PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 124


__ADS_3

Tiga bulan kemudian.


Suara ketukan pintu membuat Faza yang sedang fokus dengan laptopnya menoleh. Pria itu menghela napas merasakan penat ditubuh juga pikiran-nya.


“Masuk !!” Serunya tegas.


Pintu ruangan-nya pun terbuka memunculkan Siska yang membawa beberapa map ditangan-nya. Siska melangkah mendekati mejanya dan berdiri tepat didepan-nya.


“Permisi pak. Ini ada berkas yang harus pak Faza cek lagi juga harus pak Faza tanda tangani.” Ujar Siska.


“Ya. Taruh saja disitu.” Ujar Faza dengan nada memerintah.


“Baik pak, kalau begitu saya permisi.”


“Ya...”


Siska berlalu keluar kembali dari ruangan Faza. Faza menghela napas kemudian menyenderkan punggungnya disandaran kursi kebesaran-nya. Semakin hari kesibukan semakin menyita waktunya bahkan sampai mengurangi waktu istirahat Faza. Hal itu membuat Faza kadang tidak bisa mengontrol emosinya sendiri. Faza sering kali marah tiba tiba tanpa sebab karna rasa lelah yang mendera tubuh juga pikiran-nya. Bahkan saat Zahra bersikap manja padanya Faza sering kali merasa kesal sendiri. Faza merasa Zahra tidak bisa mengerti dirinya. Tapi Faza selalu menahan kesal itu. Faza tidak mau menyakiti istrinya yang sedang hamil besar itu.


Faza mendongakkan kepalanya dengan kedua mata terpejam. Kali ini Faza benar benar merasa sangat lelah dan bosan dengan pekerjaan-nya. Faza ingin beristirahat. Tapi itu sangat tidak mungkin. Kewajiban-nya sebagai direktur diperusahaan itu tidak bisa dia abaikan. Apa lagi Mahendra begitu sangat mempercayakan semua padanya.


Deringan ponsel diatas meja kerja tepat disamping laptop yang sejak tadi menjadi tempat Faza menumpahkan segala pemikiran-nya.


Karna merasa lelah Faza pun mengabaikan ponselnya yang terus berdering itu. Faza tidak ingin diganggu oleh siapapun sekarang. Sekalipun itu Zahra yang menelepon-nya ataupun Sinta, mamahnya.


------


Disisi lain Zahra berdecak pelan. Dua kali menghubungi suaminya namun tetap tidak ada jawaban. Faza tidak mengangkat telepon darinya. Padahal sebentar lagi sudah waktunya makan siang. Zahra hanya ingin mengingatkan. Zahra takut suaminya lupa makan siang karna kesibukan-nya sebagai pemimpin diperusahaan tempatnya bekerja.


“Nak.. Kasihan ya papah kamu. Dia sibuk terus sampai kurang istirahat.. Mamah jadi khawatir papah kamu kenapa napa.” Gumam Zahra sambil mengusap perutnya yang sudah membuncit.


Ucapan Zahra mendapat respon dari janin yang sedang dikandunganya. Sebuah gerakan cukup kencang terasa begitu jelas ditangan Zahra yang aktif mengusap perutnya sendiri.


Mendapat respon tersebut Zahra tertawa. Menyenangkan sekali rasanya jika merasakan dengan jelas pergerakan didalam kandungan-nya. Rasanya Zahra tidak sabar ingin cepat cepat bertemu dengan calon putranya.

__ADS_1


“Kamu yang sehat ya sayang.. Jangan buat papah kamu khawatir. Papah sama mamah sayang banget sama kamu..”


Gerakan itu semakin kuat bahkan sampai Zahra merasa sedikit geli bercampur ngilu dikulit perutnya. Dan lagi lagi Zahra tertawa senang dibuat oleh janin dalam kandungan-nya.


“Apa pendengaran kamu sudah berkurang Zahra?”


Tawa Zahra lenyap seketika mendengar suara Sinta. Zahra menoleh dan mendapati Sinta sudah berdiri diambang pintu ruang keluarga.


“Mamah..” Gumamnya.


Pelan pelan Zahra bangkit dari duduknya disofa panjang diruang keluarga tempatnya sedang bersantai siang itu.


“Mamah panggilin kamu dari tadi. Tapi kamu nggak nyaut nyaut.” Kata Sinta sambil melangkah masuk mendekat pada Zahra. Sinta membawa sepiring buah naga yang kemudian diletakan diatas meja didepan Zahra.


“Lasmi sudah memotongkan buah untuk kamu. Kamu harus menghabiskan-nya.”


Zahra tersenyum kemudian kembali mendudukan dirinya. Seperti biasa, Sinta selalu bersikap judes meskipun perhatian padanya.


“Makasih ya mah udah bawain kesini.”


“Sudah cek kehamilan bulan ini?” Tanya Sinta tanpa menatap Zahra yang mulai menyantap buah naga yang dibawakan-nya tadi.


“Belum mah.. Minggu depan jadwalnya.” Jawab Zahra.


“Oh..” Angguk Sinta malas.


Zahra tersenyum. Entah sampai kapan Sinta akan terus bersikap judes padanya. Padahal bayi yang berada dalam kandungan-nya berjenis kelamin laki laki seperti apa yang di inginkan oleh mamah mertuanya itu.


“Apa mungkin mamah menginginkan cucu laki laki hanya alasan saja?” Batin Zahra sambil diam diam menatap Sinta yang sedang fokus dengan siaran TV.


Zahra terus bertanya tanya dalam hati. Zahra sebenarnya ingin membicarakan semua yang ada dihatinya pada Faza. Tapi Zahra takut Faza salah paham dan menganggapnya selalu membesar besarkan masalah. Zahra juga tidak mau menambah beban suaminya. Karna pekerjaan-nya yang padat setiap hari saja sudah membuat tenaga dan pikiran suaminya terkuras setiap harinya.


------------

__ADS_1


Loly menatap Fadly yang begitu fokus mengamati hasil gambarnya. Loly tidak tau kenapa semakin hari dirinya semakin merasa jatuh cinta pada Fadly. Padahal Fadly selalu saja tidak pernah mau perduli dengan apa yang dia lakukan.


“Lama banget sih Ly, kapan kita makan siang nya.. Gambar kamu sudah bagus. Nggak perlu ada yang dirubah lagi. Percaya deh sama aku.”


Fadly menoleh menatap Loly dengan wajah datar. Fadly sebenarnya sengaja mengulur waktu agar Loly kesal kemudian pergi dari ruangan-nya. Namun hampir 30 menit menunggu Loly tetap saja duduk anteng ditempatnya. Loly bahkan sepertinya tidak perduli dengan perutnya yang sudah beberapa kali berbunyi karena lapar.


“Aku tidak butuh komentar kamu.” Kata Fadly dingin.


Loly mengerucutkan bibirnya mendengar itu. Loly sudah mengupayakan segala cara untuk menarik perhatian Fadly. Tapi tetap saja usahanya tidak membuahkan hasil sampai sekarang.


“Tapi ini itu udah waktunya makan siang Fadly.. Kalau kamu nggak makan nanti kamu sakit. Aku kan nggak mau kamu kenapa napa.. Aku..”


“Diam !” Tegas Fadly membuat Loly seketika bungkam.


Fadly menatap tajam pada Loly yang berada disampingnya. Fadly benar benar tidak tau harus bagaimana membuat Loly menjauh darinya.


“Aku sakit atau enggak itu bukan urusan kamu Loly. Jangan kamu pikir dengan kamu berpura pura baik kamu bisa membuat aku tertipu. Aku sudah tau semua akal busuk kamu.” Ujar Fadly dengan penuh penekanan.


Loly menarik napas kemudian menghelanya pelan. Memang tidak gampang merubah pandangan seseorang pada dirinya setelah apa yang sudah dia lakukan. Tapi Loly tidak akan menyerah. Loly akan terus berusaha sampai Fadly benar benar luluh padanya.


“Sekarang aku mau kamu keluar dari ruangan aku.”


“Tapi Fadly..”


“Keluar sekarang.” Sela Fadly telak.


Loly menghela napas kemudian menganggukan kepalanya. Fadly sedang fokus dengan pekerjaan-nya dan Loly tidak mau mengganggu. Loly kemudian bangkit dari duduknya dan berlalu keluar dari ruangan Fadly.


“Dasar perempuan gila.” Umpat Fadly kesal.


Namun Loly tidak kehabisan akal. Meskipun menuruti kemauan Fadly agar pergi, tapi Loly tetap membelikan makanan untuk Fadly dan menyuruh karyawan Fadly untuk mengantarkan keruangan Fadly.


Loly terkikik sambil memasuki mobilnya. Sekeras apapun Fadly menolak keberadaan-nya, Loly tidak akan menyerah. Loly akan terus berusaha sampai Fadly benar benar luluh padanya.

__ADS_1


“Rasanya aku semakin tertantang.” Gumam Loly tertawa sendiri.


__ADS_2