PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 103


__ADS_3

“Ini ruangan anda pak Faza, silahkan.”


“Baik, Terimakasih. Kalau begitu saya masuk dulu.”


“Ya pak.. Semoga pak Faza suka dengan ruangan barunya. Dan saya permisi.” Ujar seorang staf yang disuruh menunjukan ruangan baru untuk Faza.


Faza tersenyum dengan anggukan kepalanya. Hari ini adalah hari pertama dirinya mulai bekerja dengan ruangan baru serta status baru. Faza tidak akan lagi satu ruangan dengan Anita.


Faza menghela napas kemudian masuk kedalam ruangan barunya. Senyumnya mengembang begitu melihat kondisi ruangan yang akan menjadi tempatnya berkutat dengan berbagai kesibukan-nya nanti.


Ruangan tersebut sangat luas. Meja kerjanya pun tampak sangat mewah dengan Sofa yang ada diseberang nya. Benar benar tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Faza.


Faza menutup kembali pintu ruangan-nya kemudian melangkah pelan menuju meja kerjanya. Faza tersenyum menatap papan kecil berlapis kaca yang terletak diatas meja kerjanya. Disana tertulis jabatan baru yang saat ini dan seterusnya akan Faza emban. Faza meraih papan berlapis kaca itu dan menatapnya dengan penuh rasa bangga sebentar kemudian meletakan kembali ditempatnya semula.


“Oke.. Sekarang aku harus semakin semangat. Semua ini untuk kamu Zahra juga calon anak kita..” Gumam Faza.


Ketika Faza hendak mendudukan dirinya dikursi, tiba tiba pintu ruangan-nya diketuk dari luar. Faza mengeryit, dirinya belum mulai bekerja tapi sudah ada yang mengetuk pintu.


“Masuk.” Seru Faza tegas.


Seseorang dibalik pintu tersebut perlahan muncul ketika pintu bercat hitam itu dibuka. Disana berdiri Alex Mahendra bersama seorang wanita cantik berpenampilan cukup sexy yang Faza sendiri tidak mengenalnya.


Melihat sosok pemilik perusahaan tempatnya bekerja, Faza sontak langsung berdiri dan sedikit membungkukan tubuhnya sebagai rasa hormat pada direktur utama tersebut.


“Selamat pagi pak Faza..” Sapa Mahendra dengan senyuman dibibirnya.


“Selamat pagi pak.” Balas Faza.


Mahendra kemudian mengajak wanita berpenampilan sexy itu untuk masuk kedalam ruangan Faza dan berdiri tepat didepan meja Faza.


“Silahkan duduk pak.” Senyum Faza mempersilahkan.


“Ah ya.. Terimakasih. Oh ya pak Faza.. Perkenalkan ini Siska Wulandari. Dia yang akan menjadi sekretaris anda mulai hari ini.” Ujar Mahendra memperkenalkan wanita yang berada disampingnya.


Faza menatap sebentar pada wanita bernama Siska itu yang dibalas tersenyum ramah oleh Siska.


“Saya harap kalian bisa bekerja sama dengan baik. Tapi kalau anda merasa tidak nyaman atau kinerja Siska tidak bagus, anda bisa menghubungi saya langsung pak Faza.” Lanjut Mahendra.


“Oh ya, baik pak.” Angguk Faza.

__ADS_1


“Baik, kalau begitu saya permisi. Dan selamat bekerja untuk status barunya pak Akbar.” Mahendra melontarkan candaan diakhir kalimatnya dengan menyebut nama belakang Faza yang memang diambil dari nama papahnya.


“Haha.. Oke pak. Terimakasih untuk semuanya.” Tawa Faza.


Mahendra bangkit dari duduknya kemudian berlalu meninggalkan Faza dan Siska hanya berdua saja. Pria berjenggot itu memberi kesempatan pada Faza dan Siska untuk saling mengenal dan mengobrol agar tidak merasa kaku saat sedang bekerja sama nantinya.


“Eemm.. Siska maaf sebelumnya. Mulai besok bisa tolong kamu sedikit merubah penampilan kamu?”


Siska menundukkan kepalanya menatap penampilan-nya sendiri. Menurutnya tidak ada yang salah dengan penampilan-nya. Siska menganggap apa yang dipakainya sudah sesuai dengan jabatan-nya sebagai seorang sekretaris.


“Maaf, memangnya kenapa dengan penampilan saya pak? Apa kurang..”


“Oh tidak tidak. Bukan seperti itu. Saya malah mau meminta kamu untuk lebih sedikit tertutup. Saya rasa itu lebih bagus.” Potong Faza dengan senyuman tersungging dibibirnya. Faza tidak mau Siska sampai salah paham dengan penuturan-nya jika mengatakan yang sebenarnya.


Siska tertawa menanggapinya.


“Baik baik pak. Sekarang juga saya akan mengganti baju saya.” Katanya begitu sumringah.


Faza mengerjapkan kedua matanya.


“Maksud saya tidak harus sekarang. Kamu bisa memulai merubahnya besok.”


“Tidak masalah pak. Saya akan menggantinya sekarang demi kenyamanan kerja sama kita.”


“Kalau begitu saya permisi pak.”


Siska bangkit dari duduknya tanpa menunggu persetujuan dari Faza. Wanita itu melangkah dengan sangat cepat keluar dari ruangan Faza untuk segera mengganti baju yang dikenakan-nya.


“Dia kenapa?” Gumam Faza bingung.


--------


Sementara itu dirumahnya Zahra kedatangan Tina. Mereka berdua duduk santai ditaman belakang rumah sambil menikmati cemilan dan potongan buah yang disiapkan oleh mbak Lasmi.


“Jujur nih ya Ra.. Hari ini kamu terlihat sangat berbeda.”


Zahra mengeryit.


“Berbeda kenapa?” Tanya Zahra bingung.

__ADS_1


“Kamu terlihat semakin berisi dengan pipi yang semakin membulat seperti bakpao.” Jawab Tina yang membuat Zahra tertawa.


Zahra sendiri juga merasakan banyak perbedaan pada tubuhnya. Rasanya sedikit berat dan begah.


“Aku hamil Tin.” Ujar Zahra memberitahu Tina.


Mulut Tina terbuka terkejut dengan apa yang Zahra katakan.


“Apa? Hamil?” Lirih Tina.


Zahra tertawa lagi melihat ekspresi Tina. Zahra merasa Tina terlalu berlebihan menanggapi apa yang Zahra katakan.


“Biasa aja dong ekspresinya. Yang namanya perempuan bersuami kan wajar kalau hamil.” Tawa Zahra memasukan potongan buah naga kedalam mulut Tina yang masih terbuka karna keterkejutan-nya.


Tina berdecak kemudian mengunyah buah naga yang dijejalkan Zahra padanya. Namun sedetik kemudian Tina tersenyum dan langsung memeluk Zahra merasa ikut bahagia dengan kabar baik tentang kehamilan sahabatnya itu.


“Selamat ya Ra.. Sebentar lagi kamu akan jadi ibu..” Senyum Tina sambil mengusap usap punggung Zahra.


“Iya.. Makasih ya Tin.. Aku juga minta do'anya ya supaya aku dan bayiku sehat selalu dan diperlancar sampai proses persalinan..” Balas Zahra tersenyum dibalik punggung Tina yang memeluknya.


“Pasti Ra.. Tanpa kamu minta pun aku pasti bakal do'ain kamu semua yang terbaik.”


Tina kemudian melepaskan pelukan-nya dengan tatapan penuh kebahagiaan pada Zahra.


Tina sebenarnya datang bukan hanya untuk bertandang saja. Ada sesuatu yang ingin Tina bicarakan tentang mantan bos mereka yaitu Santoso. Namun setelah mendengar kabar baik tentang kehamilan Zahra, Tina merasa moment nya sangat tidak pas jika harus menyinggung tentang Santoso.


“Tina, Kamu kenapa? Kok bengong?”


Tina tersadar dari lamunan-nya tentang Santoso saat Zahra melambaikan tangan didepan wajahnya. Tina kemudian meringis dan menggelengkan kepalanya.


“Kamu ada masalah Tin?” Tanya Zahra penasaran.


“Ah enggak enggak. Aku cuma lagi bayangin aja bagaimana kamu beberapa bulan kedepan. Perut kamu pasti akan membesar.” Tawa Tina berbohong untuk menutupi semua hal yang sedang membebani pikiran-nya tentang Santoso.


“Kamu bisa aja deh.. Aku pasti ya bakal gendut banget. Semua baju baju aku pasti bakal nggak muat. Aku nggak bisa pakai celana. Nggak bebas naik motor sama kamu lagi seperti dulu..”


“Cup cup istrinya pak direktur jangan sedih.. Baju nggak muat bisa diganti. Nggak bisa naik motor masih ada mobil kok. Aku juga siap jadi supir dan mengantar kemanapun kamu mau. Yang terpenting itu kamu sama bayi kamu sehat.” Potong tina menatap Zahra dengan ekspresi dibuat buat.


Zahra tertawa lagi. Zahra kemudian mengangguk membenarkan apa yang Tina katakan.

__ADS_1


“Ya ya ya.. Anda sangat pintar nona Renaldi..” Canda Zahra yang membuat Tina tertawa.


Zahra merasa semua yang diharapkan-nya selama ini perlahan mulai terwujud. Dan itu semua terjadi setelah dirinya hamil.


__ADS_2