
“Kamu kenapa lagi Ra? Ngelamun mulu, untung lagi nggak ada pak Santo. Kalau ada habis kamu dicaci maki.”
Zahra berdecak.
Hari ini moodnya benar benar jelek.
“Ribut sama mas Faza kamu itu ya?”
Zahra hanya menghela napas. Zahra benar benar kesal karna Faza tidak paham dengan maksudnya.
Tiba tiba Zahra teringat apa yang dilakukan-nya pada ponsel Faza saat itu.
“Bukan-nya aku sudah memblokir semua kontak teman teman mas Faza?”
“Hah? blokir?”
Zahra sadar dengan gumaman-nya sendiri. Zahra meringis menatap Tina yang melongo tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Hehee.. Enggak..”
“Kamu ngeblokir semua kontak di handphone suami kamu Ra? Ya Tuhan...”
Zahra tersenyum tipis. Malu sekali rasanya ketahuan terlalu over protektif pada suaminya sendiri.
“Aku lakukan itu karna teman kerja mas Faza sama teman sekolahnya dulu itu ngeselin banget Tin.. Masa handphone mas Faza selalu saja berdering, nggak malam nggak siang nggak pagi bahkan mungkin dikantor juga iya.”
Tina menyipitkan kedua matanya menatap tidak percaya pada Zahra. Terkejut sebenarnya mendengar Zahra yang sebegitu protektifnya pada Faza.
“Oke, aku ngaku. Aku jujur. Aku cemburu. Teman teman mas Faza itu cantik cantik Tin. Mereka tinggi kaya kamu. Sexy, pintar, karirnya pun cemerlang. Sedangkan aku, Aku pendek, gendut, pesek, nggak sempurna kaya mereka mereka..”
Tina melihat Zahra yang tampak sangat frustasi saat mengatakan alasan kecemburuan-nya. Dari situ Tina tau mungkin apa yang Zahra hadapi juga tidaklah mudah. Zahra tidak sekuat dan sehebat yang Tina pikirkan.
“Aku bingung Tin. Kalau aku larang secara langsung, mas Faza pasti marah dan enggak mau ngerti. Aku tau kok apa yang aku lakukan dengan memblokir semua kontak teman perempuan mas Faza itu salah. Tapi hati aku bukan baja Tin. Hati aku juga bisa sakit kalau mas Faza terlalu dekat dengan teman teman-nya.”
Tanpa sadar Zahra menangis dan mencurahkan keluh kesah yang selama ini dia pendam sendiri.
Mendengar itu Tina menghela napas. Tina paham dengan apa yang Zahra rasakan.
“Iya... Aku ngerti kok Ra. Aku paham. Kamu boleh nangis, kamu bahkan boleh marah sekarang didepan aku. Asal itu bisa membuat kamu merasa lega.”
Zahra tersenyum dengan air mata berderai. Menceritakan masalah rumah tangganya pada orang lain bukanlah hal yang baik. Zahra tau itu. Tapi bagaimanapun kuatnya Zahra berusaha memendamnya sendiri Zahra tetap saja merasa membutuhkan seseorang untuk mencurahkan segala rasanya.
“Aku memang nggak tau apa yang kamu rasakan Ra. Tapi kita sama sama punya masalah. Aku dengan kedua orang tuaku, sedang kamu dengan suami kamu. Hidup itu sepertinya memang tidak akan lengkap jika tidak punya masalah.”
__ADS_1
Zahra tertawa mendengarnya. Ucapan Tina benar dan Zahra setuju.
“Kayaknya akan lebih seru kalau kita ngobrolnya sambil ngopi Ra. Bagaiman kalau kita ngopi dikedai dekat taman? Mumpung kita pulang cepat hari ini.. Yah.. Sebelum mas Faza kamu datang untuk menjemput kamu.”
Zahra mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya kemudian menganggukan kepala setuju dengan saran Tina.
Keduanya kemudian keluar dari ruang ganti dan melangkah beriringan keluar dari restoran yang memang hari ini akan tutup agak cepat.
“Kamu bilang dulu deh sama suami kamu Ra, biar nanti dia jemput kamu langsung ke kedai aja.”
Tina menaiki sepeda motor metiknya yang langsung disusul oleh Zahra yang naik dibelakangnya.
“Itu gampang lah..”
Tina hanya menggelengkan kepala saja. Zahra memang terkadang sedikit keras kepala.
Tina dan Zahra berlalu dari parkiran menuju kedai yang berada didekat taman tempat biasa mereka bersantai. Keduanya memang jarang menyambangi kedai tersebut karna memang setelah lelah bekerja seharian tidak ada lagi yang bisa mereka pikirkan selain kasur. Itu biasanya.
Tina dan Zahra sampai dikedai yang mereka tuju. Keduanya memesan dua cangkir kopi dan memilih tempat duduk yang mereka anggap nyaman. Yaitu dimeja paling ujung yang memang tidak terlalu dekat dengan meja meja yang lain.
“Sekarang kamu bisa mengeluarkan semua unek unek dihati kamu Ra.”
Zahra menghela napas pelan. Lagi lagi Zahra berpikir itu sangat tidak baik. Menceritakan kejelekan suami pada orang lain adalah hal yang mestinya tidak Zahra lakukan.
Tina mulai mendengarkan dengan penuh perhatian menatap Zahra. Tina tau sahabatnya butuh pendengar yang baik.
“Dulu aku sama mas Faza itu selalu saling mengerti. Tapi sekarang semua ketidak baikan antara kita berdua itu seolah perlahan mencuat keluar tau nggak. Dan itu tuh selalu sukses membuat aku jengkel dan naik darah. Padahal aku pikir setelah menikah kita berdua akan semakin saling mengerti. Saling memahami.”
Tina tidak bisa membalas apa lagi memberi nasehat pada Zahra. Niatnya hanya ingin membuat hati Zahra lega dengan mengeluarkan semua beban dihatinya. Karna Tina sendiri juga sebenarnya sedikit takut mendengar cerita Zahra. Dan lagi lagi Tina menyangkutkan permasalahan rumah tangga pada hubungan kedua orang tuanya yang gagal.
“Aku tuh sebenarnya capek Tin. Tapi aku tidak bisa bohong juga. Aku sangat mencintai mas Faza. Apa aku salah?”
Zahra menatap Tina. Zahra sadar Tina tidak akan bisa menjawab.
“Maaf.. Aku tidak bermaksud menodong kamu dengan pertanyaan yang tidak seharusnya.” Sesal Zahra menatap Tina dengan wajah sendu.
Tina tersenyum. Tina paham dengan apa yang dirasakan oleh Zahra sekarang.
“Santai aja Ra.. Aku ngerti perasaan kamu kok. Tapi... Aku sangat yakin kamu dan suami kamu bisa melalui semua permasalahan rumah tangga kalian dengan bijak.”
Zahra mengangguk sambil mengusap air matanya yang tanpa Zahra sadari menetes.
“Ya.. Aku akan berusaha untuk itu.” Senyum Zahra.
__ADS_1
Deringan ponsel dalam tas slempang Zahra membuat Zahra menghela napas. Zahra tau itu pasti Faza yang menelpon-nya.
“Udah angkat aja dulu..”
“Yah...”
Zahra merogoh tasnya meraih benda pipih itu. Benar saja, Faza yang menelpon-nya.
“Bentar Tin.”
“Oke..” Angguk Tina sambil meraih secangkir kopi miliknya.
Sedang Zahra, dia segera mengangkat telepon dari Faza, suaminya.
“Halo...”
“Ya sayang.. Aku sudah didepan. Kamu udah selesaikan kerjanya?”
“Udah. Tapi aku udah nggak direstoran. Aku ada di kedai kopi dekat taman biasa.”
“Dikedai kopi? Ngapain?”
Zahra memutar jengah kedua bola matanya. Tidak mungkin kan jika Zahra jujur sedang mencurahkan isi hatinya pada Tina, sahabatnya.
“Hanya ingin ngopi tiba tiba.”
“Sama siapa?”
Zahra melirik Tina yang ada didepan-nya.
“Sama Tina.” Jawabnya.
“Oh oke. Aku kesana sekarang yah..”
“Hem...”
Zahra menyudahi telepon-nya setelah itu. Meski sebenarnya masih kesal pada suaminya, Tapi Zahra juga tidak mungkin terus menghindar.
“Mending coba deh Ra, kamu bicarain pelan pelan sama mas Faza kamu itu. Mungkin dia akan mengerti kenapa kamu begitu sensitif jika menyangkut teman tidak sejenisnya.”
“Hah?! tidak sejenis?” Bingung Zahra.
“Hahaha.. Maksudnya teman teman-nya yang kata kamu cantik cantik itu Zahra..”
__ADS_1
Zahra ikut tertawa mendengarnya. Kata tidak sejenis yang keluar dari bibir Tina membuat pikiran Zahra langsung kemana mana.