
Zahra menghabiskan waktu paginya merenung ditaman belakang rumahnya seorang diri. Zahra benar benar tidak menyangka semuanya akan berubah dalam waktu singkat. Suaminya menjadi super sibuk. Hampir setiap malam Zahra selalu makan sendiri. Saat sedang menginginkan sesuatu pun Zahra meminta tolong pada pak satpam dan mbak Lasmi untuk membelikan-nya.
Deringan ponsel yang Zahra taruh diatas meja kecil didepan-nya berhasil mengalihkan perhatian Zahra. Zahra mengeryit kemudian segera meraih ponsel itu untuk melihat siapa yang menelepon-nya.
“Kak Nadia...” Gumam Zahra tersenyum.
Zahra segera mengangkat telepon dari kakak iparnya itu.
“Kakak lagi bikin rujak nih.. Kamu mau nggak? Kalau mau nanti kakak antar kerumah sambil jemput Arka pulang sekolah.”
Mendengar tawaran itu Zahra langsung antusias. Zahra sangat bahagia karna itu artinya Zahra tidak akan kesepian lagi. Nadia dan Arka akan datang dan menemaninya siang ini.
“Boleh kak.. Aku tunggu ya...”
“Oke...”
Sambungan telepon ditutup oleh Nadia. Zahra kemudian buru buru menghubungi mbak Lasmi menyuruhnya untuk membeli banyak cemilan karna akan ada Arka siang ini dirumahnya.
Pukul 11 siang, Nadia dan Arka datang dengan Nadia yang mengendarai mobil Aries. Zahra sangat senang karna siang ini dirinya tidak akan kesepian.
“Gimana sambelnya?” Tanya Nadia saat mereka sedang menikmati rujak yang dibawa oleh Nadia dimeja makan.
“Enak banget kak. Ajarin aku cara buat sambelnya dong kak. Soalnya aku nggak bisa buat yang seenak ini..”
“Kamu bisa aja mujinya. Buatnya ya kaya biasa dong Ra, masa kamu nggak bisa.”
“Ya bisa kak, tapi nggak kaya sambel buatan kakak rasanya. Ini mah enak banget.”
Nadia hanya tertawa saja menanggapinya. Nadia senang karna ternyata Zahra menyukai rujak buatan-nya.
Setelah menikmati rujak, Zahra mengajak Nadia untuk sekedar bersantai ditaman belakang rumah. Mereka berdua mengobrol hangat hingga akhirnya ada satu pertanyaan yang membuat Zahra diam seribu bahasa.
“Pertanyaan kakak salah yah?” Tanya Nadia hati hati.
Zahra menghela napas kemudian menggelengkan kepalanya.
“Enggak kok kak. Nggak salah. Cuma...”
“Zahra...”
Ucapan Zahra terpotong oleh panggilan Sinta padanya. Zahra juga Nadia langsung berdiri dari duduknya ketika mendapati Sinta yang sudah berdiri diambang pintu.
“Mamah...” Gumam Zahra bingung.
__ADS_1
Sinta melangkah mendekat pada Zahra dan Nadia dengan wajah kesal. Tidak perduli ada atau tidak adanya keluarga Zahra, Sinta langsung memarahi Zahra.
“Kenapa kamu tidak bilang sama mamah kalau hari ini adalah waktunya kamu cek kandungan?!” Tanya Sinta dengan nada sedikit keras.
Arka yang saat itu sedang asik main bola langsung lari ketakutan memeluk Nadia yang juga terkejut dengan cara Sinta berbicara pada adik iparnya.
“Ya Tuhan...” Zahra bergumam. Zahra benar benar lupa dengan hal penting itu. Padahal semalam Zahra terus memikirkan-nya.
“Maaf mah.. Zahra lupa.” Katanya pelan.
“Hal sepenting ini kamu bisa lupa Zahra? Calon ibu macam kamu ini hah?!”
Nadia yang merasa gerah dengan sikap Sinta pun memberanikan diri untuk berbicara. Nadia tidak perduli meskipun nanti Sinta akan marah marah padanya. Nadia tidak terima Zahra diperlakukan seperti itu oleh Sinta.
“Maaf tante, tolong tante biasa saja ngomongnya. Nggak perlu membentak bentak adik saya.”
Sinta menoleh pada Nadia. Wanita itu menatap Nadia dengan kedua mata menyipit tidak suka.
“Saya tidak sedang bicara sama kamu. Saya bicara dengan adik kamu yang tidak becus ini.” Tekan Sinta pada Zahra.
“Tante tolong mulutnya dijaga yah..”
Zahra yang tidak ingin ada keributan diantara mereka langsung melerai. Zahra merasa itu semua memang salahnya karna melupakan waktu cek kandungan-nya ke dokter.
“Bagaimana cucuku Cin?”
Nadia menggelengkan kepalanya mendengar apa yang Sinta tanyakan pada dokter Cindy setelah Zahra selesai diperiksa. Nadia benar benar heran kenapa Sinta hanya menanyakan keadaan calon cucunya saja, bukan dengan Zahra juga.
“Dasar lampir..” Gumam Nadia kesal.
Zahra yang mendengar gumaman Nadia hanya tertawa saja. Zahra sebenarnya tidak enak pada Nadia karna sikap Sinta. Tapi Zahra juga tidak bisa mengelak dan menutupi bagaimana sosok Sinta sebenarnya pada Nadia.
“Semuanya baik baik saja. Ibu dan janin-nya sehat kok.” Senyum dokter Cindy.
“Baguslah.” Angguk Sinta kemudian.
“Eemmm.. Cindy apa jika sekarang melakukan USG, jenis kelamin bayi yang dikandung Zahra sudah bisa dilihat dengan jelas?”
Pertanyaan Sinta membuat kedua mata Zahra membulat dengan sempurna. Zahra belum membicarakan tentang itu dengan Faza. Zahra belum ada waktu untuk mengobrol lama berdua dengan Faza tentang USG jenis kelamin janin yang sedang dikandungnya.
“Tentu saja.. Usia kandungan nyonya Zahra sudah lebih dari 16 minggu. Jadi jenis kelamin sudah bisa dilihat. Ya.. Meski nantinya harus dicek lagi untuk lebih akuratnya.” Jawab dokter Cindy.
“Kalau begitu bisa tolong kamu USG sekalian sekarang saja?”
__ADS_1
---------
“Hey.”
Fadly baru saja membuka pintu mobilnya saat Loly muncul dan menyapanya dengan senyuman manis yang terukir dibibirnya.
Fadly mengeryit melihat sosok cantik yang selalu membuatnya kesal itu. Sosok yang sangat memuakkan menurutnya.
Fadly kembali menutup pintu mobilnya dengan sangat keras membuat Loly sedikit tersentak karna kaget. Pria berkemeja lengan panjang warna hitam itu menatap datar pada Loly yang ada dihadapan-nya.
“Mau ngapain kesini?” Tanya Fadly dingin.
Loly terdiam melihat wajah datar Fadly. Loly tau Fadly pasti masih sangat marah padanya karna Loly mengfitnahnya. Tapi Fadly juga sudah melecehkan-nya. Fadly menciumnya dengan kasar bahkan menyentuh bagian tubuh Loly yang tidak boleh disentuh oleh siapapun kecuali suami Loly nanti. Dan menurut Loly apa yang Fadly lakukan sudah setara dengan fitnahan-nya.
Loly menarik napas dalam dalam. Kali ini Loly tidak boleh terbawa nafsu. Loly tidak boleh emosi menghadapi seorang Fadly.
“Emmm.. Sebenarnya aku nggak sengaja lihat kamu. Makan-nya aku samperin. Oh iya kamu udah mau pulang ya?”
Fadly melengos. Malas menanggapi Loly, Fadly pun langsung masuk kedalam mobilnya.
Namun Loly tidak kehilangan akal. Loly buru buru ikut masuk kedalam mobil Fadly dan duduk tepat disamping kursi kemudi yang menjadi tempat duduk Fadly.
“Apa apaan kamu Loly?” Tanya Fadly penuh penekanan serta rahang mengeras menatap Loly yang malah tersenyum menatapnya.
“Aku mau ikut kamu.” Jawab Loly santai.
Kedua tangan Fadly mengepal dengan sangat erat bahkan sampai kuku jarinya memutih.
“Turun.” Perintahnya.
Bukan-nya takut melihat ekspresi marah Fadly, Loly justru mengenakan seatbelt.
“Aku udah siap. Ayo jalan..” Senyum Loly menatap Fadly.
Fadly mendelik. Entah apa lagi yang sedang Loly rencanakan sekarang padanya. Fadly yakin Loly pasti sedang berusaha memanfaatkan-nya supaya bisa dengan mudah mendekati Faza, kakaknya.
“Loly.. Aku minta sekarang kamu turun dari mobil aku atau aku...”
“Aku nggak takut sama ancaman kamu Fadly. Kalaupun kamu mau melanjutkan niat kamu waktu itu aku nggak papa kok.” Senyum Loly mengedipkan sebelah matanya.
“Kamu...”
“Tante yang suruh aku bareng sama kamu.” Sela Loly membuat Fadly langsung bungkam.
__ADS_1
“Dasar perempuan tidak waras.” Umpat Fadly.