
“Bagaimana hasil pemeriksaan-nya?” Tanya Sinta begitu Faza dan Zahra sampai tepat didepan-nya. Sinta bahkan tidak memberi kesempatan pada keduanya untuk masuk lebih dulu kedalam rumah dan bicara dengan baik.
“Mah.. Kita kan baru nyampe. Masa udah langsung nanya gitu. Kan bisa kita bicarakan baik baik didalam.” Ujar Faza pelan.
Sementara Zahra, dia hanya diam disamping Faza. Malas sekali rasanya melihat Sinta yang pagi pagi sudah bertandang. Jika Sinta tidak terlalu menekan, memaksa, bahkan terus menyalahkan-nya mungkin rasa malas itu tidak akan ada dihati Zahra. Tapi karna sikap over Sinta membuat Zahra merasa jengah jika harus berada lama lama ditempat yang sama dengan mamah mertuanya itu.
“Oke.. Kita bicara didalam.” Ujar Sinta dengan angkuhnya.
Faza tersenyum dan menganggukan kepalanya. Faza melangkah dengan tangan menggandeng tangan Zahra yang ada sampingnya. Mereka berdua masuk kedalam rumah mengikuti Sinta yang melangkah lebih dulu dari keduanya.
Begitu sampai diruang tamu, Sinta segera mendudukan dirinya. Wanita itu menghela napas menatap Faza dan Zahra bergantian.
“Ayo duduk..” Perintahnya.
“Eemmm.. Mah aku harus buru buru ke kantor. Jadi nggak bisa temenin mamah lama lama.” Ujar Faza pelan.
“Oh ya sudah..” Angguk Sinta.
Zahra mendesis pelan tanpa didengar oleh Faza maupun Sinta. Zahra ingin sekali berlari dari tempatnya berdiri sekarang juga.
“Mas...” Zahra memanggil Faza dengan tatapan penuh permohonan. Zahra malas jika harus ditinggal berdua saja dengan Sinta.
“Sayang.. Aku harus kerja. Kamu baik baik ya sama mamah.. Sabar dan tahan emosi..” Bisik Faza pada Zahra lembut.
Zahra menggelengkan kepalanya. Zahra tidak pernah bisa membela dirinya karna Sinta yang selalu memandang salah dirinya.
Faza beralih menatap pada Sinta dengan senyuman manis yang terus terukir dibibirnya.
“Dokter Cindy bilang perkembangan janin Zahra sangat baik mah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Ujar Faza memberitahu lebih dulu pada Sinta.
__ADS_1
“Bagus kalau begitu. Itu juga karna peran penting mamah kan? Coba kalau mamah tidak bawel, istri kamu pasti sudah melakukan ini itu yang membuatnya kelelahan sendiri. Bukankah jika terjadi sesuatu itu akan sangat merepotkan?”
Faza menghela napas pelan. Tangan terus menggenggam dan mengusap lembut punggung tangan Zahra seperti sedang menenangkan Zahra supaya emosinya tidak membludak didepan mamahnya.
“Ya mah.. Terimakasih atas perhatian mamah sama Zahra akhir akhir ini.” Balas Faza.
Sedangkan Zahra, wanita itu berusaha keras menahan segala apa yang dirasakan-nya saat ini. Sinta terlalu mengekang dan tidak pernah memikirkan perasaan-nya.
“Mamah melakukan semua itu karna mamah tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa calon cucu mamah. Cucu keluarga Akbar harus sehat dan terlahir dengan sempurna tanpa kurang satu apapun.” Ujar Sinta menegaskan. Tatapan-nya bahkan sekilas terlihat sinis pada Zahra.
“Maaf sebelumnya mah.. Zahra sangat berterimakasih atas perhatian mamah selama ini. Tapi tolong mamah jangan terlalu ngekang Zahra buat ini dan itu.. Memasak bukan hal yang melelahkan karna ada mbak Lasmi yang bantuin Zahra. Jalan kaki dipagi hari juga aktifitas yang dianjurkan oleh dokter Cindy mah.. Asal tidak melelahkan karna sambil berjemur juga. Dan itu Zahra lakukan dihalaman rumah sambil menyiram tanaman.”
Pada akhirnya semua unek unek itu keluar dari mulut Zahra. Zahra benar benar tidak bisa menahan-nya meskipun ada Faza disampingnya.
Faza mendesis dengan rahang mengeras. Perdebatan Zahra dan mamahnya adalah sesuatu yang selalu Faza usahakan agar tidak terjadi. Faza bahkan selalu berusaha untuk mengalah dan mengubur egonya sendiri demi menghindari perdebatan tersebut.
“Jadi maksud kamu apa yang mamah lakukan itu salah Zahra?” Tanya Sinta menyipitkan kedua matanya menatap Zahra.
Sinta menghela napas kemudian menggeleng pelan dengan senyuman tidak menyangka setelah mendengar apa yang Zahra katakan.
“Ini cara kamu berterimakasih sama mamah Zahra?”
Zahra menelan ludahnya. Sudah bisa Zahra tebak sebelumnya. Pendapatnya akan selalu salah.
“Asal kamu tau Zahra, kalau mamah tidak sering kesini lalu tidak selalu mengingatkan kamu untuk menjaga kondisi kamu mungkin kandungan kamu akan bermasalah. Nyadar sedikit dong kamu. Dulu sama sekarang itu sudah berbeda. Kamu sedang hamil sekarang. Hamil cucu mamah, anak Faza. Mau tidak mau kamu harus menjaga diri kamu dengan sebenar benarnya. Jangan samakan kehidupan kamu yang sekarang ini dengan kehidupan serba kekurangan kamu dulu.”
Mulut Zahra terbuka mendengar ucapan yang menjurus dengan penghinaan dari mulut mamah mertuanya. Zahra menggeleng tidak percaya. Pikiran-nya perlahan mulai bekerja.
“Sudah sudah.. Tolong mamah, Zahra kalian jangan berdebat. Aku tau semua ini yang terbaik untuk kamu dan anak kita Zahra. Tapi tolong lakukan semuanya dengan sepenuh hati. Jangan ada paksaan.” Faza berusaha melerai karna tidak mau mamah dan istrinya berdebat.
__ADS_1
“Istri kamu benar benar tidak tau di untung Faza. Dia tidak tau bagaimana caranya berterimakasih pada mamah.” Tekan Sinta.
“Dan lagi mobil yang didepan. Harusnya kamu memberitahu suami kamu untuk lekas menabung Zahra. Punya anak itu butuh banyak uang. Bukan malah membeli mobil yang tidak jelas fungsinya untuk apa.”
Zahra mengeryit. Sinta mulai mencari cari kesalahan-nya.
“Zahra nggak minta mah.. Aku sendiri yang membelikan. Dan untuk masalah biaya mamah tidak perlu khawatir. Faza akan usahakan anak Faza tidak kekurangan apapun nanti.” Jelas Faza yang tidak mau Sinta mengorek kesalahan yang sebenarnya tidak diperbuat Zahra.
“Terserah kalian saja. Yang jelas mamah tidak mau kalau sampai calon cucu mamah kenapa napa.” Sinta kemudian meraih tas yang sebelumnya dia taruh diatas meja. Sinta melirik pada Zahra yang hanya diam disamping Faza dengan tatapan sinis.
“Ah ya.. Mamah belum memberitahu kalian berdua kan? Cucu pertama keluarga Akbar harus laki laki.”
Faza dan Zahra terkejut mendengarnya. Keduanya langsung bangkit berdiri dari duduknya dan menatap Sinta dengan pandangan tidak percaya.
“Apa maksud mamah?” Tanya Faza lirih.
“Memangnya apa yang mamah bilang tadi kurang keras? Cucu pertama keluarga Akbar harus laki laki. Supaya dia bisa menjadi kakak yang bisa menjaga adik adiknya nanti.” Jawab Sinta angkuh.
“Mah tapi...”
“Stop. Mamah nggak mau dibantah. Mamah pulang.”
Sinta berlalu begitu saja setelah menyela apa yang ingin Faza katakan.
Zahra menggelengkan kepalanya. Ucapan Sinta jelas sekali sedang menuntutnya untuk melahirkan bayi laki laki. Sedangkan Zahra sendiri tidak bisa menebak nebak akan berjenis kelamin apa anak yang akan dilahirkan-nya.
“Apa itu artinya anak kita tidak akan diakui cucu oleh mamah kalau yang aku lahirkan nanti bayi perempuan mas?”
Faza menoleh pada Zahra. Pria itu langsung menarik Zahra kedalam pelukan-nya.
__ADS_1
“Tidak sayang... Jangan berpikiran yang aneh aneh. Apapun jenis kelamin-nya dia akan tetap diakui sebagai cucu oleh mamah..” Lirih Faza berusaha menenangkan Zahra meski sebenarnya hatinya sendiri sedang gentar karna ucapan Sinta.