PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 21


__ADS_3

Faza terus menatap Zahra yang begitu ramah dan sopan melayani setiap pelanggan direstoran itu. Zahra bahkan terlihat sangat ceria padahal hubungan-nya dengan Faza sedang tidak baik baik saja.


Faza yang duduk meja paling ujung didekat tembok cermin besar hanya bisa menghela napas. Zahra terlihat baik baik saja meski sedang marah padanya. Zahra tidak terlihat memiliki beban apapun.


“Faza?”


Faza menoleh ketika seseorang menyebut namanya. Faza langsung bangkit dari duduknya ketika mendapati seorang wanita dengan tinggi semampai berdiri disamping kursi yang di dudukinya. Wanita berambut lurus panjang tergerai itu tersenyum manis pada Faza yang terpaku ditempatnya. Faza benar benar terpana dengan paras cantik wanita itu.


“Kamu Faza kan?”


Faza langsung tersadar begitu wanita tersebut bertanya padanya. Faza menggelengkan kepalanya. Hampir saja Faza terlena karna kecantikan wanita didepan-nya.


“Ya, saya Faza. Siapa ya?” Senyum Faza. Bingung juga sebenarnya karna tiba tiba ada wanita cantik yang mengenalinya.


“Ya ampun.. Kamu beda banget sekarang Faza. Kamu masa lupa sih sama aku.. Kita kan dulu teman sekelas pas SMA.”


Faza mengeryit dan berusaha mengingat ingat sosok didepan-nya. Namun Faza tetap tidak mengingat dan merasa tidak mengenal sosok tersebut.


“Hhh.. Duduk dulu deh..” Ujar wanita itu.


Faza menurut. Pria itu sejenak lupa dengan permasalahan-nya tentang Zahra.


“Aku Rosa Za, Rosanti. Masa nggak ingat sih?”


Faza meringis. Faza benar benar tidak mengingat siapa wanita didepan-nya.


“Ya ampun..Ganteng ganteng kok pikun sih. Baru juga beberapa tahun masa udah nggak kenal.”


Faza hanya bisa tertawa. Dulu Faza memang tidak terlalu dekat dengan teman teman ceweknya. Tentu saja karna Faza saat itu sedang mengincar Zahra, adik kelasnya yang juga teman sekelas Fadly.


“Gini deh, dulu aku itu jadi sekertaris dalam organisasi kelas. Kan kamu bendaharanya. Kita sering bareng bareng buat ngurus ini itu. Inget nggak?”


Faza kembali berusaha mengingat namun tetap tidak berhasil. Faza tidak mengingat siapa wanita yang mengaku bernama Rosa itu.


“Masih nggak ingat juga?”


Dari kejauhan Tina melihat Faza yang sedang mengobrol dengan wanita yang mengaku sebagai Rosanti itu. Tina menggelengkan kepalanya tidak menyangka dengan apa yang sedang Faza lakukan.

__ADS_1


“Pantes aja Zahra kaya orang kebingungan gituh. Ternyata begitu sikap suaminya. Tebar pesona kemana mana. Dasar kadal.”


Tina kemudian berlalu. Namun tiba tiba Santoso memanggilnya.


“Iya pak, ada yang bisa saya bantu?”


“Itu Tina, coba kamu sapa pelanggan disudut dekat tembok kaca itu. Saya perhatikan dari tadi mereka seperti asik mengobrol dan belum memesan apa apa.”


Tina mengikuti arah pandang manager berambut klimis itu. Kedua matanya membulat ketika melihat siapa pelanggan yang dimaksud oleh Santoso.


“Eh tunggu tunggu, itu bukan-nya Faza, suaminya Zahra ya? Kok sama wanita lain?”


Tina berdecak. Faza benar benar membuat Zahra malu.


“Kalau begitu biarkan saja, biar Zahra nanti yang menyapanya.” Senyum Santoso penuh arti.


“Eh biar saya saja pak. Kan sama aja.”


“Enggak enggak. Lebih baik Zahra saja. Kamu layani pelanggan yang lain.” Tolak Santoso kemudian mendekat pada Zahra yang sedang sibuk mengantar pesanan di lantai dua Restoran itu.


Tina tergagap bingung. Zahra pasti akan sangat merasa kecewa bahkan sakit jika melihat suaminya sedang bersama wanita lain. Tapi Tina juga tidak mungkin mencegah Susanto yang pasti tidak mau mendengarkan saran-nya.


Sementara itu Susanto terus mengembangkan senyuman dibibirnya ketika menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua. Susanto tidak sabar ingin melihat drama dalam rumah tangga Faza dan Zahra yang baru seumur jagung itu. Satu sisi Susanto ingin menunjukan bahwa Faza bukan yang terbaik untuk Zahra. Tapi disisi lain juga Susanto merasa kasihan pada Zahra. Meskipun rasa senang lebih mendominasi perasaan-nya saat itu.


“Zahra..”


Mendengar namanya disebut Zahra pun menoleh. Zahra tersenyum kemudian buru buru mendekat pada Santoso.


“Saya pak..”


“Iya kamu. Emm.. Dibawah sedang ramai pengunjung. Tina dan yang lain sedikit kewalahan. Kamu bisa turun untuk membantu mereka?”


“Tentu saja pak. Saya akan turun sekarang.” Angguk Zahra dengan senyuman yang terukir dibibirnya.


“Kalau begitu saya permisi kebawah pak.”


“Oke..” Angguk Susanto dengan senyuman.

__ADS_1


Zahra pun berlalu. Zahra merasa sangat senang dengan kesibukan-nya siang ini. Karna dengan dirinya sibuk pemikiran-nya tentang masalah dengan Faza sedikit teralihkan.


Begitu menapakkan kedua kakinya dilantai dasar restoran itu senyuman manis yang menghiasi bibir Zahra langsung sirna. Pandangan Zahra langsung tertuju pada Faza dan wanita cantik yang Zahra sendiri tidak tau siapa. Tapi Faza tampak bahagia bercanda dengan wanita itu.


“Apa apaan ini? Dia sengaja mau buat aku panas?”


Zahra menggenggam erat buku kecil dan pulpen yang dipegangnya. Rasa kesal dan kecewanya pada Faza yang sempat teralihkan kini kembali menghampirinya.


“Oke Zahra, tenang. Mas Faza pasti sengaja mengalihkan fokus kerja kamu supaya kamu mau ikut dengan-nya.”


Zahra berusaha menenangkan dirinya agar tidak terbawa emosi. Zahra tidak ingin marah didepan banyak orang yang pasti akan mempermalukan dirinya sendiri. Toh sekarang dirinya sedang marah pada Faza.


“Pura pura aja nggak perduli Zahra. Faza suami kamu. Dia tetap milik kamu.”


Zahra menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya pelan. Setelah itu Zahra kembali mengukir senyuman dibibinya bersikap seolah tidak ada apa apa.


“Oke, tetap tenang Zahra. Tersenyum Zahra.” Batin Zahra kemudian mulai melangkah mendekat pada meja Faza dan wanita cantik itu.


“Permisi mbak, mas.. Mau pesan apa?”


Perhatian Faza dan wanita itu langsung teralihkan. Faza tersenyum mendapati istrinya yang menghampiri dan menanyakan apa yang akan dipesan-nya.


Faza langsung bangkit dari duduknya dan merangkul mesra pinggang Zahra membuat sang mpunya melotot tidak terima.


“Ah ya Rosa. Kamu pasti masih ingat dia kan? Namanya Aulia Zahra. Dia adik kelas kita dulu. Dia juga sekelas dengan adikku Fadly.”


Zahra mengeryit bingung. Entah apa yang dimaksud Faza dengan mengenalkan-nya pada wanita yang sedang bersamanya. Padahal Zahra pikir Faza akan berpura pura tidak mengenalnya atau bahkan terkejut dengan kehadiran-nya.


Rosa ikut bangkit berdiri menatap pada Zahra.


“Aulia Zahra? Yang mana? Kalau adik kamu aku kenal. Tapi kalau dia..”


Rosa menatap dari atas sampai bawah penampilan simpel Zahra seperti sedang menilai dan mengingat ingat.


“Kayanya aku nggak kenal dia deh...” Lanjutnya kemudian.


“Oke oke itu nggak penting mau kenal atau enggak. Dia ini istriku.” Senyum Faza bangga.

__ADS_1


Zahra sangat terkejut. Zahra menoleh menatap tidak percaya pada Faza yang dengan sangat bangga dan percaya dirinya mengenalkan Zahra sebagai istrinya didepan wanita cantik yang ada didepan-nya.


__ADS_2