
Fadly menghentikan mobilnya diparkiran didepan gedung perusahaan milik Loly. Pria itu tersenyum membayangkan mamahnya yang akan sangat bahagia jika Fadly membawa Loly untuk ikut serta jalan jalan bersamanya juga mamahnya sore nanti.
Fadly juga yakin Loly pasti akan bersedia jika Fadly meminta tolong atas nama mamahnya. Dan mungkin itu arti dari peribahasa sambil menyelam minum air. Fadly bisa bersama dengan Loly sekaligus membuat mamahnya tersenyum.
Fadly menghela napas kemudian mematikan mesin mobilnya dan turun dari kendaraan beroda empat itu.
Fadly merapikan jas hitam yang dikenakan-nya sebelum melangkah masuk menuju gedung tersebut.
Mona yang saat itu sedang berbincang dengan rekan kerja yang lain-nya mengeryit melihat Fadly yang masuk dengan gaya cool nya kedalam gedung perusahaan tempatnya bekerja.
“Eemm.. Sebentar yah..” Senyum Mona menyudahi obrolan-nya dengan rekan kerjanya tersebut.
Mona kemudian melangkah mendekat pada Fadly. Sepertinya pria itu hendak menuju lift.
“Pak Fadly..”
Fadly menoleh mendengar suara Mona. Fadly tersenyum tipis begitu mendapati asisten sekaligus sekretaris dari Loly mencegat langkahnya.
“Ah ya... Mona..”
“Selamat siang pak Fadly.. Ada yang bisa saya bantu?”
Dengan ramah Mona menyapa Fadly kemudian menawarkan bantuan yang sebenarnya sedang tidak Fadly butuhkan. Tentu saja, Fadly tau Mona pasti sudah diwanti wanti oleh Loly agar menyulitkan-nya saat ingin bertemu dengan Loly.
“Ya siang Mona.. Saya ingin bertemu dengan Loly. Ada yang mau saya bicarakan dengan dia. Dan, yah.. Ini sangat penting.”
Mona mengeryit. Fadly dan Loly sama sekali tidak memiliki hubungan kerja sama apapun. Dan Mona bisa menebak arti penting yang dimaksud oleh Fadly. Sudah pasti arti penting itu tentang perasaan-nya sendiri. Mona tau Fadly sedang berusaha mengejar Loly.
“Maaf sekali pak Fadly, tapi nona Loly sedang tidak ada ditempat sekarang. Nona Loly sedang ada janji dengan client.”
Fadly mengeryit. Loly sering sekali bertemu dengan para client bahkan hampir setiap hari setau Fadly.
“Saya tidak masalah jika harus menunggu.”
__ADS_1
Mona tersenyum mendengarnya. Mona tau bagaimana Fadly mempermainkan Loly dengan kejamnya beberapa bulan lalu. Mona bahkan sampai ikut merasa geram saat melihat Loly yang begitu putus asa. Lebih parahnya lagi Loly sampai hendak mengakhiri hidupnya karena apa yang Fadly katakan padanya. Apa lagi nama Mona juga terseret dalam rencana Fadly.
“Pak Fadly, anda pasti mengerti nona Loly selalu menolak bertemu dengan anda.” Ujar Mona pelan.
“Ya.. Saya memang salah. Tapi saya serius ingin memperbaiki semuanya. Bahkan kalau memang kamu tidak memperbolehkan saya untuk menunggu diruangan Loly, saya tidak keberatan menunggu di lobi.” Balas Fadly dengan ekspresi serius.
“Terserah anda saja pak Fadly.. Tapi tolong sekali, jangan masuk kedalam ruangan nona Loly.”
“Ya.. Baik.” Angguk Fadly tersenyum tipis.
“Kalau begitu saya permisi pak.”
“Oh ya... Silahkan.” Angguk Fadly mempersilahkan.
Mona menggelengkan kepalanya. Mona tidak habis pikir dengan apa yang Fadly inginkan. Saat Loly mengejarnya Fadly begitu sangat angkuh. Tapi sekarang setelah Loly enggan dekat dengan-nya Fadly malah mendekat dan berbalik mengejar Loly dengan begitu gencar.
Fadly menghela napas. Mona tidak mengusirnya saja Fadly sudah merasa bersyukur karena itu artinya Fadly punya kesempatan untuk bertemu dengan Loly. Fadly sangat optimis, Loly pasti mau pergi dengan-nya nanti sore untuk menghibur hati Sinta yang sedang kalut.
Beberapa menit menunggu namun Loly belum juga kembali. Padahal waktu makan siang juga sudah selesai bahkan sejak Fadly menginjakan kaki digedung perusahaan itu.
Fadly menghela napas lagi. Hari ini dirinya terpaksa harus mengesampingkan dulu pekerjaan-nya. Tentu saja demi mamahnya juga Loly.
Setengah jam menunggu Loly akhirnya datang. Fadly yang melihat itu tersenyum lebar. Pria itu bangkit dari duduknya kemudian melangkah cepat menyusul Loly yang tidak menyadari kehadiran-nya.
“Hay..”
Loly menghentikan langkahnya begitu mendengar suara Fadly. Perlahan Loly memutar tubuhnya. Loly berdecak mendapati Fadly yang tersenyum begitu manis padanya.
“Kamu ngapain kesini?” Tanya Loly ketus.
“Tentu saja aku nungguin kamu..” Jawab Fadly dengan senyuman manis yang terus menghiasi bibirnya.
Loly memutar jengah kedua bola matanya. Loly malas jika harus berlama lama berhadapan dengan Fadly.
__ADS_1
“Mending sekarang kamu pergi. Kamu urusin pekerjaan kamu dan jangan ganggu aku oke?”
Setelah mengusir Fadly, Loly pun memutar tubuhnya. Namun saat Loly hendak melangkah, Fadly langsung mencegahnya dengan mencekal pergelangan tangan Loly.
“Tunggu Loly.. Ada yang mau aku bicarakan. Ini sangat penting. Aku nggak tau harus minta bantuan sama siapa lagi.”
Loly mengeryit mendengarnya. Tapi Loly enggan untuk berbalik. Apapun yang menyangkut Fadly tidak lagi penting baginya.
“Ini bukan tentang aku Loly.. Tapi tentang mamahku.”
Mendengar itu Loly langsung membalikan tubuhnya menghadap kembali pada Fadly. Meskipun Loly memang ingin menjauh dari keluarga Akbar namun Sinta sudah sangat baik dan perhatian padanya. Loly tidak bisa tidak perduli pada wanita itu.
“Kenapa dengan tante? Tante baik baik saja kan? Tante nggak kenapa napa kan?”
Mendengar nada pertanyaan dan ekspresi penuh ke khawatiran Loly, Fadly bersorak dalam hati. Fadly memang sudah sangat yakin Loly pasti tidak akan tega jika mendengar sesuatu yang tidak baik tentang Sinta.
“Fadly kenapa malah diem? Tante kenapa?”
Fadly menghela napas. Fadly melepaskan cekalan tangan-nya pada pergelangan tangan Loly. Fadly bersikap seolah olah dirinya sedang sangat bingung dan tidak tau harus bagaimana.
“Aku juga nggak tau sebenarnya. Tapi mamah pagi ini menangis. Mamah tampak sangat tidak semangat. Makanya aku mau minta tolong sama kamu.. Tapi melihat kamu yang sepertinya sudah tidak ingin lagi dekat dengan keluargaku sepertinya kamu nggak mungkin mau bantuin aku..” Ujar Fadly pelan. Pria itu benar benar sangat hebat berakting sekarang.
Loly menggelengkan kepalanya. Loly tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Sinta. Loly pernah sangat dekat dengan Sinta dulu. Sinta begitu sangat baik dan perhatian padanya. Sinta bahkan terus membelanya meskipun apa yang Loly lakukan dulu salah.
“Kalau ini benar benar untuk tante.. Aku mau bantu. Apapun itu.” Kata Loly tanpa sedikitpun merasa ragu.
Fadly ingin berteriak sekarang. Fadly tidak menyangka Loly akan dengan gampang mengatakan mau membantunya. Tapi sebisa mungkin Fadly tetap berakting sedih. Fadly memang sedang memanfaatkan keadaan sekarang. Tapi niatnya juga baik yaitu untuk menghibur hati mamahnya.
“Kalau kamu serius mau bantu aku buat hibur mamah, datanglah kerumah. Mamah sedang sangat sedih sekarang. Tapi kalau memang kamu nggak mau nggak papa. Aku nggak maksa kok. Ya udah aku pergi yah..”
Fadly tersenyum tipis kemudian berlalu dari hadapan Loly yang hanya diam menatap punggung lebar Fadly. Mendengar apa yang Fadly katakan tentang Sinta membuat Loly merasa iba.
Sedang Fadly, setelah masuk kedalam mobilnya pria itu langsung menghidupkan mesin dan tancap gas. Pria itu berteriak saking bahagianya. Fadly tidak sabar menunggu kedatangan Loly nanti sore.
__ADS_1