
Kehidupan Sinta benar benar berubah sekarang. Jika dulu dirinya selalu merasa benar dan diatas awan namun tidak untuk sekarang. Sinta merasa sendiri tanpa ada satupun orang yang perduli. Entah itu suaminya maupun kedua putranya. Mereka sibuk sendiri sendiri dengan urusan-nya masing masing.
Akbar sibuk dengan pekerjaan-nya, Fadly sibuk mencuri curi waktu supaya bisa bersama Loly. Sedang Faza, tentu saja dia sibuk dengan anak dan istrinya.
“Ini tehnya nyonya...”
Sinta melirik bibi yang baru saja meletakan secangkir teh hangat didepan-nya. Bahkan asisten rumah tangganya yang selalu perduli pada siapapun seperti kompak pura pura tidak melihat apa yang terjadi pada Sinta.
“Bibi juga akan bersikap seperti suami dan anak anak saya?”
Bibi hanya diam. Akbar memang menyuruhnya untuk tetap tenang dan bersikap biasa saja meskipun melihat Sinta yang hampir setiap hari membanting dan menghancurkan barang barang yang di sentuhnya.
“Saya permisi nyonya..”
Tidak tau harus berkata apa, bibi memilih untuk undur diri dari hadapan Sinta. Bibi tidak mau sampai salah bicara.
Sinta tersenyum sinis. Bersamaan dengan itu air matanya menetes. Sinta tidak menyangka semua orang yang ada didalam rumahnya bahkan sama sekali tidak menganggapnya ada.
“Apa kamu tuli hah? saya sudah berulang kali bilang sama kamu untuk tidak lagi mendekati anak saya !!”
Sinta menoleh kearah pintu keluar rumahnya ketika mendengar suara yang tidak asing di indra pendengaran-nya.
“Itu suara Richard..” Gumam Sinta.
Karena penasaran, Sinta pun bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dengan cepat dari kediaman-nya.
Saat sampai diteras, Sinta terkejut melihat Fadly yang sedang ditunjuk tunjuk oleh Richard didepan mobilnya.
Tidak bisa menerima putranya dicaci maki oleh suami dari mantan sahabatnya, Sinta pun segera mendekat. Dengan emosi menggebu gebu Sinta mendorong bahu Richard sampai tubuh Richard menabrak bagian samping mobilnya.
“Mamah..” Fadly terkejut dengan apa yang dilakukan oleh mamahnya.
__ADS_1
“Kamu pikir kamu siapa berani menghina putraku hah?!” Tekan Sinta menatap Richard tajam.
Richard menyipitkan kedua matanya dengan rahang mengeras menatap pada Sinta yang begitu berani mendorongnya.
“Asal kamu tau Richard, anak saya bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari putri kalian. Jangan kalian pikir Loly adalah perempuan sempurna yang bahkan putraku tidak bisa hidup tanpa dia.”
Richard tersenyum sinis.
“Oh ya? Kamu yakin dengan apa yang kamu katakan Sinta? Lalu bagaimana jika kamu tau kalau putra kamu ini sering mencuri curi kesempatan mengajak putri saya pergi hah?!”
Sinta menatap pada Fadly yang hanya diam saja. Wanita itu tidak menyangka Fadly mengikuti cara Faza dengan membohonginya demi bisa mengajak pergi wanita yang dicintainya.
“Apa benar itu Fadly?” Tanya Sinta tegas.
Fadly menghela napas kemudian menganggukan kepalanya pelan.
“Maaf mah..” Jawabnya pelan.
“Kamu dengar sendirikan Sinta? Anak kamu yang mengejar anak saya. Dia yang mengajak anak saya pergi diam diam. Dia bahkan beberapa kali masuk mengendap endap kedalam kamar anak saya.”
Sinta mengepalkan kedua tangan-nya. Fadly benar benar tidak mendengarkan apa yang Sinta katakan. Fadly tetap menemui Loly meskipun Sinta sudah melarangnya dengan keras.
“Asal kamu tau Sinta, kita ini tidak sepadan. Keluarga kamu bukan apa apa jika dibanding dengan keluargaku yang bisa melakukan apa saja. Bahkan harga diri kalian pun bisa aku beli.”
Sinta mendelik mendengar apa yang Richard katakan. Kali ini bukan hanya Fadly yang dia hina tapi juga martabat keluarganya.
“Cukup Richard. Kamu mungkin memang punya segalanya. Tapi bukan berarti kamu dan Erika bisa menghina keluargaku seenaknya.” Marah Sinta.
Sedangkan Fadly. Dia hanya bisa diam menyaksikan perdebatan Richard dan Sinta. Fadly tidak punya alasan untuk membela keluarganya karena apa yang Richard katakan memang benar adanya. Mereka tidak sepadan karena keluarga Loly memang punya segalanya.
“Jadi sekarang kamu mengakui bahwa keluarga kamu itu bukan siapa siapa Sinta?”
__ADS_1
Sinta diam. Selama ini Sinta selalu membanggakan apa yang dia punya. Keluarga yang Sinta anggap kaya raya dan punya segalanya sehingga Sinta sering kali menghina orang orang yang berada dibawahnya. Dan Zahra adalah salah satu orang yang selalu Sinta pandang sebelah mata karena Sinta anggap bukan siapa siapa.
“Tutup mulut kamu Richard.” Tekan Sinta dengan kedua mata berkaca kaca.
“Lihat, bahkan putra kebanggaan kamu hanya bisa diam seperti orang idiot mendengar aku mengatakan sebuah kebenaran ini.”
“Aku bilang cukup !!” Bentak Sinta dengan pipi yang basah oleh air mata. Sinta merasa harga dirinya di injak injak sekarang.
“Aku tidak tuli Sinta. Kamu tidak perlu berteriak. Dengar baik baik. Kalau sampai putra kamu ini masih menemui putriku dibelakangku juga istriku aku akan melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah kamu bayangkan Sinta.”
Setelah mengatakan ancaman juga hinaan itu Richard pun masuk kedalam mobil mewahnya. Pria itu berlalu dari pekarangan luas keluarga Akbar dengan kecepatan sedang.
Tangis Sinta pecah. Sinta tidak menyangka semuanya akan menjadi seperti itu. Erika dan Richard yang dulu sangat baik dan selalu menghargainya kini begitu sangat kejam dengan melontarkan hinaan yang membuat Sinta merasa sangat hancur. Harga dirinya benar benar di injak injak oleh Erika dan Richard.
“Puas kamu Fadly? Puas kamu melihat keluarga kita di injak injak oleh mereka? Sekarang apa lagi mau kamu? Kamu tetap mau mengemis cinta Loly hah?”
Fadly menghela napas pelan.
“Aku bukan mengemis mah.. Aku hanya sedang memperjuangkan cinta aku untuk Loly. Aku tidak perduli meskipun tante sama om terus menghina ataupun mencaci maki aku. Aku ingin bisa bersama Loly. Bukankah dulu juga mamah sangat mendukung?”
Sinta menggelengkan kepalanya. Sinta tidak menyangka putranya bahkan tidak memperdulikan hinaan yang dilontarkan oleh Richard tadi.
“Kenapa kamu begitu keras kepala Fadly? Apa kamu tuli? Kamu tidak dengar apa yang daddy nya Loly katakan tadi? Kamu mau keluarga kita terus dihina dan di injak injak oleh mereka?”
Tangis Sinta semakin hebat tanpa perduli pada pak Umar yang melihatnya juga bibi yang berdiri diteras rumah menyaksikan kemarahan bercampur tangisan pilunya karena apa yang Fadly lakukan.
“Aku mencintainya mah.. Aku mencintai Loly. Aku hanya ingin berjuang untuk mendapat restu dari kedua orang tua Loly. Apa itu salah?”
Sinta menggeleng tidak percaya. Fadly bahkan sepertinya tidak merasa iba sedikitpun dengan tangisan-nya. Fadly tetap bersikeras dengan pendirian-nya sendiri ingin memperjuangkan cintanya untuk Loly.
“Kamu benar benar keterlaluan Fadly. Kamu hanya memikirkan diri kamu sendiri.”
__ADS_1