
Besok paginya Faza segera mengajak Zahra pulang kerumah. Faza bahkan harus kembali mengajukan cuti karna Zahra yang tidak mau ditinggal.
“Mas...” Panggil Zahra yang sedang berada dalam dekapan hangat Faza.
Siang ini mereka berdua sedang bersantai menikmati angin sejuk dengan duduk berdua dikursi panjang hitam dibalkon kamar mereka.
“Hem..” Saut Faza dengan kedua mata tertutup. Ngantuk, itu yang sekarang Faza rasakan. Selama tiga malam tidur dirumah sakit membuat Faza tidak bisa dengan nyenyak menyelami alam mimpinya. Faza selalu terbangun ditengah malam kemudian tidak bisa lagi memejamkan kedua matanya sampai pagi menjelang.
“Bagaimana kalau ternyata mamah masih mengharapkan kamu sama Loly?”
Kedua mata Faza langsung terbuka dengan lebar mendengarnya. Faza melepaskan dekapan-nya menunduk menatap Zahra yang juga sedang menatapnya.
“Kenapa kamu sampai berpikiran seperti itu?” Tanya Faza bingung. Setau Faza, mamahnya sudah mau menerima Zahra sebagai menantu dan tidak lagi mendekat dekatkan dirinya dengan Loly.
“Bukan-nya mamah sudah mau menerima kenyataan bahwa kamu istri aku? Kamu perempuan yang aku cintai. Tapi kenapa kamu masih berprasangka buruk pada mamah Ra?”
Ekspresi Faza langsung berubah. Pria itu tidak habis pikir dengan istrinya yang kali ini terang terangan menunjukan cara pikirnya pada Sinta.
“Aku kan hanya bertanya bagaimana yang artinya bisa jadi atau bisa saja enggak mas.” Ujar Zahra mulai kesal.
Faza menghela napas. Sikap mamahnya memang keterlaluan. Tapi Faza yakin perlahan sikap mamahnya pasti akan berubah. Buktinya sampai sekarang Sinta tetap mengirimkan makanan yang terjamin gizinya pada Zahra meski harus lewat jasa kurir atau pak Umar yang datang langsung mengantarkan kerumah mereka.
“Sayang.. Aku yakin mamah mengatakan hal itu hanya untuk saat ini saja. Mamah pasti akan menerima anak kita. Mau dia perempuan ataupun laki laki. Berpikirlah yang baik baik pada mamah..”
Zahra tersenyum. Hatinya berdenyut ngilu. Padahal Faza sudah mendengar dan melihat sendiri bagaimana Sinta bersikap padanya. Tapi Faza masih saja membelanya.
“Ya...” Angguk Zahra kemudian kembali masuk kedalam dekapan hangat Faza menyembunyikan air mata yang sudah menggenangi kedua kelopak matanya pada Faza.
“Kamu tenang aja ya sayang.. Aku jamin semuanya akan berjalan semestinya. Mamah pasti akan menerima anak kita.”
Zahra enggan menjawab. Wanita itu mencoba sekuatnya menahan air matanya agar tidak menetes. Entahlah, sejak hamil Zahra gampang sekali menangis. Perasaan-nya begitu sensitif.
__ADS_1
Faza terus mengusap dengan lembut bagian belakang kepala Zahra. Pria itu tidak menyadari istrinya yang sedang menangis dalam diam di dekapan hangatnya. Faza bahkan tidak menyadari ucapan-nya telah menggoreskan luka dihati istri tercintanya.
Sebenarnya Faza juga masih tidak tau bagaimana kedepan-nya sikap Sinta pada Zahra. Tapi Faza selalu berusaha berpikir positif pada mamahnya. Faza tidak ingin terlalu menganggapnya mamahnya sendiri buruk. Faza masih meyakini nurani mamahnya akan bekerja dan perlahan melembut pada Zahra nanti.
Deringan ponsel dalam saku celana pendek Faza membuat Faza melepaskan dekapan-nya pada Zahra. Pria itu segera merogoh saku celananya meraih ponselnya yang terus saja berdering.
“Sebentar sayang.. Siska telepon.” Katanya pada Zahra kemudian segera mengangkat telepon tersebut tanpa memperhatikan ekspresi Zahra. Faza juga tidak menyadari hidung dan kedua mata Zahra yang memerah karna menahan tangis.
“Ya Sis.. Kenapa?”
Zahra melengos. Wanita itu kemudian bangkit dari kursi panjang yang menjadi tempatnya dan Faza duduk. Zahra melangkah berlalu dari balkon meninggalkan Faza yang sedang berbicara lewat sambungan telepon dengan sekretarisnya, Siska.
Zahra masuk kedalam kamar mandi karna sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya. Dadanya terasa sangat sesak bahkan tenggorokan-nya sampai terasa ngilu.
Zahra mengunci pintu kamar mandi dan menatap sendiri bayangan wajahnya dicermin. Tetesan bening itu mulai meluncur dengan bebas melewati pipinya, membentuk anak sungai disana.
“Apa aku terlalu memaksakan keadaan?” Gumam Zahra lirih.
Bibir Zahra mulai bergetar dengan air mata yang mulai mengucur deras. Hatinya mulai merasa bimbang. Zahra merasa hubungan-nya dengan Faza seperti sedang berada diambang kehancuran. Dan penyebab semua itu adalah sikap Sinta menurut Zahra.
Beberapa kali pintu diketuk dari luar. Dan Zahra yakin yang mengetuk pintu itu tidak lain adalah Faza, suaminya sendiri.
“Sayang.. Aku harus ke kantor sekarang. Ada pekerjaan mendadak yang tidak bisa diwakilkan.” Begitu Faza berujar sebelum akhirnya suasana kembali hening.
Zahra menggelengkan kepalanya. Tubuhnya mulai bergetar karna tangisnya. Bahkan dalam keadaan dirinya rapuh Faza tidak bisa memahaminya.
Beberapa menit menangis didalam kamar mandi, akhirnya Zahra keluar. Tidak ada siapa siapa dikamarnya.
Zahra melangkah pelan menuju ranjang. Zahra melirik sekilas kearah nakas. Kunci mobil yang semula berada disana sudah tidak lagi tampak. Itu artinya Faza sudah benar benar pergi ke kantor untuk urusan pekerjaan.
Zahra menghela napas. Faza memang terkadang bisa sangat egois dan tidak perduli dengan sekitar.
__ADS_1
“Sudahlah.. Biarkan saja.. Yang penting sekarang aku harus tetap sehat untuk kamu nak..” Senyum Zahra sambil mengusap perutnya sendiri.
Zahra tidak ingin egois dan menuruti amarah sesaatnya. Anaknya membutuhkan kasih sayang dan cinta yang utuh dari mereka berdua.
------------
Sementara itu di bandara Loly melangkah dengan riang menyeret kopernya yang cukup besar serta beberapa paperbag yang ditentengnya. Loly berhenti kemudian melepas pegangan pada kopernya dan berdiri didepan bandara. Loly mulai mengeluarkan ponselnya dari tas slempangnya. Wanita dengan dress orange sebatas lutut itu mulai memainkan ponselnya berniat memesan taksi. Namun tiba tiba sebuah taksi berhenti tepat didepan-nya.
Loly sempat kebingungan namun begitu melihat taksi itu kosong dan tidak membawa penumpang, Loly segera masuk. Loly bahkan dengan sombongnya menyuruh si supir taksi memasukan barang bawaan-nya ke bagasi mobil yang tentu saja langsung dituruti oleh supir berbaju biru muda tersebut.
“Jalan saja dulu, nanti saya kasih tau tujuan-nya.” Ujar Loly sambil memainkan ponselnya.
“Baik nona..” Jawab si supir taksi dengan nada sedikit menekan.
Loly sempat merasa aneh dan melirik pada supir taksi yang mengenakan topi hitam itu namun akhirnya Loly mengedikkan kedua bahunya tidak perduli. Loly berpikir mungkin memang nada bicara supir taksi tersebut terbiasa seperti itu.
Taksi itu mulai melaju dari bandara. Namun taksi tersebut melaju berlawanan arah dengan arah jalan pulang Loly. Dan karena Loly yang sibuk memainkan ponselnya, Loly tidak menyadari hal tersebut.
“Abis ini belok kanan ya pak.” Ujar Loly tanpa mengalihkan perhatian-nya dari layar ponsel miliknya.
Loly terus asik memainkan ponselnya hingga guncangan mobil warna biru itu karna jalanan yang rusak menyadarkan-nya. Loly menolehkan kepalanya dan mengeryit karna merasa tidak mengenali jalan tersebut.
“Pak arah jalan pulang saya tidak kesini.. Ini dimana?”
Loly mulai merasa khawatir juga takut. Jalanan yang mereka lalui sangat sepi bahkan disekitar jalanan itu tidak ada bangunan apapun.
Tidak kunjung mendapat jawaban dari supir taksi tersebut, Loly pun mulai geram.
“Kamu..”
Mobil itu berhenti membuat Loly tidak meneruskan apa yang ingin dikatakan-nya.
__ADS_1
Supir taksi itu melepas topi yang dikenakan-nya membuat kedua mata Loly membulat sempurna. Loly sangat terkejut melihat sosok yang sangat dikenalnya itu.
“Fadly....”