
Dimalam yang larut Faza mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata rata. Faza benar benar tidak menyangka jika hari itu akan datang malam ini. Beruntungnya Faza sedang tidak dikuasai rasa ngantuk sehingga Faza tetap bisa mengendarai mobilnya dengan konsentrasi penuh.
“Ya Tuhan....” Lirih Zahra menggenggam erat tangan mbak Lasmi yang memegang tangan-nya.
“Sabar ya nyonya..” Lirih mbak Lasmi lembut.
“Sakit mbak..” Adu Zahra menangis.
“Ya nyonya.. Sebentar lagi kita sampai dirumah sakit..”
Sebisa mungkin mbak Lasmi menenangkan Zahra. Mbak Lasmi tau apa yang sedang dirasakan oleh Zahra, karna mbak Lasmi juga pernah berada diposisi Zahra. Hanya bedanya dulu mbak Lasmi melahirkan anaknya seorang diri tanpa ada yang perduli. Sedangkan Zahra, dia memiliki Faza yang begitu sangat menyayanginya.
Mobil Faza sampai tepat didepan rumah sakit. Disana dokter Cindy sudah menunggu dengan gelisah.
Faza segera turun dari mobil kemudian membuka pintu mobil bagian belakang.
“Hati hati tuan..” Ujar mbak Lasmi saat Faza mulai meraih tubuh Zahra mengeluarkan-nya dari dalam mobil.
Bantuan datang. Tiga perawat buru buru mendekat pada Faza dengan membawa brankar dorong untuk Zahra. Faza yang mengerti segera meletakan tubuh Zahra diatas brankar tersebut dengan sangat hati hati.
“Aku yakin kamu bisa sayang.. Aku disini.. Aku ada untuk kamu..” Lirih Faza menggenggam erat tangan Zahra.
Zahra menganggukan kepala tanpa bersuara. Tubuhnya sudah lemas karna merasakan sakit luar biasa itu. Sakit yang seakan membuat semua tulang tulang ditubuhnya remuk.
Dengan segera Zahra dibawa keruang bersalin. Dokter Cindy sudah menyiapkan segala sesuatunya agar saat Zahra datang bisa dengan segera di tindak lanjuti.
“Dok tolong istri saya dok.. Dia kesakitan.. Tolong..”
Faza langsung memohon sambil menangis begitu melihat dokter Cindy. Hal itu membuat mbak Lasmi yang berada dibelakangnya ikut menangis karena mbak Lasmi sendiri pernah merasakan bagaimana rasanya berjuang melahirkan seorang bayi.
Namun berbeda dengan mbak Lasmi, dokter Cindy justru tersenyum geli. Proses melahirkan adalah proses yang sangat menegangkan, menyakitkan, namun juga menggembirakan.
“Saya akan mengusahakan segala yang terbaik tuan.. Mohon tenang dan sabar ya tuan.. Berdo'a pada yang maha pemberi kehidupan. Semuanya akan baik baik saja.” Ujar dokter Cindy tenang.
__ADS_1
Faza menggelengkan kepalanya. Faza tidak pernah berhenti memanjatkan do'a pada Tuhan. Namun rasa takut itu semakin menggerogoti hatinya. Apa lagi Faza juga tau proses yang akan dilalui oleh istrinya tidaklah mudah. Zahra akan mempertaruhkan hidupnya untuk melahirkan putra mereka.
Dokter Cindy kemudian masuk kedalam ruang bersalin meninggalkan Faza yang mendadak meluruh ke lantai.
Tanpa sedikitpun memikirkan penilaian mbak Lasmi atas dirinya Faza menangis berlutut dilantai menangisi kondisi Zahra dengan posisi menghadap pintu ruang bersalin yang baru saja ditutup oleh dokter Cindy.
Mbak Lasmi yang berada dibelakang Faza hanya bisa diam. Mbak Lasmi tidak tau harus bersikap seperti apa pada Faza sekarang. Pria itu terlihat sangat kalut dengan ketakutan dan kesedihan-nya. Bingung harus melakukan apa, Mbak Lasmi pun memilih untuk menghubungi papah Faza. Mbak Lasmi yakin dengan kehadiran papahnya Faza bisa sedikit lebih tenang.
Mbak Lasmi sedikit menjauh dari Faza yang sama sekali tidak perduli dengan apapun disekitarnya. Mbak Lasmi berniat menelepon papah Faza agar datang dan menemani Faza yang sedang kalut.
Faza terus terduduk dilantai sambil menangis. Memorinya tentang kesalahan kesalahan yang telah diperbuatnya membuat Faza semakin merasa sangat bersalah pada Zahra.
“Maafin aku Zahra.. Maaf..” Tangis Faza benar benar kalut.
Tidak hanya merasa bersalah, Faza juga merasa sangat bodoh sekarang. Faza hanya bisa menangis tanpa sedikitpun bisa membantu proses persalinan istrinya didalam ruangan bersalin.
“Ya Tuhan.. Tolong selamatkan istri dan anak hamba.. Jangan biarkan mereka berdua pergi dari hamba.. Hamba tidak akan bisa melakukan apa apa lagi tanpa mereka berdua.” Batin Faza terus memohon dan memanjatkan do'a pada yang kuasa.
“Faza..”
Suara Akbar membuat Faza mengangkat kepalanya. Faza segera bangkit dengan sisa tenaga yang dimilikinya.
“Pah Zahra pah.. Dia kesakitan didalam sana.. Dia berjuang sendirian pah..” Adu Faza menangis seperti anak kecil.
Akbar tertawa merasa lucu melihat reaksi berlebihan putranya. Dengan pelan Akbar meninju dada bidang Faza. Dan tinjuan pelan itu membuat Faza sedikit mundur karna kondisi tubuhnya yang sedang sangat lemah.
“Apa ini Faza? Didalam sana Zahra sedang berjuang untuk melahirkan anak kalian.. Kenapa kamu malah menangis seperti anak kecil disini? Harusnya kamu masuk kedalam dan temani istri kamu.. Kuatkan dan berikan semangat padanya. Posisikan diri kamu selalu ada disampingnya.”
Faza menggeleng. Air mata semakin deras menetes dikedua pipinya. Faza tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya berada diposisi Zahra sekarang. Zahra kesakitan sendirian.
“Hey Faza.. Kamu ini laki laki. Kamu seorang suami. Dan kamu adalah calon papah.. Apa ini? Harusnya kamu kuat. Kamu tersenyum karna sebentar lagi anak kamu dan Zahra akan lahir.. Memang sangat menegangkan rasanya... Tapi ini juga kabar yang membahagiakan Faza. Papah juga pernah berada diposisi kamu. Tapi Faza tidak cengeng seperti kamu. Papah berusaha untuk terus tersenyum agar mamah kamu kuat dulu. Harusnya kamu juga melakukan hal yang sama seperti apa yang papah lakukan dulu.”
Faza menundukan kepalanya. Entahlah, membayangkan Zahra yang sedang kesakitan membuat semua kesalahan yang pernah Faza lakukan terlintas dibenaknya.
__ADS_1
“Papah yakin kamu bisa memposisikan diri kamu sebagaimana status kamu sekarang Faza. Sekarang hapus air mata kamu. Masuk kedalam dan tersenyumlah untuk menyemangati istri kamu. Ingat, sebentar lagi status kamu bukan hanya seorang suami, tapi juga seorang papah. Sama seperti papah.”
Akbar merangkul bahu tegap Faza. Pria itu berusaha untuk membuat putra sulungnya tidak cengeng.
“Tapi pah...”
“Faza.. Yang akan lahir adalah putra kamu.. Cucu papah dan mamah.. Lakukan yang terbaik ya.. Semangati Zahra..” Sela Akbar tersenyum dan berkata pelan pada Faza.
Faza diam. Pria itu kemudian menghela napas dan menganggukan kepala mengiyakan apa yang diucapkan oleh papahnya.
“Ya pah.. Kalau begitu aku masuk yah..” Katanya kemudian.
“Oke.. Papah tunggu disini. Tersenyumlah untuk menyemangati Zahra yang sedang berjuang untuk putra kalian.”
Faza mengangguk lagi. Faza menatap pintu ruang bersalin Zahra. Disana Zahra sedang ditangani oleh dokter Cindy dan para perawat.
Pintu bersalin itu tiba tiba terbuka memunculkan sosok dokter Cindy.
“Tuan Faza...”
Faza dengan sigap mendekat.
“Saya dokter. Bagaimana istri saya?” Tanya Faza dengan suara lirih dan serak.
Akbar tersenyum geli dengan gelengan kepala melihat tingkah lucu anaknya itu. Akbar kemudian mendekat pada Faza dan berdiri tepat disamping Faza.
“Kondisi nyonya Zahra baik.. Hanya saja nyonya Zahra sedikit lemas. Tapi setelah mendapatkan infus nyonya Zahra pasti akan kembali seperti semula. Dan untuk saat ini kita masih menunggu sampai pembukaan-nya lengkap. Untuk itu lebih baik anda berada disamping nyonya Zahra untuk menemani dan menyemangatinya tuan.” Senyum dokter Cindy menjelaskan.
“Baik dok..” Angguk Faza mengerti.
“Kalau begitu saya permisi.”
Faza hanya mengangguk tanpa berkata apa apa. Setelah dokter Cindy berlalu Faza pun segera masuk kedalam ruangan dimana Zahra sedang menunggu pembukaan-nya lengkap.
__ADS_1