
Faza melajukan motornya dengan kecepatan maximal seperti orang yang sedang kesetanan. Fadly sudah menceritakan semuanya tentang Zahra yang mendengar ucapan tidak mengenakan yang keluar dari bibir mamah mereka. Demi Tuhan, Faza benar benar tidak habis pikir dengan pemikiran sang mamah saat ini yang dengan begitu entengnya menyuruh Faza untuk meninggalkan Zahra kemudian menikah dengan jodoh pilihan-nya.
Faza tau istrinya pasti lah sangat terluka. Wanita mana yang bisa tahan jika mendengar sendiri mamah mertuanya menyuruh untuk suaminya meninggalkan-nya kemudian menikah dengan wanita lain. Apa lagi mamah dari suaminya juga selalu menghina fisiknya.
Gesekan permukaan ban motor Faza dengan tanah menimbulkan decitan yang cukup keras saat Faza berhenti dalam kecepatan motor yang melaju dengan kecepatan full.
Faza benar benar sangat mengkhawatirkan kondisi istrinya sekarang.
Faza melepas helm full face nya kemudian buru buru turun dari motornya. Faza melangkah pelan menuju pintu utama rumah sederhana peninggalan kedua mertuanya yang memang tidak pernah Faza kenal itu. Jelas saja, keduanya sudah meninggal jauh sebelum Faza mengenal Zahra.
“Zahra buka pintunya...!!”
Faza berseru sambil menggedor gedor pintu bercat coklat gelap itu. Kebiasaan Zahra mengunci pintu dari dalam saat dirinya sedang berada dirumah memang kadang membuat Faza kesal. Faza jadi susah untuk masuk karna tidak membawa kunci cadangan.
“Sayang bukan pintunya !! ini aku !!”
Faza kembali berseru memanggil Zahra. Faza tidak bisa sabar sekarang. Zahra sama sekali tidak menyautinya.
Tidak bisa menunggu, Faza pun memutuskan untuk mendobrak pintu. Begitu pintu terbuka Faza langsung berlari masuk kedalam rumah. Kamar, menjadi tempat pertama yang Faza tuju karna Faza berpikir mungkin istrinya sedang berada disana dan menangis meratapi nasib tidak baiknya.
Kamar mereka kosong. Zahra tidak ada disana. Faza kemudian mengecek ketempat lain bahkan sampai keseluruh sudut rumah tapi belum juga kunjung menemukan Zahra. Karna Zahra memang belum sampai kerumah.
“Ya Tuhan.. Dia belum sampai rumah..”
Faza kembali berjalan keluar rumah. Pria itu mencampakkan begitu saja jas juga tas kerjanya. Hari sudah mulai gelap dan istrinya tidak tau entah dimana keberadaan-nya sekarang.
Faza sangat khawatir juga ketakutan. Apa lagi Fadly bilang Zahra pergi dalam keadaan menangis dan tubuh bergetar.
“Sial !” Umpat Faza kemudian naik kembali keatas motor gedenya dan kembali melajukan kendaraan body besar beroda dua itu untuk mencari Zahra.
Tempat yang pertama Faza datangi adalah restoran. Disana Faza bertemu dengan Santoso yang bersikap begitu dingin dan ketus padanya. Santoso bahkan berhasil memancing emosi Faza yang hampir saja memukulnya jika Tina tidak datang disaat yang tepat untuk mencegah.
“Jadi kamu nggak tau dimana Zahra?” Tanya Faza pada Tina.
Tina menggelengkan kepalanya. Setelah izin untuk pulang cepat, Zahra memang tidak lagi datang kerestoran.
“Memangnya kenapa sampai kamu kehilangan Zahra? Bukan-nya Zahra pergi sama kamu mas?”
Faza tersenyum tipis. Zahra pernah sekali mengatakan tata cara tentang hidup berumah tangga. Yaitu dengan menutupi masalah yang sedang melanda dalam rumah tangga dari orang lain. Dan Faza pikir itu berlaku juga untuk Tina, sahabat Zahra.
__ADS_1
“Ya. Zahra pulang duluan Tin. Dan aku saat itu sedang menemani mamahku.”
Faza memutuskan berbicara apa adanya namun tidak dengan menceritakan masalah yang sedang menimpa hubungan-nya dengan Zahra pada Tina.
Tina menganggukan kepalanya.
“Mungkin Zahra masih dijalan atau mungkin dirumah kak Aris.”
Faza diam. Kalau memang Zahra dirumah Aris dan Faza datang kesana Aris pasti akan semakin salah paham padanya.
“Tina..”
“Ya...”
“Bisa tolong telepon kan Zahra? Handphone ku lowbat.”
Tina terdiam menatap Faza. Tina sebenarnya sudah akan pulang karna jam kerjanya sudah habis.
“Oh iya... Oke..” Angguk Tina kemudian mengeluarkan ponsel dari tas miliknya.
Tina segera menghubungi Zahra seperti permintaan Faza. Tidak lama menunggu Zahra langsung mengangkat telepon dari Tina.
Faza langsung memberi kode agar Tina tidak mengatakan tentang keberadaan dirinya pada Zahra. Tina sempat bingung namun akhirnya mengangguk mengerti. Tina berpikir mungkin memang Faza dan Zahra sedang ada masalah.
“Eemm.. Kamu masih dirumah mertua kamu?” Tanya Tina kemudian.
“Sudah enggak. Aku lagi ditaman biasa. Kenapa Tin?”
“Enggak papa sih. Ya udah kamu tunggu ya. Aku kesana sekarang. Kita makan bakso sama sama.”
Tina langsung menyudahi telepon-nya setelah itu. Tina kembali memasukan benda pipih itu kedalam tas slempangnya dan menatap Faza yang berdiri disampingnya.
“Zahra ada ditaman biasa mas.” Katanya memberitahu Faza.
Faza tersenyum.
“Oke, makasih Tina.”
“Sama sama mas.” Senyum Zahra mengangguk. Tina senang karna bisa sedikit membantu Faza dan Zahra. Tina berharap Zahra dan Faza tetap bisa mempertahankan hubungan-nya sampai menua bersama.
__ADS_1
“Kalau begitu aku pergi yah, makasih sekali lagi Tina.”
“Eemm.. Mas.”
Faza kembali menoleh pada Tina saat hendak meraih helmnya. Pria itu menatap Tina yang menatapnya dengan tatapan yang Faza tidak mengerti.
“Ya...” Saut Faza bingung.
“Zahra orang yang baik. Jaga hati dan perasaan-nya ya mas.”
Faza tersenyum mendengar pesan Tina. Tanpa merasa ragu sedikitpun Faza mengangguk.
“Itu pasti.” Jawab Faza kemudian mengenakan helm dan menaiki motor gedenya berlalu dari hadapan Tina yang tersenyum penuh arti menatap kepergian Faza untuk menjemput Zahra di taman.
“Aku percaya setiap apa yang kamu katakan Ra. Tuhan tidak akan menguji kita melewati batas kemampuan kita. Dan aku yakin itu juga berlalu untuk kamu dan mas Faza kamu. Kalian pasti bisa bertahan. Aku percaya itu.” Gumam Tina dengan helaan napas pelan.
Tina melangkah menuju sepeda motor metiknya. Ketika hendak mengenakan helm capung miliknya tiba tiba ponsel dalam tasnya berdering. Tina meletakan kembali helmnya dan memilih untuk lebih dulu mengangkat telepon tersebut.
Senyum Tina mengembang ketika mendapati kontak sang papah tertera dengan jelas dilayar benda pipih itu.
“Papah..” Gumamnya bahagia.
Tina segera mengangkat telepon dari papahnya.
“Ya papah..”
“Kamu dimana dear?” Tanya papah Tina, Toni.
“Aku masih ada didepan tempat kerja pah. Ini baru mau pulang. Kenapa pah?”
“Malam ini kita jalan yah.. Papah tunggu kamu dikantor.”
Hati Tina langsung terasa berbunga bunga. Tina bahkan merasa seperti ribuan kupu kupu sedang terbang mengelilinginya. Tina sangat bahagia mendapat telepon dan ajakan jalan jalan oleh papahnya. Sosok yang memang selama 8 tahun tidak pernah lagi tinggal seatap dengan-nya juga mamahnya.
“Oke papah.. Tina akan sampai dalam waktu 20 menit.”
“Tidak perlu buru buru. Papah juga masih mau meeting sebentar. Kamu jangan lupa kasih tau mamah. Jangan buat mamah kamu khawatir.”
Zahra tersenyum. Papahnya masih sangat perduli dengan mamahnya meski keduanya telah lama memutuskan untuk berpisah.
__ADS_1
“Ya papah..”