
“Apa ini?”
Sinta menatap tajam pada Zahra yang memang sejak memberikan telur rebus dan lada pada Sinta langsung menghilang tidak terlihat sampai menjelang sore. Hal itu membuat rasa kesal Sinta semakin bertambah karna menganggap Zahra berkeliaran diluar saat Faza sedang tidak ada dirumah.
“Oh ini vas bunga buat mamah.. Zahra harap bisa gantiin vas bunga yang pecah kemarin ya mah.. Maaf Zahra nggak bisa jagain barang kesayangan mamah..” Senyum Zahra.
Sinta menatap pada vas bunga yang memang hampir serupa dengan vas bunga kesayangan-nya.
“Kamu pikir vas bunga ini bisa gantiin vas bunga pemberian papah hah?!”
Zahra meringis. Nada bicara Sinta mulai meninggi. Zahra tau mungkin harga vas bunga yang dibelinya dengan vas bunga yang pecah karna dibanting Loly tidak sama. Yang pasti harganya lebih mahal vas bunga kesayangan mamah mertuanya itu.
“Mamah mau pindahin vas bunga ini sekarang juga. Jangan ditaruh disini.”
Zahra menghela napas. Paling tidak Sinta tidak menyuruhnya untuk membuang vas yang dibelinya itu.
“Iya mah..” Angguk Zahra menurut saja.
Sinta berlalu setelah memerintah Zahra untuk memindahkan vas bunga tersebut. Rasa kesalnya yang sempat surut kini mulai kembali menguasai hatinya karna Zahra kembali mengingatkan-nya pada vas bunga kesayangan-nya itu.
-------
Malamnya, tepatnya setelah makan malam, Loly datang dengan membawa sesuatu untuk Sinta.
“Loly...”
Loly bangkit dari duduknya saat Sinta muncul diruang tamu tempatnya menunggu.
“Tante...” Loly menatap sendu pada Sinta yang tampak sedikit dingin padanya sejak pecahnya vas bunga itu.
Loly segera mendekat pada Sinta dan meraihnya mencium punggung tangan Sinta berharap Sinta bisa kembali bersikap hangat padanya seperti sedia kala.
“Tante aku minta maaf banget sama tante. Aku nggak bermaksud buat pecahin vas bunga kesayangan tante.. Aku...”
“Loly sudah. Lupakan saja tentang vas itu. Toh sudah pecah juga.” Sela Sinta yang tidak ingin membahas tentang vas bunga itu lagi.
Loly menganggukan kepalanya pelan. Dalam hatinya Loly terus merutuk pada Zahra yang berani menantangnya.
“Kamu kesini sama siapa?” Tanya Sinta kemudian.
__ADS_1
“Aku kesini naik taxi tante. Ah ya tante, kebetulan mamah aku baru saja pulang dari luar negeri. Mamah beliin sesuatu loh buat tante. Sebentar ya...”
Sinta tersenyum mendengarnya. Wanita itu menatap Loly yang meraih paperbag berukuran sedang yang dibawanya.
Loly kembali mendekat dan memberikan barang bawaan-nya itu pada Sinta.
“Ini beneran buat tante?” Tanya Sinta dengan wajah sumringah.
Loly menganggukan kepalanya dengan senyuman manis dibibirnya.
“Kata mamah ini itu cuma ada empat didunia tante.” Ujar Loly membuat Sinta tersenyum semakin lebar.
“Ya Tuhan.. Benar kah? Boleh tante buka sekarang kan?”
“Tentu saja..”
Dari balik tembok Zahra melihatnya. Zahra menghela napas melihat Sinta yang begitu antusias membuka paperbag pemberian dari Loly. Padahal sebelumnya mamah mertuanya itu tampak malas malasan menemui Loly. Tapi setelah melihat apa yang Loly bawakan untuknya Sinta langsung semangat dan terlihat sangat senang.
Zahra menghela napas. Zahra tau dirinya tidak akan bisa membelikan apa yang Loly berikan pada mamah mertuanya. Selain karna dirinya tidak punya banyak uang, Zahra juga pengangguran sejak memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan-nya sebagai waitrees direstoran Santoso.
“Udah nggak usah dilihatin terus...”
“Loly memang begitu. Dia itu jago suap. Kamu nggak perlu iri.” Senyum Fadly.
Zahra menghela napas lagi. Apa yang Loly lakukan bisa membuat mamah mertuanya langsung semangat dan antusias. Tentu saja karna Loly banyak uang. Sedang Zahra sekarang hanya bisa meminta pada Faza, suaminya.
“Kamu dicariin kakak tuh diatas. Gih buruan temuin dulu.” Ujar Fadly kemudian.
“Oke..” Angguk Zahra masih dengan ekspresi yang sama kemudian berlalu meninggalkan Fadly.
Fadly menggelengkan kepalanya melihat mamahnya yang begitu sangat senang dengan tas branded yang diberikan oleh Loly. Mamahnya memang tergolong wanita yang bisa dikatakan memandang segala sesuatu dengan materi. Bahkan kemarahan-nya pada Loly bisa langsung reda karna tas mahal yang berikan Loly padanya.
“Dasar perempuan.” Gumam Fadly kemudian berlalu dari tempatnya.
Sedangkan Zahra, dia menemui Faza yang masih sibuk mencarinya.
“Mas...” Panggil Zahra pada Faza yang hendak membuka pintu kamar mereka.
Faza menoleh dan tersenyum mendapati istrinya yang berada tidak jauh darinya.
__ADS_1
“Aku pikir kamu dikamar sayang..” Senyum Faza.
Zahra hanya tersenyum tipis untuk menutupi kegalauan-nya setelah melihat apa yang Loly berikan pada mamah mertuanya. Zahra tau dirinya tidak akan mampu memberikan seperti apa yang Loly berikan pada Sinta.
“Sini sayang.. Ada yang mau aku tanyakan.” Faza merentangkan kedua tangan-nya menyuruh agar Zahra mendekat dan masuk kedalam pelukan-nya.
Zahra menurut dan segera mendekat kemudian masuk kedalam pelukan suaminya.
“Bagaimana vas bunganya? Apa mamah suka?” Tanya Faza setelah Zahra berada dalam pelukan-nya.
Zahra berdecak pelan. Zahra merasa usahanya benar benar sia sia. Tapi kemudian ekspresi Zahra berubah begitu mengingat sosok yang mirip dengan papah mertuanya siang tadi saat Zahra sedang bersantai dikedai ice cream bersama Tina.
Zahra melepaskan pelukan-nya kemudian mendongak menatap Faza yang kemudian mencium sekilas keningnya.
“Mas..” Panggil Zahra pelan.
“Ya sayang..” Saut Faza lirih lagi mesra.
“Tadi aku lihat orang yang mirip banget sama papah. Dia keluar dari hotel tidak jauh dari kedai ice cream tempat aku dan Tina bersantai siang tadi setelah membeli vas bunga untuk mamah.”
Faza mengeryit mendengarnya. Yang Faza, Fadly, juga mamahnya tau papahnya sedang berada diluar kota karna urusan perusahaan.
“Orang mirip papah?” Tanya Faza menatap Zahra penasaran.
“Ya mas.. Orang itu masuk kedalam taxi bersama seorang perempuan dengan dandanan yang sama seperti dandanan Anita wakil kamu itu.”
Faza menelan ludahnya. Faza memang merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh papahnya sejak malam saat Faza tidak sengaja mendengar percakapan papahnya lewat sambungan telepon. Faza berusaha menepis pikiran pikiran buruknya terhadap sang papah tapi setelah mendengar apa yang Zahra katakan pemikiran buruk itu kembali muncul dan menguasai otaknya.
“Kamu masih inget alamat hotelnya kan?” Tanya Faza menatap Zahra serius.
Zahra menganggukan kepalanya. Zahra tidak ingin berburuk sangka pada papah mertuanya tapi setelah dipikir lagi Zahra merasa orang itu benar benar persis seperti papah mertuanya meskipun Zahra melihatnya dari kejauhan. Zahra juga tidak ingin ada masalah apapun antara mamah dan papah mertuanya yang pasti juga akan membuat suaminya terkena imbas masalahnya.
“Kalau begitu besok kita ke hotel itu ya. Kita cari tau apakah benar itu papah atau kamu hanya melihat orang yang mirip saja.”
“Mas aku minta maaf.. Aku nggak bermaksud..”
“Ssshhtt.. Kita harus saling percaya. Oke?” Sela Faza tersenyum dan menangkup kedua pipi Zahra lembut.
Zahra tersenyum kemudian menganggukan kepalanya. Zahra memejamkan kedua matanya saat Faza kembali mencium lama keningnya.
__ADS_1