PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 30


__ADS_3

Sepanjang perjalan menuju kediaman keluarga Faza, Zahra terus terpikirkan dengan sikap Santoso padanya. Pria itu benar benar berubah sangat derastis sekarang. Santoso begitu datar, dingin, bahkan sangat galak. Dan untuk pertama kalinya selama bertahun tahu bekerja direstoran itu Santoso mengancam akan memecatnya padahal Zahra sedang tidak membuat masalah apapun.


TIINNNNN !!


Suara klakson yang dibunyikan oleh Faza berhasil menyentakkan Zahra menyadarkan-nya dari lamunan Zahra tentang sikap Santoso padanya.


“Silahkan den..” Senyum seorang satpam yang membukakan pintu gerbang untuk Faza dan Zahra.


“Makasih ya pak..”


Faza kembali melajukan motornya memasuki pekarangan rumah berlantai 2 keluarganya.


Jantung Zahra mulai berdetak cepat. Zahra akan bertemu dengan Sinta dan Faiz sebentar lagi.


Zahra turun dari boncengan Faza ketika Faza menghentikan motornya didepan taman kecil penuh bunga didepan rumah kedua orang tuanya. Gugup, takut terasa begitu menghantui perasaan Zahra sekarang. Zahra tau kehadiran-nya tidak akan diterima dengan baik oleh mamah dan papah mertuanya. Tapi niatnya baik. Zahra menerima ajakan Faza untuk menjenguk Sinta yang sedang sakit.


“Gugup ya?” Tanya Faza.


Zahra tersenyum. Faza pasti tau bagaimana perasaan-nya sekarang.


“Tenang ya.. Semuanya akan baik baik saja.” Faza turun dari motor gedenya kemudian meraih tangan Zahra menuntun-nya dengan erat.


“Ayo kita masuk.” Ajak Faza.


Zahra hanya mengangguk pelan. Zahra merasa kakinya begitu berat melangkah disamping Faza. Zahra ingin sekali membalikan tubuhnya kemudian berlari sejauh mungkin dari kenyataan bahwa kedua orang tua dari suaminya sangat tidak menyukainya.


“Kakak..”


Langkah Faza dan Zahra berhenti ketika mendengar suara Fadly. Faza tersenyum begitu juga dengan Zahra.


“Baru nyampe ya?” Tanya Fadly mendekat pada keduanya.


“Ya.. Mana mamah?”


“Mamah ada dikamarnya kak lagi istirahat. Kakak langsung naik saja keatas.”


“Oke..” Angguk Faza.


“Ayo Ra..”

__ADS_1


Zahra enggan melangkah membuat Faza menoleh dan menatapnya begitu juga dengan Fadly.


“Aku disini aja sama Fadly mas..” Katanya.


Faza menghela napas. Faza paham dengan apa yang Zahra rasakan sekarang.


“Ya sudah kalau begitu. Aku ke mamah dulu ya.. Ly, titip Zahra sebentar.”


Fadly menganggukan kepala dengan senyuman tipis dibibirnya. Fadly juga tau dan paham dengan apa yang Zahra rasakan. Tidak diterima oleh seseorang yang sudah menjadi bagian dari hidupnya memang sangatlah menyakitkan.


Faza mulai menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua dimana kamar sang mamah berada. Faza meninggalkan Zahra bersama Fadly karna tidak mungkin jika Faza memaksa Zahra untuk ikut menghadap mamahnya.


Faza berhenti ketika sampai tepat didepan pintu kamar kedua orang tuanya. Faza menarik napas panjang kemudian menghembuskan-nya pelan.


Faza membuka pelan pintu kamar kedua orang tuanya dan tersenyum mendapati sang mamah sedang berbaring dan memejamkan kedua matanya dengan tenang. Penampilan-nya memang tidak secantik biasanya. Mungkin karna sedang sakit sehingga Sinta tidak terlalu memikirkan penampilan-nya.


Faza melangkah pelan mendekat pada Sinta yang tertidur pulas diatas tempat tidurnya. Faza mendudukan dirinya ditepi ranjang dan meraih tangan Sinta menggenggam dan mencium punggung tangan-nya dengan lembut.


“Mah... Faza datang mah..” Bisik Faza.


Sinta perlahan membuka kedua matanya mendengar bisikan pelan Faza. Sinta tersenyum menatap Faza yang tersenyum manis padanya.


“Ya mah.. Ini Faza. Faza datang untuk mamah..”


Sinta berusaha untuk bangkit dari berbaringnya yang dibantu oleh Faza.


“Pelan pelan mah..”


“Ya sayang..” Angguk Sinta dengan senyuman yang menghiasi bibir pucatnya.


Sinta kemudian meraih tangan Faza yang terus menggenggam tangan-nya.


“Kamu pulang ya nak.. Kamu tinggal lagi sama mamah sama papah juga sama Fadly..”


Faza menundukan kepalanya. Faza juga ingin selalu dekat dengan mamahnya agar Faza bisa memastikan sendiri mamahnya selalu baik baik saja.


“Mamah nggak bisa jauh dari kamu dan Fadly nak. Mamah sayang sama kamu..”


Faza menghela napas. Jika saja mamahnya bisa menerima Zahra mungkin Faza akan mengajak Zahra untuk tinggal dirumah berlantai dua itu. Rumah tempat dirinya tumbuh dari bayi menjadi anak anak bahkan sampai Faza tumbuh dewasa.

__ADS_1


“Nak.. Apa kamu udah nggak sayang lagi sama mamah sehingga kamu lebih memilih bersama istri kamu dari pada bersama mamah?”


“Bukan mah.. Bukan begitu. Faza sayang banget sama mamah. Sedikitpun rasa sayang Faza ke mamah tidak pernah berkurang.”


Sinta menatap wajah tampan putra sulungnya itu. Harapan-nya begitu besar pada anak anaknya yang memang selalu dia pastikan semua yang terbaik untuk Faza juga Fadly.


“Lalu kenapa kamu tinggalin mamah?”


“Mah.. Faza nggak pernah ninggalin mamah. Faza hanya ingin mandiri bersama Zahra, istri Faza.”


Sinta melengos. Muak sekali rasanya mendengar nama Zahra disebut oleh Faza.


“Mamah heran sama kamu Faza. Apa lebihnya dia sehingga kamu bisa begitu tergila gila padanya. Padahal dibandingkan dengan teman anak mamah benar benar sangat jauh. Bahkan dia tidak ada apa apanya.”


Faza tersenyum tipis. Zahra memang tidak sempurna. Zahra tidak secantik Anita, Rosa, ataupun anak dari teman sang mamah yang berniat dijodohkan dengan Faza. Tapi Faza tidak bisa bohong. Hatinya sudah terpaut pada Zahra sejak awal Faza melihat Zahra beberapa tahun silam.


“Mah.. Bagaimanapun Zahra tapi dia tetap istri aku mah.. Orang yang sangat aku cintai setelah mamah.” Faza berkata dengan sangat lembut karna tidak ingin memancing kemarahan sang mamah yang sedang sakit.


“Kalau memang kamu mencintai dia setelah mamah itu artinya cinta kamu sama dia tidak sebesar cinta kamu untuk mamah. Bukan begitu nak?”


Sinta kembali menatap Faza. Senyuman dibibir pucatnya kembali mengembang menatap sang putra sulung yang terlihat bingung didepan-nya.


“Kalau begitu demi cinta kamu sama mamah, mamah minta kamu tinggalkan dia Faza. Kembali sama mamah dan papah dan turuti apa yang mamah mau, menikah dengan Loly.”


Faza menggelengkan kepalanya menatap tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang mamah. Faza sudah bahagia bersama Zahra meskipun memang kehidupan rumah tangganya sering mengalami pasang surut. Tapi Faza yakin dirinya juga Zahra bisa menyikapinya dengan bijak segala permasalahan itu.


Dari celah pintu yang terbuka Zahra berdiri disana dengan Fadly yang berdiri dibelakangnya. Hati Zahra terasa sangat sakit mendengar apa yang dikatakan oleh Sinta.


“Ya Tuhan...” Batin Zahra dengan sekujur tubuh mulai bergetar bahkan melemas.


Fadly yang berada dibelakang Zahra hanya bisa diam. Zahra pasti sangat terluka dengan ucapan yang dilontarkan Sinta. Fadly benar benar merasa sangat menyesal mengajak Zahra naik dan melihat langsung bagaimana keadaan Sinta sekarang.


“Ra..” Panggil Fadly pelan.


Zahra menelan ludahnya susah payah. Zahra berusaha sekuat tenaga untuk tidak meneteskan air matanya. Zahra tidak ingin siapapun menganggapnya lemah.


“Aku pulang dulu ya Ly.. Tolong kasih tau ke mas Faza.”


Fadly tidak bisa mencegah kepergian Zahra. Fadly hanya bisa diam dan menatap punggung Zahra yang akhirnya menghilang dari pandangan-nya saat menuruni anak tangga. Fadly paham. Apa yang dikatakan mamahnya memang sangat keterlaluan.

__ADS_1


__ADS_2