PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 115


__ADS_3

“Faza, mamah mau ngomong sama kamu. Sekarang.”


Faza baru saja sampai didepan pintu kamarnya saat mendengar suara tegas mamahnya. Pria itu menghela napas dan mengurungkan niatnya membuka pintu kamarnya dan Zahra. Faza kemudian menyusul mamahnya yang sudah lebih dulu turun ke lantai bawah.


“Mamah sudah lama disini? Kenapa tidak memberitahu Faza dulu mamah mau datang? Kan Faza bisa jemput.”


Sinta mengangkat sebelah alisnya menatap Faza yang baru saja mendudukan dirinya disofa didepan-nya sambil melepas jas hitam yang dikenakan-nya.


“Jemput mamah? Bukan-nya sekarang kami sangat sibuk? Bahkan malam larut begini kamu baru pulang.”


Faza diam. Apa yang dikatakan mamahnya memang benar dan Faza tidak bisa menolak.


“Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” Tanya Sinta menatap Faza datar.


Faza diam sesaat.


“Seperti biasanya mah. Padat.” Jawabnya santai.


“Kamu tau jam berapa sekarang?” Tanya Sinta kemudian.


Faza mengangkat tangan-nya menilik waktu lewat jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya.


“Jam 12 lebih 15 menit. Kenapa mah?”


Sinta tertawa pelan sambil menggeleng tidak menyangka dengan perubahan gaya hidup putra sulungnya.


“Kamu tau, Zahra baru tidur sekitar 30 menit yang lalu.”


Faza menatap Sinta tidak mengerti.


“Aku nggak ngerti maksud mamah apa.”


“Faza dengar, saat ini Zahra sedang hamil. Dan usia kandungan-nya masih cukup muda. Kalau setiap hari kamu pulang larut dan Zahra menunggu kamu, apa kamu bisa jamin istri dan calon anak kamu itu akan sehat dan baik baik saja?”


“Zahra selalu sudah tidur setiap aku pulang mah..”

__ADS_1


“Mungkin Zahra baru tidur beberapa menit begitu kamu masuk kamar Faza. Mamah tidak mau tau. Cucu mamah harus lahir dengan selamat dan tidak kurang satu apapun. Jadi mamah mau mulai sekarang kamu batasi pekerjaan kamu. Pulang sebelum pukul 9 malam.” Ujar Sinta tidak mau dibantah.


Faza menghela napas. Jika Sinta sudah berkata dengan begitu tegas, itu pertanda Sinta sedang tidak mau dibantah.


“Ya mah..” Angguk Faza menurut.


“Bagus. Kalau begitu mamah tidur duluan. Kamu lekas bersihkan diri kamu kemudian tidur. Jaga kesehatan kamu.”


Sinta bangkit dari duduknya kemudian berlalu meninggalkan Faza sendiri diruang keluarga.


Faza menghela napas setelah Sinta berlalu. Pria itu mengusap kasar wajah tampan-nya. Bukan kemauan-nya pulang selalu larut. Tapi pekerjaan-nya harus benar benar diselesaikan supaya tidak menumpuk ke keesokan harinya. Dan lagi, Faza melakukan semua itu juga untuk masa depan-nya, Zahra, juga calon anak mereka.


Faza bangkit dari duduknya, menyambar tas dan jas hitam miliknya. Lelah sekali rasanya. Faza bahkan merasa tidak sanggup jika harus kembali menaiki satu persatu anak tangga untuk menuju kamarnya dan Zahra.


“Huft.. lelah sekali.. hoammm” Keluh Faza sambil menguap saat menaiki anak tangga menuju lantai dua rumahnya.


Begitu sampai dikamarnya, Faza bergegas membersihkan diri kemudian menghampiri Zahra yang berbaring terlentang ditempat tidur.


Faza tersenyum menatap wajah cantik Zahra. Dengan penerangan cahaya minim Faza memperhatikan wajah damai istrinya. Faza merasa waktunya bersama Zahra benar benar tidak ada sekarang. Sejak dirinya menjadi direktur, Faza memang sangat sibuk. Dan ketika hari minggu tiba, Faza menghabiskan waktunya untuk tidur seharian. Mengistirahatkan tubuh juga pikiran-nya dari berbagai aktivitas yang membuat tubuhnya dikuasai penat.


Faza mengecup lama kening Zahra. Faza tau Zahra pasti kesal dengan kesibukan-nya. Tapi hebatnya Zahra tidak protes. Zahra bahkan tidak marah meskipun Faza sering berangkat pagi bahkan sebelum Zahra bangun membuka kedua matanya dipagi hari.


“Aku lakukan semua ini demi masa depan kita sayang...” Bisik Faza lembut.


Faza berharap Zahra mengerti posisinya sekarang. Faza juga berharap semuanya akan tetap baik baik saja meskipun setiap hari waktunya bersama Zahra harus disita oleh kesibukan yang tiada hentinya.


Faza memeluk Zahra dan pelukan-nya berhasil mengusik tidur lelap Zahra.


“Mas..” Panggil Zahra dengan suara seraknya.


“Sshhhtt.. Sudah malam. Tidur ya sayang..” Bisik Faza sambil mengusap usap lembut lengan Zahra.


Zahra menganggukan kepalanya kemudian kembali memejamkan kedua matanya dalam pelukan hangat suaminya.


--------

__ADS_1


Keesokan harinya dimeja makan.


“Kamu harus makan yang banyak Zahra. Jangan lupa minum vitamin dan susunya.” Ujar Sinta membuat Zahra dan Faza saling menatap kemudian tersenyum.


“Iya mah..” Jawab Zahra pelan dengan senyuman.


Sinta melirik sekilas pada Zahra kemudian melengos malas. Sampai sekarang Sinta masih tidak mengerti apa lebihnya seorang Zahra sehingga putranya bisa begitu tergila gila pada Zahra.


Setelah sarapan, Faza pun berangkat bekerja. Mobil pria itu melaju ber iringan dengan mobil Sinta keluar dari pekarangan rumahnya dan Zahra.


Zahra yang mengantar keduanya sampai depan rumah tersenyum melihatnya. Zahra benar benar tidak mengerti dengan sikap ibu dan anak itu.


Sinta, dia perhatian namun ucapan-nya selalu saja pedas dan menyudutkan-nya. Sinta juga masih terus menuntut Zahra untuk melahirkan bayi laki laki.


Sedang Faza, pria itu selalu mengatakan cinta padanya. Tapi sejak kepulangan Zahra dari rumah sakit saat itu Faza menjadi sangat sibuk bahkan sampai tidak ada waktu untuk mengobrol berdua seperti dulu. Zahra bertemu dengan Faza saat pagi sarapan bersama selebihnya seperti keberuntungan. Jika tidak pulang larut Zahra masih bisa bertatap muka langsung dengan Faza sebelum mereka tidur. Tapi jika tidak mereka akan kembali bertatap muka esok paginya ketika bangun. Itupun kalau Faza tidak berangkat pagi.


Zahra menghela napas pelan. Kisah indahnya dan Faza dulu terasa tidak lagi sama. Faza tidak bisa selalu ada untuknya. Bahkan Zahra bisa menebak besok dirinya akan mengecek kehamilan-nya bersama Sinta lagi.


“Nyonya...”


Lamunan Zahra buyar begitu mbak Lasmi memanggilnya. Zahra menoleh kemudian membalikan tubuhnya tersenyum pada mbak Lasmi yang berdiri tidak jauh darinya.


“Ya mbak, kenapa?” Tanya Zahra dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


“Ini saya mau izin ke pasar nyonya. Bahan bahan keperluan didapur sudah habis.”


“Oh iya mbak. Saya sekalian nitip ya mbak.. Beliin mie ayam. Sambalnya pisah aja.”


“Baik nyonya.. Saya permisi.”


“Hati hati mbak..”


Zahra menatap mbak Lasmi yang berjalan dihalaman rumahnya. Keberadaan mbak Lasmi membuat Zahra tidak kesepian. Meskipun mbak Lasmi selalu bersikap baku padanya tapi Zahra tidak pernah merasa ada jarak dengan mbak Lasmi. Zahra sudah merasa seperti keluarga dengan mbak Lasmi.


Setelah mbak Lasmi naik ke taksi online yang mungkin sudah lebih dulu dipesan-nya itu, Zahra pun masuk kedalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2