
Setelah makan siang bersama Sinta mengajak Akbar dan Fadly untuk pulang. Wanita itu sama sekali tidak menampakan senyuman saat didepan Zahra. Sinta bahkan beberapa kali menyela dan menyalahkan Zahra saat Fahri menangis. Tapi Zahra selalu menghadapinya dengan tenang. Zahra bahkan tidak terpancing emosi sedikitpun.
”Mah.. Tolong dong mamah sedikit saja hargai Zahra. Atau paling enggak mamah hargailah pilihan Faza. Bagaimanapun juga Zahra adalah perempuan pilihan Faza mah.. Jangan sampai nanti Faza membenci mamah.”
Sinta melirik suaminya yang sedang mengemudikan mobil. Saat ini mereka hanya berdua karena Fadly yang memilih untuk pergi dengan memesan taksi online setelah dari rumah Faza dan Zahra.
“Dari awal bahkan sejak Faza berpacaran dengan Zahra mamah sudah tidak setuju pah.. Jadi jika sampai sekarang mamah nggak bisa nerima Zahra itu adalah konsekuensi atas apa yang sedang mereka berdua pertahankan. Dan Faza, mamah selalu mengajarkan Faza untuk hormat dan menghargai jasa orang tua. Mamah yakin Faza tidak akan mempunyai rasa benci pada mamah.”
Akbar menggelengkan kepalanya. Ingin sekali sebenarnya Akbar membentak istrinya saking kesalnya tadi didepan semuanya. Tapi Akbar sadar tindakan-nya hanya akan memancing emosi kedua putranya. Itu jelas akan menambah masalah.
Akbar menepikan mobilnya. Akbar tidak ingin mengendarai mobil dengan emosi yang menguasainya.
“Mamah sama Zahra itu sama sama perempuan. Harusnya mamah juga bisa merasakan bagaimana rasanya berada di posisi Zahra.”
Sinta menoleh menatap Akbar yang juga sedang menatapnya dengan sorot mata penuh kekesalan.
”Jadi sekarang Zahra sangat penting untuk papah?” Tanya Sinta.
Rahang Akbar mengeras. Istrinya benar benar keras kepala dan sangat sulit sekali diberi tahu sesuatu yang benar.
“Cukup mah, papah muak dengan semua ini. Papah muak dengan sikap mamah. Mamah tidak pernah menghargai papah. Mamah tidak pernah mau mendengarkan papah. Papah menyerah mah..”
Sinta memejamkan kedua matanya. Menyerah berarti pasrah. Dan pasrah berarti sudah lagi tidak ingin melanjutkan hubungan dengan-nya.
“Baik kalau begitu pah.. Mamah juga capek dengan semua ini.” Balas Sinta pelan.
Akbar hanya diam. Dalam benaknya tidak pernah sedikitpun Akbar menginginkan sesuatu yang buruk menimpa keluarganya. Tapi kerasnya hati Sinta menjadi duri dalam daging yang membuat semuanya perlahan merasakan sakit yang amat sangat.
Sinta kemudian melepas seatbelt dan turun dari mobil suaminya. Sinta langsung menyetop taksi kemudian masuk kedalamnya meninggalkan Akbar yang merasa sangat frustasi dengan sikap istrinya.
Detik berikutnya Akbar menangis. Pria itu merasa gagal menjadi suami yang baik. Akbar menyesal karena selalu mengalah dan mengiyakan keinginan istrinya. Akbar juga menyesal karena selalu melimpahkan semua pada Sinta yang pada akhirnya membuat Sinta merasa menjadi yang paling benar dalam mengambil segala keputusan.
__ADS_1
“Maaf Sinta.. Semua ini salahku.. Aku tidak bisa menjadi suami yang baik untuk kamu. Aku juga tidak bisa menjadi papah yang baik untuk Faza juga Fadly.”
Kesal dengan dirinya sendiri, Akbar pun membenturkan keningnya berkali kali ke stir mobilnya. Akbar menangis sejadi jadinya menyesali semua yang sudah terlanjur.
“Tuhan.. Tolong bantu hamba.. Bukakan pintu hati istri hamba. Zahra menantu yang baik.. Jangan engkau biarkan istri hamba menyesal terlalu dalam nantinya..” Lirih Akbar dalam tangisnya.
----------
Sorenya Aries, Nadia, juga Arka datang. Mereka melangkah dengan mantap memasuki kediaman Faza dan Zahra dengan Aries yang membawa paperbag berukuran cukup besar.
“Mbak, Zahra sama Faza nya ada kan?” Tanya Nadia menghampiri mbak Lasmi yang sedang mengelap meja kaca diruang tamu.
“Oh nyonya.. Ada nyonya. Nyonya Zahra sama tuan sedang berada diatas.” Jawab mbak Lasmi menghentikan aktivitasnya dan berdiri dari berlututnya.
“Kalau begitu tolong panggilin ya mbak..” Senyum Nadia tulus.
“Oh iya nyonya.. Sebentar.”
Nadia hanya menganggukan kepalanya kemudian mendudukan dirinya di sofa yang di ikuti oleh Aries dan Arka, putra mereka.
Faza dan Nadia yang melihat itu tersenyum. Mereka tau bahwa kakak beradik itu memang sangat saling menyayangi.
“Selamat ulang tahun ya dek.. Kamu sudah dewasa sekarang. Kamu bahkan sudah menjadi mamah.. Tetap kuat dan hebat ya.. Kakak sayang kamu..” Bisik Aries sambil mencium puncak kepala Zahra.
Zahra menangis dalam pelukan Aries dan menganggukan kepalanya. Zahra tau kakaknya memang sangat menyayanginya. Itu sebabnya Zahra sangat tidak bisa saat Aries marah padanya.
“Makasih ya kak.. Makasih untuk semuanya. Makasih untuk semua yang sudah kakak berikan sama aku.. Meskipun aku tau aku tidak akan bisa membalas jasa kakak..”
“Sshhtt.. Sudah.. Nggak usah nangis. Adik kakak harus tetap kuat dan ceria. Kakak nggak mau lihat adik kakak nangis. Masa udah jadi mamah masih cengeng. Malu dong sama Fahri sama Arka..”
Zahra tertawa mendengarnya. Sadar dirinya sedang ditatap oleh Arka, Zahra pun buru buru mengusap air matanya.
__ADS_1
“Enggak papa kok tante, Arka udah besar dan Arka sudah mengerti. Mamah bilang orang menangis bukan berarti cengeng.” Senyum Arka yang membuat Zahra merasa gemas kemudian langsung beralih memeluk Arka.
“Pinter banget sih keponakan ganteng tante..” Ujar Zahra kemudian menciumi seluruh bagian wajah tampan Arka.
Arka tertawa karena merasa geli. Bocah itu memang mempunyai sikap dewasa hasil didikan lemah lembut dari Nadia.
Setelah itu mereka larut dalam obrolan dan tawa. Apa lagi saat Arka berceloteh membuat suasana semakin ramai. Ditambah dengan sikap Aries yang sudah kembali mau mengakrabi Faza. Suasana itu terasa semakin hangat. Dan Zahra sangat bahagia karena itu.
“Faza, ada yang mau aku bicarain sama kamu..” Ujar Aries pelan.
Faza menganggukkan kepalanya kemudian bangkit dari duduknya mengajak untuk Aries berlalu dari ruang keluarga membiarkan Zahra dan Nadia serta Arka yang sedang asik bercanda dengan Fahri yang berada di gendongan Nadia.
“Ada apa kak?” Tanya Faza setelah mereka berada ditaman belakang rumah. Faza yakin baik Zahra dan Nadia mereka tidak akan mendengar apa yang ingin Aries bicarakan padanya.
Aries menghela napas kemudian mendudukan dirinya dikursi panjang di ikuti Faza.
“Ini tentang Zahra.”
Faza mengeryit namun enggan bertanya. Faza memilih diam dan mendengarkan apa yang ingin Aries katakan tentang Zahra padanya.
“Zahra.. Dia adalah amanah yang sejak dulu selalu berusaha aku jaga dengan baik. Aku selalu berusaha mengupayakan segalanya buat Zahra. Ya walaupun memang pada akhirnya Aku nggak mampu memberikan segala apa yang Zahra butuhkan. Tapi aku nggak bisa menerima jika sampai ada orang menyakiti Zahra.”
Faza menelan ludahnya. Ucapan Aries seperti sindiran untuknya atas apa yang hampir saja Faza lakukan juga sikap Sinta yang selalu tidak baik pada Zahra.
“Sekarang tanggung jawab atas Zahra sepenuhnya aku serahkan sama kamu Faza. Aku yakin kamu bisa menjaga dan melindungi Zahra dengan baik. Walaupun aku juga tau bagaimana sikap mamah kamu pada Zahra. Tapi aku yakin kamu laki laki yang tidak hanya pintar untuk memposisikan diri diantara mamah kamu juga Zahra.”
Faza terus diam. Kepercayaan Aries padanya membuat Faza semakin bertekad untuk terus menjaga dan menyayangi Zahra dengan seluruh jiwa dan raganya.
“Faza...”
Aries menepuk pelan bahu Faza membuat Faza menatapnya.
__ADS_1
“Tolong bahagiakan adikku satu satunya. Aku percaya kamu memang laki laki terbaik yang Tuhan kirim untuk menggantikan tugasku menjaga Zahra.” Ujar Aries pelan.
Faza tidak tau harus berkata apa. Tapi Faza sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dirinya akan benar benar menjaga dan melindungi Zahra dengan seluruh kemampuan yang Faza miliki.