
Sinta dibuat bingung dengan tingkah Fadly yang sangat tidak biasa sore ini. Bagaimana tidak, putra bungsunya itu terlihat sangat semangat dengan wajah berseri seri sejak turun dari mobilnya. Fadly bahkan memeluknya, mengangkatnya dan memutar mutar tubuhnya sampai Sinta merasakan pusing dikepalanya. Dan bukan-nya merasa bersalah Fadly malah tertawa tawa seperti orang gila.
Sekarang Fadly kembali bertingkah aneh. Fadly mengeluarkan semua bajunya didalam lemari mengenakan-nya satu persatu dan berdiri didepan cermin seperti sedang menilai nilai penampilan dirinya sendiri apakah baju yang dikenakan-nya pantas atau tidak untuknya.
“Fadly...”
Panggilan Sinta membuat Fadly langsung memutar tubuhnya. Senyuman lebar langsung menghiasi bibir Fadly.
“Mah.. Menurut mamah Fadly cocok nggak pake baju ini?” Tanya Fadly sumringah.
Sinta diam. Wanita itu merasa sangat tidak biasa dengan sikap putranya kali ini. Fadly sangat centil sekarang.
“Emm.. Cocok kok..” Angguk Sinta tersenyum manis.
Fadly kembali memutar tubuhnya menghadap cermin. Fadly kembali menilai nilai penampilan-nya sendiri.
“Kayanya kurang cocok deh mah.. Warnanya terlalu cerah. Nggak pantes buat aku..”
Sinta ingin sekali tertawa sekarang. Putranya benar benar aneh, tapi sangat menggemaskan menurutnya.
Fadly kemudian membuka kemeja lengan panjang yang dikenakan-nya dan menggantinya dengan kaos berkerah tinggi dan berlengan panjang warna navy. Fadly kembali menatap penampilan-nya didepan cermin. Pria itu tersenyum. Kaos rajut itu begitu pas melekat ditubuh kekarnya. Dada bidangnya bahkan tercetak dengan jelas memberikan kesan gagah dan perkasa menurut Fadly.
Namun tiba tiba senyuman dibibir Fadly luntur. Pria itu menatap wajahnya. Kumis dan jambang tipis membuat Fadly merasa tidak nyaman.
Fadly berdecak kemudian melangkah dan masuk kedalam kamar mandi.
Sinta yang sedari tadi hanya diam diambang pintu menggelengkan kepalanya. Sinta masih tidak mengerti dengan sikap tidak biasa putranya kali ini.
“Apa mungkin dia sedang jatuh cinta? Tapi sama siapa?” Sinta mulai bertanya tanya dalam hati.
Sinta juga mulai khawatir kalau kalau Fadly mengikuti jejak Faza yaitu jatuh cinta pada wanita yang tidak sepadan dengan keluarganya.
Sinta perlahan melangkah masuk kedalam kamar Fadly yang sudah sangat berantakan itu. Semua baju baju keluar dari lemarinya dan berserakan dilantai bahkan memenuhi ranjang Fadly.
Suara pintu kamar mandi terbuka memunculkan Fadly yang baru saja membersihkan jambang juga kumis tipisnya.
__ADS_1
“Bagaimana dengan yang ini mah? Cocok nggak?” Fadly kembali meminta pendapat Sinta dengan merentangkan kedua tangan-nya menunjukan betapa pasnya kaos berkerah tinggi berlengan panjang itu membalut tubuh kekarnya.
Sinta tersenyum lagi.
“Yang tadi cocok. Dan yang ini juga sangat cocok sayang.. Kamu pake apa aja cocok dan ganteng.” Ujar Sinta menjawab.
Fadly tertawa. Mendengar ucapan Sinta, Fadly merasa kepercayaan dirinya semakin tinggi. Fadly yakin Loly pasti akan terpesona dengan ketampanan-nya kali ini.
Fadly melangkah kembali kedepan cermin. Dan sekali lagi senyuman dibibirnya luntur. Kali ini Fadly merasa penampilan-nya kurang karena rambutnya yang mulai panjang sudah hampir menutupi keningnya.
“Tapi mah.. Rambut aku panjang banget. Jadi terkesan berantakan.”
Fadly benar benar seperti gadis remaja yang sedang dalam masa pubertas sekarang. Pria itu selalu merasa kurang dengan penampilan-nya sendiri.
“Enggak kok.. Menurut mamah rambut kamu membuat kamu terlihat imut dan menggemaskan sayang..” Kata Sinta berpendapat.
Fadly berdecak merasa tidak suka dengan kata imut dan menggemaskan yang dilontarkan oleh sang mamah.
“Ayolah mah.. Aku bukan anak kecil lagi.. Aku nggak mau jadi imut apa lagi menggemaskan. Aku ini laki laki dewasa..”
Sinta tidak habis pikir. Fadly sangat sangat aneh.
Fadly menghela napas. Loly pasti sebentar lagi sampai. Dan jika Fadly pergi hanya untuk memangkas rambutnya, bisa saja nanti Loly dan mamahnya pergi tanpa mengajaknya. Kalau sudah seperti itu rencananya untuk menyelam sambil minum air pasti akan gagal. Fadly tidak akan bisa mengambil kesempatan untuk bersama Loly.
“Sayang.. Kok diem?” Tanya Sinta penuh perhatian.
“Ah enggak mah. Nggak papa. Mamah bisa mangkas rambut aku nggak? Buat rapiin aja dikit.”
Itu bukan pertanyaan, tapi adalah permintaan. Dan sekarang Sinta semakin yakin bahwa putranya memang sedang jatuh cinta.
“Mamah nggak bisa. Tapi mungkin pak Umar bisa. Tapi sebelum itu mamah mau nanya sesuatu sama kamu.”
Fadly mengangkat sebelah alisnya.
“Nanya apa mah?”
__ADS_1
“Siapa perempuan itu?” Tanya Sinta melangkah pelan menghampiri Fadly.
Fadly bungkam. Fadly tidak tau harus menjawab apa sekarang. Tidak mungkin jika Fadly berterus terang bahwa wanita yang membuatnya ingin terlihat sempurna adalah Loly. Mamahnya memang pasti akan sangat setuju. Tapi Fadly merasa malu.
“Perempuan? Perempuan apa maksud mamah?” Tanya Fadly pura pura tidak mengerti dengan apa yang dipertanyakan mamahnya.
Sinta tertawa pelan. Wanita itu mengusap lembut bahu Fadly. Setelah itu Sinta membelai penuh kasih sayang pipi tirus putra bungsunya itu.
“Mamah nggak bodoh sayang.. Mamah tau kamu sedang jatuh cinta. Katakan sama mamah, siapa perempuan itu?”
Fadly mulai gelagapan. Sebenarnya selain tidak siap, Fadly juga malu jika harus mengakui bahwa dirinya sudah benar benar jatuh cinta pada Loly. Meskipun memang cinta itu tumbuh dihatinya setelah kesalahan fatal yang Fadly perbuat pada Loly, tapi Fadly tetap berharap Loly mau menerimanya dan membuka kembali hatinya untuk memberikan kesempatan kedua pada Fadly.
“Mamah berharap kamu tidak mengikuti jejak kakak kamu nak.. Mamah sangat berharap perempuan yang kamu cintai itu sesuai dan cocok dengan mamah..” Ujar Sinta pelan.
Fadly menelan ludah. Fadly tidak ingin menyalahkan pilihan Faza. Karena Fadly sendiri tau pilihan hati tidak pernah salah.
“Mah aku...”
Tok tok tok
Ucapan Fadly tersela oleh suara ketukan pintu. Fadly dan Sinta kemudian menoleh dan mendapati bibi yang sudah berdiri disana.
“Bibi.. Ada apa?” Tanya Sinta kemudian mendekat pada bibi.
“Maaf saya mengganggu nyonya, den.. Tapi dibawah ada nona Loly.”
Kedua mata Sinta sedikit melebar mendengar apa yang bibi katakan. Loly datang kerumahnya.
Sedang Fadly, pria itu tersenyum sangat bahagia mendengarnya. Loly benar benar datang kerumahnya sore ini.
Sinta menoleh menatap pada Fadly. Sinta tau sekarang. Fadly berdandan merapikan diri bahkan ingin tampil sempurna karena Loly akan datang kerumahnya.
“Jadi.. perempuan itu Loly?” Tanya Sinta tersenyum menggoda putranya.
Fadly tidak menjawab. Pria itu hanya menundukan kepalanya merasa malu karena akhirnya Sinta tau bahwa Fadly sedang jatuh cinta pada Loly. Wanita yang selalu Fadly klaim sebagai wanita yang tidak baik dan tidak pantas dicintai.
__ADS_1
“Kalau memang benar begitu. Mamah sangat setuju sayang.. Teruskan ya.. Mamah mendukung kamu..” Senyum Sinta tulus.
Setelah berkata begitu tulus memberi dukungan pada putranya, Sinta pun mengajak bibi untuk turun dan menemui Loly. Sinta benar benar bahagia karena ternyata wanita yang berhasil memikat hati putranya adalah Loly. Loly yang sejak dulu memang Sinta harapkan bisa menjadi bagian dari keluarganya.