PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 71


__ADS_3

Tidak ingin membuang buang waktu, Faza pun segera mengutarakan keinginan-nya untuk mengajak Zahra pindah saat sedang makan malam bersama dimeja makan.


“Pindah kemana? Kerumah itu lagi? Enggak, mamah nggak setuju. Pokonya kamu harus tetap disini sama mamah sama papah.”


Faza berdecak pelan.


“Mah.. Aku sudah bukan anak kecil lagi. Aku sudah dewasa dan aku adalah seorang suami. Aku berhak memutuskan apa yang memang terbaik untuk aku dan Zahra.” Tegas Faza.


“Yang terbaik itu kamu tetap disini sama mamah sama papah.”


Fadly yang hanya menjadi pendengar menghela napas. Mamahnya memang selalu melakukan apapun semaunya tanpa mau menerima keputusan orang lain.


“Faza, mamah ini mamah kamu. Mamah yang melahirkan kamu. Mamah yang mengasuh kamu dari kamu kecil dulu. Mamah yang paling tau mana yang terbaik untuk kamu.”


Zahra yang berada disamping Faza hanya diam saja. Zahra juga senang sebenarnya karna mereka akan pindah kerumah yang Zahra pikir adalah rumah yang dibeli sendiri oleh Faza dengan uang tabungan-nya.


“Mamah cukup.”


Papah Faza mulai bersuara. Pria itu merasa gerah dengan kekangan yang selalu istrinya lakukan pada kedua putranya.


“Apaan sih pah?” Sinta menatap kesal pada suaminya.


“Mamah itu lagi ngomong sama Faza, bukan sama papah.”


“Tapi Faza juga anak papah. Selama ini mamah selalu melakukan semuanya semau mamah. Tapi tidak lagi untuk sekarang. Biarkan Faza menentukan pilihan-nya sendiri. Faza sudah punya kewajiban sendiri. Kewajiban sebagai seorang suami.”


“Tapi Faza juga punya kewajiban sebagai seorang anak untuk patuh pada mamah pah.” Sinta tetap tidak mau kalah.


“Tapi bukan begitu caranya mah.. Patuh bukan berarti menuruti semua kemauan mamah dan membiarkan Zahra tertindas disini.”


Faza hanya diam saja membiarkan kedua orang tuanya berdebat. Sedangkan Fadly, dia merasa senang karna akhirnya sang papah berani melawan mamahnya dan tidak diam pasrah seperti biasanya.


“Faza memang wajib patuh sama mamah. Karna mamah yang melahirkan Faza. Tapi Faza juga wajib membahagiakan istrinya mah. Memberikan tempat nyaman juga menenangkan.”


“Jadi maksud papah rumah ini nggak nyaman untuk Zahra?”


Papah Faza menarik napas panjang kemudian menghembuskan-nya perlahan.


“Mamah coba pikir saja sendiri. Bagaimana mungkin Zahra bisa merasa nyaman kalau setiap hari ada Loly disini.” Jawab papah Faza membuat kedua mata istrinya membulat dengan sempurna.


“Papah..”

__ADS_1


“Cukup. Sudah cukup.” Sela Faza membuat Sinta langsung bungkam.


“Apa yang papah bilang benar mah. Membahagiakan Zahra adalah kewajiban aku sebagai suaminya. Keputusan aku sudah bulat. Besok kami berdua akan pindah untuk menempati rumah baru kami.”


Sinta menggelengkan kepalanya.


“Kamu sudah nggak sayang lagi sama mamah Faza? Kamu jauh lebih memilih perempuan ini dari pada mamah?”


Faza menghela napas pelan.


“Maaf mah.. Aku sayang banget sama mamah. Tapi sebagai suami yang baik, kebahagiaan Zahra adalah segalanya buat aku.” Jawab Faza lirih.


Faza meraih tangan Zahra setelah berkata demikian. Faza bangkit dari duduknya begitu juga dengan Zahra yang hanya diam dan menurut. Faza yakin keputusan-nya untuk pindah adalah yang terbaik terutama untuk hubungan-nya dan Zahra.


Faza mengajak Zahra berlalu dari meja makan meninggalkan kedua orang tuanya juga Fadly yang hanya diam ditempat duduknya.


“Sekarang papah puas? Papah senang melihat Faza melawan mamah? Papah senang kan Faza lebih memilih Zahra dari pada mamah?”


Sinta menatap suaminya dengan kedua mata berkaca kaca. Gurat kekecewaan terlihat jelas dari ekspresi wajahnya saat itu.


“Papah hanya mengatakan apa yang memang seharusnya. Mamah juga dulu nggak mau kan tinggal bersama kedua orang tua papah?”


“Itu karna kedua orang tua kamu tidak pernah bisa menghargai mamah pah.” Suara Sinta bergetar dengan air mata yang mulai menetes membasahi kedua pipi tirusnya.


“Mamah kecewa sama papah. Papah nggak pernah bisa memahami mamah.”


Sinta bangkit dari duduknya kemudian berlalu dari meja makan dengan menangis. Sinta tidak menyangka suaminya akan mendebatnya didepan kedua putranya. Malu juga kecewa Sinta rasakan karna apa yang dilakukan oleh suaminya.


--------


Sementara itu dikamarnya Faza terus saja menggenggam tangan Zahra.


“Mas...” Panggil Zahra pelan.


“Ya sayang..” Saut Faza pelan sambil menoleh menatap Zahra yang ada disampingnya.


Saat ini mereka berdua sedang duduk ditepi ranjang.


“Mas yakin mau pindah kerumah itu?”


Faza tersenyum kemudian meraih satu lagi tangan Zahra, menggenggamnya erat namun tetap dengan penuh cinta dan kasih sayang.

__ADS_1


“Tentu saja. Aku nggak mau kamu terus terusan diganggu sama Loly. Aku mau kamu tenang dan aku juga tenang saat bekerja.”


Zahra tersenyum tipis. Mempunyai rumah sendiri adalah keinginan Zahra. Apa lagi jika rumah itu dibeli oleh Faza.


“Apa aku perlu kasih tau kak Aris juga untuk mengajak kamu kerumah baru kita?” Tanya Faza membuat Zahra tertawa.


“Kamu apaan sih mas. Ya nggak harus begitu juga. Kalau waktu itu kan kita mau pindah kerumah ini, rumahnya mamah sama papah. Tapi kalau sekarang kan rumah kamu mas, rumah yang kamu beli sendiri. Kak Aris pasti bangga banget punya adik ipar hebat kaya kamu.”


Faza tersenyum kemudian menghela napas pelan.


“Zahra..” Panggilnya.


Zahra menatap Faza dengan senyuman dibibirnya. Zahra menunggu Faza mengatakan sesuatu yang mungkin memang penting untuk Faza katakan.


“Sebenarnya rumah itu bukan aku yang beli..” Ujar Faza pelan.


Senyuman dibibir Zahra seketika memudar.


“Apa?” Lirihnya terkejut.


Faza melepaskan satu tangan Zahra dan membelai lembut pipi Zahra.


“Papah yang membelikan rumah itu untuk kita. Papah bilang itu adalah kado tertunda pernikahan kita.”


Zahra tidak menyangka. Zahra pikir rumah itu adalah rumah yan dibeli oleh suaminya untuk mereka tinggali bersama. Tapi nyatanya rumah itu adalah rumah pemberian dari papah mertuanya.


“Apa itu artinya papah merestui pernikahan kita mas?” Tanya Zahra dengan kedua mata berkaca kaca. Zahra merasa sangat terharu mendengar apa yang Faza katakan tentang kado tertunda pernikahan mereka dari papahnya.


“Tentu saja. Papah merestui hubungan kita. Itu sebabnya papah membelikan rumah untuk kita berdua tinggal.”


“Tapi...”


Zahra diam. Mendadak Zahra teringat akan hubungan gelap papah mertuanya dengan Bella, sekretaris nya sendiri.


“Apa papah membelikan rumah itu supaya kita tidak memberitahu mamah tentang perselingkuhan-nya dengan Bella mas?”


Faza tertawa kemudian mengecup singkat bibir Zahra.


“Tentu saja tidak sayang.. Papah sudah jujur sama mamah. Papah juga sudah memecat bella.. Eemm.. Maksudnya memindahkan Bella keperusahaan lain.”


“Lalu bagaimana dengan hubungan mereka?” Tanya Zahra penasaran.

__ADS_1


“Hubungan mereka sudah berakhir Zahra. Semuanya sudah impas. Papah sudah melakukan apa yang dulu juga pernah mamah lakukan dimasa lalu.”


Faza kemudian menarik lembut tubuh Zahra dan memeluknya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Faza yakin kisah cintanya tidak akan seperti kisah cinta kedua orang tuanya yang harus ternoda dengan perselingkuhan.


__ADS_2