
Satu minggu kemudian.
Fadly beberapa kali menghela napas. Entah kenapa seminggu ini Fadly merasa tidak semangat dalam mengerjakan pekerjaan-nya. Fadly merasa ada yang kurang.
“Hhhh.. Kenapa dia selalu ada di pikiranku?” Gumam Fadly mendengus kesal.
Fadly tidak tau kenapa Loly selalu saja menghantuinya. Padahal Loly bukanlah wanita yang Fadly cintai. Tujuan-nya mendekati Loly jelas, yaitu hanya ingin menghancurkan Loly.
Fadly melirik ponselnya. Sempat terpintas dipikiran-nya untuk menghubungi Loly, namun kemudian Fadly menggelengkan kepalanya.
“Enggak enggak. Jangan berpikir berlebihan Fadly, Loly tidak penting untuk kamu. Loly tidak datang itu bagus.” Batin Fadly berusaha mengenyahkan pikiran-nya tentang Loly.
Fadly berusaha fokus kembali dengan gambarnya namun tiba tiba senyuman Loly terlihat di kertas yang sedang ditatapnya.
“Brengsek !!” Umpat Fadly melempar kertas tersebut.
Fadly benar benar kesal sekarang, bayangan Loly terus menghantuinya. Menghilangkan fokusnya juga membuyarkan semua pemikiran-nya.
Fadly mengusap kasar wajah tampan-nya. Fadly benar benar tidak menyangka pikiran-nya akan terus dihantui oleh sosok Loly. Wanita yang dia dekati dengan tujuan untuk dia hancurkan.
Fadly memejamkan kedua matanya. Seminggu sudah Loly tidak mendekat padanya. Loly bahkan sama sekali tidak mengirim pesan ataupun menelepon-nya. Aneh memang. Fadly bahkan terus bertanya kenapa dan dimana Loly sebenarnya.
“Ada apa dengan diriku? kenapa malah aku yang merasa tidak tenang sekarang?” Gumam Fadly merasa tidak mengenali dirinya sendiri.
Padahal dari awal tujuan-nya mendekati Loly sudah jelas. Fadly ingin menghancurkan Loly.
“Oke.. Tenang Fadly... Lupakan Loly. Ingat tujuan awal kamu. Loly tidak penting. Apapun yang terjadi pada Loly sekarang, kamu tidak perlu memperdulikan-nya.”
Suara ketukan pintu menyentakkan Fadly. Fadly menoleh kearah pintu kemudian menghela napas sebelum fokus kembali dengan hasil gambarnya.
“Masuk !!” Serunya.
Perlahan pintu terbuka setelah Fadly berseru. Disana terlihat Loly yang berdiri dengan penampilan simpel namun menarik seperti biasanya. Dress hijau toska diatas lutut membuatnya terlihat cantik dengan lekuk tubuh yang begitu menonjol.
Loly terdiam. Seminggu tidak menemui Fadly membuatnya merasa sangat rindu. Bahkan sekarang Loly mencuri curi waktu dengan bantuan dari Mona agar bisa pergi sejenak untuk menemui pujaan hatinya.
“Fadly..”
Fadly mematung ditempatnya mendengar suara Loly menyebut namanya. Perlahan Fadly menolehkan kepalanya kearah pintu. Fadly terkejut mendapati Fadly yang sudah ada diambang pintu ruangan-nya.
__ADS_1
“Kamu..”
Belum sempat Fadly melanjutkan ucapan-nya, Loly sudah berlari menubruk tubuhnya, memeluknya dengan sangat erat.
Fadly hanya diam saja. Fadly tidak bisa lagi bohong. Perasaan-nya begitu berbunga bunga, dadanya yang terasa sesak langsung terasa plong begitu melihat Loly berdiri diambang pintu ruangan-nya. Hatinya menghangat begitu merasakan pelukan erat Loly yang begitu tiba tiba.
“Aku kangen sama kamu Fadly..”
Fadly menelan ludahnya. Fadly tidak tau harus bagaimana. Kedua tangan-nya sempat mengambang hendak memeluk Loly namun kemudian pikiran-nya bekerja. Fadly sadar tidak seharusnya dirinya jatuh hati pada Loly yang dari awal berniat Fadly hancurkan.
Cukup lama Loly memeluk Fadly hingga dekheman Fadly berhasil menyadarkan Loly. Loly segera melepaskan pelukan-nya kemudian menunduk salah tingkah sendiri.
“Maaf.. Aku refleks tadi.” Katanya pelan.
Fadly masih diam. Loly terlihat semakin menarik dimatanya. Entah karna seminggu tidak bertemu atau memang Loly sedikit merubah penampilan-nya.
“Oke.. Nggak papa..” Balas Fadly tenang.
“Eemm.. Aku sedang mengerjakan sesuatu yang tidak bisa aku tunda.”
Loly mengangkat pelan kepalanya. Entah kenapa Loly merasa Fadly seperti sedang mengusirnya. Padahal cukup lama mereka tidak bertemu karna Loly dituntut untuk segera memperbaiki keuangan perusahaan oleh kedua orang tuanya.
Fadly hanya mengangguk pelan. Fadly berusaha menutupi perasaan berbunga bunganya karna dapat bertemu lagi dengan Loly setelah seminggu tidak melihat Loly.
“Kalau begitu aku pergi..” Ujar Loly kemudian.
“Ya....” Balas Fadly pelan.
Loly memutar tubuhnya. Kedua matanya terpejam sesaat. Loly pikir Fadly akan membalas ungkapan rindunya. Tapi ternyata tidak. Fadly bahkan seperti tidak menginginkan kehadiran-nya kali ini.
“Eemm.. Loly...”
Loly hendak melangkahkan kakinya saat Fadly memanggilnya.
“Ya..” Saut Loly dengan posisi tetap memunggungi Fadly.
“Pulang kerja nanti aku jemput kamu..” Ujar Fadly membuat seulas senyum langsung terukir dibibir merah Loly.
“Oke.. Aku pergi sekarang.” Balas Loly bahagia.
__ADS_1
“Hati hati..”
Loly melangkah keluar dari ruangan Fadly dengan hati berbunga bunga. Rasa kecewa yang sempat merayapi hatinya seketika sirna begitu mendengar Fadly akan menjemputnya setelah pulang kerja nanti.
----------
“Maaf pak, nyonya sedang tidak ada dirumah. Nyonya lagi pergi sama tuan.” Ujar mbak Lasmi pada Santoso yang kembali datang untuk menemui Zahra.
Santoso mengeryit menatap penuh selidik pada asisten rumah tangga Zahra dan Faza. Santoso merasa tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh mbak Lasmi karna tadi Santoso juga melihat Faza yang baru keluar dari restoran dengan Reyhan yang berada disampingnya.
“Oh ya? Sejak kapan?” Tanya Santoso menatap mbak Lasmi yang menundukkan kepala tidak berani membalas tatapan-nya.
“Sejak tadi pagi pak..” Jawab Mbak Lasmi gugup.
Santoso tertawa pelan. Jelas sekali dirinya sedang dibohongi. Bagaimana mungkin Zahra pergi dengan Faza sejak pagi sedang beberapa menit yang lalu saat dalam perjalanan Santoso melihat Faza dengan assisten-nya.
“Baik baik. Saya percaya.” Katanya masih tertawa.
“Kalau begitu tolong berikan ini pada Zahra. Sampaikan salam saya ya mbak. Besok saya akan datang lagi.” Ujar Santoso sambil memberikan paperbag berukuran sedang pada mbak Lasmi.
“Tapi pak..”
“Kamu tidak berniat menolak pemberian saya untuk Zahra kan?” Sela Santoso bertanya dengan tatapan penuh selidik.
“Eh i iya pak. Saya akan memberikan ini pada nyonya segera.” Angguk mbak Lasmi gugup.
“Ya sudah kalau begitu. Saya pergi.”
Santoso kemudian berlalu dari hadapan mbak Lasmi. Pria itu melangkah dengan santai menuju mobilnya. Santoso menggelengkan kepalanya merasa sangat lucu dengan kebohongan asisten rumah tangga tersebut. Tapi Santoso yakin mbak Lasmi tidak mungkin berani berbohong jika tidak disuruh oleh Faza atau mungkin juga Zahra.
Ketika hendak membuka pintu mobilnya, Santoso mendongak menatap kearah balkon kamar Zahra dan Faza. Santoso yakin Zahra sebenarnya ada dirumah.
Dari dalam rumah Zahra diam diam memperhatikan Santoso. Zahra mengintip dari kamar mbak Lasmi lewat jendela kaca yang memang terlihat gelap dari luar.
Ya, Zahra memang sengaja menyuruh agar mbak Lasmi membohongi Santoso dan mengatakan dirinya sedang berada diluar bersama Faza untuk menghindar dari Santoso.
Semua itu Zahra lakukan karna Zahra merasa tidak nyaman dengan kedatangan pria itu. Zahra juga tidak ingin ada kesalah pahaman apapun antara dirinya dan Faza.
“Mau ngapain lagi sih lagi lagi datang..” Gumam Zahra kesal.
__ADS_1