
Faza baru saja keluar dari lift saat tiba tiba Siska menyapanya. Sesaat Faza terdiam menatap sosok cantik yang pernah diam diam dia kagumi. Faza tidak bisa menampik Siska lah sosok yang menyadarkan bahwa istri dan anaknya adalah bagian terpenting dalam hidupnya.
“Ya, pagi juga.” Senyum tipis Faza kemudian melewati Siska begitu saja.
Siska menghela napas. Faza benar benar berubah sekarang padanya.
Siska memutar tubuhnya menatap Faza yang melangkah tanpa sekalipun menoleh padanya. Sejak Siska tidak lagi menjadi sekretarisnya sikap Faza memang berubah 100%.
Yang dulunya Faza selalu tersenyum manis padanya kini sudah tidak lagi. Faza hanya tersenyum tipis saat berpapasan dengan-nya. Bahkan terkadang Faza juga tidak menjawab sapaan-nya.
“Perasaan ini memang salah.. Pak Faza.. Dia sudah beristri. Tapi aku tidak bisa munafik.. Aku ingin pak Faza juga merasakan apa yang aku rasakan padanya.” Batin Siska sedih.
Tidak ingin berharap terlalu banyak dengan perasaan sepihaknya, Siska pun kemudian berlalu untuk kembali bekerja.
Sementara Faza, pria itu tidak merasakan apapun pada Siska sekarang. Faza sudah benar benar berhasil menyadarkan hati juga pikiran-nya sendiri. Apa lagi ditambah dengan kehadiran Fahri. Faza berjanji pada dirinya sendiri akan selalu setia pada Zahra, wanita yang sejak dulu sangat dicintainya. Wanita yang berhasil membuat Faza berani melakukan sesuatu yang bahkan tidak direstui oleh Sinta, mamahnya. Yaitu menikahi Zahra diam diam.
Faza mendudukan dirinya dikursi kemudian menghela napas. Pria itu mulai membuka laptopnya enggan memikirkan apapun yang menurutnya tidak penting.
Belum lama Faza duduk, Reyhan mengetuk pintu kemudian masuk kedalam ruangan Faza.
“Selamat pagi pak..” Sapanya menganggukan kepalanya pelan.
“Ah ya.. Selamat pagi juga Rey. Duduk...” Saut Faza tersenyum dan menyuruh Reyhan untuk duduk.
“Terimakasih pak..” Angguk Reyhan kemudian mendudukan dirinya dikursi didepan meja Faza.
“Ini ada beberapa laporan yang harus anda baca pak..” Ujar Reyhan sambil menyodorkan map berwarna merah yang dibawanya.
Faza menerimanya kemudian langsung membuka dan membacanya sebentar.
“Oke.. Akan saya baca nanti. Ada lagi?” Angguk Faza dan bertanya lagi pada Reyhan.
“Untuk saat ini hanya itu saja pak laporan yang masuk. Kalau begitu saya permisi mau kembali bekerja pak.”
__ADS_1
“Oke.. Silahkan.” Senyum tipis Faza.
Reyhan tersenyum kemudian bangkit dari duduknya dan berlalu keluar dari ruangan Faza.
Faza menghela napas. Pria itu merasakan banyak sekali perbedaan setelah menjadikan Reyhan sebagai sekretaris sekaligus asisten-nya. Faza banyak terbantu karna Reyhan yang memang serba bisa. Selain itu juga Faza merasa lebih nyaman bekerja dengan Reyhan dari pada dengan Siska.
“Huh.. Sudahlah Faza, jangan membanding bandingkan. Mereka berdua mempunyai kelebihan dan kekurangan masing masing.” Gumam Faza menggelengkan pelan kepalanya.
----------
Diruangan-nya Loly tampak berpikir tentang sosok yang dilihatnya dari kejauhan pagi tadi. Loly yakin sosok yang berjalan kaki dengan setelan jas abu abu itu adalah Fadly. Loly hapal betul postur tubuh dan cara pria itu berjalan. Tapi entah kenapa begitu pria itu menengok, pria itu tiba tiba bersembunyi di balik pohon. Loly ingin turun memastikan sebenarnya pagi tadi. Tapi karna Loly yang sudah hampir telat karna harus memutar arah jalan membuat Loly tidak sempat. Ya, karna jalanan yang biasa Loly lewati sedang dalam perbaikan sehingga mau tidak mau Loly harus menerobos masuk kedalam kompleks perumahan dimana keluarga Akbar tinggal.
Loly berdecak pelan. Entah kenapa rasanya susah sekali melupakan Fadly setelah apa yang Fadly lakukan padanya. Fadly bukan hanya jahat tapi juga sangat kejam karena menorehkan luka yang begitu perih dihati Loly. Tapi entah kenapa meskipun Fadly sudah menyakitinya Loly tetap saja berharap masih ada cinta dihati pria itu untuknya.
“Apa aku terlalu bermimpi bisa mendapat cinta tulus dari kamu Ly?” Gumam Loly bertanya entah pada siapa.
Loly tidak tau harus bagaimana mengikis rasanya pada Fadly. Pria itu sudah terlalu dalam membuatnya jatuh dalam sandiwaranya. Pria itu sudah benar benar berhasil membuat hati Loly terpaut pada pesona juga kelembutan-nya. Meskipun pada kenyataan-nya itu semua hanya sandiwara yang Fadly lakukan untuk menghancurkan-nya.
“Nona?”
“Mona...”
“Maaf kalau saya mengejutkan anda Nona. Tapi saya sudah berdiri sejak beberapa menit yang lalu disini. Saya panggil nona berkali kali tapi sepertinya anda sedang sangat fokus dengan pemikiran sendiri saat ini.” Ujar Mona.
Loly meringis. Terlalu larut memikirkan Fadly membuat Loly tidak menyadari keberadaan Mona disampingnya.
“Ya.. Aku sedang banyak pikiran sekarang. Ada apa Mona?” Tanya Loly kemudian.
Mona tersenyum manis kemudian menyerahkan undangan bersampul biru muda pada Loly.
“Apa ini?” Tanya Loly bingung.
“Itu undangan dari client anda nona.”
__ADS_1
Loly mengeryit kemudian segera membuka undangan tersebut.
Loly mengangguk setelah tau apa isi dari undangan tersebut.
“Kamu ikut ya Mona.. Aku nggak mau datang sendiri. Ya kamu tau lah bagaimana client kita yang satu ini..”
“Dengan senang hati saya akan ikut nona.” Senyum Mona menganggukkan kepalanya.
Loly ikut tersenyum. Beruntung sekali dirinya mempunyai sekretaris seperti Mona yang sudah seperti saudara bagi Loly.
“Eemm.. Mona bisa kamu duduk sebentar disini?” Pinta Loly membuat Mona mengeryit.
“Tentu nona..” Katanya kemudian segera mendudukan dirinya dikursi yang berada didepan meja kerja Loly.
Loly menghela napas pelan sebelum menceritakan apa yang sedang mengganggu pikiran-nya saat ini. Loly percaya dan yakin bahwa Mona adalah tempat terbaik untuk dirinya mencurahkan segala isi hatinya.
“Ini tentang Fadly Mona..”
Mona tersenyum tipis. Sudah Mona duga. Loly pasti sedang memikirkan Fadly jika sudah melamun seperti tadi.
“Memangnya kenapa dengan pak Fadly?” Tanya Mona pelan.
Loly menatap Mona kemudian mengalihkan pandangan-nya kearah lain. Loly hanya berharap semoga Mona tidak merasa bosan dengan cerita tentang Fadly yang selalu Loly lontarkan padanya.
“Tadi pagi aku terpaksa harus menerobos melewati kompleks perumahan Fadly karna jalanan yang biasa aku lewati sedang dalam masa perbaikan. Dan kamu tau? Aku seperti melihat sosok Fadly ditengah jalan kompleks. Aku hapal betul bagaimana postur tubuh bahkan cara Fadly jalan. Tapi anehnya saat mobil aku semakin dekat sosok itu malah bersembunyi.”
Mona tersenyum mendengarnya. Jika memang benar yang dilihat Loly adalah Fadly itu artinya Fadly memang berusaha menghindar dari Loly.
“Jujur aku nggak tau aku harus bagaimana. Karena sampai sekarang aku masih berharap Fadly mempunyai cinta untukku. Harapan yang sebenarnya sangat mustahil tapi entah kenapa lewat harapan itu aku selalu percaya bahwa sebenarnya ada setitik cinta dihati Fadly untukku Mona.”
“Nona.. Kalau menurut saya, anda hanya belum terbiasa saja tanpa pak Fadly. Saya yakin anda pasti mengikis perasaan itu. Karna pada kenyataan-nya pak Fadly bahkan tidak pernah perduli pada anda..” Ujar Mona hati hati.
Loly diam. Dadanya terasa dihimpit oleh batu besar. Apa yang Mona katakan memang benar. Fadly tidak pernah sedikitpun perduli padanya. Bahkan saat Loly menangis didepan Fadly, pria itu malah menatapnya sinis. Dan itu menandakan bahwa semua yang Fadly lakukan selama ini padanya hanyalah sebuah sandiwara yang memang sudah sedemikian apiknya Fadly perankan demi menghancurkan-nya.
__ADS_1
“Ya.. Mungkin aku terlalu berharap sesuatu yang tidak mungkin.” Gumam Loly lirih.