
Zahra menatap langit langit kamar mewah itu. Zahra tidak menyangka jika dirinya akan mendapatkan tamu bulanan-nya sedangkan mereka berdua sedang bulan madu. Zahra merasa bersalah tapi Zahra juga tidak bisa mengelak.
Tiba tiba Zahra mengeryit. Zahra meraih ponsel miliknya yang ada didalam tas yang tadi hendak dibawanya. Zahra mengecek tanggal hari itu dan terkejut.
“Loh bukan-nya harusnya aku udah dapet mens sejak tanggal 10.. Kok ini..”
Zahra bingung dan bertanya tanya sendiri. Tidak biasanya datang bulan-nya tidak lancar. Biasanya Zahra selalu mendapat tamu bulanan-nya ditanggal yang tepat. Kalaupun telat paling hanya satu atau dua hari. Tapi sekarang sudah lebih dari dua minggu.
“Apa mungkin aku..” Zahra tidak bisa melanjutkan gumaman-nya sendiri. Zahra bukan wanita polos yang tidak tau apa apa tentang hal seperti itu.
“Aku harus cek sekarang...”
Zahra meletakan ponselnya, melupakan rasa sakit diperutnya kemudian turun dari ranjang dan melangkah menuju kopernya juga Faza untuk mencari barang yang memang sengaja Zahra bawa dari rumah, yaitu tespek.
“Ketemu...” Senyum lebar Zahra begitu mendapati alat tes kehamilan tersebut.
Zahra buru buru masuk kedalam kamar mandi untuk melakukan pengecekan. Jantungnya berdetak dua kali lipat lebih cepat dari kerja normalnya ketika Zahra mulai mengecek menggunakan tespek miliknya.
Setelah menunggu beberapa menit hasil dari tespek tersebut sudah muncul namun Zahra masih belum berani membuka kedua matanya. Zahra takut hasilnya akan mengecewakan mengingat kehamilan-nya adalah hal yang sedang mereka tunggu tunggu.
“Zahra tenang.. Kamu harus yakin..”
Zahra menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya perlahan. Zahra kemudian mulai membuka kedua matanya dan mengangkat alat tes kehamilan yang dipegangnya. Begitu kedua matanya terbuka alangkah terkejutnya Zahra melihat dua garis merah yang begitu jelas tertera di alat tersebut.
“Ya Tuhan...”
Tanpa sadar air mata Zahra menetes. Zahra tidak menyangka Tuhan begitu cepat mengabulkan do'anya. Tuhan mempercayakan anugerah terindah itu padanya dan Faza.
“Aku hamil..” Lirih Zahra dengan suara bergetar.
Zahra menangis haru seorang diri didalam kamar mandi. Harapan-nya dan Faza sudah terkabul. Zahra hamil di enam bulan usia pernikahan-nya dengan Faza.
Zahra menyentuh perutnya yang masih terasa sakit. Zahra menunduk menatap perut ratanya dengan sangat lembut.
“Sehat sehat ya sayangnya mamah..” Katanya pelan dengan air mata yang terus menetes membasahi pipinya.
Zahra kemudian keluar dari kamar mandi dengan membawa alat tes kehamilan tersebut. Zahra kembali naik keatas ranjang dan mendudukan dirinya disana dengan bantal sebagai alas untuk punggungnya. Zahra menyeka air mata yang membasahi pipinya kemudian tersenyum.
__ADS_1
“Aku nggak boleh terlalu capek sekarang. Aku harus menjaga dengan baik anakku dan mas Faza..” Gumam Zahra dengan senyuman bahagia yang terukir dibibirnya.
------------
Sementara itu Faza melangkah memasuki lift dengan langkah pelan. Dua bingkisan berukuran sedang sudah berada ditangan-nya.
Faza menghela napas. Niat awalnya untuk membuat Zahra bahagia memang masih menjadi tujuan utamanya. Namun mendengar Zahra akan mendapat tamu bulanan-nya membuat Faza merasa sedikit lemas. Padahal gairahnya sedang sangat berkobar tapi tiba tiba mereka harus berhenti sejenak melakukan aktivitas itu karna Zahra kedatangan tamu bulanan-nya.
Pintu lift otomatis terbuka saat Faza sampai dilantai tempat kamarnya dan Zahra berada. Sekali lagi Faza menghela napas. Faza sudah lumayan lama meninggalkan Zahra untuk membeli sarapan yang diiringi dengan renungan-nya. Faza merenung karna hasratnya yang harus ditahan setelah ini.
Faza melangkah keluar dari lift. Faza terdiam lagi menatap pintu kamarnya dan Zahra yang memang tidak jauh dari lift.
“Huft.. Kenapa harus disaat seperti ini sih..” Gumam Faza pelan.
Faza kembali melangkahkan kakinya menuju kamar mereka. Jika dikatakan Faza egois itu memang benar. Buktinya Faza masih sempat memikirkan hasratnya sendiri saat Zahra sedang kesakitan karna akan mendapat tamu bulanan-nya.
Saat membuka pintu kamarnya Faza mendapati Zahra yang sedang memainkan ponselnya. Wajah Zahra terlihat pucat namun senyuman manis terus menghiasi bibirnya dengan tatapan terus tertuju pada ponsel yang sedang dipegangnya.
Faza menelan ludahnya.
“Jangan memikirkan dirimu sendiri Faza..” Batin Faza berusaha menekan ke egoisan yang sedang menguasai pikiran dan hatinya.
Suara Faza berhasil menarik perhatian Zahra. Wanita itu segera meletakan ponsel yang sedang dipegangnya. Senyuman dibibir Zahra begitu manis menatap Faza yang masih berdiri didepan pintu kamar tempat mereka menginap.
“Mas...” Gumam Zahra merasa sangat senang melihat suaminya yang terasa begitu sangat lama hanya mencari sarapan saja.
Faza membalas senyuman Zahra kemudian melangkah mendekat ke ranjang dimana Zahra duduk bersender di hadboard ranjang besar itu.
“Bagaimana perutnya?” Tanya Faza sambil membuka bingkisan yang dibawanya.
Zahra tidak menjawab namun senyuman dibibirnya terus terukir menatap Faza.
“Aku membelikan sup untuk kamu. Kamu harus makan ini.” Kata Faza lagi.
“He'em...” Angguk Zahra menurut saja.
Faza mendudukkan dirinya ditepi ranjang disamping kaki Zahra yang berselonjor lurus. Pria itu mulai membuka sup yang disajikan di cup yang seukuran dengan mangkuk. Faza mulai meniupinya agar Zahra tidak kepanasan saat menyantapnya.
__ADS_1
“Mas...” Panggil Zahra membuat Faza menoleh padanya.
“Ya...”
Zahra tersenyum sendiri membayangkan respon Faza jika Zahra menunjukan tespek miliknya. Zahra yakin Faza pasti akan senang begitu tau dirinya sedang hamil sekarang.
“Zahra.. Kamu kenapa?” Tanya Faza menatap Zahra bingung. Ekspresinya tidak seperti biasanya. Faza terlihat biasa saja tanpa kelembutan dan kemesraan seperti kemarin kemarin.
“Aku punya sesuatu buat kamu.”
Faza mengangkat sebelah alisnya.
“Oh ya? Apa itu?”
Zahra menghela napas kemudian menyingkap selimut putih tulang yang baru diganti oleh pegawai hotel pagi tadi saat Faza mandi. Zahra meraih tespek miliknya kemudian memberikan-nya pada Faza dengan posisi terbalik sehingga dua garis merah itu tidak terlihat langsung oleh Faza.
“Ini kan...” Faza tidak melanjutkan ucapan-nya ketika meraih tespek yang disodorkan Zahra.
Zahra menganggukan kepala dengan senyuman yang terus menghiasi bibir kering dan pucatnya.
Faza yang tidak mengerti dengan maksud Zahra memberikan tespek itu segera membalik untuk melihatnya. Faza langsung diam saat melihat dua garis merah yang begitu terlihat jelas.
“Ini maksudnya...”
“Aku hamil mas...” Potong Zahra lirih.
Faza kembali menatap Zahra. Faza menggeleng tidak percaya tapi Zahra tidak mungkin membohonginya. Sedangkan Zahra mengeluhkan sakit pada perutnya dan mengatakan akan kedatangan tamu bulanan-nya tadi.
“Tapi kan tadi kamu bilang..”
“Aku telat dua minggu lebih mas. Dan bodohnya aku tidak sadar. Untung aku langsung mengeceknya. Dan hasilnya positif. Aku hamil mas..” Jelas Zahra pelan.
Faza langsung tertawa mendengarnya. Namun bersamaan dengan tawa dibibirnya kedua indra penglihatan-nya juga mengeluarkan air mata. Semua perasaan yang sedari tadi menguasainya langsung berganti dengan perasaan bahagia tiada tara karna kabar kehamilan Zahra.
Faza langsung menaruh sup yang dipegangnya di atas nakas kemudian menarik tubuh Zahra dan memeluknya erat.
“Aku akan menjadi papah sayang.. Aku akan menjadi papah..” Tangis haru Faza memeluk Zahra erat.
__ADS_1
Zahra tertawa mendengar tangisan suaminya. Faza ternyata juga gampang menangis.