
Faza sempat berdebat dengan Sinta sebelum mengantar Zahra untuk mengecek kehamilan-nya.
Ya, pada akhirnya Faza lebih memihak pada Zahra demi ke stabilan emosional istrinya itu. Faza enggan istrinya merasa tertekan yang pasti akan berimbas pada pola pikir Zahra yang pasti juga akan berpengaruh pada perkembangan janin dalam kandungan Zahra saat ini.
“Kita naik taksi mas?” Tanya Zahra ketika Faza mengajaknya untuk melangkah keluar dari rumahnya setelah sarapan.
Faza tersenyum penuh arti.
“Memangnya kamu mau naik motor?” Tanyanya.
“Tapi mamah nggak ikut kan?”
Faza menggelengkan kepalanya. Meskipun sempat berdebat bahkan mendapat teriakan kemarahan dari mamahnya lewat sambungan telepon, tapi Faza merasa sangat bersyukur karna akhirnya Sinta mau mengerti tentunya dengan bantuan dari sang papah juga.
Zahra tersenyum melihat gelengan kepala dari suaminya. Wanita itu berhambur memeluk Faza yang kali ini mau mendengarkan-nya saking senangnya.
“Makasih ya mas.. Kamu udah mau ngertiin aku..” Katanya pelan.
“Ya sama sama sayang.. Yang penting kamu senang.” Senyum Faza membalas lembut pelukan Zahra.
Tidak mau kesiangan, Faza kemudian kembali mengajak Zahra melanjutkan langkahnya keluar rumah. Begitu sampai diteras, Zahra mengeryit melihat mobil lexus RX putih yang ada didepan-nya.
“Itu mobil siapa mas? Kenapa ada didepan rumah kita?” Tanya Zahra bingung.
Faza tertawa pelan. Pria itu kemudian merangkul mesra bahu Zahra dan mengajaknya mendekat pada mobil tersebut.
“Kok..” Zahra semakin bertanya tanya karna plat mobil tersebut ditutupi oleh kain putih.
“Mas ini...”
“Sebentar ya sayang..” Senyum Faza kemudian menarik kain yang menutupi plat mobil tersebut.
Begitu kain itu lolos dari plat mobil Zahra terkejut melihat ada namanya disana.
“Mas ini...”
__ADS_1
“Aku beli mobil ini dengan sisa uang aku yang aku niatkan buat kita jalan jalan di paris sayang.. Dan mobil ini aku beli juga atas nama kamu.” Sela Faza lembut.
Zahra menggelengkan kepalanya. Zahra yakin harga mobil Lexus RX keluaran terbaru itu pasti tidaklah murah. Dan Zahra tidak pernah tau berapa tabungan suaminya dari mereka menikah sampai sekarang.
Faza menghela napas pelan. Senang rasanya karena Faza bisa membeli kendaraan yang pasti akan terasa nyaman jika dirinya dan Zahra pergi dalam jangka waktu yang tidak sebentar.
Faza meraih tangan Zahra memberikan kunci mobil yang sejak tadi dia kantongi.
“Ini mobil kamu sayang..” Katanya tersenyum pada Zahra.
Zahra menggeleng pelan. Zahra tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Padahal sedikitpun Zahra tidak ada niat meminta dibelikan mobil oleh suaminya. Bagi Zahra kemana mana menggunakan motor saja itu sudah cukup.
“Tapi aku nggak bisa bawa mobil mas.. Aku..”
“Sshhhtt.. Aku akan ajari kamu nanti setelah anak kita lahir. Oke?”
Zahra meneteskan air mata harunya tanpa sadar. Dan sekali lagi Zahra berhambur memeluk tubuh kekar Faza. Zahra sampai menangis terisak karna apa yang Faza berikan padanya bukan sesuatu yang sedikitpun terbesit dibenaknya.
“Sshhh.. Kenapa nangis sayang.. Nggak suka mobilnya? Hem?”
Bagi Faza apa yang diberikan-nya belumlah sepadan dengan apa yang sudah Zahra lakukan. Zahra begitu sabar dan tenang menghadapi sikap mamahnya selama ini tanpa sekalipun merasa kesal dan mengadu padanya.
“Udah dong sayang nangisnya. Kan kita mau kedokter Cindy.. Nanti kalau ketahuan abis nangis kan malu..”
Zahra tertawa dalam tangisnya. Pelukan-nya semakin mengerat pada Faza yang sudah rapi dengan setelan pakaian formalnya.
Setelah Zahra berhenti menangis, Faza mengajak Zahra untuk segera pergi menggunakan mobil baru yang dibelinya tanpa sepengetahuan Zahra. Sepanjang jalan Zahra tidak berhenti meneteskan air mata harunya. Kehidupan setelah menikahnya dengan Faza memang tidak bisa dikatakan susah. Mereka selalu bisa membeli apa yang mereka mau meski bukan barang barang mewah.
“Sampai..” Senyum Faza saat mobilnya sampai diparkiran rumah sakit tempat dokter Cindy bertugas.
Zahra sibuk mengusap air mata yang membasahi pipinya. Make up natural yang dikenakan-nya bahkan sampai luntur karna air mata yang tidak henti menetes membasahi kedua pipi chuby-nya.
“Ya ampun Zahra... Kok nangis terus sih..”
Faza menatap wajah Zahra yang memerah. Bahkan kedua mata Zahra sedikit sembab karna dari rumah sampai mereka tiba dirumah sakit Zahra terus saja menangis.
__ADS_1
“Mas aku nggak nyangka aja... Kita punya mobil sekarang..”
Faza tertawa pelan. Pria itu meraih tangan Zahra dan menggenggamnya lembut.
“Mulai sekarang apapun yang kamu mau aku pasti akan memenuhinya. Aku janji kamu tidak akan merasa kekurangan lagi.”
Bukan tanpa alasan Faza berani mengatakan-nya. Tentu saja karna jabatan-nya yang sekarang adalah seorang direktur sehingga Faza merasa sangat yakin dirinya bisa memenuhi semua kebutuhan ataupun semua kemauan Zahra.
Zahra tertawa sambil menyeka air mata di pipinya. Keinginan-nya tidak pernah muluk muluk. Zahra hanya ingin hidup bahagia dengan cinta kasih tulus dari Faza, suaminya.
“Udah.. Sekarang kita turun. Keburu panjang antrian-nya.” Senyum Faza sambil menyeka dengan lembut air mata yang lagi lagi menetes membasahi pipi Zahra.
Zahra menganggukan kepalanya. Mereka berdua kemudian turun dari mobil dan masuk kedalam rumah sakit dengan Faza yang menggandeng mesra tangan Zahra.
Ketika mereka sedang duduk dikursi antrian, tidak sedikit kaum hawa yang curi curi pandang pada Faza. Ada yang tertawa tawa dengan menutup mulutnya serta berbisik satu sama lain sambil memperhatikan Faza yang terus saja menggenggam tangan Zahra yang duduk disampingnya.
Sekitar 15 menit menunggu, nama Zahra dipanggil untuk segera menjalani pemeriksaan. Faza dengan penuh kelembutan merangkul pinggang Zahra ikut masuk kedalam ruang pemeriksaan dimana dokter Cindy sedang menunggu pasien pasien-nya.
“Nyonya Zahra.. Apa kabar nyonya?” Tanya dokter Cindy ramah.
“Kabar saya baik dokter.” Jawab Zahra tersenyum manis.
Dokter Cindy menanyakan lebih dulu keluhan keluhan yang dirasakan oleh Zahra sebelum akhirnya menyuruh Zahra menimbang berat badan-nya setelah itu baru memeriksa Zahra dengan lebih intensif.
“Bagaimana dokter?” Tanya Faza penasaran.
“Semuanya baik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi tetap harus menjaganya dengan baik. Kurangi aktivitas berat dan harus teratur beristirahat. Jangan lupa juga minum vitamin.” Senyum dokter Sinta.
“Baik dokter..” Angguk Faza tersenyum.
Faza menghela napas lega. Pria itu kemudian membantu Zahra turun dari brankar.
Selesai mengecek kehamilan Zahra, Faza pun mengajak Zahra pulang karna dirinya juga harus segera berangkat bekerja.
Ketika mereka sampai kembali dirumah, disana sudah ada Sinta yang menunggunya dan Faza. Zahra yang melihat itu berdecak. Zahra yakin Sinta pasti akan kembali mengekangnya dengan segala alasan tentang yang terbaik untuknya juga janin dalam kandungan-nya.
__ADS_1
“Sampai segitu khawatirnya mamah sama kamu sampai bela belain kesini pagi pagi sayang..” Senyum Faza yang membuat Zahra merasa jengah.