
Sepanjang makan malam bersama berlangsung Faza dan Zahra juga Sinta dan Akbar dibuat bingung oleh sikap Loly yang selalu saja merecoki Fadly makan. Loly menawarkan semua hidangan yang ada didepan meja pada Fadly dengan semangatnya.
“Loly kamu bisa diam tidak? Aku bukan anak kecil yang kalau makan tidak bisa memilih sendiri.” Gertak Fadly kesal.
“Tapi kamu itu dari tadi makan-nya cuma masakan mbak Lasmi. Kamu sama sekali nggak mencicipi masakan aku.” Balas Loly tidak kalah kesal.
“Aku masih ingin hidup.” Kata Fadly tajam.
Loly menyipitkan kedua matanya.
“Apa kamu buta Fadly? Lihat om sama tante. Mas Faza dan Zahra. Mereka tidak mati memakan masakan aku !” Nada bicara Loly mulai meninggi saking kesalnya.
Semua yang ada dimeja makan dibuat penasaran dengan tingkah Fadly dan Loly. Apa lagi melihat Loly yang begitu ngotot ingin Fadly mencicipi masakan-nya. Padahal biasanya Loly selalu mencari kesempatan untuk mendekati Faza. Tapi sekarang, Loly justru lebih fokus pada Fadly.
Zahra merasa aneh. Loly sudah tidak lagi memperdulikan Faza sekarang.
“Sudahlah. Aku kenyang.”
Tidak mau meluapkan amarahnya didepan semuanya, Fadly memilih untuk menyudahi makan malamnya. Namun saat Fadly hendak bangkit dari duduknya, Loly meraih lengan Fadly menahan-nya agar Fadly tidak beranjak dari tempatnya.
“Loly apa apaan kamu. Lepasin tangan aku.” Fadly mendelik kesal pada Loly yang malah bergelayut dilengan-nya.
“Enggak sebelum kamu makan masakan aku.” Saut Loly tidak perduli dengan ekspresi marah Fadly padanya.
“Loly kamu..”
“Sudah cukup.” Merasa gerah dengan tingkah keduanya Sinta akhirnya bersuara. Wanita itu terlihat sangat kesal karna Fadly dan Loly yang terus berdebat dimeja makan.
“Loly lepasin tangan Fadly.” Katanya memerintah.
Loly menurut dan segera melepaskan lengan Fadly. Loly tidak mau membuat Sinta marah padanya.
Sedang Fadly, pria itu mengusap usap lengan-nya seperti orang yang sedang membersihkan debu yang menempel dilengan-nya.
“Kalian tau sopan santun tidak sih? Kita ini sedang makan. Bisa tidak diam?”
Loly meringis. Sinta terlihat benar benar marah kali ini.
“Eemm.. Aku pulang duluan mah.” Ujar Fadly kemudian bangkit dari duduknya dan berlalu dari meja makan.
Akbar yang juga menyaksikan secara langsung tingkah Loly dan Fadly hanya bisa mengedikkan bahunya.
__ADS_1
“Ya udah kalau begitu Loly pulang juga ya tante, om.. mas, Ra.”
Sinta membuka mulutnya hendak mencegah namun Loly sudah mengambil langkah seribu berlalu dari meja makan.
Sinta benar benar kesal sekarang. Semuanya tidak berjalan seperti yang Sinta inginkan. Padahal Sinta berharap Loly kembali berusaha mendekati Faza. Tapi nyatanya Loly malah sibuk bertengkar dengan Fadly hanya karna masalah sepele.
“Apa apaan ini.” Gumam Sinta menahan emosinya.
Sedangkan Zahra, diam diam dia tersenyum. Entah kenapa Zahra merasa Loly sepertinya mulai tidak lagi tertarik pada suaminya.
Setelah selesai makan malam, Sinta dan Akbar pamit untuk pulang. Dan seperti biasanya, sebelum pulang Sinta selalu mewanti wanti Zahra dengan kata kata pedasnya. Tapi Zahra tidak mau ambil pusing dengan sikap Sinta. Toh Zahra tidak merepotkan Sinta. Adapun Sinta melakukan sesuatu seperti sering mengirimkan makanan dan cemilan untuknya itu dengan kemauan Sinta sendiri. Bukan permintaan Zahra.
Diatas tempat tidur Zahra dan Faza kembali mengobrol hangat. Mereka berdua berpelukan disana dengan sesekali saling mencium.
“Mas... Kamu lihat nggak tadi bagaimana sikap Loly sama Fadly?”
Faza menganggukan kepalanya.
“He'em.. Memangnya kenapa?” Tanya Faza kemudian.
“Sepertinya Loly sudah nggak tertarik lagi sama kamu mas. Dia sudah berpaling ke Fadly.” Ujar Zahra.
Faza tertawa. Kalau memang benar apa yang Zahra katakan Faza akan sangat bersyukur. Itu artinya Sinta tidak akan lagi menyuruhnya untuk menikah dengan Loly apapun alasan-nya.
“Nggak papa deh aku gantengnya berkurang asal Loly benar benar nggak ngelirik aku. Yang penting kamu selalu mau sama aku..” Senyum Faza menatap Zahra.
“Yee.. Dasar. Dari dulu menurut aku kamu itu nggak ganteng mas. Kamu cuma enak dipandang mata aja. hahaha..”
Faza mendelik. Merasa tidak terima dengan ledekan istrinya, Faza pun menggelitiki Zahra membuat tawa Zahra memenuhi setiap sudut kamar mereka.
Malam ini Zahra tidak merasa kesepian karna Faza pulang lebih awal dari biasanya.
--------
Paginya Zahra kembali merasa sangat bahagia karna begitu dirinya membuka kedua matanya Faza masih berada disampingnya. Faza bahkan masih memeluknya dengan wajah damai yang membuatnya semakin terlihat tampan.
Zahra tidak ingin menyia nyiakan kesempatan itu. Zahra semakin masuk kedalam pelukan hangat suaminya menikmati rasa nyaman itu. Tapi tidak lama kemudian Zahra pun sadar, Faza mempunyai tanggung jawab diperusahaan tempatnya bekerja.
Tidak mau suaminya datang terlambat, Zahra pun membangunkan Faza dengan sangat lembut.
“Mas... Bangun.. Udah pagi.”
__ADS_1
Mendengar suara Zahra, Faza perlahan membuka kedua matanya. Pria itu tersenyum menatap wajah Zahra yang begitu dekat dengan wajahnya.
“Kamu nggak kerja? Ini udah pagi loh..” Ujar Zahra mengingatkan.
Bukan-nya bangun, Faza justru semakin mengeratkan pelukan-nya pada Zahra. Faza bahkan menempelkan bibirnya di pipi Zahra kemudian kembali memejamkan kedua matanya.
“Biarkan dulu seperti ini sayang.. Aku merasa sedang menjadi pengantin baru sekarang.” Katanya dengan suara serak.
“Tapi nanti kamu telat loh mas ke kantor.” Zahra kembali mengingatkan suaminya.
“Aku berangkat siang hari ini.” Balas Faza yang masih merasa nyaman dengan posisinya.
Mendengar itu Zahra tersenyum. Tangan-nya kemudian mengusap usap lembut pipi Faza.
“Acara empat bulanan-nya, kamu maunya seperti apa?” Tanya Faza pelan dengan kedua mata masih tertutup.
“Hah?!” Zahra terkejut. Zahra kira Faza tidak begitu memikirkan kandungan-nya selama ini.
Karna respon Zahra, Faza pun akhirnya membuka kedua matanya. Pria itu bangkit dan melingkupi tubuh Zahra yang kini berada dibawahnya.
“Kamu mau aku adain pesta atau acara yang lain-nya hem?” Tanya Faza membelai lembut dagu runcing Zahra.
“Mas kamu...”
“Aku mengingatnya sayang.. Sekarang kamu tinggal bilang kamu mau acara yang seperti apa? Aku bakal turutin.” Sela Faza mencubit lembut pipi Zahra.
Zahra tersenyum. Prasangkanya pada Faza yang selalu sibuk sudah sangat keliru. Zahra pikir Faza tidak mengingat atau bahkan melupakan usia kandungan-nya.
“Nggak perlu neko neko mas. Kamu sudah mengingatnya saja aku sudah sangat senang.” Ujar Zahra tersenyum.
“Nggak bisa begitu dong sayang.. Usia empat bulan kandungan kamu itu harus kita syukuri. Mungkin kita bisa melakukan kebaikan dengan berbagi atau yang lain-nya.”
“Berbagi?” Tanya Zahra.
“He'em..” Angguk Faza menjawab.
Zahra tampak diam berpikir. Tiba tiba Zahra mengingat orang orang yang kurang beruntung diluaran sana.
“Berbagi juga boleh mas.” Katanya kemudian.
“Oke. Aku akan atur semuanya.” Senyum Faza kemudian meraup bibir Zahra.
__ADS_1
Zahra sempat terkejut tapi akhirnya bisa mengimbangi ciuman mesra suaminya dipagi yang cerah itu.