
Zahra benar benar ragu sekarang. Zahra mendengar sendiri ucapan Faza pada Fadly yang mengatakan akan datang kerumah kedua orang tuanya dengan mengajaknya serta.
“Zahra..”
“Mas..”
Keduanya saling memanggil secara bersamaan. Jelas sekali kegundahan sedang melanda hati mereka.
“Mas duluan..” Senyum Zahra.
Faza menarik napas dan menghembuskan-nya lewat mulut. Mengajak Zahra untuk datang kerumah kedua orang tuanya mungkin memang tidak mudah. Tapi Faza juga tidak mungkin begitu tega membiarkan Sinta terus sakit karna mengharap kedatangan-nya.
“Sayang..” Faza meraih tangan Zahra dan menggenggamnya lembut. Faza tidak bisa berharap Zahra mau karna Faza sendiri tau bagaimana menghindarnya Zahra jika diajak datang kerumah kedua orang tuanya.
“Fadly bilang mamah sakit dan terus marah marah karna aku tidak datang...”
Faza menjeda sejenak ucapan-nya. Pria itu menghela napas pelan.
“Aku ingin mengajak kamu sama sama menjenguk mamah.”
Zahra diam. Yang ditakutkan-nya benar benar Faza katakan. Zahra tidak tau harus bagaimana. Menerima ajakan Faza berarti harus siap menerima hinaan Sinta. Menghindar lagi juga rasanya tidak mungkin. Faza pasti akan salah mengartikan maksudnya.
“Aku tau kamu tidak nyaman kalau dekat mamah.. Tapi mamah mengharapkan aku datang. Dan aku mau kamu ikut. Aku mau mamah tau bahwa aku sangat mencintai kamu.”
Faza melepaskan genggaman tangan-nya kemudian berganti menangkup kedua pipi Zahra. Faza tidak bisa memilih antara istri dan mamahnya. Karna keduanya sama sama berarti dalam hidup Faza.
Zahra terus saja diam. Hatinya bergemuruh. Kedua matanya memanas bahkan pandangan-nya kadang mengabur karna air mata yang sudah siap meluncur dengan bebas di pipi chuby nya.
“Sayang.. Katakan sesuatu, aku mohon.” Tatapan Faza penuh harap pada Zahra yang bimbang.
“Aku bisa mengerti jika kamu tidak bisa.. Tapi untuk kali ini saja aku mohon sayang... Aku mohon banget sama kamu.. Demi aku..”
Air mata Zahra mulai menetes membasahi kedua pipi Zahra bahkan sampai mengenai kedua tangan besar Faza yang menangkup kedua pipi Zahra lembut. Kehidupan pernikahan yang mereka bina sejak awal memang tidak mudah seperti apa yang pernah mereka bayangkan. Bahkan kedua pihak keluarga tidak bisa menerima dan memahami perasaan mereka berdua. Aris juga Sinta, mereka masih kukuh dengan pendapat mereka masing masing. Mereka seolah tidak perduli dengan perasaan Zahra juga Faza.
__ADS_1
“Jangan menangis.. Please...”
Faza melarang Zahra untuk menangis. Tapi sendirinya juga menangis. Faza benar benar merasa sangat lemah sekarang. Cintanya begitu kuat pada Zahra. Tapi cinta kuatnya juga telah menyakiti mamahnya juga Zahra wanita yang sangat dicintainya.
Zahra tertawa dalam tangisnya. Tangan-nya terangkat dan menyeka dengan lembut air mata Faza.
“Kamu cengeng mas..”
Faza tersenyum. Hatinya sakit bahkan begitu perih layaknya luka yang disiram dengan air cuka.
“Aku mau kok.. Aku juga pengen jengukin mamah..”
Pada akhirnya ketidak mauan yang sudah Zahra pikirkan bagaimana cara mengatakan-nya pada Faza tidak mampu Zahra ucapkan. Zahra tidak mungkin membuat suaminya merasa tertekan dengan keadaan. Zahra tau Faza mencintainya juga mamahnya Sinta. Dan Zahra tidak akan pernah memaksa Faza untuk memilih antara dirinya ataupun Sinta. Karna Zahra sendiri merasakan bagaimana berada diposisi Faza.
“Serius?”
“Ya.. Kita jenguk mamah besok. Aku akan izin pulang lebih cepat pada pak Santo besok.” Senyum Zahra dalam tangis diamnya.
“Udah nggak usah cengeng. Jelek tau.” Kata Zahra lagi.
Faza tertawa kemudian menarik Zahra kedalam pelukan-nya. Faza bahagia tapi juga terluka dengan keadaan yang sedang dijalaninya bersama Zahra. Cintanya tidak bisa membuat Sinta juga Aris yakin.
“Lebih baik sekarang kita tidur, sudah malam.”
Faza melepaskan pelukan-nya. Faza sama sekali tidak malu ataupun marah meskipun Zahra mengatakan dirinya cengeng. Karna air matanya justru menandakan bahwa Faza akan kuat memikul semuanya sampai kapanpun. Bahkan mungkin sampai tuhan memanggilnya.
Zahra dan Faza perlahan berbaring diatas tempat tidur mereka. Keduanya saling menatap dalam diam hingga perlahan lahan Faza mendekatkan wajahnya pada Zahra.
Sentuhan lembut itu membuat Zahra perlahan memejamkan kedua matanya pasrah dengan apa yang akan Faza lakukan padanya malam ini.
Zahra percaya Tuhan tidak akan mengujinya melebihi batas mampunya untuk bertahan. Seperti apa yang Zahra katakan pada sahabat nya Tina.
----------
__ADS_1
“Apa? Izin pulang cepat?”
Santoso menatap sinis pada Zahra yang duduk didepan-nya. Entah kenapa Santoso selalu merasa kesal jika Zahra akan pergi dengan Faza. Padahal Faza adalah suami Zahra. Sedang dirinya, dia hanya manager direstoran tempat Zahra bekerja.
Rasa kagum, suka, bahkan cinta terlarangnya pada Zahra perlahan menanamkan benih kebencian dalam hati seorang Santoso.
“Iya pak, mamah mertua saya sedang sakit dan saya harus menjenguknya bersama suami saya.” Zahra menundukan kepalanya tidak berani menatap wajah atasan-nya.
Sedangkan Santoso, diam diam kedua tangan-nya mengepal erat. Santoso sendiri sadar perasaan-nya pada Zahra terlarang. Santoso sudah memiliki istri dan anak.
“Keluar sekarang kamu dari ruangan saya.”
Zahra tersentak. Dengan pelan Zahra memberanikan diri menatap wajah datar Santoso. Sampai sekarang Zahra tidak mengerti kenapa tiba tiba sikap Santoso berubah padanya. Santoso bahkan tidak mengizinkan anaknya bermain bersama Zahra seperti dulu lagi.
“Pak tapi...”
“Keluar sebelum saya berubah pikiran Zahra.” Sela Santoso penuh penekanan.
Zahra menelan ludahnya.
“Bapak mengizinkan saya?”
Santoso menggebrak meja membuat Zahra sangat terkejut hingga detak jantungnya mendadak bekerja dua kali lebih cepat dari normalnya.
“Keluar atau saya pecat kamu Zahra.” Tegas Santoso dengan sorot mata tajam pada Zahra.
Zahra membulatkan kedua matanya. Buru buru Zahra bangkit dari duduknya kemudian melangkah dengan cepat keluar dari ruangan Santoso. Zahra tidak ingin kehilangan pekerjaan-nya. Zahra masih ingin bekerja agar bisa menghasilkan uang dari keringatnya sendiri.
Setelah Zahra keluar dari ruangan-nya Santoso melempar vas bunga yang terbuat dari keramik yang biasa bertengger dengan manis diatas meja kerjanya. Vas yang pernah dihadiahkan oleh Zahra saat dirinya merayakan ulang tahun tiga tahun lalu. Benda yang sebenarnya sangat tidak berharga namun selalu Santoso simpan dengan baik bahkan menjadi pajangan indah diatas meja kerjanya. Sekarang vas itu sudah hancur berkeping keping ditanah seperti harapan Santoso selama ini pada perasaan salah dan terlarangnya.
“Zahra... Ya Tuhan...” Gumam Santoso.
Santoso mengusap kasar wajahnya merasa sangat frustasi. Perasaan-nya benar benar salah dan sudah sangat keliru. Zahra adalah milik orang lain dan Santoso masih mengharapkan-nya sampai detik ini.
__ADS_1