PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 50


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Zahra tidak bekerja lagi. Rasa jenuh juga bosan melandanya setelah Zahra selesai membersihkan semua sudut rumah. Zahra bingung mau melakukan apa lagi. Berdiam diri dirumah memang bukan salah satu hal yang dia suka dari dulu. Zahra lebih suka beraktivitas yang bisa mengeluarkan keringat. Itung itung olah raga begitu selalu pemikiran sederhananya.


“Ya Tuhan... Aku harus ngapain lagi sekarang. Nyapu, ngepel, lap lap sudah. Gunting rumput sudah... Hh.. Bosan sekali..”


Zahra menyenderkan punggungnya disandaran sofa ruang tamu. Zahra tidak biasa diam seperti itu dirumah. Semuanya sudah selesai dia kerjakan dihari yang masih terhitung pagi itu.


Zahra menatap langit langi ruang tamunya itu. Tiba tiba Zahra terpikir akan ucapan mertuanya yang menyinggung tentang cucu.


Zahra berdecak pelan. Pernikahan-nya sudah menginjak bulan ke empat hari ini. Dan tanda tanda dirinya hamil masih belum juga terasa.


“Apa aku ke dokter aja ya? Tapi sama siapa? Masa sama Tina? dia kan pasti lagi sibuk cari kerjaan baru.”


Zahra bergumam sembari berpikir akan bersama siapa dirinya mengecek kondisi kesuburan-nya ke dokter. Sempat terbesit dipikiran-nya untuk menghubungi Tina. Tapi itu tidak mungkin. Zahra sudah banyak merepotkan sahabat seperjuangan-nya itu.


“Apa minta tolong kak Nadia aja?”


Zahra menghela napas kemudian mengangguk mantap. Untuk masalah kehamilan Zahra yakin tidak akan salah jika meminta bantuan pada kakak iparnya itu.


“Aku telepon aja deh dulu.”


Zahra bangkit dari duduknya dan melangkah cepat menuju kamar untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Nadia. Setelah Nadia mengiyakan, Zahra tidak lupa meminta izin pada Faza untuk keluar sebentar namun tidak dengan jujur mengatakan akan pergi kedokter guna mengecek kesuburan-nya.


“Memangnya kamu nggak kerja Ra?” Tanya Nadia begitu Zahra masuk kedalam mobil Aris yang Nadia bawa.


Zahra menggeleng dengan senyuman dibibirnya. Wanita dengan dress lengan pendek warna maroon yang hanya sebatas lutut itu kemudian menghela napas pelan.


“Aku mutusin buat berhenti dari pekerjaan kak.”


Nadia mengeryit. Nadia hapal betul bagaimana Zahra yang memang memiliki kegigihan yang sama seperti kakaknya, Aris.


“Kenapa?” Tanya Nadia penasaran.


“Udah nggak nyaman aja. Bosnya galak dan sedikit lebay.” Jawab Zahra sambil tertawa.

__ADS_1


Nadia berdecak pelan. Keseriusan-nya ditanggapi dengan candaan oleh adik ipar kesayangan-nya itu.


“Ya sudah memang lebih baik begitu. Kamu kerja dirumah aja. Memang nggak digaji sih. Tapi itu lebih menguntungkan loh.”


“Oh ya?” Tanya Zahra tidak percaya.


“Percaya deh sama kakak..” Senyum Nadia mengedipkan sebelah matanya pada Zahra.


Zahra tersenyum. Entah apa keuntungan yang dimaksud Nadia, Zahra tidak tau. Tapi Zahra juga yakin bahwa dengan tetap dirumah dan mengurus semua kebutuhan Faza dengan baik itu adalah pilihan yang tepat.


“Kita jalan sekarang yah..”


“Oke...” Angguk Zahra.


Nadia mulai melajukan mobilnya menuju tempat yang sebelumnya memang sudah Nadia rekomendasikan pada Zahra. Karna tempat yang akan mereka datangi adalah tempat kepercayaan Nadia dan Aris ketika mereka menjalin program kehamilan.


Tidak membutuhkan waktu lama, Mereka berdua sampai disebuah klinik. Nadia mengajak Zahra masuk dan menemui dokter yang juga adalah teman-nya.


Setelah konsultasi dan membicarakan berbagai hal yang mengarah pada program kehamilan, Zahra pun segera diperiksa. Zahra juga disarankan untuk melakukan USG guna memastikan kesehatan organ intimnya.


“Setelah diperiksa dan melakukan USG, semuanya bagus. Hanya mungkin butuh kerja lebih keras lagi.”


Pipi Zahra memanas mendengarnya. Zahra langsung menundukan kepala berpura pura memainkan ponselnya karna takut Nadia dan Dokter bernama Citra itu melihat rona merah diwajahnya.


“Kamu bisa aja Cit. Jadi nggak ada yang gimana gimana nih?” Senyum Nadia merasa geli sendiri dengan candaan bernada lurus yang dilontarkan teman-nya itu.


“Nggak ada. Semuanya baik baik saja. Mungkin sedikit memperbaiki istirahat ya.. Dan jaga pola makan agar gizinya seimbang. Itu saja.”


“Syukurlah kalau begitu..”


Setelah mendapatkan hasil bagus dari pemeriksaan-nya, Nadia mengajak Zahra pulang karna Nadia juga harus menjemput Arka yang sudah waktunya pulang sekolah.


“Kak Aris kapan pulang kak?” Tanya Zahra sebelum turun dari mobil.

__ADS_1


Ya, mereka memang sudah sampai kembali dihalaman rumah Zahra.


“Mungkin lusa Ra. Kamu mau oleh oleh apa biar nanti kakak sampein sama mas Aris.”


Zahra tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


“Kayaknya nggak deh kak. Ajak dede Arka aja kesini besok ya kak. Biar aku nggak jenuh dirumah.”


“Oh ya sudah kalau begitu.”


“Ya kak. Kalau begitu aku turun ya kak.. Makasih banget loh udah mau temenin aku..” Ujar Zahra sambil menyalimi Nadia.


“Ya sama sama. Inget kata dokter Citra tadi. Jaga pola makan dan perbanyak istirahat. Jangan lupa yang rajin servisnya.”


Zahra mendelik mendengar candaan Nadia. Pipinya kembali terasa panas.


“Apaan sih kakak. Udah ah aku turun. Kakak hati hati ya..”


“Hahaha.. Oke oke..”


Zahra pun turun dari mobil Aris. Zahra melambaikan tangan-nya saat Nadia mulai memundurkan mobil dan melaju dengan pelan meninggalkan Zahra yang berdiri diteras rumahnya.


Zahra menarik napas dan menghembuskan-nya pelan. Sekarang Zahra merasa tenang. Tidak ada gangguan apapun yang akan menghambat proses kehamilan-nya nanti. Dan Zahra berharap secepatnya Tuhan mempercayakan anugerah indah itu padanya dan Faza.


Zahra kemudian masuk kedalam rumah. Zahra berniat untuk bersiap sembari menunggu kepulangan Faza karna malam ini mereka akan datang kerumah kedua orang tua Faza untuk makan malam bersama.


Tidak bisa dipungkiri Zahra merasa takut sebenarnya. Zahra takut kehadiran-nya ditengah keluarga Faza hanya akan dicemooh oleh Sinta. Tapi menolak dan tidak datang juga rasanya sangat tidak sopan apa lagi Sinta sudah datang sendiri dan mengatakan akan menunggu kedatangan-nya juga Faza kesana.


“Oke Zahra.. Tenang.. Kamu harus tetap tenang. Semuanya akan baik baik saja. Mas Faza nggak akan mungkin membiarkan kamu di cemooh tanpa alasan oleh mamahnya.”


Zahra membatin sembari melangkah menuju kamarnya dan Faza. Sinta memang masih terlihat begitu sinis padanya. Sinta juga tidak mau Zahra salimi kemarin saat datang. Apa lagi Sinta juga menolak untuk masuk dan berlalu begitu saja setelah mengatakan tentang cucu dan makan malam.


Zahra meletakan tas slempangnya diatas tempat tidur kemudian melepas dress maroon yang dikenakan-nya menggantinya dengan kaos oblong milik Faza yang begitu besar jika Zahra yang memakai. Zahra bahkan tidak terlihat mengenakan kaos tapi lebih seperti mengenakan dress yang panjangnya hanya sampai paha.

__ADS_1


Zahra tertawa sendiri melihat bayangan tubuhnya dicermin. Tidak heran Faza menyebutnya Buntek karna memang tingginya yang hanya 155 cm. Sedang Faza, dia memiliki postur tubuh yang tegap dengan tinggi sekitar 181 cm. Selisih tinggi yang begitu jauh dari Zahra yang disebutnya Buntek.


__ADS_2