuk banget ya?”


Siska tidak langsung menjawab membuat Zahra harus menunggu sesaat.


”Pak Faza memang sedang sangat sibuk bu..” Jawab Siska kemudian.


“Begitu ya? Ya sudah terimakasih yah.. Saya cuma takut aja suami saya kenapa napa disana.”


“Ibu tidak perlu khawatir.. Pak Faza baik baik saja disini.. Ibu sendiri bagaimana kabarnya?”


Zahra tersenyum. Siska memang orang yang baik dan supel.


“Kabar saya baik..” Jawab Zahra singkat namun sangat hati hati dan pelan.


“Syukurlah kalau begitu bu.. Semoga lancar sampai hari persalinan ya bu..”


“Iya Amiiinn.. Minta do'anya ya Siska..”


“Iya bu.. Pasti. Ya sudah bu maaf saya harus kembali bekerja. Nanti saya akan sampaikan pada pak Faza bahwa ibu menelepon.”


“Ya.. Terimakasih Siska.”

__ADS_1


“Sama sama ibu..”


Zahra menyudahi telepon-nya setelah itu. Zahra menghela napas. Tidak ada sedikitpun pikiran buruk tentang Faza dan Siska. Zahra yakin orang orang disekitarnya adalah orang orang yang baik.


“Tante..”


Suara Arka berhasil mengalihkan perhatian Zahra. Bocah itu memang sedang sedikit demam sehingga tidak dulu diperbolehkan berangkat dulu oleh Nadia juga Aries.


“Eh iya sayang.. Kenapa?” Senyum Zahra menatap Arka sambil bertanya.


“Dibawah ada yang dateng. Kata mamah temen-nya tante makanya aku disuruh buat panggil tante.”


Zahra mengeryit. Pagi pagi sudah ada yang bertandang kerumahnya.


“Siapa? Tante Tina?” Tanya Zahra penasaran.


“Bukan tante..” Geleng Arka dengan sangat polos.


“Dia boy..” Katanya kemudian.


Zahra semakin dibuat penasaran. Dengan sangat hati hati Zahra bangkit dari kursi.


“Ayo kita lihat sayang..” Ajaknya pada Arka sambil mengulurkan tangan bermaksud menggandeng bocah tampan itu.


“Oke tante..” Angguk Arka menerima uluran tangan Zahra.


Ketika sampai dilantai bawah, Zahra terus bertanya tanya tentang siapa yang datang dan mengaku sebagai teman-nya.


Begitu sampai diruang tamu Zahra sangat terkejut mendapati Santoso yang sedang mengobrol dengan Nadia. Zahra menggeleng pelan tidak percaya melihat pria itu sedang duduk diatas sofa bersama Nadia yang ada diseberangnya.


Berbagai pertanyaan mulai bersarang dibenak Zahra tentang darimana Santoso tau alamat rumahnya? Mau apa datang? Dan untuk apa mengaku ngaku sebagai teman-nya?


“Tante, kok berhenti?” Pertanyaan polos Arka membuat Zahra tersadar dari berbagai pertanyaan yang menguasai otaknya.


“Ah iya sayang.. Ayo..”


Zahra kembali melangkah dengan Arka yang terus menggandengnya. Zahra benar benar tidak mengerti sekarang. Santoso pagi pagi datang dan mengaku sebagai teman-nya. Sementara pada kenyataan-nya Santoso adalah mantan bos saat Zahra bekerja dulu.


“Ah itu Zahra..” Senyum Nadia begitu mendapati Zahra dan Arka yang mendekat padanya.


Santoso ikut mengarahkan pandangan-nya pada Zahra juga Arka. Pria itu tersenyum menatap Zahra yang sampai saat ini memang masih dicintainya secara diam diam.


“Pak..” Sapa Zahra mengangguk pelan sembari tersenyum kecil.

__ADS_1


“Hay Zahra...” Senyum lebar Santoso begitu sok akrab dengan Zahra.


Zahra sebenarnya merasa sangat risih. Namun Zahra juga tidak mungkin terang terangan menolak keberadaan Santoso didepan Nadia.


“Kok pak?” Tanya Nadia bingung.


Santoso tertawa pelan.


“Jadi dulu kami pernah bekerja ditempat yang sama.. Dan saya sebagai atasan Zahra..”


“Oohh.. Begitu. Ya sudah kalau begitu saya tinggal ya.. Zahra kakak kebelakang dulu ya mau lanjut buat kue.. Ayo Arka..”


“Ayo mah...”


Nadia bangkit dari duduknya dan mengajak serta Arka untuk ikut dengan-nya. Zahra ingin menahan tapi tidak ingin membuat Nadia curiga kemudian salah paham.


Setelah Nadia dan Arka berlalu, suasana hening langsung menyelimuti. Zahra merasa sangat risih duduk berhadapan dengan Santoso yang terus saja tersenyum menatapnya.


“Jadi suami kamu sedang di Amerika ya?” Tanya Santoso mulai membuka pembicaraan memecahkan keheningan antara dirinya dan Zahra.


“Ya pak..” Jawab Zahra mengangguk pelan.


“Hebat banget ya suami kamu.. Sekarang namanya sudah terkenal sejak menjadi direktur diperusahaan-nya bekerja.”


Zahra hanya diam saja. Zahra bingung harus berkata apa. Santoso tiba tiba datang dan mengaku sebagai teman-nya pada Nadia. Santoso bahkan tidak secara gamblang mengatakan bahwa dirinya adalah mantan bos Zahra.


“Kamu benar benar sangat beruntung Zahra karna memiliki suami seperti itu.” Lanjutnya lagi.


Zahra hanya tersenyum tipis. Entah apa maksud kedatangan Santoso yang tiba tiba itu.


Santoso terus mengajak Zahra mengobrol. Pria itu bahkan mencoba bersikap seperti seorang teman pada Zahra.


“Maaf pak sebelumnya. Sebenarnya apa maksud dan tujuan bapak datang kesini dan mengaku pada kakak saya bahwa bapak adalah teman saya?”


Santoso tersenyum mendengar pertanyaan tersebut.


“Ya kan kalau saya mengaku sebagai mantan bos kamu kedengaran-nya saya sangat menyombongkan diri Zahra. Dan setelah kita tidak bekerja sama lagi saya rasa sebutan yang pantas itu adalah kita berteman.”


Zahra menghela napas. Jika Sinta tau tentang itu pasti akan membuat masalah baru. Sinta mungkin juga akan menuduhnya yang tidak tidak.


“Pak.. Saya sudah memiliki suami. Dan saat ini suami saya sedang tidak dirumah. Saya pikir akan sangat tidak baik jika tiba tiba bapak datang dan mengaku sebagai teman saya.. Itu akan jadi fitnah pak.”


Santoso menganggukan kepalanya pelan. Santoso paham dengan apa yang dikatakan oleh Zahra.

__ADS_1


“Baik kalau begitu saya minta maaf Zahra. Tapi sungguh, saya datang kesini hanya mampir karna kebetulan ada pekerjaan disekitar sini.”


Zahra melengos. Zahra tidak ingin tau apapun tentang itu semua.


__ADS_2