
Sebelum pesta pernikahan Reyhan dan Tina selesai, Faza dan Zahra lebih dulu pamit untuk pulang dengan alasan yang tentu dengan mudah bisa dipahami oleh Reyhan, Tina beserta keluarga besar. Mereka tentu mengerti karena Zahra dan Faza mengajak bayi yang baru berusia dua bulan.
“Sepertinya hubungan Reyhan dan pak Faza bukan hanya sekedar atasan dan bawahan biasa.” Ujar Tara menatap Faza dan Zahra yang berlalu diantara kerumunan tamu undangan lain yang hadir.
“Ya.. Mereka memang tidak seperti atasan dan bawahan pada umumnya. pak Faza sangat baik dan rendah hati.” Senyum Renaldi yang memang sudah lama mengenal Faza.
“Ya.. Tidak heran mengingat pak Faza adalah putra dari tuan Akbar.”
Renaldi tertawa pelan mendengarnya.
“Kamu bicara seperti ini bukan karena masa lalu bukan?”
Tara berdecak. Dulu Tara memang sempat terpikat oleh Akbar. Tapi setelah Akbar menikah dengan Sinta, Tara pun mengalah. Tara tidak ingin menjadi duri dalam hubungan Akbar juga istrinya saat itu. Dan sekarang rasa itu sudah tidak secuil pun hinggap dihatinya. Tara bahkan berhasil melupakan Akbar sebelum menikah dengan Renaldi.
“Jangan membuat sesuatu yang tidak seharusnya anak anak tau menjadi heboh Ren.. Kamu sendiri tau aku sudah berhasil melupakan Akbar bahkan sebelum kita menikah dulu.”
“Hahaha.. Jangan marah Tara.. Aku hanya bercanda.” Tawa Renaldi.
Merasa kesal, Tara pun berlalu dari hadapan mantan suaminya. Namun keduanya tidak menyadari ada sosok lain yang mendengar obrolan mereka.
Ya, Rasya mendengar apa yang kedua orang tuanya bicarakan. Rasya juga paham dengan inti dari pembicaraan keduanya.
Rasya tersenyum sinis. Pria itu tidak menyangka jika ternyata bukan hanya Anita wanita yang tertarik pada Faza Akbar. Bahkan bundanya sendiri juga pernah menaruh hati pada tuan Akbar yang tidak lain adalah ayah dari Faza di masa lalu.
“Apa mereka memang sesempurna itu?” Gumam Rasya meremehkan.
Rasya menatap punggung lebar papahnya. Entah kenapa Rasya merasa perpisahan keduanya juga ada hubungan-nya dengan pria bernama Akbar itu.
“Apa lebihnya laki laki itu dibanding papahku..” Gumamnya lagi.
Saat Rasya memutar tubuhnya dan hendak berlalu dari tempatnya tiba tiba seorang wanita menabraknya dan hampir saja menimpa tubuh Rasya jika saja tidak ada seseorang yang menahan tubuh wanita tersebut.
“Hey.. Hati hati sayang..”
Rasya yang tersungkur di lantai mendadak menjadi pusat perhatian para tamu undangan. Tidak ingin semakin merasa malu, Rasya pun segera bangkit dari lantai dan berdiri dengan gagahnya.
Rasya menyipitkan kedua matanya menatap dua sosok yang dikenalnya.
Sosok tersebut adalah Loly dan Fadly.
“Lepas.” Ketus Loly melepaskan pelukan Fadly kemudian berlalu begitu saja dengan wajah jengkel.
Fadly tersenyum geli. Malam ini dirinya mendapatkan banyak keuntungan. Fadly bisa terus dekat dengan Loly bahkan sampai mencium dan memeluk wanita yang sangat dicintainya itu.
“Anda Fadly Akbar bukan?” Tanya Rasya membuat Fadly langsung tersadar.
__ADS_1
“Ah ya.. Saya Fadly.. Maafkan pacar saya tadi.”
Rasya tersenyum tipis. Pucuk dicinta ulangpun tiba.
“Oh tidak papa. Saya mengerti.” Rasya terus menyunggingkan senyuman dibibirnya. Semuanya benar benar sangat kebetulan menurutnya.
“Perkenalkan, Saya Rasya Renaldi.” Ujar Rasya mengulurkan tangan dan memperkenalkan dirinya pada Fadly.
“Sebenarnya saya sudah tau. Tapi kita memang belum resmi berkenalan. Saya Fadly Akbar.”
“Ya.. Saya tau siapa anda. Nama anda sudah tidak asing lagi dikalangan masyarakat.”
Fadly tertawa mendengarnya.
“Anda terlalu memuji pak Rasya..”
“Saya hanya mengatakan sesuai fakta yang ada pak Fadly.”
“Yayaya.. Baiklah. Tapi maaf pak Rasya, saya harus mengejar pacar saya..”
“Ya.. Itu harus. Saya melihat sepertinya pacar anda sedang merajuk.” Senyum Rasya menggoda.
“Anda memang sangat berpengalaman.” Balas Fadly tertawa pelan.
“Saya hanya menebak saja.”
Rasya menghela napas dan menggelengkan kepalanya. Pria itu terus menatap punggung Fadly yang menjauh dan akhirnya menghilang diantara kerumunan tamu undangan yang hadir.
“Tuhan benar benar sangat adil.” Gumamnya tersenyum penuh makna.
“Ada apa Sya?”
Rasya menoleh mendengar suara bundanya. Pria itu tersenyum dan mengedikkan bahu tidak perduli.
“Hanya sebuah insiden kecil bunda..” Jawabnya.
“Tapi kamu oke kan?” Tara menatap khawatir pada putra sulungnya itu.
“Tentu saja. l'm fine.” Senyum Rasya.
Rasya kemudian mengajak bundanya untuk berbaur dan menyapa para tamu undangan lain-nya. Rasya tidak ingin seorang pun tau termasuk Tara, sang bunda tentang keniatan-nya.
Pesta meriah itu selesai dalam waktu semalam. Sebenarnya Renaldi ingin mengadakan pesta pernikahan putri bungsunya itu tiga hari tiga malam namun Tina menolaknya dengan alasan malu jika terus menjadi pusat perhatian banyak orang.
“Eemm.. Aku ke kamar mandi dulu..” Ujar Tina pelan pada Reyhan.
__ADS_1
Mereka berdua baru saja masuk kedalam kamar pengantin yang memang di didominasi dengan warna putih. Banyak bunga bunga yang diletakan disetiap sudut ruangan kamar tersebut. Bahkan kelopak bunga mawar merah bertaburan dilantai sampai diatas kasur besar yang mulai malam ini akan menjadi saksi Tina dan Reyhan bersama.
“Oke...” Angguk Reyhan tersenyum manis.
Tina melangkah menuju kamar mandi dan masuk kedalamnya. Tina menutup pintu kamar mandi kemudian menguncinya.
Tina menghela napas dan menyentuh dadanya sendiri. Saat ini dirinya masih mengenakan gaun pengantin warna putih tulang lengkap dengan semua riasan dikepalanya.
Ya, ditengah acara Tina memang mengganti kebayanya dengan gaun pengantin warna putih yang menjuntai sampai kelantai menutupi kakinya.
“Huft.. Aku harus bagaimana sekarang?”
Tina bingung juga gugup. Ini kali pertama Tina akan tidur sekamar dengan seorang pria. Dan pria itu adalah Reyhan. Pria yang baru saja sah menjadi suaminya. Pria yang tidak bisa memakan pedas sedikitpun.
“Zahra.. Ya.. Aku harus telepon Zahra sekarang..”
Tina kelimpungan sendiri dikamar mandi. Bak orang yang kehilangan kewarasan-nya Tina mencari ponselnya disetiap sudut kamar mandi yang tentu saja tidak akan ditemukan sampai kapanpun. Tentu saja karena ponselnya ada diatas nakas disamping tempat tidurnya.
“Ya Tuhan.. Handphone ku ada dikamar..” Tina meringis.
Bersama Reyhan adalah impian-nya selama ini. Tapi Tina tidak pernah membayangkan jika rasanya akan sangat mendebarkan sampai membuatnya gugup dan malu seperti sekarang.
“Oke Tina.. Ambil handphone kamu lalu kembali masuk kedalam kamar mandi.” Gumam Tina dengan helaan napas.
Tina memejamkan kedua matanya kemudian membuka pelan pintu kamar mandi. Begitu dirinya keluar, pandangan-nya langsung bertemu dengan pandangan Reyhan. Dan itu sukses membuat tubuh Tina terpaku ditempatnya.
Reyhan yang tau istrinya sedang sangat gugup tersenyum. Pria itu bangkit dari duduknya ditepi ranjang kemudian melangkah mendekat pada Tina yang masih mematung didepan kamar mandi.
“Eemm.. Handphone. Aku mau ngambil handphone aku..” Tina mendadak gagap didepan Reyhan.
Reyhan tertawa pelan. Reyhan tau istrinya sedang sangat gugup sekarang.
“Gugup ya?” Tanyanya lembut.
“Eh..” Tina langsung menundukan kepalanya. Reyhan tau dirinya sedang gugup sekarang.
“Tina...”
Reyhan meraih kedua tangan Tina dan menggenggamnya lembut.
“Lihat aku...”
Tina menghela napas kemudian perlahan menegakkan kepalanya membalas tatapan penuh cinta Reyhan padanya.
“Kita suami istri sekarang. Nggak usah gugup ataupun malu malu ya..” Pinta Reyhan menatap Tepat pada kedua mata Tina.
__ADS_1
Tina menelan ludah. Dan tiba tiba Tina merasakan sesuatu yang lembut menempel dibibirnya. Saat itu juga Tina memejamkan kedua matanya menikmati ciuman tiba tiba Reyhan yang membuatnya terbuai di malam pertama itu.