
Pukul 4 sore Faza sudah sampai dirumahnya. Pria itu berniat mengemasi barang barang juga berkas yang nanti akan dibutuhkan-nya saat menemui client Mahendra.
“Sayang...”
Panggilan lembut Faza membuat Zahra yang sedang membantu memasukkan baju baju Faza kedalam koper langsung menolehkan kepalanya.
“Ya mas... Kenapa?”
“Abis ini aku mau kerumah mamah sama papah. Aku mau kasih tau tentang keberangkatan aku ke Amerika besok. Kamu mau ikut nggak?”
Zahra diam sesaat. Zahra ingin sekali ikut sebenarnya. Tapi Zahra tidak bertemu dengan Sinta yang pasti akan mencari cari celah kesalahan-nya.
“Eemm.. Kayaknya aku dirumah aja deh mas..”
“Ya udah kalau begitu. Aku cuma sebentar kok.” Senyum Faza enggan menuntut istrinya untuk ikut dengan-nya.
“Iya mas...” Angguk Zahra ikut tersenyum.
Setelah selesai mengemasi barang barang yang akan dibawanya, Faza pun bergegas untuk kerumah kedua orang tuanya.
Dalam waktu yang cukup singkat Faza sudah sampai didepan gerbang rumah kedua orang tuanya. Faza sempat menyapa ramah pak Umar yang begitu setia bekerja pada kedua orang tuanya.
“Bi...”
“Eh Den...”
Bibi yang saat itu sedang mengelap kaca teras tersenyum dan mengangguk ramah melihat anak sulung majikan-nya itu.
“Mamah ada nggak bi?” Tanya Faza sambil melangkah mendekat pada bibi.
“Ada den.. Tuan juga ada dirumah.” Jawab bibi.
“Oh.. Ya sudah saya langsung masuk saja ya bi..”
Ketika Faza hendak masuk kedalam kediaman kedua orang tuanya, suara klakson mobil membuat Faza menoleh dan urung melangkah. Faza menghela napas ketika melihat mobil Loly mulai memasuki pekarangan luas rumah kedua orang tuanya.
“Mau ngapain dia kesini..” Gumam Faza pelan.
Faza mengurungkan niatnya untuk masuk. Pria itu berdiri diambang pintu menunggu Loly turun dari mobilnya.
Loly terkejut begitu melihat Faza berdiri diambang pintu. Loly benar benar tidak tau kalau akan ada Faza disana.
“Hhh.. Semoga aja mas Faza nggak salah paham sama aku...” Gumam Loly kemudian turun dari mobilnya.
Loly melangkah pelan mendekat pada Faza yang berdiri diambang pintu.
“Mas...”
“Kamu ngapain kesini?” Tanya Faza dengan wajah datar menatap Loly.
__ADS_1
Loly diam. Membersihkan namanya dari semua rencana jahat yang pernah dia susun bersama Sinta benar benar tidak mudah. Faza dan Fadly masih saja menganggapnya bukan orang baik.
“Eemm.. Aku...”
“Mamah yang suruh Loly kesini..”
Suara Sinta dari dalam rumah membuat Faza dan Loly langsung menatapnya.
Faza menghela napas dan berdecak. Sedangkan Loly, dia merasa sangat lega karna ucapan Sinta membuatnya terasa terselamatkan dari tatapan datar namun mengintrogasi Faza.
“Ya.. Tante yang suruh aku kesini mas..” Ujar Loly pelan.
Faza melengos. Entah apa yang membuat mamahnya terus saja menjodohkan-nya dengan. Loly. Padahal Faza sudah beristri bahkan sebentar lagi punya anak.
Sinta melangkah mendekat pada Faza dan Loly yang berdiri didepan pintu. Wanita itu tersenyum penuh arti pada keduanya.
“Mamah menyuruh Loly kesini sayang.. Tapi mamah tidak tau kalau kamu juga akan kesini. Ini benar benar seperti sebuah garis takdir bahwa kalian berdua memang harus bersama.”
Loly meringis mendengarnya. Loly merasa sangat tidak enak pada Faza sekarang.
“Mamah apaan sih ngomongnya. Faza udah punya istri mah.. Faza bahkan sudah mau punya anak.. Nggak pantes dong mamah ngomong begitu..” Ujar Faza dengan wajah kesal.
Sinta tertawa pelan.
“Anak bukan masalah sayang..” Katanya.
“Tante ada apa nyuruh aku kesini?” Tanya Loly bermaksud mengalihkan pembicaraan.
Sinta melirik Faza yang melengos karna kesal. Wanita itu terus tersenyum merasa bahwa keduanya memang ditakdirkan untuk bersama.
“Tadinya tante mau ajak kamu kerumah Faza. Tapi sepertinya si punya rumah sudah merasa jadi dia berinisiatif datang sendiri kesini..”
Faza mengeryit. Ucapan mamahnya benar benar membuatnya merasa sangat jengah.
“Mamah apa apaan sih? Nggak lucu banget bercanda nya.”
Saking kesalnya Faza langsung berlalu masuk kedalam rumah begitu saja tanpa menyalimi Sinta. Namun sepertinya Sinta tidak mempermasalahkan-nya. Sinta malah tertawa melihat putra sulungnya kesal karna ucapan-nya.
Sedang Loly, dia menghela napas pelan. Loly menyesal menuruti perintah Sinta untuk datang sekarang. Harusnya Loly datang nanti malam atau besok saja supaya tidak didekat dekatkan dengan Faza.
“Ayo masuk sayang...” Ajak Sinta meraih tangan Loly dan menuntun-nya masuk kedalam rumah.
“Faza memang begitu sayang. Dia pasti malu karna datangnya kebetulan banget barengan sama kamu..”
Loly hanya bisa tertawa pelan tidak tau harus menjawab apa.
Sementara Faza yang malas terus dijodoh jodohkan dengan Loly pun memilih untuk mencari papahnya. Faza malas dekat dekat dengan mamahnya jika sudah ada Loly.
Begitu sampai diruang keluarga dilantai dua Faza langsung duduk disofa diseberang sofa yang di duduki papahnya.
__ADS_1
“Loh Za... Kapan datang nak?” Tanya Akbar langsung menurunkan surat kabar yang sedang dibacanya begitu menyadari kehadiran putranya.
“Baru aja pah..” Jawab Faza sambil menyalimi sang papah.
Akbar mengeryit melihat raut kelesalan dari wajah putra sulungnya itu.
“Kenapa? Ada masalah?” Tanya Akbar penasaran.
Faza menggelengkan pelan kepalanya. Meskipun merasa kesal, namun Faza tidak mungkin mengadukan apa yang Sinta ucapkan padanya pada Akbar.
“Nggak ada pah.. Tumben papah udah dirumah jam segini?” Tanya Faza meraih secangkir kopi milik Akbar dan menyeruputnya sedikit.
“Minta dikit pah..” Katanya meminta izin.
“Nggak papa nak. Minum saja. Papah sengaja pulang cepat hari ini. Capek juga sih..”
Faza mengangguk pelan. Pria itu diam beberapa saat sebelum mengutarakan niat kedatangan-nya sore ini.
“Zahra mana?” Tanya Akbar pelan.
“Zahra nggak bisa ikut kesini pah.. Kayanya dia kelelahan deh.”
“Ya.. Kondisi ibu hamil memang harus benar benar sangat dijaga.” Ujar Akbar.
Faza mengangguk setuju. Sejak perutnya membesar Zahra memang sering mengeluh pegal pada bagian pinggang dan kaki. Tidak jarang terkadang juga mbak Lasmi membantu memijitnya jika Faza belum pulang dari kantor.
“Eemm.. pah, aku mau ke Amerika. Ada pekerjaan yang harus aku tangani disana.”
Akbar mengeryit.
“Zahra ikut?” Tanya Akbar menatap Faza.
“Enggak pah.. Aku kan disana buat kerja. Takutnya nanti Zahra malah merasa kesepian karna aku sibuk dengan kerjaan aku. Lagian juga usia kandungan Zahra kan juga sudah tua. Nggak mungkin kan pergi jauh jauh..”
Akbar menganggukan kepalanya setuju dengan apa yang Faza katakan.
“Lalu apa Zahra hanya akan bersama mbak Lasmi dan pak satpam dirumah?” Tanya Akbar lagi.
“Enggak pah.. Aku sudah minta buat kak Aries dan kak Nadia nemenin Zahra. Soalnya kalau mamah yang disana papah tau sendirilah bagaimana mamah kalau sama Zahra..”
“Ya ya yaa... Papah paham. Ya udah kamu fokus kerja aja. Papah bakalan datang nengokin Zahra kalau nggak sibuk.”
Faza tersenyum mendengarnya.
“Makasih ya pah...”
“Apapun buat anak anak papah pasti papah lakukan. Apa lagi sebentar lagi papah punya cucu..”
Faza tertawa mendengarnya. Andai saja Sinta juga bisa bersikap baik pada Zahra seperti sang papah, kebahagiaan yang Faza rasakan pasti akan terasa semakin lengkap.
__ADS_1