
Zahra terus diam setelah apa yang Faza katakan dengan jujur tentang kesalahan-nya. Zahra bukan merasa menjadi manusia yang tidak pernah mempunyai kesalahan. Namun perasaan-nya sebagai seorang wanita benar benar sangat sensitif. Meskipun memang pada kenyataan-nya memang Faza tidak pernah menjalin hubungan apapun dengan Siska karna apa yang Faza rasakan hanya sebatas kekaguman yang pada akhirnya tidak benar benar Faza lakukan. Ya, Faza masih sadar dan bisa membatasi dirinya meskipun rasa kagum itu dia rasakan pada Siska.
Saat malam Fahri terus saja menangis. Bayi itu seolah tau apa yang sedang dirasakan oleh Zahra. Fahri bahkan menolak saat hendak disusui oleh Zahra. Hal itu membuat Zahra kewalahan bahkan sampai menangis terisak.
Faza yang tidak tega langsung mengambil alih Fahri dari pangkuan Zahra.
Zahra tidak menolak dan tetap memberikan Fahri pada Faza. Zahra juga tidak menolak ketika Faza menenangkan-nya dengan mengusap lembut pundak bergetarnya.
“Mas.. Aku mau menginap dirumah kak Aries untuk beberapa hari.”
Ucapan Zahra membuat Faza diam. Faza menyadari kesalahan-nya. Faza juga maklum jika Zahra merasa sakit dengan kejujuran-nya. Tapi menurut Faza keluar rumah saat kesalah pahaman sedang melanda suatu hubungan dalam berumah tangga bukanlah hal yang baik.
“Aku butuh waktu untuk menenangkan diri dan memikirkan semuanya.”
Dengan cepat Faza menoleh.
“Apa maksud kamu Zahra? Memikirkan apa? Apa kamu mau meninggalkan aku?” Faza menatap tidak percaya pada Zahra yang menolak untuk membalas tatapan-nya.
“Aku mohon kamu mengerti. Aku izin untuk menenangkan diri dan pikiran aku beberapa hari dirumah kakak ku.” Ucap Zahra lirih.
Faza menggeleng pelan. Air mata menetes dari kedua matanya. Faza tau apa yang dilakukan-nya memang salah. Faza juga sudah menduga masalah akan melanda hubungan-nya dengan Zahra jika dirinya jujur. Tapi semuanya memang harus Faza katakan sejujur jujurnya tanpa ada satu pun yang Faza tutup tutupi. Setidaknya niatnya untuk jujur sudah terlaksana dan itu adalah pilihan yang baik menurut Faza.
“Sayang.. Bilang sama mamah yah buat maafin papah.. Papah ngaku papah salah.. Papah juga sudah berjanji pada diri papah sendiri untuk tidak mengulangi kesalahan papah lagi..” Ucap Faza pada Fahri yang langsung diam begitu berada dalam gendongan-nya.
Zahra melengos. Faza memang belum benar benar mendua. Tapi mengetahui Faza diam diam mengagumi wanita lain membuat hati Zahra terasa sakit.
Keesokan harinya Faza mengantar Zahra kerumah Aries. Faza menuruti keinginan istrinya untuk membiarkan Zahra menenangkan diri dirumah kakaknya. Bukan Faza membiarkan Zahra keluar dari rumahnya. Hanya saja Faza berpikir mungkin istrinya memang butuh waktu untuk berpikir jernih.
“Titip Zahra sama Fahri ya kak... Nanti kalau Zahra sudah akan pulang aku akan menjemputnya lagi.” Ujar Faza pada Nadia.
__ADS_1
Nadia menganggukan kepalanya.
“Iya.. Kamu tenang aja. Zahra dan Fahri aman disini bersama kakak..” Senyum Nadia.
Nadia sebenarnya bingung dengan kedatangan Zahra dan Faza yang tiba tiba itu. Apa lagi Zahra yang membawa banyak perlengkapan bayi karena berniat untuk menginap beberapa hari tanpa Faza. Beruntungnya saat ini Aries sedang berada diluar kota sehingga Aries tidak akan mengetahui itu.
“Makasih ya kak.. Aku akan jemput Zahra lgi nanti kalau aku udah nggak sibuk..”
“Ya.. Kamu hati hati ya..”
“Ya kak.. Kalau begitu aku berangkat kerja dulu.”
Faza menyalimi Nadia kemudian melangkah menuju mobilnya. Pria itu masuk kedalam mobilnya dan berlalu dengan kecepatan sedang dari depan kediaman Aries dan Nadia.
Faza sebenarnya merasa sangat khawatir. Tapi jika dirinya melarang, Zahra pasti akan marah dan terus berpikir negatif padanya.
Sedangkan Nadia, ibu satu anak itu menghela napas pelan menatap mobil Faza yang keluar dari pekarangan rumah sederhananya dengan Aries. Nadia bukan wanita polos yang tidak tau apa apa. Nadia juga pernah mengalami masalah dalam berumah tangga dengan Aries.
“Halo keponakan bude yang paling ganteng...”
Nadia mengambil alih Fahri dari pangkuan Zahra. Saat ini keduanya sedang berada diruang keluarga dirumah Aries dan Nadia.
“Kak Aries sudah berangkat kerja kak?” Tanya Zahra pada Nadia.
“Mas Aries sedang ada tugas diluar kota Ra..” Jawab Nadia.
Zahra menganggukan kepalanya. Untung saja kakak nya itu sedang tidak ada dirumah sehingga Zahra tidak harus menjelaskan apapun perihal tentang maksudnya menginap dirumah Aries dan Nadia untuk beberapa hari kedepan.
“Lalu Arka, dia berangkat sekolah sama siapa?” Tanya Zahra lagi.
__ADS_1
“Arka dari kemarin udah janjian sama temen-nya untuk berangkat ke sekolah bareng Ra.. Jadi tadi pagi temen-nya itu kesini menjemputnya dengan mobil. Di anterin supirnya.”
Zahra mengangguk lagi. Zahra kemudian melirik Nadia diam diam. Zahra yakin Nadia dan Aries juga sering menghadapi masalah. Hanya saja keduanya tidak pernah memperlihatkan-nya pada siapapun.
“Kak..” Panggil Zahra pada Nadia yang sedang fokus menciumi Fahri yang baru selesai menyusu pada Zahra.
“Hemm..” Saut Nadia tanpa menoleh pada Zahra yang menghela napas sambil menahan air matanya.
“Boleh tidak aku tanya sesuatu?”
Pertanyaan Zahra membuat Nadia langsung menoleh. Dugaan-nya benar. Zahra dan Faza sedang menghadapi masalah.
“Tentu saja..”
Zahra memejamkan kedua matanya sebentar kemudian membukanya kembali. Air mata menetes tanpa sadar dari kedua matanya mengingat kejujuran Faza padanya semalam.
“Ini tentang hubungan berumah tangga. Apa kak Nadia dan kak Aries pernah mengalami masalah? Atau mungkin kak Aries menyakiti kakak?”
Pertanyaan Zahra membuat Nadia tersenyum. Nadia menghela napas kemudian meletakan Fahri di pangkuan-nya.
“Jadi sebenarnya kamu dan Faza sedang ada masalah begitu?” Tanya Nadia langsung tepat sasaran.
Zahra hanya diam tidak menggeleng ataupun menganggukan kepalanya. Rasanya Zahra malu untuk menceritakan masalah yang sedang melanda kehidupan rumah tangganya dengan Faza pada Nadia.
Tidak mendapat jawaban dari Zahra membuat Nadia semakin yakin. Faza dan Zahra sedang tidak baik baik saja hubungan-nya.
“Jadi berdasarkan pengalaman aku sebagai seorang istri begini Zahra. Masalah dalam hubungan rumah tangga itu timbul karna kedua belah pihak. Jadi saat kita sedang di hadapkan pada suatu masalah sebenarnya semuanya bergantung pada bagaimana kita menyikapinya. Misalnya si suami melakukan kesalahan dan si istri bisa memaafkan semuanya akan selesai dengan baik baik saja. Begitu juga sebaliknya. Masalah itu tidak akan timbul membesar. Tapi salah satu kedua belah pihak bersalah dan satunya lagi tidak mau memaafkan kesalahan itu akan berkembang menjadi masalah. Jadi simpelnya semuanya tergantung pada bagaimana kita menyikapinya.” Jelas Nadia panjang lebar.
Zahra menahan napas sejenak. Zahra kemudian sadar, kejujuran Faza padanya adalah perbuatan yang tidak bisa dikatakan sebagai masalah. Kesalahan Faza juga masih ada pada hatinya belum sampai merembet pada sosok lain. Apa lagi Faza juga sudah meminta maaf padanya.
__ADS_1
“Zahra.. Apapun masalah yang sedang kalian berdua hadapi, berpikirlah dengan tenang. Sikapi semuanya dengan bijak. Karna sebenarnya tidak akan ada kesalahan yang menjadi masalah jika kita bisa menyikapinya dengan bijak.” Lanjut Nadia tersenyum menatap Zahra yang diam seperti sedang memikirkan sesuatu.