PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 59


__ADS_3

“Jadi mamah suka banget sama lalap lalapan ya bi?” Tanya Zahra sambil mencuci daun selada yang baru selesai dia bereskan.


“Iya non.. Tapi anehnya Den Faza sama den Fadly justru sangat tidak suka dengan sayur.”


Zahra yang mendengar itu mengeryit. Selama ini yang Zahra tau Faza bukan orang yang suka memilih milih makanan apa lagi sayur. Faza bahkan selalu menghabiskan sayur apapun yang Zahra suguhkan dimeja makan selama mereka menikah.


“Mas Faza nggak suka sayuran? Masa sih bi?”


“Iya non beneran. Bahkan sejak kecil loh den Faza sama den Fadly itu enggak suka semua jenis sayuran. Dulu mereka berdua itu suka nangis kalau dipaksa makan sayur sama ibu..”


Zahra tertawa mendengarnya. Membayangkan Faza dan Fadly kecil yang menangis hanya karna dipaksa makan sayur membuat Zahra merasa geli sendiri.


“Pasti lucu banget ya bi dulu pas mas Faza dan Fadly masih kecil kecil.”


“Oh iya non.. Mereka berdua itu manja sama cengeng banget dulu. Tapi sekarang pada ganteng ganteng begitu. Waktu terasa cepat sekali berlalu non..”


Zahra menganggukan kepalanya setuju. Waktu yang telah lampau memang terasa singkat jika sudah dijalani. Tapi waktu yang akan datang terasa begitu lama dan panjang jika dinanti.


“Zahra.”


Zahra menoleh mendengar panggilan Sinta.


“Iya mah...” Seulas senyum Zahra ukir begitu pandangan-nya bertemu dengan Sinta.


“Tolong buatkan jus alpukat. Ada Loly dateng. Mamah juga mau teh hangat ya... Buruan nggak pake lama.” Perintah Sinta.


“Iya mah...” Angguk Zahra dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya.


Sinta berlalu setelah Zahra mengiyakan perintahnya. Wanita itu tersenyum merasa senang karna akhirnya bisa menindas Zahra dengan gampang.


“Non, biar bibi aja yang bikin ya.. Nanti non cukup bawa kedepan saja. Bibi tau kok bagaimana jus alpukat kesukaan non Loly. Nanti kalau non bikin-nya kemanisan bisa jadi masalah. Bibi nggak mau non disalahin sama ibu.. Non juga bukan pembantu kaya bibi yang harus disuruh ini itu..”


Zahra menghela napas. Sepertinya Sinta memang sengaja menguji kesabaran dan kesetiaan Zahra.


“Ya udah kalau begitu bi. Biar saya yang bikin teh hangatnya buat mamah.”


“Ya non.. Pake gulanya setengah sendok teh saja non jangan banyak banyak.”


Zahra menganggukan kepala dengan senyuman manis dibibirnya. Zahra berpikir mungkin dirinya harus banyak bertanya pada bibi supaya tidak salah jika mengerjakan apa yang Sinta suruh padanya.

__ADS_1


Selesai bibi membuatkan jus alpukat seperti kemauan Sinta, Zahra pun segera membawanya keluar. Zahra sedikit kebingungan karna saat Sinta meminta jus alpukat dan teh hangat, Sinta tidak mengatakan harus Zahra antar kemana.


”Duh.. Dimana ya? Masa diruang tamu..” Gumam Zahra.


Ketika Zahra hendak berbalik, Faza muncul dari arah ruang tamu. Pria yang sudah menenteng jas dan tas kerjanya itu tersenyum mendapati Zahra yang sedang memunggunginya.


“Sayang...” Panggil Faza pada Zahra.


Zahra langsung membalikan tubuhnya mendengar suara Faza. Melihat suaminya yang tidak jauh darinya, Zahra pun segera meletakan nampan yang dibawanya dan berlari menghampiri Faza.


Zahra menyalimi Faza sebelum masuk kedalam pelukan suaminya. Zahra merasa lega karna berhasil melalui hari ini dengan tenang meskipun Sinta selalu menyuruh ini itu padanya tanpa henti.


“Bagaimana hari ini?”


Zahra tertawa mendengar pertanyaan Faza. Zahra kemudian melepaskan pelukan-nya dan mendongak menatap wajah tampan suaminya.


“Harusnya aku yang tanya sama kamu mas, bagaimana kerjaan kamu hari ini..”


Faza tersenyum. Faza hanya terlalu khawatir meninggalkan istrinya dirumah bersama mamahnya yang memang super keras dan judes.


“Zahra !! Zahra !!”


“Ya Tuhan.. Aku sampai lupa. Bentar bentar mas.”


Tidak ingin membuat mamah mertuanya marah Zahra segera meraih kembali nampan yang tadi dibawanya kemudian membawanya melangkah menuju sumber suara Sinta.


Faza yang merasa penasaran mengikuti dari belakang Zahra. Faza ingin tau bagaimana sikap mamahnya pada Zahra jika dirinya sedang tidak ada.


“Ini mah Jus sama tehnya. Maaf lama soalnya tadi...”


“Kamu itu kalau disuruh yang bener dong Zahra. Jangan klemat klemot kaya siput. Mamah nyuruh kamu bikin jus sama teh itu dari tadi.” Sela Sinta marah dan bangkit dari duduknya dikursi yang sama dengan yang Loly duduki diteras samping rumah.


Zahra meringis. Zahra akui dirinya memang lama memberikan teh dan jus yang di inginkan oleh Sinta, namun keterlambatan itu juga karna Sinta yang dari awal tidak mengatakan dirinya dan Loly dimana saat memintanya.


“Maaf mah.. Tadi Zahra bingung harus membawanya kemana soalnya mamah nggak bilang kalau mamah sama Loly ada disini.”


“Jadi kamu nyalahin mamah?!” Bentak Sinta membuat Zahra tersentak dan memejamkan sejenak kedua matanya.


Faza yang menyaksikan sendiri sikap kasar mamahnya pada Zahra menggelengkan kepalanya tidak menyangka. Faza memang sudah menduganya tapi Faza tetap saja tidak habis pikir dengan cara mamahnya bersikap pada istrinya.

__ADS_1


Tidak tahan mendengar mamahnya memarahi Zahra, Faza pun segera mendekat membuat Sinta juga Loly terkejut karna kemunculan tiba tiba Faza.


“Jadi begini cara mamah nyikapin Zahra saat aku nggak ada dirumah? Mamah suruh Zahra buat ini itu?”


Zahra menghela napas. Zahra benar benar tidak menginginkan semua itu terjadi.


“Memangnya salah kalau mamah minta tolong sama Zahra? Mamah cuma minta Zahra buat bikinin jus kesukaan Loly juga teh hangat untuk mamah.”


“Tapi nggak begini caranya mah. Mamah marah marah sama Zahra cuma karna Zahra telat memberikan apa yang mamah dan Loly mau. Zahra itu bukan pembantu disini mah. Dia istri aku.” Faza tetap tidak terima dengan sikap mamahnya pada Zahra.


Sinta berdecak merasa kesal karna Faza marah padanya dan Loly.


“Mas tadi itu tante...”


“Aku nggak minta kamu buat bicara ya. Tolong diem.” Sela Faza pada Loly.


Loly menganggukan kepalanya mengerti. Kesal sebenarnya tapi Loly berusaha untuk menahan-nya dan bersikap tenang didepan Faza dan mamahnya.


“Faza kamu apa apaan sih? Nggak usah bentak bentak Loly begitu.” Kali Ini Sinta yang tidak terima dengan selaan tegas Faza pada Loly.


Faza tersenyum miris.


“Loly itu bukan siapa siapa disini mah. Tapi bisa bisanya mamah begitu membela dia.”


Zahra yang tidak ingin perdebatan suami dan mamah mertuanya semakin panjang segera menaruh nampan yang dibawanya diatas meja didepan Sinta dan Loly kemudian mengajak Faza untuk berlalu meninggalkan Sinta dan Loly berdua saja.


Zahra menarik tangan Faza dan mengajaknya menuju lantai dua dimana kamar mereka berada.


Setelah sampai sampai dikamar mereka, Zahra langsung mencium Faza kemudian memeluknya berharap apa yang dilakukan-nya itu bisa membuat hati Faza menjadi tenang dan emosinya mereda.


“Jangan mendebat mamah mas.. Aku nggak apa apa..” Ujar Zahra memeluk Faza erat.


Faza memejamkan kedua matanya kemudian membalas lembut pelukan Zahra. Faza merasa sangat bersalah karna sikap sang mamah pada Zahra tadi.


“Apa mamah bersikap begitu terus selama aku tidak dirumah sayang?” Tanya Faza lirih.


Zahra tersenyum.


“Kamu tidak perlu khawatir. Aku bisa menghadapinya.” Jawab Zahra membuat Faza tersenyum kemudian mencium lama puncak kepala Zahra.

__ADS_1


Zahra dan Sinta memang memiliki sikap yang sama sama keras. Tapi hebatnya Zahra bisa menahan diri meskipun Sinta marah marah bahkan sampai membentaknya.


__ADS_2