
Malam ini adalah malam pertama bagi Faza dan Zahra tinggal dirumah baru yang dibelikan oleh papah Faza. Keduanya tampak sangat kompak mengatur tata letak barang didalam kamar.
“Akhirnya selesai juga...” Faza tersenyum menatap kamarnya dan Zahra yang begitu luas. Bahkan kamarnya yang berada dikediaman kedua orang tuanya tidak semewah ini.
“Capek ya mas? Mau aku buatin jus atau es teh mungkin?”
Faza menoleh menatap Zahra yang tersenyum padanya. Posisinya dan Zahra tidak begitu dekat karna Zahra yang berada disudut kamar sedang Faza didepan ranjang berukuran besar tempat mereka tidur.
“Em.. Nggak usah deh kayanya sayang. Tapi kalau nambah ronde malam ini aku nggak nolak kok.”
Zahra mendelik. Sedikit kesal sebenarnya karna pikiran suaminya saat sedang bersamanya tidak pernah jauh dari masalah ranjang.
“Gimana sayang?” Goda Faza mengerlingkan kedua matanya membuat Zahra bergidik ngeri.
“Mas mah gitu.. Kan tadi pagi udah. Masa malam ini mau nambah juga. Aku kan capek mas pengin tidurnya agak lama..”
Wanita itu memperlihatkan wajah memelasnya berharap Faza mau mengerti dirinya. Zahra bukan menolak, hanya ingin tidur lebih lama saja setelah hampir seharian menata semua barang barangnya bersama Faza didalam kamar.
“Hahaha.. Iya iya sayang.. Aku cuma bercanda kok. Sini sini..”
Faza tertawa melihat ekspresi menggemaskan istrinya. Pria tinggi tegap itu mendekat sambil merentangkan kedua tangan-nya. Ketika sudah sampai tepat didepan Zahra, Faza langsung merengkuh tubuh Zahra kedalam pelukan hangatnya.
“Mau aku pijitin?” Tawar Faza memeluk lembut tubuh Zahra.
Zahra tersenyum dan menyenderkan kepalanya di dada bidang Faza. Tubuhnya memang terasa sangat remuk. Zahra tidak bisa bohong bahwa dirinya merasa sangat lelah setelah menata kamarnya bersama Faza.
“Cuma pijitin doang kan? Abis itu aku tidur?”
Pertanyaan Zahra mengundang tawa Faza lagi. Zahra benar benar sedang tidak sanggup melayaninya malam ini.
“Iya sayang.. Tapi cium cium dikit boleh kan ya..”
“Tuh kan...” Zahra merengut mendengarnya. Wanita itu mendongak menatap pada Faza yang harus sedikit menunduk untuk membalas tatapan-nya.
“Enggak enggak, cuma bercanda kok sayang.. Ya udah aku ambil minyak urut dulu ya..”
Zahra mencegah saat Faza hendak melepaskan pelukan-nya.
“Pake lotion aja mas. Aku nggak mau pake minyak urut.” Rengeknya manja.
“Ya udah kalau begitu.. Gih tiduran dulu. Aku ambil lotion-nya.”
__ADS_1
Zahra tersenyum dan menganggukan kepalanya. Satu kecupan lembut Zahra dapatkan dikeningnya sebelum Faza benar benar melepaskan pelukan-nya dan meraih lotion diantara tatanan peralatan make up milik Zahra yang berada dimeja tidak jauh dari ranjang mereka.
Zahra hendak melangkah menuju ranjang saat tiba tiba suara ketukan pintu terdengar.
Zahra dan Faza saling menatap sebelum akhirnya Zahra melangkah menuju pintu dan membukanya.
“Mbak.. Ada apa ya mbak?”
Zahra mengeryit melihat mbak Lasmi yang sudah berdiri didepan pintu kamarnya. Wanita yang Zahra perkirakan sebaya dengan mamah mertuanya itu menatap hormat padanya.
“Maaf nyonya kalau saya mengganggu. Tapi dibawah ada nyonya Sinta.”
Zahra terkejut. Bagaimana mungkin mamah mertuanya itu datang malam malam.
Faza yang juga mendengar secara langsung apa yang mbak Lasmi katakan langsung mendekat pada Zahra.
“Ya sudah, tolong bikinin minum ya mbak.. Teh hangat saja. Saya dan mas Faza akan turun sekarang.” Senyum Zahra meminta tolong pada mbak Lasmi.
“Baik nyonya, kalau begitu saya permisi.”
“Ya mbak...” Angguk Zahra.
“Biar aku aja yang temui mamah sayang. Kamu istirahat aja.”
Zahra menoleh kemudian tersenyum menatap Faza.
“Mamah udah jauh jauh dateng masa aku nggak nemuin sih mas. Nggak sopan dong..”
“Tapi aku yakin mamah pasti kesini sama Loly. Mamah pasti bakal sama samain kamu sama Loly lagi.”
Zahra melihat ada guratan kekesalan dari wajah tampan suaminya. Zahra juga tau suaminya selalu merasa tidak nyaman jika ada Loly disekitarnya.
“Justru karna mamah pasti datang sama Loly makan-nya aku nggak mau kamu temui mamah sendiri. Aku nggak mau mamah terus terusan berusaha buat deketin kamu ke Loly. Kamu itu milik aku. Cuma milik aku mas.”
Kekesalan dihati Faza luntur seketika mendengar apa yang Zahra katakan. Faza akui Zahra memang wanita yang gampang sekali cemburu. Tapi cemburunya kali ini sama sekali tidak membuat Faza kesal. Sebaliknya, Faza justru merasa gemas.
“Lebih baik sekarang kita turun dan temui mamah. Ayoo..” Ajak Zahra.
Zahra bergelayut manja dilengan Faza dan mengajak Faza melangkah bersama sama untuk menemui Sinta yang sudah menunggunya dilantai bawah.
Begitu Faza dan Zahra sampai dilantai satu rumahnya tepatnya diruang tamu, keduanya mendapati Loly juga ada disana.
__ADS_1
Zahra menatap sebentar pada Loly sebelum tersenyum pada Sinta yang langsung bangkit dari duduknya.
“Mamah..” Meski kesal Faza tetap tersenyum untuk menyambut baik kedatangan mamahnya itu.
Faza menyalimi mamahnya bergantian dengan Zahra.
“Mamah kok nggak sama papah atau Fadly?”
Loly menarik napas mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Faza. Loly tau apa arti dari pertanyaan itu. Faza sama sekali tidak mengharapkan kehadiran-nya disana.
“Papah masih dikantor. Dan Fadly, dia berangkat keluar kota siang tadi. Tapi mamah nggak pernah merasa khawatir meskipun Fadly dan papah selalu sibuk. Karna selalu ada Loly disamping mamah. Ya kan sayang?”
Sinta menoleh dan tersenyum bangga pada Loly seolah sedang menunjukan pada Zahra bahwa Loly jauh lebih baik dan lebih pantas menjadi bagian dari keluarganya dari pada Zahra.
“Tante bisa aja deh..” Loly tersenyum sambil menanggapi apa yang Sinta katakan tentangnya didepan Faza dan Zahra.
Faza yang merasa jengah hanya diam saja. Malas menanggapi apapun yang mamahnya katakan jika sudah menyangkut tentang Loly.
Berbeda dengan Faza, Zahra justru tersenyum penuh arti. Zahra sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan mamah mertuanya setelah ini. Dan Zahra sudah memikirkan apa yang akan dia lakukan jika tebakan-nya tidak meleset malam ini.
“Begini Faza, dirumah sangat sepi. Mamah jenuh sendiri. Makanya mamah kesini. Dan mamah berniat menginap disini malam ini sama Loly juga. Boleh kan?”
Kedua mata Faza melebar. Baru saja dirinya dan Zahra hendak menikmati waktu berduanya tanpa gangguan dari siapapun tapi tiba tiba mamahnya datang dan mengatakan akan menginap dengan Loly juga.
“Loh mah.. Kenapa Loly harus ikut menginap juga?” Faza bertanya dengan tidak terima. Faza benar benar tidak bisa menerima Loly menginap dirumah baru pemberian papahnya.
“Faza ayolah.. Jarak dari rumah ini kerumah Loly itu sangat jauh. Dan ini sudah malam. Memangnya kamu tega membiarkan Loly pulang sendiri dimalam yang hampir larut begini?”
Faza sudah membuka mulutnya hendak menjawab namun langsung didahului oleh Zahra.
“Maafin mas Faza ya mah.. Loly boleh kok ikut menginap. Zahra akan menyiapkan kamar untuk mamah sama Loly.” Senyum Zahra tanpa merasa sedikitpun terbebani.
Sinta menatap pada Zahra kemudian mengangguk pelan.
“Bagus kalau begitu. Sebaiknya kamu siapkan sekarang saja. Mamah sama Loly mau istirahat.” Ujar Sinta dengan nada memerintah.
Faza mengepalkan kedua tangan-nya mendengar apa yang Sinta perintahkan pada istrinya. Faza benar benar tidak mengerti dengan jalan pikiran mamahnya yang terus saja berusaha mendekatkan Loly dengan-nya.
“Maaf ya Zahra aku ngerepotin..” Loly mulai berakting didepan Sinta dengan berpura pura tidak enak hati pada Zahra.
“Tidak apa apa. Jangan sungkan disini Loly.” Balas Zahra tersenyum.
__ADS_1