
Keberangkatan Faza dipagi hari menjadi perpisahan sesaat yang begitu manis bagi Zahra setelah kelahiran putra mereka. Tentu saja karena Faza yang tidak pernah lagi berangkat kerja pagi pagi buta sebelum Zahra membuka kedua matanya.
Ya, pria itu berhasil mengatasi kesibukan-nya dan sedikit membatasi diri juga selalu mengutamakan keluarga kecilnya.
“Aku berangkat ya sayang.. Selalu ingat jangan terlalu kecapek an dan utamakan diri kamu sendiri juga anak kita. Oke?” Senyum Faza menoel ujung hidung mancung istrinya.
“Ya mas...” Senyum manis Zahra menganggukkan kepalanya.
“Mas hati hati.. Jangan lupa jenguk mamah..”
“Hem.. Ya sayangku.”
Zahra kemudian menyalimi Faza sebelum Faza masuk kedalam mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang.
Zahra terus menatap mobil suaminya sampai mobil tersebut tidak lagi bisa dijangkau oleh pandangan matanya.
Setelah mobil Faza tidak lagi terlihat, Zahra menghela napas.
Sudah satu tahun 6 bulan hubungan pernikahan-nya dengan Faza berjalan. Namun selama itu pula Sinta terus saja menentang. Lucunya lagi Sinta juga beberapa kali membuat tak tik untuk memisahkan-nya dengan Zahra.
Zahra menghela napas. Dari awal hubungan-nya dengan Faza memang tidak mendapat restu dari Sinta. Parahnya dulu bahkan Akbar juga ikut tidak menyetujuinya. Namun sekarang Akbar sudah merestui hubungan Faza dengan Zahra. Akbar bahkan juga sangat perhatian dan menyayangi Zahra seperti anaknya sendiri.
Tidak ingin terlalu larut dalam memikirkan restu Sinta untuknya dan Faza, Zahra pun kemudian memutar tubuhnya dan melangkah masuk kembali kedalam rumahnya.
Zahra yakin hubungan-nya dengan Faza akan tetap berjalan dengan kuat dan terus bertahan sampai Sinta benar benar mau memberikan restu untuknya dan Faza.
Pagi ini Zahra mengawali harinya dengan memandikan putranya. Dengan sangat riang Zahra mengusap lembut kulit Fahri kecil yang terlihat merasa begitu nyaman dalam sentuhan lembut bercampur hangat antara tangan dan air yang menjadi tempatnya berendam.
“Uuuhh.. Gantengnya mamah.. Seneng banget yah mandi yah..?”
Mbak Lasmi yang setia mendampingi dan mengajari Zahra saat memandikan Fahri tersenyum. Sesaat mbak Lasmi menjadi teringat akan masa lalunya saat memandikan anaknya yang tidak mempunyai umur panjang di dunia ini.
Mbak Lasmi tersenyum. Dia tidak ingin lagi menangis meratapi kesedihan hidupnya. Wanita itu yakin keputusan-nya mengabdi pada Zahra dan Zahra sudah benar.
“Eemm.. Wangi.. Anak mamah wangi.. Jagoan mamah wangi..”
Zahra terus tersenyum menatap putranya yang juga menatapnya. Balita itu sesekali membuka mulutnya seperti ingin mengatakan sesuatu pada Zahra. Mungkin itu adalah respon kecil dari bayi tampan itu karena celotehan Zahra yang tidak kunjung berhenti saat memandikan-nya.
__ADS_1
Selesai memandikan putranya, Zahra pun membawa tubuh kecil putranya yang dibalut handuk lembut masuk kembali kedalam kamar.
Ya, Zahra memang memandikan putranya di balkon kamarnya. Zahra merasa tidak nyaman jika harus memandikan dikamar mandi untuk sekarang ini.
Zahra meletakan putranya ditengah ranjang kemudian kembali mengajaknya berceloteh. Sedang mbak Lasmi, wanita itu mengambilkan baju ganti, juga pampers yang akan dikenakan oleh bayi itu.
“Ini nyonya..”
“Ya, Makasih ya mbak...” Senyum Zahra menerima sesetel baju dan pampers yang disodorkan oleh mbak Lasmi.
“Sama sama nyonya. Kalau begitu saya permisi mau kembali mengerjakan yang lain ya nyonya..”
“Oh iya iya mbak..” Angguk Zahra mengerti.
Setelah mbak Lasmi berlalu keluar dari kamarnya, Zahra pun kembali memusatkan perhatian-nya pada putranya.
“Pake baju ya sayang.. Biar tambah ganteng..”
Zahra mencium lembut pipi gembul putranya. Rasanya benar benar seperti mimpi. Zahra tidak menyangka dirinya sudah menjadi orang tua sekarang. Dengan proses yang memang mudah juga sangat menyakitkan. Tapi apa yang sekarang Zahra lihat benar benar terasa sangat setimpal dengan apa yang dia perjuangkan. Putranya lahir dengan selamat juga sangat tampan seperti papahnya, Faza.
“Kamu belum di gendong lagi sama omah yah sayang.. Kacian anak ganteng mamah.. Kangen omah nggak?”
“Sayang.. Bantu mamah buat luluhin hati omah ya sayang.. Kamu cepet tumbuh besar.. Kasih tau omah kalau mamah sayang banget sama kamu, sama papah, sama omah, opah, juga om Fadly..”
Tanpa sadar air mata Zahra menetes. Namun tidak ingin anaknya merasakan apa yang sedang dia rasakan. Zahra cepat cepat mengusap air matanya kemudian tersenyum lagi menatap putranya.
Menanti restu dari Sinta memang bukanlah hal yang mudah. Tapi Zahra yakin sesulit apapun itu Zahra bisa menjalaninya.
Zahra yakin pintu hati Sinta akan terbuka untuk menerimanya suatu hari nanti.
------------
“Pah.. Ingat jaman jaman kita pacaran dulu enggak pah?”
Fadly mendadak menghentikan mengunyah makanan dalam mulutnya saat mendengar apa yang sang mamah tanyakan pada papahnya.
Sama seperti Fadly, Akbar pun ber ekspresi sama. Pria itu tidak mengerti dengan apa yang ditanyakan istrinya.
__ADS_1
Tentu saja Akbar bingung, karena tidak pernah sekalipun Sinta mau mengungkit tentang masa lalu mereka. Entah itu masa lalu yang indah ataupun buruk. Sinta bukan wanita yang begitu suka mengenang. Baginya yang berlalu biarlah berlalu karna masih banyak hal yang harus dia lakukan untuk menghadapi masa mendatang.
“Memangnya kenapa mah?” Tanya Akbar pelan.
Sinta tertawa pelan.
“Pernah nggak dulu mamah tampar papah?”
Pertanyaan Sinta semakin aneh menurut Akbar. Bagaimana mungkin Sinta mengulik masa itu didepan putra mereka yang sudah beranjak dewasa bahkan sudah pantas untuk menikah.
Fadly mulai merasa tersindir sekarang. Entah apa maksud mamahnya bertanya seperti itu pada papahnya sekarang. Tapi Fadly yakin pertanyaan tamparan itu pasti ada hubungan-nya dengan tawa mamahnya semalam saat Fadly berkata jujur bahwa Loly yang menamparnya.
“Mamah kan memang begitu. Ngambek sedikit susah ngebujuknya. Ini itu maunya langsung. Kalau papah selalu emosi dan nangis ujungnya papah kena tampar.”
Dengan gamblang Akbar berkata dengan begitu jujur. Akbar tidak berpikir istrinya akan marah karena menceritakan dengan jujur bagaimana sikapnya saat masih muda dulu yang memang sampai sekarangpun terus saja melekat begitu lengket dan susah dihilangkan.
Namun tanpa disangka Sinta justru tertawa. Rasanya benar benar sangat langka menurut Akbar. Istrinya tertawa begitu ringan tanpa merasa memiliki beban.
“Hahahaha... Abisnya papah ngeselin banget.”
Fadly berdecak. Mendadak Fadly merasa seperti obat nyamuk.
“Perempuan itu kalau sudah berbuat sesuatu pasti ada alasan-nya. Bukan begitu anak mamah yang ganteng?”
Sinta menatap Fadly dengan tatapan meledek membuat Fadly benar benar yakin bahwa tujuan Sinta mengulik masa lalu tentang tamparan adalah untuk menyindirnya.
“Mamah tuh kenapa sih? Aku nggak salah loh mah.. Loly yang salah.. Dia nampar aku..” Fadly mulai ngotot.
Akbar mengerjapkan beberapa kali kedua matanya merasa heran karena tiba tiba Fadly mengurat.
“Hey hey... Ada apa ini? Kenapa jadi bahas Loly?” Tanya Akbar bingung.
“Udahlah. Fadly kenyang. Fadly berangkat.”
Fadly bangkit dari duduknya kemudian menyalimi Sinta dan Akbar bergantian dan berlalu dari meja makan meninggalkan Akbar yang kebingungan dan Sinta yang tertawa geli.
“Ada apa ini mah?” Tanya Akbar penasaran.
__ADS_1
Sinta mengedikkan bahunya kemudian kembali menyantap sarapan paginya dengan gelengan kepala pelan.