PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 246


__ADS_3

Akbar menatap Sinta yang begitu asik dengan aktivitasnya sendiri. Sejak meninggalkan-nya dijalan saat itu Sinta terus saja mendiamkan-nya. Sinta memang tetap meladeninya. Bahkan Sinta juga sepertinya sengaja menutupi masalah yang sedang dihadapinya dengan Akbar dari Fadly.


Pelan pelan Akbar melangkah mendekat pada Sinta. Akbar juga sengaja mencari waktu berdua agar bisa berbicara dengan Sinta tentang masalah yang sedang melanda hubungan-nya dengan Sinta.


“Mah.. Papah mau bicara.”


Sinta menahan napasnya sejenak. Wanita yang masih terlihat awet muda diusianya yang sudah tidak lagi muda itu menghentikan aktivitas mengaduk adonan-nya didalam wadah. Sinta juga mematikan mikser yang digunakan-nya.


“Papah nggak mau masalah kita terus berlarut tanpa ada penyelesaian seperti ini mah...” Ujar Faza lagi.


Sinta tersenyum miris. Masalahnya dengan Akbar tercipta karena pembahasan tentang Zahra. Yang artinya Zahra memang tidak seharusnya ada di tengah tengah keluarganya. Itu menurut Sinta.


“Papah tidak bermaksud melukai hati mamah.. Papah cuma mau mamah menerima..”


“Tolong jangan sebut nama dia pah..” Sela Sinta pelan.


Akbar menghela napas. Entah apa penyebab Sinta yang sampai saat ini belum juga bisa menerima Zahra. Padahal Zahra adalah wanita yang baik. Zahra juga rajin dan tidak pendendam. Zahra bahkan tetap berusaha bersikap sopan pada Sinta meskipun Sinta tidak pernah sekalipun bersikap baik padanya.


“Sebenarnya apa salahnya sama mamah? Kenapa mamah begitu sangat membencinya?” Tanya Akbar pelan.


Sinta menundukan kepalanya sesaat kemudian menghela napas. Zahra memang tidak salah padanya. Rasa tidak suka Sinta muncul karena menganggap Zahra membuat Faza tidak patuh padanya. Zahra membuat Faza berani melawan-nya. Zahra membawa pengaruh buruk untuk putranya, Faza.


”Faza Putra Akbar. Dia adalah kebanggaan mamah pah. Dia putra pertama kita. Dia yang merubah status mamah. Dia juga yang pertama kali menyematkan panggilan yang bahkan papah juga ikut memanggil dengan sebutan mamah. Faza anak yang patuh dan tidak pernah berani melawan mamah. Tapi sejak kenal dengan perempuan itu Faza bahkan berani membohongi mamah. Faza berani melawan mamah. Lalu apa itu yang disebut perempuan baik baik?”


Akbar menelan ludah. Akbar yakin putranya tidak pernah sedikitpun menghilangkan rasa patuh dan hormatnya pada Sinta. Faza hanya ingin dihargai pilihan-nya.

__ADS_1


“Mamah tau bagaimana Faza pah.. Mamah yang merawat Faza dari dia bayi sampai akhirnya tumbuh menjadi balita, menjadi anak anak, menjadi remaja, kemudian dewasa seperti sekarang. Bagaimana hati mamah tidak sakit jika hanya orang asing yang baru masuk dalam kehidupan-nya saja bahkan sampai membawa pengaruh buruk pada Faza?”


Akbar memejamkan kedua matanya. Istrinya benar benar sudah salah menilai maksud dan keinginan putranya sendiri.


“Mamah menjodohkan Faza dengan Loly bukan tanpa alasan pah.. Mamah mau Faza bersanding dengan perempuan yang pantas dan sepadan dengan dia. Apa lagi mamah juga tau bagaimana bibit dan bobot keluarga Loly.”


Akbar menarik napas dalam dalam. Kebencian istrinya pada Zahra benar benar sudah mengakar begitu kuat bahkan sampai bercabang ke segala arah sehingga apapun yang Zahra lakukan selalu saja salah dimatanya.


“Mamah nggak maksa papah buat papah ikut tidak suka pada Zahra. Jadi tolong, papah juga jangan maksa mamah untuk bisa menerima Zahra dalam keluarga kita. Mamah bisa menerima Fahri. Tapi tidak dengan Zahra pah.. Tolong hargai keputusan mamah.”


Akbar benar benar tidak bisa berkata apa apa. Istrinya benar benar sangat keras kepala.


Bingung harus berkata apa, Akbar pun memilih untuk berlalu. Akbar menghindari pertengkaran yang pasti akan membludak jika Akbar bersuara.


Akbar hanya berasumsi dan yakin bahwa Tuhan mungkin memang belum membuka pintu hati istrinya. Tapi suatu saat Sinta pasti akan sadar. Pintu hatinya akan terbuka dan digerakkan oleh Tuhan agar bisa menerima dan menyayangi Zahra.


Sinta menelan ludahnya. Sinta tau Akbar berlalu meninggalkan-nya. Sinta juga tidak ingin hubungan-nya dan Akbar memburuk. Tapi Sinta juga tidak bisa memaksakan dirinya sendiri menerima Zahra yang sampai sekarang jelas jelas tidak bisa Sinta sukai.


Tidak ingin memikirkan sesuatu yang tidak penting menurutnya, Sinta pun kembali menghidupkan mikser dan mengaduk kembali adonan kue dalam baskom kecil warna putih itu.


Sedang Akbar, pria itu lebih memilih masuk kedalam ruangan kerjanya. Akbar tidak ingin berdebat. Akbar juga tidak ingin bertengkar. Akbar sangat mencintai Sinta, namun kekeras kepalaan istrinya terkadang membuat Akbar bimbang. Tapi berpisah hanya karena masalah penerimaan menantu rasanya sangat konyol.


Akbar menghela napas kemudian meraih ponselnya. Pria itu memilih untuk menghubungi Zahra via video call.


Saat Zahra mengangkat telepon-nya Akbar langsung menampilkan senyuman manisnya. Akbar tidak ingin Zahra sampai tau bahwa Akbar dan Sinta sering beradu argumen tentang dirinya.

__ADS_1


“Hay pah..” Sapa Zahra dengan lembut serta senyuman manis yang terukir dibibirnya.


“Ya Zahra.. Kamu lagi apa nak?”


Akbar berusaha untuk bersikap perhatian pada menantunya itu. Apa lagi Akbar juga tau bahwa Zahra kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil. Itu kata Faza yang memberitahunya.


“Ini Zahra lagi ngajak Fahri ngobrol pah..” Jawab Zahra.


“Oh ya? Mana cucu papah?” Akbar langsung antusias.


“Sebentar pah..”


Zahra langsung memangku Fahri dan menyodorkan ponselnya pada bayi itu yang sepertinya langsung bisa mengenali wajah tampan opah nya.


“Hay opah..” Ujar Zahra dengan suara yang dibuat buat.


Akbar tertawa pelan. Melihat rupa Fahri, Akbar menjadi teringat saat Faza masih bayi dulu. Fahri bahkan seperti copy-an Faza kecil menurutnya.


“Hey jagoan.. opah kangen..”


Obrolan terus berlanjut dengan Zahra yang terus memperlihatkan tingkah menggemaskan Fahri yang begitu aktif menggerakkan kaki dan tangan seolah hendak meraih ponsel yang sedang dipegang Zahra.


Fahri juga bersuara pelan seolah mengerti dengan apa yang Akbar katakan padanya. Bayi itu benar benar menuruni kecerdasan dan ketanggapan papahnya.


Beberapa menit mengajak Fahri mengobrol, Akbar pun mengakhiri panggilan via video nya.

__ADS_1


Pria itu menghela napas sekali lagi. Sekarang hati dan pikiran-nya sudah mulai tenang. Semua itu karena Akbar melihat cucu pertamanya yang begitu aktif bergerak dipangkuan Zahra.


Akbar selalu berdo'a pada Tuhan berharap Tuhan segera membuka pintu hati istrinya. Karena Faza dan Zahra tidak mungkin bisa dipisahkan. Apa lagi dengan kehadiran Fahri ditengah mereka. Akbar yakin mereka tidak akan menyerah begitu saja hanya karena Sinta belum memberinya restu. Faza dan Zahra saling mencintai sejak mereka mulai sepakat untuk bersama. Akbar sangat yakin itu. Dan Akbar, dia akan memastikan sendiri bahwa keduanya akan bahagia dengan kehidupan dan keluarga kecil mereka. Akbar akan ikut menjaga hubungan baik keduanya. Karena kebahagiaan Faza juga adalah kebahagiaan-nya.


__ADS_2