
Fadly menatap sebuket bunga yang dia letakan disamping kursi kemudi tempatnya duduk. Fadly juga menatap Loly yang sudah berdiri diambang pintu didepan rumahnya.
Ya, Fadly sudah sampai tepat didepan rumah Loly.
“Oke Fadly, kamu bisa..” Gumam Fadly lirih.
Fadly menghela napas kemudian meraih sebuket bunga itu dan turun dari mobilnya.
Sedangkan Loly, dia sengaja dandan secantik mungkin untuk menyambut kedatangan Fadly.
Jantung Loly berdetak begitu cepat ketika melihat Fadly turun dari mobil dengan membawa sebuket bunga ditangan-nya. Loly yakin bunga itu untuknya.
Ketika Fadly melangkah pelan menghampirinya, Loly semakin merasakan detak jantungnya tidak bekerja dengan normal. Akibatnya napas Loly bahkan sampai memburu seiring semakin dekatnya Fadly padanya.
“Hay...” Sapa Fadly begitu sampai tepat didepan Loly.
Loly sangat gugup sekarang. Fadly benar benar membuatnya tidak karuan.
“Emm.. Ya.. Hay juga...” Balas Loly langsung menunduk tidak berani menatap Fadly.
Loly tidak pernah merasakan perasaan itu sebelumnya. Entah itu pada Faza atau pada pria manapun. Satu satunya pria yang berhasil membuat jantungnya berdetak begitu cepat adalah Fadly.
“Kamu cantik banget.” Puji Fadly menatap Loly dengan senyuman yang terukir dibibirnya.
Loly memejamkan kedua matanya sambil menggigit bibir bawahnya sendiri. Loly benar benar dibuat sangat sangat gugup sekarang oleh Fadly yang bersikap begitu romantis sampai membawa bunga untuknya.
“Eemm.. Si mbok ada didalem kan?”
Loly langsung mengangkat kepalanya mendengar apa yang Fadly tanyakan. Loly mengeryit menatap bingung pada Fadly yang berdiri didepan-nya.
“Ada.. Memangnya kenapa? Kamu haus? Mau dibikinin minum?” Tanya Loly sangat penasaran.
“Enggak.. Aku cuma mau kasih bunga ini buat si mbok.”
“Apa?”
Jawaban Fadly membuat Loly benar benar sangat terkejut. Padahal Loly sudah percaya diri bahwa bunga yang dibawa Fadly adalah bunga untuknya.
Fadly yang melihat ekspresi terkejut Loly langsung tertawa. Kali ini Fadly tidak bersandiwara. Ekspresi Loly benar benar sanga lucu menurutnya.
“Enggak enggak.. Aku bercanda. Masa iya aku kasih bunga ini buat si mbok.. Ya ini buat kamu lah.. masa buat si mbok..”
__ADS_1
Loly langsung tersipu detik itu juga. Loly menundukan kepalanya tidak langsung menerima bunga yang disodorkan oleh Fadly padanya.
“Kamu mau kan terima bunga dari aku?” Tanya Fadly karna Loly tidak kunjung mengambil bunga yang disodorkan-nya.
Loly mengambil bunga itu dengan kepala yang terus tertunduk malu.
“Suka nggak sama bunganya?” Tanya Fadly pelan.
Loly menganggukan lagi kepalanya. Loly benar benar tidak tau harus mengekspresikan bagaimana kebahagiaan-nya itu. Perubahan sikap Fadly benar benar sangat mendadak dan tidak Loly duga duga. Tapi Loly tidak mempermasalahkan itu. Baginya yang terpenting Fadly berubah dan mau menerimanya.
“Aku nggak ditawarin masuk nih?” Lagi, Fadly bertanya dengan sangat pelan dan lembut.
“Ah maaf maaf.. Ayo masuk Fadly.”
“Oke...” Angguk Fadly.
Loly melangkah lebih dulu dari Fadly yang membuntutinya dari belakang. Loly benar benar merasa semua itu seperti mimpi yang tiba tiba menjadi kenyataan. Loly sangat bahagia dan berharap semua itu akan terus terjadi sampai seterusnya.
“Tuhan.. Jika ini hanya mimpi mohon jangan bangunkan hamba.. Semua ini benar benar membuat hamba merasa sangat bahagia..” Batin Loly.
Loly berhenti melangkah begitu sampai diruang tamu. Dengan malu malu Loly membalikan tubuhnya menghadap Fadly yang berdiri dengan begitu gagah dibelakangnya.
“Kamu yang bikin minum? Kenapa nggak si mbok aja. Kamu biar disini temenin aku..”
Wajah dan telinga Loly benar benar terasa panas sekarang. Loly bahkan yakin sekarang wajahnya sudah sangat merah seperti udang rebus. Dan semua itu tentu saja karna Fadly yang sepertinya memang sengaja menggodanya.
“Biar lebih spesial ya?”
“Iiihh.. Apaan sih kamu.. Udah ah kamu tunggu aja disini.”
Sebelum Fadly kembali menggodanya, Loly langsung melangkah dengan cepat menuju dapur. Loly memang sudah berniat sejak awal untuk membuatkan apapun dengan tangan-nya sendiri. Bukan dibuat oleh si mbok.
Fadly tersenyum miring menatap Loly yang melangkah terburu buru menghindar darinya. Fadly semakin yakin bahwa rencananya untuk membuat Loly akan berhasil dan tanpa hambatan.
“Dasar perempuan. Mudah sekali ditipu.” Gumam Fadly kemudian mendudukan dirinya disofa dengan santainya.
Fadly menolehkan kepalanya kesamping kanan dan kiri memperhatikan seluruh sudut ruang tamu serba mewah itu. Fadly mengangguk anggukan kepalanya merasa nyaman berada diruang tamu rumah Loly. Padahal ini adalah kali pertama Fadly masuk kerumah mewah itu namun sudah merasa nyaman dan terbiasa.
Tidak lama berselang Loly datang dengan membawa segelas orange jus diatas nampan lengkap dengan cemilan untuk Fadly.
“Adanya cuma ini Ly.. Nggak papa ya..” Ujar Loly sambil meletakan segelas orange jus dan setoples cemilan diatas meja.
__ADS_1
“Iya Ly.. Nggak papa kok..” Balas Fadly sambil tertawa.
Loly menatap Fadly bingung.
“Kok ketawa?” Tanya Loly.
“Enggak papa. Cuma heran aja kok bisa ya nama kita akhir katanya sama. Sama sama Ly.” Jawab Fadly menatap Loly dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
Loly tersipu lagi. Bahkan alam seperti mendukungnya dengan kode keras terakhir kata nama mereka berdua, Loly dan Fadly. Begitu pikir Loly.
“Apaan sih...” Ujar Loly sambil menahan senyuman di bibirnya.
“Kalau mau senyum nggak usah ditahan tahan gitu. Kamu cantik banget loh kalau senyum.”
Fadly kembali melontarkan kata yang sebenarnya sangat berlawanan dengan kata hatinya. Semua itu tentu saja adalah taktik Fadly untuk membuat Loly semakin terpesona padanya. Karna dengan cara itu Fadly bisa membuat Loly terlena kemudian membuatnya kecewa hingga akhirnya putus asa. Saat itu Fadly akan bertepuk tangan tanda kemenangan-nya karna berhasil membuat Loly hancur.
-------------
“Pak Faza...”
Faza baru saja hendak membuka pintu kamar hotel tempatnya menginap ketika mendengar suara Siska yang memanggil namanya.
Faza menarik napas dalam dalam. Faza sedang berusaha menghapus perasaan terlalu kagumnya pada sosok Siska. Tentu saja karna Faza tidak ingin perasaan itu membuat hubungan-nya dengan Zahra hancur. Faza dan Zahra sudah banyak melalui rintangan dalam hubungan-nya dari pertama mereka menjalin hubungan sampai sekarang mereka berdua resmi menjadi pasangan suami istri. Faza tidak mau sesuatu yang sudah sangat dia jaga selama ini hancur hanya karna perasaan-nya pada Siska.
“Pak...” Panggil Siska lagi.
Faza memutar tubuhnya dan menatap Siska dengan tatapan datar.
“Ya.. Ada apa?” Tanya Faza.
Siska mengeryit melihat ekspresi tidak biasa Faza. Rasanya sangat aneh melihat Faza yang begitu datar saat menatapnya.
“Eemm.. Pak Faza darimana?” Tanya Siska sembari melirik dua paperbag besar yang ditenteng Faza.
“Memangnya penting untuk kamu tau saya darimana?” Tanya balik Faza membuat Siska langsung salah tingkah.
Siska tidak bermaksud ingin tau semuanya. Hanya saja Siska merasa setelah meeting Faza langsung tidak terlihat dan baru kembali ke hotel sekarang.
“Maaf pak saya..”
Faza langsung masuk kedalam kamar hotelnya tanpa mau mendengar apa yang Siska katakan. Faza tidak ingin perasaan-nya pada Siska semakin berlanjut. Faza sadar perasaan itu sangat salah. Faza sudah mempunyai Zahra sebagai istrinya yang tentu saja harus sangat Faza jaga hati dan perasaan-nya.
__ADS_1