PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 95


__ADS_3

“Besok kita jalan jalan kemana lagi mas?”


Faza yang sedang menyantap makanan-nya langsung berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya. Seharian jalan jalan mendatangi beberapa tempat wisata dikota itu membuat Zahra terus tersenyum lebar. Namun senyuman itu tidak membuat Faza ikut bahagia karna kondisi Zahra yang sempat memburuk. Zahra kembali mengeluhkan sakit perut dengan bibir pucat serta muntah muntah sampai beberapa menit.


“Zahra.. Sepertinya kita harus segera kembali ke jakarta.”


Senyuman dibibir Zahra pudar. Zahra masih sangat betah di Paris tapi tiba tiba Faza mengajaknya untuk pulang ke indonesia. Sedang mereka baru tiga hari berada disana.


“Kita harus segera mengecek kandungan kamu ke dokter. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.” Lanjut Faza.


Dokter Frans memang sudah memeriksa keadaan Zahra dua hari yang lalu. Tapi tetap saja Faza membutuhkan pemeriksaan yang jelas karna saat itu juga Zahra sedang terlelap sehingga tidak bisa diperiksa dengan detail.


Zahra menghela napas kemudian menganggukan kepalanya. Kesehatan janin dalam kandungan-nya memang sangat penting saat ini. Zahra juga tidak mau kalau sampai anak yang dikandungnya kenapa napa.


“Iya mas..” Jawabnya pelan, menyetujui ajakan Faza untuk mereka pulang ke indonesia.


“Aku harap kamu ngerti ya sayang.. Aku bukan tidak mau mengajak kamu jalan jalan disini. Tapi kesehatan kamu dan calon anak kita sekarang adalah segalanya buat aku..”


Zahra tersenyum menatap wajah tampan suaminya. Faza terlihat merasa bersalah karna mereka harus pulang cepat dan tidak bisa menikmati waktu berdua berlama lama di Paris.


“Iya.. Nggak papa kok mas. Aku ngerti maksud kamu..”


Faza ikut tersenyum. Faza tau Zahra pasti sangat kecewa sebenarnya. Tapi Faza juga tidak punya pilihan lain.


Faza melepas pisau yang sedang dipegangnya. Pria itu meraih dan menggenggam tangan Zahra.


“Kedepan-nya aku akan lebih berusaha buat bisa bahagiain kamu juga anak kita.” Katanya yang disambut tawa pelan oleh Zahra.


Padahal tanpa Faza mengatakan-nya pun Zahra sudah tau bagaimana perjuangan suaminya. Mulai dari menghindari perjodohan dengan Loly sampai berusaha meluluhkan hati Sinta, mamahnya.


“Ya sudah lanjutin makan-nya abis itu kita balik ke hotel.” Senyum Faza.


“Eemm.. Tapi boleh tidak aku minta dibeliin banyak cemilan disini sebelum kita pulang mas. Beliin oleh oleh buat mamah, papah, Fadly, sama mbak dirumah juga.” Pinta Zahra menatap Faza penuh harap.

__ADS_1


“Tentu saja. Kita beli banyak oleh oleh untuk mereka.” Balas Faza tersenyum menyanggupi.


“Makasih masku sayang..” Senyum lebar Zahra merasa sangat bahagia karna Faza mau menuruti keinginan-nya.


“Iya sama sama Buntek nya aku..” Balas Faza membuat Zahra langsung mengerucutkan bibirnya karna Faza mengejeknya.


Sebelum kembali ke hotel, Zahra dan Faza mampir kesebuah toko yang menjual berbagai penak pernik khas kota Paris. Mereka juga mampir ke beberapa tempat yang menjual cemilan khas dikota itu untuk oleh oleh. Tapi bukan hanya itu saja. Zahra pun membeli banyak chiki yang tentu saja tidak ada di indonesia. Meskipun tidak tau bagaimana rasanya Zahra tetap mengambilnya.


Faza yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepala sembari tersenyum. Istrinya benar benar seperti anak kecil sekarang.


Sekitar pukul 7:30 mereka berdua baru sampai dihotel dengan banyaknya barang belanjaan yang Faza tenteng.


Zahra segera membersihkan diri begitu juga dengan Faza. Setelah itu mereka berdiri dibalkon hotel menikmati pemandangan malam kota Paris.


“Mas...” Panggil Zahra yang berada dalam pelukan Faza.


“Hem...” Saut Faza sambil mengusap lembut perut rata Zahra.


“Kenapa setelah tau aku hamil kamu nggak menyentuhku?”


Faza menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya perlahan.


“Melakukan-nya berarti harus mengeluarkan tenaga ekstra sayang.. Sedang kamu sendiri tidak boleh kelelahan untuk saat ini. Aku tidak mau memaksakan kehendak aku sama kamu.” Jawab Faza pelan.


Zahra melepaskan diri dari pelukan hangat Faza. Wanita itu mendongak menatap wajah tampan suaminya. Wajah dengan kulit putih kemerahan dan bersih dari kumis maupun jambang. Wajah yang memang selalu terawat dengan baik sejak mereka mulai bersama dulu.


“Memangnya kamu nggak pengin mas?” Tanya Zahra lagi.


Faza tersenyum. Dengan lembut Faza meraih pinggang Zahra merapatkan tubuh Zahra padanya. Faza menundukan kepalanya mendekatkan wajahnya pada wajah Zahra.


“Bohong kalau aku tidak menginginkan-nya sayang.. Aku bahkan tidak pernah merasa puas jika melakukan-nya hanya sekali saja. Tapi sekali lagi aku berpikir. Aku bisa melakukan-nya kapanpun aku mau pada kamu nanti setelah waktu waktu ini berlalu.” Bisik Faza.


Wajah Zahra memerah. Faza memang tidak pernah melakukan-nya sekali saja. Pria itu begitu gagah dan kuat saat menguasainya diatas tempat tidur. Dan sekarang Zahra merasa merindukan semua itu.

__ADS_1


“Mas...” Panggil Zahra lagi. Kedua tanganya menyentuh dan mengusap dada bidang Faza dengan lembut seolah sedang menggoda pria itu untuk melakukan itu padanya.


“Bagaimana kalau sekarang...” Ucapan Zahra terjeda. Zahra menatap dada bidang Faza kemudian kembali mendongak menatap tepat pada kedua bola mata Faza.


“Aku menginginkan-nya..” Lanjut Zahra lirih.


Faza terlihat terkejut sesaat. Faza tidak menyangka Zahra akan meminta lebih dulu padanya. Padahal biasanya harus Faza yang berinisiatif menyentuhnya. Tapi sekarang Zahra mengatakan menginginkan-nya dengan tatapan yang begitu berharap.


“Sayang kamu...”


“Aku kangen sentuhan kamu mas..” Sela Zahra lirih.


Rasa malu tidak sedikitpun Zahra rasakan sekarang. Zahra hanya sedang mengikuti hasratnya menginginkan sentuhan penuh cinta Faza yang memang hampir setiap malam dia dapatkan.


Faza tertawa pelan. Pria itu membelai lembut pipi Zahra yang mulai terlihat berisi.


“Aku sangat terkejut sayang.. Tapi aku takut aku tidak bisa mengendalikan diriku.”


Zahra menggelengkan kepalanya.


“Tapi aku menginginkan-nya mas..”


Faza menghela napas pelan. Gairahnya mulai naik tapi Faza berusaha untuk menekan dan menahan-nya. Pikiran dan tubuhnya sering tidak selaras jika sudah menguasai tubuh Zahra. Hasratnya begitu menggebu gebu jika melihat tubuh Zahra yang begitu pasrah dibawahnya.


“Mas...” Rengek Zahra dengan tatapan memohon.


Ini benar benar sangat lucu juga langka. Zahra menginginkan-nya bahkan berani meminta padanya. Ingin menolak tapi gairah itu terus naik bahkan mulai menguasai hati dan pikiran-nya. Tapi melakukan-nya juga takut berakibat fatal pada kandungan Zahra.


“Kamu bisa Faza.. Lakukan dengan lembut. Jangan membuat istrimu kecewa bahkan sampai berkecil hati..” Itu suara hati Faza yang berusaha meyakinkan-nya.


Faza menatap Zahra dalam dalam kemudian semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Zahra yang berakhir dengan bibir mereka yang saling berpagut mesra. Kali ini Zahra tampak begitu lihai mengimbangi ciuman Faza.


“Aku akan melakukan-nya dengan lembut sayang..” Bisik Faza melepaskan sejenak ciuman-nya kemudian kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Zahra.

__ADS_1


Dan malam terakhir mereka di Paris terasa semakin indah dengan buaian cinta yang begitu lembut namun juga menggairahkan.


__ADS_2