PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 272


__ADS_3

Sinta menatap dalam diam kepergian suaminya. Sejak mereka kembali baikan Sinta memang merasakan perbedaan yang begitu sangat mencolok. Akbar tidak lagi begitu penuh saat menyikapinya.


“Mamah..”


Sinta tersentak saat merasakan sentuhan di bahunya dari Fadly. Wanita itu menarik kedua sudut bibirnya kebelakang membentuk seulas senyum kemudian memutar tubuhnya menghadap pada Fadly yang berdiri dibelakangnya.


“Ya nak, kenapa?”


Fadly menghela napas pelan. Fadly tau bagaimana perasaan sang mamah saat ini. Tapi Fadly sendiri juga tau bagaimana tuntutan tanggung jawab dan pekerjaan papahnya.


“Aku laper banget. Makan yuk?”


Sinta mengangguk pelan kemudian meraih lengan kekar putra bungsunya dan menuntun Fadly dalam diam kemeja makan.


Begitu sampai dimeja makan, Sinta segera mengambilkan makanan untuk putra bungsunya. Sesaat Sinta terdiam menatap hidangan didepan-nya. Hidangan spesial yang memang sengaja Sinta sendiri yang memasaknya tanpa bantuan bibi untuk menyambut kepulangan Akbar.


Sinta menghela napas pelan kemudian meletakan piring berisi nasi dan lauk serta sayur itu didepan putranya.


“Mamah masak banyak banget. Memangnya ada yang mau dateng mah?” Tanya Fadly penasaran.


Sinta menggelengkan kepalanya dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


“Enggak.. Tadinya masakin papah. Tapi karena papah nggak bisa makan malam dirumah ya udah enggak papa. Kan masih ada kamu yang bisa nemenin mamah..”


Fadly tersenyum tipis. Kalau sudah seperti ini Fadly bingung harus memihak pada siapa.


“Fadly makan ya mah..”


“Oh iya sayang.. Makan yang banyak yah..”


Fadly dan Sinta makan berdua dalam suasana hening. Hanya ada dentingan suara sendok dan garpu serta piring yang saling beradu.


Fadly bingung harus membuka obrolan bagaimana karena Sinta yang terlihat tidak semangat menyantap makan malamnya. Padahal Fadly berniat pergi setelah makan malam. Tapi melihat mamahnya yang tampak sangat lesu Fadly menjadi tidak tega meninggalkan-nya sendirian dan hanya bersama bibi dirumah.


“Baiklah Fadly besok saja kamu menemui Loly. Sekarang mamah lebih penting.” Batin Fadly sambil melirik menatap mamahnya diam diam.


Fadly menghela napas. Kali ini Fadly harus menyingkirkan dulu egonya demi sang mamah.


 ------------


Sementara didalam kamarnya Loly menutup dan mengunci semua jendela serta pintu balkon. Semua itu untuk mengantisipasi agar saat Fadly datang pria itu tidak bisa masuk begitu saja kedalam kamarnya. Loly tau bagaimana Fadly. Fadly adalah pria yang sangat egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri.


Setelah memastikan semuanya aman, Loly pun segera membersihkan dirinya dikamar mandi. Loly juga tidak lupa mengunci pintu kamarnya sebelum masuk kedalam kamar mandi.


30 Menit kemudian Loly keluar dengan handuk kimono yang membalut tubuhnya. Sedangkan untuk rambutnya, Loly menutupinya dengan handuk putih senada dengan kimono yang di kenakan-nya.

__ADS_1


Loly menghela napas lagi. Sepertinya Fadly memang tidak akan datang.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Loly tersentak. Loly kemudian segera membuka pintu kamarnya dan mendapati asisten rumah tangganya berdiri disana.


“Mbak..”


“Maaf mengganggu nona. Tapi makan malam anda sudah siap.” Ujar asisten rumah tangga tersebut.


“Oh ya.. Sebentar lagi saya turun. Terimakasih ya mbak..” Senyum Loly tipis.


“Ya nona, sama sama.” Angguk asisten rumah tangga yang memang akrab disapa dengan sebutan mbak dari dulu oleh Loly.


Loly kembali menutup pintu kamarnya setelah asisten rumah tangganya berlalu. Sekali lagi Loly menghela napas. Entah kenapa tiba tiba Loly mengharapkan kedatangan Fadly.


“Enggak enggak. Dia menjauh itu lebih baik. Mendingan sekarang aku makan terus telepon Mona.. Ya...”


Loly menggelengkan kepalanya mengusir jauh jauh harapan tidak masuk akalnya itu.


Loly segera meraih baju dan mengenakan-nya. Setelah itu Loly turun untuk makan malam.


“Halo.. Mona, bagaimana? Apa kamu sudah menghubungi Anton? Dia baik baik saja kan?”


Loly benar benar tidak bisa menahan rasa penasaran juga khawatirnya tentang keadaan Anton. Loly takut Fadly kalap dan berbuat kasar pada satpam itu.


Loly mengeryit. Loly langsung melepaskan sendok yang dipegangnya kemudian bangkit dari duduknya dari kursi. Loly tidak lagi memperdulikan makanan-nya yang masih penuh di piringnya.


“Tidak sampai akhir? Maksudnya bagaimana?”


“Entahlah nona. Anton tidak menjawab pertanyaan saya. Bahkan nomornya juga langsung tidak aktif.” Jawab Mona dengan helaan napas.


Loly langsung di dihinggapi rasa khawatir. Fadly sangat mudah sekali terbakar emosi. Dan Loly takut Anton mendapat bogeman mentah dari pria tinggi tegap itu.


“Mona, kirimkan alamat Anton padaku sekarang juga.”


“Apa anda mau kesana nona? Perlu saya temani?” Tanya Mona berinisiatif.


“Tidak perlu Mona. Kirim saja alamat Anton sekarang. Aku akan mengecek sendiri bagaimana keadaan Anton sekarang. Bagaimanapun dia sudah mau membantuku dan aku merasa harus memastikan sendiri bagaimana keadaan-nya saat ini.” Jawab Loly.


“Baik nona.” Balas Mona.


Loly kemudian memutuskan sambungan telepon-nya begitu saja. Loly merasa tidak bisa tinggal diam saja. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Anton karena Fadly emosi Loly akan bertanggung jawab.


“Mbok... Mbok..!!”

__ADS_1


Loly berseru memanggil si mbok yang sedang menonton tv dengan asisten rumah tangga lain-nya dibelakang.


Tidak lama si mbok pun datang menghampiri Loly yang masih berdiri di samping kursi tempatnya tadi duduk.


“Saya nona..” Angguk pelan si mbok.


“Mbok tolong ini diberesin saja ya.. Atau kalian makan saja. Saya mau pergi. Ada urusan mendadak.” Ujar Loly pelan.


“Baik nona..” Angguk si mbok menurut saja.


“Makasih ya mbok.. Kalau begitu saya pergi dulu. Tidak perlu menunggu saya. Saya bawa kunci rumah sendiri.”


Setelah berkata Loly pun segera berlalu. Loly menaiki satu persatu anak tangga rumahnya dengan sangat terburu buru. Loly benar benar akan merasa sangat bersalah jika sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Anton.


Setelah bersiap, Loly pun segera berlalu pergi dengan mengendarai mobil sport warna birunya. Loly langsung menuju tempat tujuan yaitu kediaman Anton yang memang cukup jauh dari kediaman-nya.


“Ya Tuhan.. Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Anton.” Gumam Loly sembari mengemudikan mobilnya.


Satu jam perjalanan Loly sampai tepat dihalaman rumah sederhana Anton. Dan kebetulan saat itu Anton hendak pergi dengan sepeda motor metiknya. Namun karena melihat mobil Loly, Anton pun langsung kembali mematikan mesin motornya.


Loly menghela napas lega melihat Anton yang baik baik saja. Loly pun turun dari mobilnya dan melangkah mendekat pada Anton. Wanita yang mengenakan dress simpel warna orange itu tersenyum tipis pada Anton yang langsung turun dari motornya begitu Loly mendekat.


“Selamat malam nona..” Sapa Anton menundukan kepalanya sopan.


“Malam Anton. Kamu baik baik saja kan?”


“Ya nona, saya baik baik saja. Saya minta maaf karena saya tidak melakukan apa yang nona mau dengan baik.” Ujar Anton merasa sangat tidak enak hati pada pemilik perusahaan tempat dirinya bekerja itu.


Loly tersenyum tipis.


“Sudah tidak perlu minta maaf. Saya yang seharusnya berterimakasih karena kamu sudah mau membantu saya. Kamu mau kemana?”


“Oh saya mau kerumah sakit nona.”


“Tunggu sebentar.”


Loly kembali menuju mobilnya untuk mengambil ponselnya. Loly kemudian mengotak atik ponselnya dan kembali mendekat pada Anton yang hanya diam saja ditempatnya.


“Saya sudah transfer uang yang saya janjikan sama kamu ya. Sekali lagi terimakasih atas bantuan-nya.” Senyum Loly pada Anton.


“Nona tapi saya tidak melakukan dengan baik apa yang nona mau.”


“Sudah tidak apa apa. Kalau begitu saya pulang. Salam untuk ibu kamu dan semoga lekas sembuh.”


“Ya nona.. Terimakasih banyak nona.”

__ADS_1


Loly hanya menganggukan kepalanya kemudian kembali melangkah menuju mobilnya. Loly pun berlalu setelah memberikan upah yang memang sudah dia janjikan pada siapapun yang mau membantunya mengerjai Fadly.


__ADS_2