PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 167


__ADS_3

Hari ini Faza benar benar mengajak Zahra jalan jalan seharian. Faza mengajak Zahra ketaman, makan ice cream, keliling mall, dan mengunjungi tempat tempat wisata yang berhasil membuat Zahra sangat bahagia. Hingga akhirnya Zahra tertidur lelap dalam perjalanan pulang.


Faza menatap sebentar pada Zahra yang duduk disamping kemudinya. Wanita itu tampak tenang memejamkan kedua matanya dengan posisi kursi yang memang sedikit Faza turunkan kebelakang agar Zahra nyaman dalam tidur lelapnya.


Hari ini Faza memang sengaja meliburkan dirinya dari segala aktivitasnya dikantor dan memasrahkan semuanya pada Reyhan yang memang sangat Faza percaya.


Faza tidak pernah berhenti mengucap kata syukur dalam hati karna dirinya bisa mencegah semua kehancuran itu sebelum benar benar menyentuh hubungan-nya dan Zahra.


Deringan ponsel dalam saku jas yang Faza lepas dan ditaruh dikursi belakang membuat Faza langsung menepikan mobilnya dijalanan yang lumayan ramai malam itu.


Faza meraih jas miliknya, merogoh sakunya dan mengeluarkan benda pipih itu dari dalamnya.


Faza mengernyit bingung ketika mendapati nama mbak Lasmi yang tertera dilayar ponselnya. Tidak biasanya mbak Lasmi menelepon-nya padahal sekarang Zahra sedang bersamanya.


Penasaran, Faza pun segera mengangkat telepon dari mbak Lasmi.


“Halo...”


“Tuan.. Maaf mengganggu tuan.”


“Ya.. Ada apa mbak?” Tanya Faza.


“Ini tuan, dirumah ada teman-nya nyonya. Dia sudah menunggu sejak setengah jam yang lalu. Saya sudah bilang nyonya sedang pergi dengan tuan tapi dia tetap ingin menunggu sampai nyonya dan tuan pulang katanya.”


Sebelah alis Faza terangkat.


“Maksud mbak Lasmi teman-nya Zahra yang mana? Tina?” Tanya Faza lagi.


“Bukan tuan. Dia laki laki, namanya pak Santoso.”


Seketika itu juga rahang Faza langsung mengeras. Tangan-nya mengepal erat. Santoso sepertinya memang sedang menantangnya secara terang terangan.


Faza menoleh pada Zahra yang terlelap disampingnya. Jika Zahra tau, Zahra pasti akan mencegah Faza bertemu dengan Santoso.


“Biarkan saja dia menunggu mbak. Saya akan pulang sekarang.” Ujar Faza dengan rahang mengatup rapat.

__ADS_1


“Baik tuan.”


Setelah mbak Lasmi menjawab, Faza segera memutuskan sambungan telepon-nya. Faza meletakan ponselnya di pangkuan Zahra kemudian kembali menghidupkan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang melanjutkan jalan pulang.


Meskipun sekarang Faza sedang sangat emosi namun sebisa mungkin Faza tetap tenang. Faza tidak ingin sampai membuat tidur lelap istrinya terganggu. Apa lagi jika sampai Zahra terbangun dan mengerti Santoso sedang menunggu kepulangan-nya dengan Faza dirumah. Faza pasti tidak akan leluasa memperingati Santoso.


Sekitar 15 menit mobil Faza sampai dihalaman rumahnya karna memang saat mbak Lasmi menelepon posisi Faza sudah dekat dari kompleks perumahan-nya.


Faza menghela napas kemudian kembali menoleh menatap pada Zahra. Faza benar benar tidak ingin ada seorangpun yang mengusik hubungan-nya dengan Zahra.


“Santoso..” Gumamnya kemudian turun dari mobilnya. Faza menutup pintu mobil dengan sangat hati hati agar Zahra tidak terbangun karna suara pintu mobil yang ditutup itu.


Faza segera melangkah masuk kedalam rumah dan membiarkan Zahra tidur didalam mobil untuk sementara. Faza tidak sabar ingin menemui Santoso dan menanyakan secara langsung maksud kedatangan-nya malam ini.


Ketika Faza sampai diruang tamu, Faza mendapati Santoso yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya. Faza menyipit melihat gaya santai pria menyebalkan itu.


“Ada urusan apa anda datang kerumah saya malam malam begini?”


Suara Faza berhasil menarik perhatian Santoso. Pria itu mengalihkan tatapan-nya dari ponsel ditangan-nya pada Faza yang berdiri di seberangnya.


“Selamat malam pak Faza..” Sapanya dengan senyuman meremehkan menatap Faza.


Faza hanya diam merasa tidak sudi membalas sapaan pria tidak tau malu seperti Santoso.


“Saya kesini karna saya ingin bertemu dengan Zahra, Istri anda. Kami sudah berteman dan sepertinya sangat wajar jika saya mampir kerumah teman saya saat saya lewat.” Ujar Santoso dengan santainya.


Faza tersenyum sinis. Kepalanya menggeleng pelan tidak menyangka dengan sikap memalukan Santoso yang begitu terang terangan.


“Jadi dimana Zahra nya pak?”


Faza mengangkat dagunya dengan cool.


“Sebagai suami Zahra, saya melarang anda menemui istri saya. Jadi silahkan anda pulang karna Zahra tidak mungkin mau menemui anda. Satu lagi, hubungan anda dan Zahra itu bukan hubungan teman. Tapi hanya mantan bos dan mantan karyawan.”


Santoso tertawa mendengarnya.

__ADS_1


“Memangnya kenapa kalau saya dan Zahra berteman pak? Apa anda takut Zahra terpesona dengan saya?”


Faza tertawa pelan.


“Tolong sadar diri pak Santoso yang terhormat. Istri saya adalah perempuan baik baik.”


“Lalu bagaimana dengan anda pak Faza? Apakah anda laki laki yang baik juga?”


Faza mengeryit.


“Apa maksud anda?”


“Ah sepertinya saat itu saya pernah melihat anda jalan berdua dengan sekretaris anda. Anda bahkan memeluknya saat itu.”


Kedua mata Faza membulat dengan sempurna. Faza mengerti dengan maksud Santoso. Siska, pasti dia yang Santoso maksud.


“Saya hanya tidak sengaja melihat. Kebetulan sekretaris anda satu kompleks dengan saya pak. Bagaimana? Dia cantik bukan? Bahkan lebih cantik dari Zahra.” Senyum Santoso.


Rahang Faza kembali mengatup ketat. Kedua tangan yang berada disisi tubuhnya mengepal dengan sangat erat. Dunia ini benar benar terasa sangat sempit. Santoso bahkan tau siapa Siska.


“Saya tidak mengerti dengan maksud anda. Saya dan Siska hanya sebatas rekan kerja saja. Zahra juga tau itu. Lebih baik sekarang anda pergi dan jangan pernah lagi datang ataupun menemui istri saya.”


Faza tetap berusaha untuk tenang. Faza tidak ingin Santoso tau dirinya sedang panik karna Santoso tau tentang Siska.


“Sepertinya anda sedikit panik pak. Tapi mungkin itu cuma perasaan saya saja.”


Santoso tersenyum meledek pada Faza. Santoso memang pernah beberapa kali melihat Faza dan Siska jalan beriringan dalam urusan pekerjaan. Santoso bahkan pernah melihat Faza yang refleks memeluk Siska karna saat itu Siska hampir terserempet motor. Saat itu juga Santoso tau bahkan bisa mengartikan tatapan Faza dan Siska saat Faza memeluk Siska untuk menyelamatkan-nya. Santoso bahkan juga sempat mengambil photo Faza yang memeluk Siska. Santoso berpikir mungkin itu bisa dia jadikan sebagai alat untuk masuk kedalam celah hubungan Faza dan Zahra.


“Kalau begitu saya permisi. Salam untuk Zahra ya pak. Lain kali saya akan datang lagi.”


Santoso memasukan ponsel ditangan-nya kedalam saku celana bahan warna hitam yang dikenakan-nya. Pria yang mengenakan kemeja coklat tua itu kemudian melangkah dengan santai melewati Faza yang berusaha keras menahan emosinya. Namun saat hendak benar benar berlalu dari ruang tamu kediaman Faza dan Zahra, Santoso kembali menoleh dan tersenyum licik menatap Faza yang berdiri ditempatnya.


“Selamat malam, pak Faza..” Katanya meledek kemudian berlalu dengan senyuman penuh arti.


Sedang Faza, pria itu sama sekali tidak menoleh pada Santoso. Faza menarik napas panjang kemudian menghelanya perlahan. Faza mencoba untuk berpikir dengan tenang. Santoso pasti hanya sedang mencari titik lemahnya agar bisa leluasa mendekati Zahra.

__ADS_1


__ADS_2