
Fadly tidak pulang kerumah kedua orang tuanya lebih dulu. Pria itu langsung menuju kediaman Zahra dan Faza begitu menjelang malam.
Kedatangan Fadly disambut diam olah Faza dan Zahra. Keduanya hanya menatap Fadly yang asik menggendong Fahri.
“Om bawain mainan loh buat kamu.. Cepet gede ya nak biar kita bisa main sama sama. Nanti om ajarin kamu main bola, main basket, bahkan naik motor sama mobil om bakal ajarin.” Ujar Fadly setelah menciumi pipi gembul Fahri.
Zahra tersenyum. Jelas sekali Fadly adalah sosok yang sangat menyayangi anak kecil. Selain karna Fadly yang tidak bosan mengoceh, Fahri juga tampak nyaman dalam gendongan Fadly padahal tidak sedang memejamkan kedua matanya.
“Pokonya kamu harus jadi anak yang serba bisa ya.. Om bakal ajarin semuanya ke kamu.” Lanjut Fadly.
Zahra melirik pada Faza yang hanya diam saja sambil menatap Fadly dengan ekspresi datar. Jelas sekali terlihat Faza yang sedang memendam sesuatu pada Fadly.
“Mas...”
“Ini udah malam. Bisa tidak kamu bawa Fahri kekamar sayang? Aku ada yang mau dibicarain sama Fadly.” Sela Faza pelan.
Zahra terdiam sesaat kemudian tersenyum dan menganggukan kepalanya. Zahra paham dengan apa yang maksud suaminya.
“Ya mas..”
Zahra kemudian bangkit dari duduknya dan mendekat pada Fadly kemudian mengambil alih Fahri dari gendongan Fadly.
“Loh Ra, kok.. Aku akan belum selesai sama Fahri ngobrolnya.” Protes Fadly saat Zahra mengambil Fahri dari gendongan-nya.
“Ini sudah waktunya Fahri tidur Ly..” Senyum Zahra membalas.
Fadly mengeryit. Padahal saat dirinya datang tadi Fahri juga baru terbangun dari tidur lelapnya.
“Loh tapi kan tadi..”
“Aku sama Fahri keatas dulu ya Ly, mas..”
“Ya sayang..” Angguk Faza menjawab.
Fadly tidak mengerti. Fadly juga merasa ada sesuatu yang berbeda dari kakaknya Faza yang sejak kedatangan-nya hanya diam saja tanpa mengatakan apapun padanya.
__ADS_1
Setelah Zahra membawa Fahri berlalu dari hadapan-nya juga Faza, Fadly pun menatap penuh tanda tanya pada kakaknya itu.
“Ada apa sih kak?” Tanya Fadly heran.
Faza menghela napas kemudian menyeruput sedikit teh hangat yang dibuatkan oleh mbak Lasmi.
Fadly yang melihat gelagat aneh kakaknya itu berdecak pelan. Fadly benar benar tidak bisa jika dibuat penasaran seperti sekarang ini.
“Ayolah kak... Jangan membuat aku bingung seperti ini..” Paksa Fadly tidak sabaran.
Faza menatap Fadly dengan tatapan yang Fadly sendiri tidak tau apa artinya. Yang jelas itu bukan tatapan tatapan prasangka baik padanya.
“Sore setelah kamu berangkat ke bandung kemarin Loly datang kesini Fadly.”
Fadly berdecak kemudian melengos. Fadly sudah malas jika yang dibahas adalah Loly.
“Dia datang kesini menemui Zahra. Dia menangis dan menumpahkan segala apa yang dirasanya pada Zahra. Bahkan sampai kakak pulang dia masih disini. Sampai malam.” Lanjut Faza.
Fadly hanya diam dengan memalingkan wajah. Fadly sudah berhasil membuat hati Loly hancur. Dan Fadly rasa itu pantas untuk Loly yang tidak berperasaan dulu. Setidaknya Loly bisa merasakan bagaimana rasanya jika hidupnya diganggu oleh seseorang.
Rentetan pertanyaan itu membuat Fadly mendesah kesal. Fadly tidak serius mendekati Loly. Niatnya hanya ingin memberi pelajaran pada Loly.
“Loly bukan perempuan yang baik. Dia tidak pantas dipilih. Aku mendekatinya hanya untuk membuat dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya kak.”
Faza mengeryit.
“Kamu dendam sama Loly?” Tanya Faza tidak menyangka.
“Ya.. Loly sudah membuat kepercayaan mamah padaku hilang. Loly bahkan pernah mempunyai rencana buruk pada kakak dan Zahra. Apa kakak pikir perempuan seperti itu pantas untuk dicintai?”
Faza menggeleng tidak menyangka dengan apa yang dikatakan adiknya. Karna yang Faza tau Fadly adalah pria yang sangat menghormati wanita. Fadly adalah pria yang selalu menomor satukan perlindungan bagi wanita. Fadly pernah marah pada Faza saat Faza membuat Zahra menangis dulu.
“Tapi Loly sudah berubah Fadly.. Dia sudah baik dan itu sejak dekat dengan kamu.” Ujar Faza pelan.
“Loly sudah berubah menjadi perempuan baik? Aku nggak bisa percaya begitu saja kak. Kita lihat saja nanti setelah ini. Apakah Loly akan terus baik atau sebaliknya. Kalau dia membalas balik apa yang aku lakukan itu artinya Loly memang bukan perempuan yang pantas untuk dijaga dan dicintai.”
__ADS_1
Faza tidak bisa berkata apa apa. Ucapan Fadly membuat Faza diam. Faza juga sebenarnya tidak bisa menjamin apakah Loly sudah benar benar berubah atau tidak.
“Sudahlah.. Aku males kalau bahas tentang dia. Aku pulang ya kak.. besok aku kesini lagi.”
Fadly bangkit dari duduknya kemudian meninggalkan Faza begitu saja diruang keluarga. Moodnya langsung memburuk karna Faza yang tiba tiba membicarakan tentang Loly.
Sementara Faza, pria itu berdecak kemudian mendesah frustasi. Apa yang Fadly katakan ada benarnya juga. Mengetes perubahan Loly dengan membuat wanita itu memang tidak salah. Tapi menurut Faza cara Fadly terlalu kejam karna mempermainkan hati. Faza tidak bisa menghakimi karna dirinya sendiri pun banyak mempunyai kesalahan pada Zahra. Salah satunya adalah berpaling hati yang sampai saat ini masih belum berani Faza katakan dengan jujur pada Zahra.
Sedangkan Fadly, pria itu melangkah lebar dan cepat keluar dari kediaman Faza dan Zahra. Faza berhasil membuat moodnya kacau kali ini karna membahas tentang Loly.
Sambil melangkah Fadly memesan ojek online yang begitu Fadly sampai didepan gerbang tukang ojek tersebut sudah siap mengantarnya pulang.
Fadly naik ke boncengan tukang ojek tersebut. Seperti racun, hanya karna namanya disebut, kini bayangan Loly langsung menghantui Fadly, membayangi disetiap pandangan Fadly dan berhasil membuat Fadly merasa sangat kesal.
Dalam perjalan menuju pulang Fadly terus menepis bayangan Loly yang selalu saja berada didepan-nya. Mulai dari bayangan Loly yang sedang tersenyum manis bahkan sampai bayangan Loly sedang merajuk dan mengerucutkan bibirnya.
Itu semua membuat perasaan Fadly tidak menentu. Namun dalam kekacauan perasaan-nya itu emosi lebih mendominasi. Fadly benar benar enggan mengungkit lagi tentang Loly yang sudah berhasil dia buat menangis.
“Pak..”
Fadly tersentak saat tukang ojek online itu memanggilnya dengan nada sedikit tinggi.
“Maaf pak.. Saya panggil bapak dari tadi tidak nyaut. Bapak terus melamun makan-nya saya sedikit meninggikan nada panggilan saya ke bapak.” Ujar si tukang ojek tersebut.
Fadly menggaruk tengkuknya yang tidak gatak itu. Fadly langsung turun dari boncengan tukang ojek tersebut begitu menyadari dirinya sudah sampai tepat didepan gerbang kediaman kedua orang tuanya.
“Ini ya pak ongkosnya. Terimakasih.” Ujar Fadly sambil menyodorkan uang pada tukang ojek tersebut.
“Yah pak, kembalian-nya tidak ada.. Saya nggak ada receh.”
“Oh tidak perlu pak. Ambil saja kembalian-nya.” Senyum Fadly.
“Aduh.. Terimakasih banyak ya pak.. Kalau begitu saya permisi. Sekali lagi terimakasih banyak pak..”
Dengan wajah sumringah tukang ojek tersebut berlalu dengan sepeda motornya. Sedang Fadly, dia memanggil pak Umar kemudian menyuruh satpam itu untuk membukakan pintu gerbang untuknya.
__ADS_1