
Faza dan Fadly sedang asik berbincang saat tiba tiba Loly masuk dengan membawa es cappucino untuk Fadly.
Faza dan Fadly langsung diam menatap bingung pada Loly yang terlihat kikuk begitu masuk kedalam ruang keluarga.
“Ngapain kamu berdiri disitu?” Tanya Fadly ketus. Fadly benar benar kesal karna Loly selalu mengganggunya.
Faza menatap Fadly sebentar kemudian menoleh pada Loly yang langsung tersenyum begitu Fadly bersuara.
“Aku bawakan ini untuk kamu.” Jawabnya girang.
Faza mengeryit melihat reaksi berlebihan Loly saat Fadly bertanya padanya. Padahal nada pertanyaan Fadly begitu ketus juga sinis padanya.
Fadly berdecak. Loly benar benar tidak membiarkan-nya tenang barang sebentar saja. Loly sudah seperti hantu yang selalu mengganggu dan membuntuti kemanapun Fadly pergi.
“Aku nggak suka cappucino.” Ujar Fadly membuat Faza dengan cepat langsung menoleh padanya.
“Loh tapi...” Loly menggantungkan ucapan-nya. Hampir saja Loly keceplosan mengatakan Zahra yang memberitahu tentang kesukaan Fadly pada cappucino.
“Kenapa?” Tanya Fadly mendelik pada Loly yang masih berdiri ditempatnya.
“Oh enggak. Nggak papa. Terserah kamu mau suka atau enggak. Yang penting aku sudah bawain. Kalau kamu nggak suka, mungkin mas Faza mau meminumnya.” Jawab Loly tenang.
Loly melangkah mendekat pada Faza dan Fadly. Dengan pelan ditaruhnya es cappucino yang dibawanya kemudian berlalu setelah tersenyum begitu lebar pada Fadly.
“Ly, sejak kapan kamu tidak suka dengan es cappucino?” Tanya Faza seperti orang bodoh.
Fadly mendesis kesal. Entah kenapa Fadly merasa kakaknya sangat bodoh sekarang.
“Aku nggak suka yang itu.” Jawabnya malas.
“Karna Loly yang bawain kesini? Ini mbak Lasmi loh yang beli kemarin. Mungkin Loly menemukan-nya di kulkas dan membawanya kesini buat kamu.”
Fadly melirik sebal pada kakaknya yang entah kenapa tiba tiba menjadi bawel.
“Kalau kamu nggak mau biar buat kakak aja. Kakak juga lagi haus.” Ujar Faza lagi.
Ketika Faza hendak mengambil es cappucino tersebut, dengan sigap Fadly langsung mengambilnya kemudian meminumnya.
Faza yang melihat itu tersenyum penuh arti. Kesukaan Fadly pada cappucino memang sudah tidak bisa diragukan lagi.
__ADS_1
“Kalau baru sembuh dari demam itu nggak boleh minum yang dingin dingin dulu.” Kata Fadly.
“Iya deh..” Balas Faza tertawa.
Meskipun Faza memang tidak suka pada Loly namun Faza tidak melarang jika memang Fadly dan Loly sudah ditakdirkan oleh tuhan untuk bersama.
“Mamah gimana?” Tanya Faza kemudian.
“Seperti biasanya kak. Mamah masih berharap kakak bisa sama Loly. Mamah sama Loly bahkan punya rencana yang tidak baik pada Zahra.”
Faza mengeryit.
“Rencana apa?” Tanya Faza terkejut bercampur bingung.
Fadly menghela napas. Fadly merasa Faza perlu tau tentang rencana mamahnya juga Loly pada Zahra.
“Jadi mamah itu tetap bersikeras supaya kakak sama Loly. Mamah bahkan berencana menyingkirkan Zahra dari samping kakak dan mengambil anak kalian kemudian menyuruh kakak untuk menikah dengan Loly.”
“Apa?” Kedua mata Faza membulat mendengarnya. Faza pikir mamahnya sudah tidak lagi berencana melanjutkan perjodohan-nya dengan Loly. Apa lagi bayi yang sedang dikandung Zahra juga berjenis kelamin laki laki.
“Aku nggak niat buat kasih tau kakak sebenarnya. Tapi setelah aku pikir pikir kakak juga perlu tau semuanya. Ya.. Supaya kakak bisa menjaga semua yang sudah kakak miliki dengan baik. Aku nggak mau kakak menyesal dikemudian hari.” Lanjut Fadly.
“Aku juga berharap apa yang aku dengar itu salah kak. Aku bahkan sempat mengira aku sedang bermimpi saat mendengar obrolan mamah dan Loly diteras samping rumah.”
Faza menggelengkan pelan kepalanya. Jika apa yang Fadly katakan benar, itu artinya Faza harus benar benar menjaga kepercayaan-nya pada Zahra dengan baik.
“Aku nggak bisa bantu banyak kak. Untuk masalah rencana mamah dan Loly semuanya tergantung pada kakak dan Zahra..”
Faza menghela napas. Mamahnya memang selalu mencari cari kesalahan Zahra jika didepan-nya. Padahal Zahra tidak pernah melakukan kesalahan tapi Sinta selalu punya alasan untuk menyalahkan-nya.
-----------
“Mas.. Kamu kenapa?”
Faza membalikan tubuhnya ketika mendengar pertanyaan Zahra. Pria itu tersenyum kemudian merentangkan kedua tangan-nya memberi isyarat pada Zahra agar Zahra mendekat dan masuk kedalam pelukan-nya.
Zahra yang melihatnya tertawa kemudian melangkah mendekat pada Faza yang berdiri dibalkon dan masuk kedalam pelukan hangat pria itu.
Faza memeluk lembut tubuh Zahra. Faza juga mencium beberapa kali puncak kepala Zahra. Faza tidak tau harus bagaimana menyikapi mamahnya. Bersikap tegas sudah dia lakukan. Tapi nyatanya Sinta tetap saja bersikap semaunya sendiri.
__ADS_1
“Kamu baru sembuh mas.. terlalu lama berdiri disini akan membuat kamu masuk angin. Disini lumayan dingin.” Ujar Zahra setelah melepaskan diri dari pelukan hangat dan nyaman Faza.
Faza tersenyum. Dengan lembut Faza membelai pipi chuby Zahra.
“Aku sangat mencintai kamu Zahra..” Ungkapnya lirih.
Zahra tersenyum mendengarnya.
“Aku tau itu..” Balasnya.
Faza menatap tepat pada kedua mata Zahra dalam. Mendadak Faza takut dirinya tidak bisa mempertahankan rumah tangganya dengan Zahra. Faza takut Zahra merasa bosan dengan perlakuan tidak baik Sinta padanya sehingga akhirnya Zahra menyerah kemudian pergi meninggalkan-nya.
“Zahra..” Panggil Faza pelan.
“Ya mas...” Zahra menyaut dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya.
Faza diam sesaat. Pria itu mengangkat satu lagi tangan-nya dan mendarat dengan lembut di pipi kanan Zahra. Kedua tangan besarnya kini mengusap dengan lembut kedua pipi chuby Zahra.
“Boleh aku minta sesuatu sama kamu?” Tanyanya.
“Tentu saja..” Jawab Zahra mulai merasa ada yang aneh dengan tatapan dalam suaminya. Zahra merasa ada sorotan kesedihan dari tatapan dalam suaminya sekarang.
“Jika hubungan kita sedang tidak baik baik saja, Aku minta sama kamu untuk tetap yakin dan percaya sama aku. Karna cuma kamu yang aku cintai. Cuma kamu perempuan yang dari dulu aku inginkan untuk selalu ada disamping aku bahkan sampai raga ini tidak lagi bernyawa.”
Zahra mulai tidak mengerti dengan apa yang Faza katakan.
“Maksud kamu apa sih mas? Aku nggak ngerti..” Tanya Zahra mulai khawatir juga takut.
Faza menggeleng pelan.
“Kamu mau kan terus percaya sama aku? Tetap bertahan dengan aku apapun yang terjadi?”
Zahra semakin tidak mengerti. Sekarang bahkan kedua mata suaminya berkaca kaca.
“Mas kenapa sih sebenernya? Jangan buat aku takut deh..”
Air mata Faza menetes. Faza benar benar tidak ingin menjadi anak durhaka yang melawan mamahnya. Tapi Faza juga tidak mungkin diam saja setelah tau rencana mamahnya.
“Aku nggak mau kehilangan kamu sayang.. Aku cinta sama kamu..”
__ADS_1
Faza memeluk lagi tubuh Zahra dengan menciumi puncak kepala Zahra beberapa kali.