PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 231


__ADS_3

Benar saja, saat Faza baru sampai dirumahnya Fahri belum juga tidur. Bayi itu sedang menangis sambil sesekali menyedot asi dari Zahra.


Tidak tega melihat istrinya yang kewalahan menangani putranya yang menangis, Faza pun bergegas membersihkan diri kemudian mengganti bajunya.


Setelah itu Faza mengambil alih Fahri dari gendongan Zahra.


“Kamu istirahat ya sayang..” Senyum Faza kemudian mengecup lembut kening Zahra.


Zahra tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Namun Zahra tidak benar benar menuruti apa yang Faza katakan. Zahra hanya duduk ditepi ranjang sambil mengelap bagian dadanya yang basah karena asinya yang memang sedang sangat penuh dan meleber kemana mana.


Bingung hanya duduk menatap suaminya yang sedang mengayun putranya, Zahra pun berinisiatif untuk membuatkan teh untuk Faza.


Pelan pelan Zahra melangkah keluar dari kamar mereka dan perlahan menuruni satu persatu anak tangga menuju dapur. Zahra membuatkan secangkir teh hangat untuk Faza yang baru pulang setelah menghadiri acara lamaran Reyhan dan Tina.


“Nyonya...”


Zahra menoleh dan tersenyum ketika mendapati mbak Lasmi yang muncul dari arah kamarnya.


“Eh mbak.. Belum tidur?” Tanya Zahra pelan.


“Belum nyonya. Nyonya lagi buat apa? Apa perlu saya bantu?” Tanya mbak Lasmi menawarkan bantuan.


Zahra menggelengkan kepalanya dengan senyuman yang masih menghiasi bibirnya.


“Enggak usah mbak, makasih. Saya cuma buat teh saja kok.. Saya keatas lagi ya..”


“Oh iya nyonya.. Silahkan.”


Zahra berlalu dapur dengan membawa secangkir teh hangat diatas nampan. Zahra melangkah pelan menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya dan Faza.


Saat sampai dikamar, Zahra tersenyum melihat Faza yang sedang meletakan tubuh putra mereka diatas ranjang bayi. Zahra kemudian meletakan nampan yang dibawanya diatas nakas dan meraih secangkir teh tersebut membawanya mendekat pada Faza.


“Mas.. Minum dulu..”


Faza menoleh kemudian memutar tubuhnya. Sekali lagi pria itu mengecup singkat kening Zahra sebelum menerima secangkir teh yang disodorkan Zahra dan menyeruputnya sedikit.


“Sayang.. Kok manis banget?” Tanya Faza dengan keryitan dikeningnya.


Zahra mengeryit. Zahra sudah mencicipinya sedikit saat membuatnya tadi. Dan Zahra pikir rasa teh itu sudah seperti biasa dan tidak kemanisan.

__ADS_1


“Masa si mas? Coba sini..”


Zahra mengambil kembali secangkir teh tersebut kemudian menyeruputnya sedikit untuk memastikan kembali bahwa teh buatan-nya tidak terlalu manis seperti apa yang Faza katakan.


“Enggak ah mas.. Ini udah kaya biasanya aku bikin loh.. Aku juga tadi udah cicipi kok saat didapur.” Kata Zahra menatap Faza meyakinkan.


“Tapi menurut aku itu manis banget sayang.. Apa mungkin karena aku minumnya sambil liatin kamu ya.. Jadi manisnya over banget..”


Zahra berdecak kemudian tersenyum mendengar apa yang dikatakan suaminya.


“Apaan sih kamu mas, lebay banget.” Balas Zahra kemudian memberikan kembali secangkir teh itu pada Faza.


Faza tertawa geli. Faza sangat menyukai ekspresi senyum malu malu istrinya saat dia goda.


“Ya udah abisin tehnya abis itu kita istirahat. Kamu pasti capek banget seharian kerja terus nemenin Reyhan juga kan buat ngelamar Tina tadi.”


“Iya sih.. Tapi aku punya cerita loh buat kamu..” Senyum Faza membuat Zahra merasa penasaran.


“Oh ya? Apa?” Tanya Zahra.


“Ini tentang Reyhan dan Tina. Kamu pasti akan suka mendengarnya.”


Faza menghabiskan secangkir teh buatan Zahra kemudian meletakan cangkir itu diatas nakas. Faza mengajak Zahra untuk berbaring diatas tempat tidur sembari menceritakan apa yang dia lihat dan dia tau pada acara lamaran Reyhan dan Tina. Faza bahkan cuma mengambil gambar keduanya menggunakan ponselnya untuk ditunjukan pada Zahra.


Zahra mendadak merasa sangat sayang karena tidak bisa menghadiri acara Tina dan Reyhan malam ini. Awalnya Zahra ingin ikut, tapi Faza melarangnya karena tidak ingin jika sampai Zahra kelelahan. Apa lagi saat ini sudah ada Fahri yang belum bisa diajak pergi malam malam.


“Ya.. Tapi menurut aku tetap kamu perempuan paling cantik sayang..” Rayu Faza sambil meraih ponsel miliknya dari tangan Zahra kemudian meletakan-nya disamping Zahra berbaring.


“Mulai deh mulai..” Decak Zahra yang tau apa yang sedang di inginkan suaminya.


“Aku kangen kamu sayang..” Rayu Faza mulai membelai pipi chuby Zahra dengan sangat lembut.


“Eem.. Tapi mas aku kan masih...”


“Ssshhtt.. Nggak akan sampai inti sayang.. Hanya cium. Bolehkan?” Bisik Faza meminta persetujuan Zahra.


Zahra terdiam menatap kedua mata suaminya. Setelah melahirkan Fahri, Zahra memang tidak bisa melayani Faza seperti dulu. Semua itu tentu saja karena memang belum boleh dilakukan. Namun Faza tidak pernah protes, Faza selalu sabar dan hanya memeluknya saja saat mereka sedang bersama. Tapi kali ini ekspresi Faza tampak lain menurut Zahra. Dan sebagai wanita dewasa Zahra tau apa yang sedang di inginkan suaminya.


“Baik kalau begitu.”

__ADS_1


Zahra menekan tubuh Faza sehingga kini posisinya berada diatas Faza. Zahra tersenyum. Wanita itu berpikir jika memang dirinya tidak bisa melayani Faza seperti dulu Zahra yakin dirinya tetap bisa melakukan-nya dengan cara yang lain.


“Sayang kamu..”


“Ssshhttt...” Zahra menempelkan jari telunjuknya dibibir tipis Faza. Wanita itu berada diatas tubuh Faza dengan senyuman penuh arti menatap Faza yang tampak kebingungan.


Tentu saja, Zahra tidak pernah seperti itu sebelumnya.


“Aku nggak tau harus bagaimana cara melayani kamu karna kamu tau sendiri aku sedang tidak bisa.. Tapi aku berharap semoga cara aku ini bisa membuat apa yang kamu tahan sekarang terpenuhi.” Kata Zahra.


Faza tersenyum mendengar itu. Faza tau niat istrinya baik. Dengan lembut Faza bangkit dari berbaringnya sehingga sekarang Zahra berada dipangkuan-nya.


“Aku tidak memaksa sayang.. Aku paham dan aku tau kita memang belum boleh melakukan itu. Aku hanya ingin satu ciuman sebagai penghantar tidur aku malam ini. Oke?”


“Mas tapi...”


“Ssshhtt.. Kamu tau kan aku sangat sensitif jika kamu sedikit saja bergerak hem?” Sela Faza lembut.


Zahra mengangguk mengerti. Tidak lama setelah itu Faza pun mulai menciumnya dengan lembut. Seperti yang Faza katakan. Hanya ciuman saja, tidak lebih dari itu karena setelahnya Faza mengajak Zahra untuk sama sama mengistirahatkan tubuhnya setelah seharian ber aktivitas.


Baik Zahra maupun Faza keduanya sama sama tau. Keduanya sama sama sedang mencoba memahami satu sama lain. Keduanya juga sadar bahwa tidak baik memaksakan kehendak sendiri tanpa memikirkan hati dan perasaan pasangan-nya. Karena mereka memang menjalani hubungan itu dari awal berdua. Dan sudah saatnya kini mereka semakin saling memahami dengan mengambil pelajaran dari setiap apa yang sudah mereka berdua lewati.


-------------


Berbeda dengan Zahra yang bisa dengan nyaman terlelap dalam dekapan hangat suaminya, Loly justru bolak balik merasa tidak nyaman sendiri diatas tempat tidur berukuran besarnya.


Loly masih memikirkan sikap Fadly yang sangat aneh tadi. Bagaimana mungkin tiba tiba pria itu datang dan mengancamnya dengan tatapan tajam penuh kemarahan.


“Memang apa salahnya aku jalan sama laki laki lain? Kenapa jadi dia yang marah? Bukankah dia sangat membenciku?”


Loly bertanya tanya sendiri. Apa yang Fadly lakukan berhasil mengusik ketenangan-nya.


“Tapi tadi dia bilang aku ini kekasihnya. Apa mungkin Fadly cemburu? Atau jangan jangan dia juga menyuruh orang buat mata matain aku?” Loly mulai berasumsi sendiri tentang Fadly.


Loly bangkit duduk dari berbaringnya. Loly terus memutar otak cerdasnya mencoba menebak nebak sikap tidak biasa Fadly malam ini.


“Fadly cemburu? Enggak enggak aku nggak boleh terlalu membawa semua ini ke perasaan. Aku nggak mau hancur untuk yang kedua kalinya.”


Loly menggelengkan kepalanya tidak ingin lagi mengulangi kebodohan-nya. Loly tidak ingin kembali dihancurkan oleh perasaan-nya sendiri yang terlalu menaruh harapan besar pada Fadly yang sudah jelas tidak menginginkan-nya.

__ADS_1


“Sudahlah.. Mungkin tadi Fadly melakukan-nya supaya tidak ada yang mendekatiku. Ya, dia membenciku dan tidak ingin melihat aku bahagia.” Gumam Loly kemudian.


Loly menghela napas kemudian kembali membaringkan tubuhnya. Tidak ingin terlalu pusing memikirkan sikap aneh Fadly tadi, Loly pun mencoba memejamkan kedua matanya untuk tidur.


__ADS_2