PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 249


__ADS_3

Sekitar pukul 21:15 Faza baru sampai rumah setelah melayat. Pria itu langsung membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan piyama tidur sebelum akhirnya mendekat pada Zahra yang sedang merenung di balkon kamarnya. Kebetulan malam ini Fahri juga tidur lebih awal dari biasanya. Fahri juga begitu anteng dan tidak rewel meskipun tidak ada Faza disampingnya menjelang tidurnya.


“Masih memikirkan Santoso?” Tanya Faza sambil melingkarkan kedua tangan-nya diperut Zahra.


Zahra menoleh kemudian tertawa pelan.


“Jangan bercanda mas. Aku tidak mungkin memikirkan laki laki lain sementara aku sendiri memiliki suami yang sudah sangat baik.”


Faza tersenyum mendengarnya.


“Kamu sedang memujiku atau sedang menggodaku hem?” Tanya Faza sambil mencium pipi Zahra yang begitu mudah di jangkaunya.


“Aku sedang berkata jujur.” Kata Zahra pelan.


“Mas....”


“Hem...”


“Bagaimana keadaan Nadeo tadi?” Tanya Zahra hati hati.


“Jangan salah paham. Aku kenal dan dekat dengan Nadeo dulu mas. Aku hanya kasihan pada Nadeo.. Dia sangat dekat dengan ayahnya dan aku pikir mungkin dia sangat terpukul dengan musibah ini.”


Faza tertawa pelan.


“Aku mengerti. Aku paham. Nadeo.. Dia terus menangis saat pemakaman. Bahkan mantan istrinya Santoso juga menangis. Tapi Nanda.. Dia begitu gagah berdiri dan mengatakan ikhlas dengan semua yang terjadi. Dia sangat bijak. Dia juga meminta maaf padaku atas nama ayahnya.”


Zahra mengangguk paham. Yang Zahra tau Nanda memang sosok yang cukup tertutup dan dingin.


“Apa yang akan terjadi besok kita sebagai manusia tidak ada yang tau. Semua itu rahasia Tuhan..” Lanjut Faza.


Zahra menganggukan kepalanya setuju.


“Yang penting kita harus tetap mengusahakan yang terbaik. Bukan begitu mas?”


Faza melepaskan pelukan-nya kemudian memutar pelan tubuh Zahra agar menghadapnya.


“Tentu saja.. Sekarang lebih baik kita istirahat. Bagaimana?” Tanya Faza membelai lembut pipi Zahra.

__ADS_1


Zahra tersenyum dan menganggukan kepalanya. Wanita itu menurut saja saat Faza menggendongnya dan membawanya masuk kedalam kamar mereka untuk sama sama beristirahat.


------------


Ditempat lain tepatnya didepan kediaman Loly, Fadly baru saja sampai dengan mobilnya. Seolah tidak puas sudah membuat Loly malu didepan banyak orang tadi siang, Fadly kembali datang. Kali ini bahkan Fadly membunyikan klakson membuat pak satpam keluar dari posnya.


“Pak, kok nggak dibuka gerbang nya?” Tanya Fadly menurunkan kaca mobilnya merasa bingung karena pak satpam tidak kunjung membukakan pintu gerbang padahal dirinya sudah membunyikan klakson mobilnya beberapa kali.


“Maaf tuan, tapi Nona Loly berpesan pada saya supaya tidak membukakan gerbang saat anda datang.”


Fadly berdecak mendengar jawaban dari pak satpam yang hanya berdiri didepan gerbang tanpa berniat sedikitpun membukakan pintu gerbang untuknya.


Fadly tidak bisa menyalahkan pak satpam karena satpam itu hanya mematuhi perintah dari Loly, majikan-nya.


Fadly menghela napas kemudian turun dari mobilnya. Sesaat Fadly terdiam menatap gerbang menjulang tinggi didepan-nya.


Perlahan senyuman dibibir Fadly mengembang. Pria itu kemudian memanjat gerbang tersebut membuat pak satpam terkejut.


“Tuan, apa yang anda lakukan tuan? Nona Loly akan memarahi saya jika sampai anda masuk.”


Fadly tidak menggubris ucapan pak satpam dan terus memanjat gerbang itu hingga akhirnya berhasil masuk kedalam pekarangan luas kediaman keluarga Loly.


“Pak satpam tenang aja. pak satpam sudah melakukan apa yang nona Loly mau dengan tidak membuka gerbang saat saya datang.” Ujar Fadly dengan santai.


“Tapi tuan..”


“Ssshhtt.. Yang penting pak satpam tidak membukakan gerbang untuk saya. Oke, kalau begitu saya masuk dulu.” Sela Fadly.


Satpam itu menghela napas nelangsa. Entah kenapa pria itu merasa Fadly tidak cool seperti biasanya. Kali ini tingkah Fadly benar benar ajaib menurutnya.


“Bagaimana ini ya Tuhan... Nona Loly pasti akan sangat marah pada saya..” Gumam satpam tersebut khawatir.


Tidak ingin sesuatu yang tidak di inginkan terjadi, satpam itu pun segera berlari mengikuti Fadly yang sedang melangkah dengan santai dihalaman luas kediaman keluarga Loly.


Sedang Fadly, pria itu merasa puas karena bisa masuk tanpa membuat pak satpam melanggar apa yang Loly inginkan.


“Tuan saya mohon tuan.. Saya takut nona marah... Saya tidak mau dipecat tuan. Saya punya tanggung jawab pada anak dan istri saya dikampung tuan. Saya tidak tau harus mencari kerja kemana kalau sampai nona memecat saya..”

__ADS_1


Fadly menghela napas kemudian berhenti melangkahkan kakinya. Fadly kembali mengembangkan senyumnya menatap satpam yang terlihat sangat khawatir karena apa yang Fadly lakukan.


“Loly itu perempuan yang berhati baik pak. Jadi pak satpam nggak perlu khawatir. Dia nggak akan mecat bapak. Kalaupun marah ya.. Paling dia marah sama saya.. Jadi pak satpam nggak perlu khawatir. Oke?”


Fadly menepuk lagi bahu pak satpam. Pria itu begitu tenang berkata pada pak satpam tanpa memperdulikan ekspresi memelas pria berkulit coklat gelap itu.


“Tapi tuan...”


“Saya yang akan menjamin semuanya. Pak satpam tidak perlu khawatir. Kalau begitu saya masuk yah..”


Fadly kemudian melangkah dengan mantap menuju pintu utama kediaman keluarga Loly tanpa mau mendengar lagi apa yang ingin dikatakan oleh pak satpam yang membuatnya merasa membuang buang waktu. Tentu saja, Fadly ingin bertemu dengan Loly sekarang. Dan Fadly tidak ingin ada satupun orang yang menghalanginya.


Fadly masuk kedalam rumah keluarga Loly dengan santai. Saat sampai diruang tamu, Fadly menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapa siapa disana. Rumah mewah itu bahkan sangat sepi.


Fadly kembali melangkahkan kakinya sampai akhirnya Fadly melihat si mbok yang sedang mengelap meja kaca diruang tengah. Fadly tersenyum kemudian segera melangkah mendekat pada wanita tua yang sudah lama bekerja dengan keluarga Loly.


“Mbok..” Panggil Fadly pelan.


Si mbok langsung menolehkan kepalanya. Tangan-nya yang sedari tadi aktif mengelap meja langsung berhenti. Si mbok kemudian berdiri dari berjongkoknya.


“Tuan Fadly..” Lirih si mbok terkejut. Setau si mbok seluruh penghuni rumah termasuk pak satpam sudah disuruh oleh Loly untuk tidak membiarkan Fadly masuk kedalam rumahnya. Tapi sekarang bahkan pria itu berdiri dengan gagahnya didepan-nya.


“Mbok kenapa? Kok natap saya begitu?” Tanya Fadly bingung.


“Anu tuan.. Nona..”


Si mbok bingung harus bagaimana mengatakan-nya. Si mbok yakin pak satpam tidak mungkin tidak menuruti apa kata nona mereka.


“Oh ya saya mengerti. Tadi pak satpam tidak mau membukakan pintu gerbang untuk saya. Makan-nya saya panjat gerbangnya. Dan yah.. Saya bisa masuk sekarang.” Senyum Fadly dengan santai.


“Loly mana mbok?” Tanya Fadly kemudian.


“Mbok tolong kesini sebentar mbok !!”


Baru saja si mbok membuka mulut hendak menjawab pertanyaan Fadly, namun pekikan Loly membuat Fadly mengangguk pelan.


“Oke.. Saya ke Loly dulu ya mbok..” Senyum Fadly kemudian berlalu dari ruang tengah meninggalkan si mbok yang tidak tau harus bagaimana sekarang.

__ADS_1


Loly pasti akan sangat marah jika melihat Fadly.


__ADS_2