PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 109


__ADS_3

Hari ini Faza terpaksa harus meninggalkan Zahra dirumah sakit dan menitipkan-nya pada mbak Lasmi. Faza sudah dua hari cuti dari pekerjaan-nya dan tidak bisa terus terusan meninggalkan-nya dan melimpahkan semuanya pada Siska selaku sekretarisnya.


“Saya dengar istri pak Faza sedang dirawat dirumah sakit ya?” Tanya Siska membuat Faza yang baru selesai menanda tangani berkas langsung menegakkan kepalanya.


Faza tersenyum dan menganggukan kepalanya.


“Iya Siska.” Jawab Faza.


“Maaf pak kalau boleh saya tau memangnya kenapa bisa sampai masuk rumah sakit.”


Faza menatap lagi pada Siska.


“Kondisinya melemah karna terlalu kelelahan.” Jawab Faza singkat.


“Oo.. begitu. Saya boleh jenguk nggak pak?” Tanya Siska lagi membuat Faza menghela napas. Siska memang lumayan bawel dan berani banyak bertanya padanya.


“Ya. Boleh.” Jawab Faza sambil menyerahkan kembali map yang sudah Faza tanda tangani pada Siska.


“Baik kalau begitu saya permisi pak.” Senyum lebar Siska.


“Ya..”


Wanita dengan penampilan sederhana itu kemudian keluar dengan langkah riang dari ruangan Faza. Siska memang selalu tampak ceria saat bekerja. Dan meskipun Siska bawel, tapi Siska selalu profesional dalam bekerja.


Faza menghela napas pelan. Kepalanya serasa mau pecah sekarang. Pekerjaan-nya menumpuk namun dirinya juga harus pulang cepat agar bisa menemani Zahra dirumah sakit.


--------


“Nyonya mau saya kupasin buah?” Tanya mbak Lasmi menawarkan pada Zahra.


Zahra yang sedang asik saling membalas pesan dengan Tina menoleh. Zahra tersenyum dan menganggukan kepalanya.


“Boleh mbak.” Jawabnya.


Setelah menjawab pertanyaan mbak Lasmi, Zahra kembali fokus dengan ponsel yang berada ditangan-nya. Zahra bahkan sampai tidak menyadari kehadiran Sinta yang masuk dengan membuka pelan pintu ruang rawat Zahra.


Sinta yang melihat Zahra sedang asik dengan ponselnya tersenyum sinis. Wanita itu kemudian melangkah mendekat dan berdiri tepat didepan brankar tempat Zahra duduk memainkan ponselnya.


“Sebenarnya kamu itu sakit beneran atau hanya pura pura saja?”


Suara Sinta berhasil membuat senyuman dibibir Zahra sirna detik itu juga. Perlahan Zahra menegakkan kepalanya. Zahra terkejut mendapati Sinta yang tiba tiba sudah berdiri didepan brankarnya.

__ADS_1


“Mamah...” Gumam Zahra menatap Sinta yang berdiri angkuh didepan-nya dengan kedua tangan dilipat dibawah dada.


“Didepan Faza kamu pura pura lemah. Tapi dibelakang Faza kamu bahkan seperti orang yang tidak kenapa napa.”


Mbak Lasmi yang sedang mengupas buah mangga untuk Zahra hanya bisa diam. Mbak Lasmi tidak berani ikut berbicara. Bukan tidak mau membela. Tapi mbak Lasmi tidak ingin mencari masalah sehingga dirinya harus kehilangan pekerjaan-nya.


“Zahra nggak seperti itu mah.. Kemarin memang Zahra sedikit merasa lemah.”


“Kamu hanya sedang berusaha menjauhkan Faza dari mamah kan? Kamu mau Faza hanya memperhatikan kamu. Kamu memang perempuan serakah Zahra.. Mungkin kamu memang perempuan yang Faza cintai. Tapi kamu tetap saja orang lain. Kamu tidak sedarah dengan Faza. Yang artinya kamu bisa menjadi bagian masa lalu Faza dimasa mendatang.”


Zahra menggelengkan kepalanya. Sekarang Zahra paham. Mamah mertuanya tidak benar benar berubah.


“Mamah masih pada prinsip awal mamah Zahra. Bayi yang kamu lahirkan harus laki laki. Kalau sampai yang kamu lahirkan bayi perempuan, Silahkan kamu pergi tinggalkan Faza.” Senyum Sinta sinis.


Zahra tertawa mendengarnya. Sedikitpun Zahra tidak ingin melawan Sinta. Tapi kali ini Sinta sudah sangat keterlaluan. Sinta bahkan hampir saja membuatnya juga janin dalam kandungan-nya dalam keadaan yang tidak Faza dan Zahra inginkan.


“Kita lihat saja nanti mah.” Balas Zahra tenang.


Zahra tidak ingin terlalu pusing memikirkan ucapan Sinta sekarang. Toh Faza juga mengatakan apapun jenis kelamin bayi yang akan Zahra lahirkan nanti mereka akan tetap menjaga dan menyayanginya dengan sepenuh hati. Tidak perduli apa kata Sinta.


“Zahra..”


Suara Fadly membuat suasana panas antara Zahra dan Sinta mendingin seketika. Pria dengan kemeja hitam tanpa dasi itu muncul dari balik pintu kemudian melangkah dengan cepat menghampiri Zahra.


“Ya.. Kamu dari bandara langsung kesini? Kenapa nggak pulang dulu?”


Fadly meringis. Karna terlalu mengkhawatirkan Zahra, Fadly langsung bergegas kerumah sakit tanpa memikirkan untuk pulang lebih dulu.


“Eemm.. Iya mah. Biar sekalian aja. Kan jarak dari bandara kerumah sakit lumayan deket. Jadi sambil jalan pulang Fadly mampir kesini dulu buat jenguk Zahra.”


“Oh...” Angguk Sinta malas.


Sinta kemudian melangkah menuju sofa dan mendudukan dirinya disana sambil mulai membuka ponsel dan memainkan-nya. Sinta mengklik kontak Loly mengirim pesan lebih dulu yang tentu saja langsung mendapat balasan.


Fadly yang melihat itu hanya bisa menghela napas begitu juga dengan Zahra. Fadly kemudian kembali menatap pada Zahra yang duduk bersila diatas brankar-nya.


“Gimana keadaan kamu Ra? Kak Faza mana?” Tanya Fadly kemudian.


“Aku udah baikan kok. Mas Faza hari ini berangkat kerja. Soalnya udah dua hari dia cuti dan nemenin aku disini.” Jawab Zahra.


Fadly menganggukan kepalanya mengerti.

__ADS_1


“Kamu udah makan?” Tanya Fadly lagi.


“Udah kok.. Ini juga lagi di kupasin buah sama mbak..” Senyum Zahra menatap sebentar pada mbak Lasmi yang sedang memotong motong buah untuknya.


Fadly ikut menatap mbak Lasmi dan tersenyum. Banyak yang ingin Fadly tanyakan pada Zahra sebenarnya tentang penyebab melemahnya tubuh Zahra. Tapi karna ada Sinta, Fadly hanya bisa bertanya sewajarnya saja. Fadly tidak mau Sinta salah paham padanya.


“Kamu sendiri udah makan Ly?” Tanya balik Zahra.


“Aku udah tadi..” Jawab Fadly.


Zahra menganggukan kepalanya kemudian menunduk menatap ponsel yang masih dipegangnya. Zahra membuka kembali riwayat chattingnya dengan Tina. Banyak pesan yang Tina kirimkan padanya bahkan Tina mengatakan akan datang menjenguknya sore nanti dengan kakaknya, Rasya.


“Halo sayang...”


Suara ceria Sinta membuat Zahra mengangkat kepalanya. Zahra dan Fadly saling menatap sesaat sebelum kompak menoleh pada Sinta yang terlihat begitu bahagia mengobrol lewat telepon dengan seseorang.


“Kamu mau pulang besok? Ya udah hati hati ya sayang.. Tante tunggu kedatangan kamu dirumah..” Senyum lebar Sinta tanpa menyadari tatapan Fadly dan Zahra.


“Oleh oleh? Ya ampun Loly.. Kamu nggak perlu repot repot begitu. Yang tante mau itu kamu cepet pulang ke indonesia, bukan oleh oleh..”


Zahra menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanak kanakan mamah mertuanya. Zahra pikir Sinta memang sudah tidak terlalu dekat dengan Loly karna mereka sudah sangat jarang bahkan tidak pernah lagi terlihat bersama selama hampir dua bulan ini. Tapi sekarang Zahra paham. Mereka tidak selalu bersama karna Loly sedang berada diluar negeri.


“Nyonya, ini buahnya.” Ujar mbak Lasmi memberikan sepiring buah mangga pada Zahra.


“Ah ya.. Terimakasih ya mbak..” Senyum Zahra lebar pada mbak Lasmi.


“Sama sama nyonya..” Angguk mbak Lasmi tersenyum.


Fadly yang mendengar pembicaraan mamahnya dengan Loly lewat sambungan telepon menyeringai. Sisi gelap pria itu mulai mencuat begitu mendengar Loly akan segera kembali ke jakarta.


“Saatnya pembalasan.” Batin Fadly dengan seringaian dibibir tipisnya.


“Fadly.”


Fadly terkesiap mendengar dan mendapat sentuhan Zahra dilengan-nya. Pria itu gelagapan seketika.


“Ya Ra.. Kenapa?” Tanyanya.


“Kamu tuh yang kenapa. Ditawarin buah sampai tiga kali nggak nyaut nyaut. Malah asik ngelamun. Ini mau nggak buah..” Gerutu Zahra dengan bibir mengerucut.


“Oh hehehe.. Enggak usah. Kamu aja yang abisin. Aku udah kenyang banget.” Balas Fadly salah tingkah.

__ADS_1


“Huuuu dasar.” Sorak Zahra kesal.


Fadly hanya tertawa pelan. Pria itu kemudian menghela napas. Karna terlalu fokus dengan niat balas dendamnya pada Loly, Fadly sampai tidak mendengar panggilan Zahra.


__ADS_2