
Pukul 10 pagi Nadia baru pulang dengan menggunakan taksi. Wanita itu juga membawa beberapa kantong belanjaan ditangan-nya dan langsung membawanya menuju dapur.
“Mbak...” Panggil Nadia sambil menaruh barang bawaan-nya diatas meja pantry.
Mbak Lasmi yang sedang mencuci peralatan dapur yang kotor langsung menolehkan kepalanya dan berhenti sejenak dari aktivitasnya.
“Eh iya nyonya..” Sautnya.
“Zahra mana mbak? Kok sepi?”
Mbak Lasmi diam sesaat. Mbak Lasmi tidak tau harus berkata apa sekarang. Zahra baru berhenti menangis beberapa menit yang lalu karna ulah Sinta. Zahra juga menyuruh untuk mbak Lasmi berjanji tidak akan menceritakan apapun pada semuanya termasuk Nadia.
Nadia yang melihat kediaman mbak Lasmi mengeryit bingung.
“Mbak... Kok malah bengong?”
“Ah iya iya nyonya.. Nyonya Zahra ada dikamarnya.” Jawab mbak Lasmi segera.
“Oohh.. Gitu. Kirain ada apaan.” Angguk Nadia tanpa merasa curiga sedikitpun. Nadia kemudian membuka belanjaan-nya dan mengeluarkan-nya satu persatu.
Sedangkan mbak Lasmi, dia menghela napas. Mbak Lasmi sebenarnya ingin menceritakan apa yang dia tau namun Zahra sudah memintanya untuk berjanji dan mbak Lasmi tidak bisa begitu saja mengingkarinya.
“Mbak ini tolong semuanya nanti ditata ditempatnya yah.. Saya mau ke Zahra dulu..”
“Oh iyah.. Baik nyonya..”
“Makasih mbak...” Senyum manis Nadia.
“Iya nyonya.. Sama sama..” Angguk mbak Lasmi balas tersenyum pada Nadia.
Setelah Nadia berlalu, mbak Lasmi menghela napas lagi. Mbak Lasmi yakin Nadia pasti akan bertanya tanya begitu melihat mata Zahra yang sembab.
“Sudahlah.. Saya nggak perlu terlalu ikut campur..” Gumam mbak Lasmi kemudian meneruskan pekerjaan-nya yang sempat tertunda.
Sedangkan Nadia, dalam waktu singkat dia sudah sampai didepan pintu kamar Zahra. Nadia mengetuk pelan pintu bercat putih itu namun tidak ada sautan dari dalam. Sekali lagi Nadia mengetuk sambil memanggil nama Zahra namun tidak juga mendapat sautan dari Zahra.
Penasaran sekaligus khawatir itu yang dirasakan Nadia. Tidak mau terjadi sesuatu pada adik iparnya, Nadia pun segera membuka pintu kamar Zahra yang ternyata tidak dikunci itu.
__ADS_1
Nadia mengeryit. Zahra tidak ada disana.
“Zahra..” Panggilnya sambil melangkah masuk.
Suasana hening dikamar itu membuat Nadia semakin merasa khawatir. Nadia mengecek kamar mandi dan kosong. Zahra tidak ada didalam kamar mandi.
Tatapan Nadia kemudian terarah pada pintu balkon yang terbuka. Nadia yakin Zahra pasti ada disana.
Nadia melangkah cepat menuju pintu tersebut. Benar saja, Zahra sedang berdiri dibalkon kamarnya dengan tatapan lurus kedepan. Semilir angin menerbangkan rambut Zahra yang tergerai lurus.
Nadia tersenyum tipis. Nadia bisa memahami bagaimana perasaan Zahra. Karna sejak Nadia tau Zahra dan Faza menjalin hubungan, ini kali pertama mereka berpisah dengan jarak yang lumayan lama.
“Ra...”
Sentuhan lembut tangan Nadia dibahunya membuat Zahra tersadar dari lamunan-nya tentang sikap Sinta padanya.
Zahra menoleh dan tersenyum. Namun ekspresi terkejut Nadia saat Zahra menoleh membuat Zahra mengeryit bingung.
“Kenapa kak?” Tanya Zahra bingung.
“Ya Tuhan.. Zahra, apa kamu menangis tadi?”
“Kak aku...”
“Apa karna kepergian Faza?” Sela Nadia lagi bertanya.
Zahra tersenyum. Air matanya menetes tanpa sadar dan langsung dihapus dengan lembut oleh Nadia. Apa yang Zahra rasakan sekarang bukan hanya karna kepergian Faza, tapi juga karna sikap Sinta padanya.
“Ra.. Kamu nggak sendiri. Ada kak Aries dan kak Nadia disini.. Kamu bisa ceritakan bagaimanapun perasaan kamu sekarang sama kami.. Jangan dipendam sendiri..”
Ucapan Nadia membuat dada Zahra semakin terasa sesak. Zahra merasa beruntung karna meskipun dirinya tidak punya kedua orang tua lagi, tapi masih ada Aries dan Nadia sebagai kakaknya yang tentu sangat perduli dan sayang padanya.
“Aku nggak papa kok kak.. Aku cuma merasa belum terbiasa saja berpisah lama dengan mas Faza..” Senyum Zahra berusaha menutupi kesedihan-nya dari Nadia.
Zahra tidak ingin Aries dan Nadia tau apa yang baru saja Sinta katakan dan hampir Sinta lakukan padanya. Itu pasti akan menimbulkan masalah baru dalam hubungan rumah tangganya dan Faza.
Apa lagi mengingat Aries yang sampai saat ini belum bisa kembali akrab dengan Faza seperti dulu.
__ADS_1
Nadia yang tidak tega melihat adik ipar kesayangan-nya menangis pun segera memeluknya dengan lembut. Nadia mengusap dengan sangat lembut punggung Zahra.
“Kamu harus ngertiin Faza ya Ra.. Dia pergi itu untuk bekerja dan untuk memberikan yang terbaik untuk kamu juga anak kalian. Berpikir positif saja..” Ujar Nadia pelan.
Zahra tersenyum. Zahra tidak bermaksud membohongi Nadia. Tapi Zahra juga tidak mungkin mengadu pada Nadia tentang kedatangan Sinta dan Loly tadi.
-------------
Loly terus meringis memegangi pipinya yang terasa sakit bercampur ngilu. Tamparan yang Sinta layangkan dan mendarat dipipinya benar benar sangat keras. Loly tidak tau apa jadinya jika Zahra sampai terkena tamparan keras itu. Mungkin saja tubuh Zahra akan oleng dan berakhir dirumah sakit.
Ketika Loly baru saja mendudukan dirinya dikursi suara ketukan pintu membuatnya menoleh. Loly mendesah frustasi. Baru saja datang setumpuk pekerjaan sudah menyapanya. Loly juga yakin yang berada dibalik pintu ruangan-nya adalah Mona, sekretarisnya.
“Masuk.” Seru Loly tegas.
“Awhh.. Sshh..” Loly meringis dan mendesis merasakan nyeri saat membuka mulutnya akibat dari tamparan Sinta.
Pintu ruangan-nya terbuka memunculkan Mona sang sekretaris yang melangkah mendekat pada Loly dengan dua map berbeda warna ditangan-nya. Map tersebut berwarna biru dan merah.
“Ini berkas berkas yang anda minta kemarin nona..” Ujar Mona.
“Ya oke.. Taruh saja disitu.”
Loly berkata dengan bibir tetap mengatup rapat. karna jika Loly membuka mulutnya rasa nyeri itu akan terasa bertambah parah.
Mona yang mendengar dan melihatnya mengeryit.
“Apa anda baik baik saja nona?” Tanya Mona hati hati.
Loly enggan menjawab. Dia hanya menunjukan bekas tamparan Sinta yang membuat pipinya sedikit membengkak dan terlihat memerah pada Mona.
Kedua mata Mona membulat dengan sempurna. Mona menutup mulutnya yang terbuka tidak menyangka melihat luka lebam memerah dipipi kanan atasan-nya itu.
“Apa perlu saya panggilkan dokter nona? Luka lebam anda terlihat sangat parah.” Ujar Mona khawatir.
Loly menggelengkan kepalanya cepat. Loly kemudian mengibas ngibaskan tangan-nya menyuruh agar Mona segera keluar dari ruangan-nya.
“Nona tapi anda...”
__ADS_1
Ucapan Mona terhenti karna Loly mendelik padanya. Tidak mau mendapat amukan amarah Loly, Mona pun menurut saja.
“Ya sudah nona kalau begitu saya permisi.” Mona melangkah menuju pintu. Namun saat hendak keluar dari ruangan Loly, Mona kembali menoleh dan menatap tidak tega pada Loly yang sesekali meringis sambil membuka laptopnya.