
Karna hari ini adalah pertama kalinya Zahra menginjakan kaki dirumah kedua orang tuanya, Faza terpaksa harus cuti dari pekerjaan-nya sehari ini. Faza khawatir istrinya akan langsung diperlakukan tidak baik oleh mamahnya karna disana juga ada Loly.
Sehari berada dirumah mertuanya Zahra sama sekali tidak merasakan hal aneh apapun. Sikap Sinta juga Loly pun tidak seburuk saat dirinya menghadiri makan malam beberapa hari yang lalu.
“Mas...”
“Hem...”
Zahra bangkit dari duduknya diatas ranjang kemudian mendekat pada Faza yang sedang duduk diatas sofa sambil mengotak atik laptop miliknya.
“Kamu lagi ngapain sih? Dari tadi laptop mulu yang dipegang.”
Faza menghela napas pelan kemudian tersenyum dan menoleh menatap Zahra yang memasang wajah sendu.
“Aku kan hari ini nggak masuk. Jadi Anita kirim laporan yang perlu aku setujui lewat email. Dan laporan-nya itu ada sedikit kesalahan yang tentu saja harus aku koreksi.”
Zahra mencebikkan bibirnya.
“Terus sekarang belum selesai?” Tanya Zahra lagi.
“Sedikit lagi selesai kok.” Jawab Faza tersenyum.
“Ya udah kalau begitu aku tidur duluan yah..”
“Oke. Aku akan menyusul nanti.”
Setelah mendapat jawaban dari Faza, Zahra pun kembali ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya disana, menutupinya dengan selimut tebal warna putih tulang.
Zahra tidak langsung terlelap meski kepalanya sudah menempel sempurna dibantal. Zahra sedang memikirkan hari esok. Zahra menerka nerka akan seperti apa sikap Sinta padanya besok hingga akhirnya tanpa sadar Zahra pun terlelap.
Sementara Faza, pria itu menutup laptopnya satu jam setelah Zahra berlalu menuju tempat tidur. Sampai sekarang sebenarnya Faza masih bahkan semakin tidak tenang. Hari ini memang tidak ada apapun yang terjadi pada istrinya karna ulah sang mamah. Tapi besok, Faza tidak tau apa yang akan mamahnya lakukan saat Faza sedang bekerja diluar rumah.
Tiba tiba Faza teringat pada apa yang Fadly katakan padanya tentang bibi. Faza berpikir sejenak.
“Bibi, mungkin aku bisa mempercayakan Zahra pada dia...” Batin Faza.
Faza meletakan laptopnya diatas meja yang ada disamping sofa yang didudukinya kemudian bangkit dan segera berlalu keluar tanpa melirik Zahra yang sudah terlelap tenang diatas kasur.
“Ya.. Selamat bertemu besok ya.. Jangan lupa pesan aku..”
Faza menghentikan langkahnya ketika mendengar suara sang papah. Suara yang terkesan dipelankan.
Penasaran, Faza pun mencoba mengintip kesumber suara dimana papahnya sedang berdiri memunggunginya dengan ponsel yang baru saja dia turunkan dari telinganya.
__ADS_1
“Papah.” Panggil Faza.
Papah Faza tersentak sangat terkejut dengan panggilan Faza. Pria itu dengan cepat membalikan tubuhnya menatap pada Faza yang berdiri tidak jauh dari tempatnya sekarang.
“Faza.. Kamu belum tidur?”
Faza menyipitkan kedua matanya menatap penuh curiga pada papahnya.
“Papah abis telponan sama siapa? Kenapa sampai keluar dari kamar?”
Papah Faza tampak tergagap bingung. Pria itu salah tingkah bingung harus menjawab apa.
“Oh ini.. Tadi itu teman papah yang telpon. Kebetulan besok kan papah harus keluar kota. Jadi kami janjian disana buat ketemu.”
Faza merasa ragu dengan gelagat aneh papahnya itu. Entah kenapa Faza merasa papahnya seperti sedang menutupi sesuatu darinya.
“Ya sudah kalau begitu Za, papah tidur dulu. Kamu juga tidur ya... Sudah malam.”
Papah Faza kemudian berlalu dengan menghela napas lega yang tidak disadari oleh Faza.
Sesaat Faza terlihat masih memikirkan gelagat aneh papahnya. Namun kemudian Faza menepis pikiran pikiran buruknya pada sang papah. Faza pun kembali melanjutkan niatnya untuk menemui bibi guna mempercayakan keamanan Zahra pada wanita itu.
------------
Paginya saat sarapan dimeja makan.
“Enggak usah sayang, ini aja udah cukup kok. Kamu makan yang banyak ya.. Biar cepet.”
Fadly yang mendengar dan menyaksikan keharmonisan hubungan rumah tangga kakaknya ikut tersenyum bahagia. Tapi tidak dengan Sinta yang tampak merasa jengah ditempatnya duduk.
Setelah selesai sarapan, Fadly dan Faza pun berangkat bekerja. Begitu juga dengan papah Faza yang memang harus keluar kota pagi ini.
“Papah jaga kesehatan disana ya.. Jangan lupa kabarin mamah kalau papah sudah sampai.” Ujar Sinta saat mengantar suaminya sampai depan taxi yang akan membawa papah Faza ke bandara.
“Iya mah.. Mamah juga baik baik dirumah yah.. Nanti papah bawain oleh oleh yang banyak buat mamah. Papah berangkat yah..”
“Iya pah...”
Satu kecupan singkat mendarat dikening Sinta sebelum papah Faza masuk kedalam taxi dan berlalu dengan kecepatan sedang dari pekarangan rumahnya.
Zahra dan bibi yang menatap dari kejauhan hanya diam saja.
“Bi, itu mamah nggak ikut anterin papah ke bandara?” Tanya Zahra penasaran.
__ADS_1
“Enggak non. Memang sudah biasa seperti itu. Ibu nggak pernah nganterin bapak kalau bapak mau keluar kota. Lebih tepatnya bukan nggak mau, tapi nggak dibolehin sama bapak. Katanya biar ibu nggak kelelahan.”
“Hah?!” Zahra merasa aneh dengan apa yang bibi katakan.
“Ya sudah non bibi mau beresin meja makan dulu ya...”
“Oh biar saya bantu bi...”
“Tapi non...”
“Udah nggak papa bi. Dari pada saya bengong kan mending saya bantuin bibi. Ayo..”
Zahra tersenyum dan dengan sangat semangat melangkah mendahului bibi yang merasa sangat tidak enak pada istri dari anak majikan-nya itu.
Zahra membantu bibi dengan sangat ceria. Mulai dari menyapu, sampai mengerjakan segala apa yang bisa dia kerjakan dari pagi sampai menjelang siang hari ini.
“Zahra...”
Suara Sinta berhasil mengalihkan perhatian Zahra dari pernak pernik yang sedang Zahra bersihkan diruang tamu saat itu.
“Ah ya mah... Ada yang bisa Zahra bantu?” Senyum Zahra manis.
Sinta berdecak pelan menatap penampilan sederhana Zahra dari atas sampai bawah yang menurut Sinta sangat jauh berbeda dengan Loly yang selalu tampil cantik dan modis.
“Ikut mamah. Ada yang mau mamah bicarakan sama kamu.”
“Iya mah..”
Zahra menurut saja. Zahra mengikuti Sinta yang melangkah menuju teras samping rumah dengan tetap membawa lap ditangan-nya.
“Duduk.” Perintah Sinta setelah mereka sampai diteras samping rumah.
“Iya mah..” Zahra menurut lagi dan duduk dikursi panjang yang kemudian juga diduduki oleh Sinta.
Sinta melipat kedua tangan-nya dibawah dada dengan gaya angkuhnya. Tatapan-nya lurus kedepan dengan dagu terangkat.
“Kamu tau bukan Zahra, mamah tidak pernah merestui hubungan kamu dengan Faza. Oleh karena itu mamah menyuruh kalian untuk tinggal disini. Itu semua mamah lakukan supaya mamah bisa mengawasi kamu. Maman takut saja diam diam kamu nyeleweng dibelakang Faza.”
Zahra menelan ludahnya. Hari hari barunya sudah benar benar dimulai sekarang.
“Kalian sudah menikah 4 bulan tapi sampai sekarang kamu belum juga hamil. Sebenernya kamu bisa tidak kasih mamah cucu? kalau kamu memang tidak bisa kamu bisa mundur dari sekarang Zahra. Ada Loly yang jauh lebih baik daripada kamu yang pasti siap untuk menjadi pendamping Faza.” Lanjut Sinta lagi.
Zahra tersenyum. Zahra tau semua itu pasti akan dia lalui. Maka dari itu Zahra sudah benar benar menyiapkan mentalnya.
__ADS_1
“Mamah tidak perlu khawatir tentang itu. Secepatnya Zahra akan mengandung anak mas Faza mah..”
Zahra membalas ucapan Sinta dengan tenang. Zahra tau bagaimana dirinya harus bersikap sekarang. Zahra tidak akan mengalah apapun yang terjadi.