
Zahra dan Faza berangkat menggunakan mobil milik papah Faza. Sedangkan Loly, dia semobil dengan Fadly yang bersedia menjadi pasangan Loly untung datang ke pesta pernikahan Cio dan Rosa.
Meskipun Sinta sempat tidak setuju karna Fadly yang menjadi pasangan Loly dan bukan Faza, namun dengan akal cerdiknya Zahra berhasil membuat mamah mertuanya itu tidak punya pilihan lain selain menyetujuinya.
“Aku heran sama kamu Loly.”
Loly memutar jengah kedua bola matanya mendengar apa yang Fadly katakan. Jika saja tidak karena terpaksa Loly tidak mau semobil dengan Fadly.
“Kamu sudah tau kak Faza sudah menikah dan bahagia bersama Zahra, tapi kok bisa bisanya kamu masih ngarep sih?”
Fadly tertawa pelan di akhir kalimat bernada pertanyaan-nya.
“Itu bukan urusan kamu Fadly. Tante aja nggak keberatan kok. Tante bahkan lebih setuju mas Faza sama aku bukan sama Zahra.”
Fadly kembali tertawa mendengar apa yang terlontar dengan begitu sombongnya dari mulut Loly. Fadly tau bagaimana kakaknya mencintai Zahra dari jaman Fadly dan Zahra masih sekelas di kelas 12 SMA dulu sampai sekarang. Cinta Faza pada Zahra begitu kuat sampai kemurkaan mamahnya juga tidak berpengaruh pada keteguhan hatinya untuk tetap mempertahankan cinta itu untuk Zahra.
“Asal kamu tau Loly, sekeras apapun mamah memaksa kak Faza untuk bersama kamu itu tidak akan mampu menggoyahkan hati kak Faza. Aku tau bagaimana kakak ku.”
Loly menoleh menatap Fadly yang sedang mengemudikan mobilnya.
“Aku tidak perlu pendapat kamu Fadly. Aku hanya ingin menjadi bagian dari keluarga kalian.”
“Kalau begitu bagaimana kalau kamu menikah denganku saja?” Tanya Fadly membuat Loly mendelik kesal padanya.
“Yang aku mau mas Faza..” Tekan-nya.
“Bukankah kamu hanya ingin mau menjadi bagian dari keluarga kami? Dengan menjadi istriku kamu bisa menjadi keluarga kami. Kamu bisa terus dekat dengan mamahku. Bagaimana Loly?”
Loly menggeleng dengan senyuman sinis dibibirnya.
“Jangan harap Fadly.”
“Ow.. Jangan salah paham Loly. Aku tidak berharap Loly. Aku hanya memberi saran. Aku juga nggak mungkin mau dengan perempuan licik seperti kamu.”
Loly menghela napas kasar. Enggan membalas lagi ucapan Fadly, Loly pun melengos menatap kearah keluar mobil lewat kaca mobil Fadly.
Sementara itu di mobil yang Faza kemudikan.
“Mas...”
__ADS_1
“Hem...”
Saut Faza yang sedang fokus dengan kemudinya.
Melihat suaminya yang tampak cuek, Zahra mencebikkan bibirnya. Zahra merasa sedikit kesal karna Faza sama sekali tidak memuji penampilan-nya malam ini.
Karna Zahra yang diam, Faza pun menoleh sekilas dan mengeryit melihat ekspresi menggemaskan istrinya itu.
“Kenapa gitu bibirnya?” Tanya Faza bingung.
Zahra menghela napas kasar.
“Aku cantik nggak sih pakai gaun ini mas?” Tanya Zahra menuntut.
Faza tersenyum geli. Dimatanya Zahra adalah satu satunya perempuan yang sempurna. Bukan hanya karna cantik tapi juga kepribadian-nya.
“Tentu saja. Istri mas Faza akan selalu cantik memakai apapun.” Jawab Faza.
“Iiiihh.. Bukan itu mas.. Maksud aku bagaimana penampilan aku malam ini dengan gaun ini.. Mas belum bilang apa apa loh. Mas nggak bilang aku cantik dengan gaun ini..”
Faza tertawa dengan protesan istrinya. Zahra merajuk hanya karna Faza belum memujinya dengan gaun baru yang dikenakan-nya.
Zahra berdecak pelan dan melipat kedua tangan-nya dibawah dada. Zahra merasa tidak puas dengan pujian Faza.
“Cantikan mana aku sama Loly?” Tanya Zahra dengan nada judes.
Faza mengeryit bingung karna tiba tiba Zahra membawa bawa nama Loly.
“Kalau menurut orang lain mungkin Loly lebih cantik tapi kamu lebih imut. Tapi kalau menurut aku tetap kamu yang paling cantik didunia ini.” Puji Faza.
Mendengar itu bibir Zahra perlahan mulai tertarik membentuk sebuah senyuman. Zahra tidak perduli dengan tanggapan orang lain. Yang penting Faza memujinya dan mengatakan bahwa dirinyalah yang paling cantik dimatanya.
“Udah nggak usah merajuk gitu. Jelek tau nggak.”
Zahra tertawa tanpa suara. Tangan-nya menutupi bibirnya yang tersenyum lebar mendengar pujian yang dilontarkan oleh suaminya.
“Sini sayang...” Faza melepaskan satu tangan-nya pada stir mobil dan meraih bahu Zahra menariknya dan menyenderkan kepala Zahra dibahunya.
Faza mengecup kening Zahra dengan tatapan mata terus kedepan. Faza tidak bohong dengan segala pujian-nya. Perempuan cantik memang banyak. Tapi yang mampu menggetarkan hatinya hanya Zahra.
__ADS_1
Tidak lama kemudian mobil yang dikemudikan Faza dan mobil Fadly sampai didepan gedung tempat diadakan-nya pesta pernikahan Cio dan Rosa.
Loly yang lebih dulu turun dari mobil langsung mendekat pada Faza juga Zahra. Loly berdiri disamping kiri Faza dengan wajah penuh kekesalan.
“Aku mau sama kamu aja mas. Aku nggak mau sama Fadly. Dia nyebelin.” Katanya.
Zahra menyipitkan kedua matanya mulai merasa kesal dengan apa yang Loly katakan.
“Nggak bisa gitu dong. Mas Faza itu suami aku. Kamu bukan siapa siapa ya. Disini nggak ada mamah yang bakal paksa mas Faza buat sama kamu.” Geram Zahra.
“Aku nggak perduli. Pokonya aku mau sama mas Faza aja.”
“Eh jelangkung. Mas Faza itu suami aku.”
Zahra hendak mendekat pada Loly namun langsung dicegah oleh Faza dengan memeluk mesra pinggangnya. Faza tidak mau Zahra sampai mencomot wajah Loly yang pasti akan menimbulkan kekacauan ditempat parkiran.
“Udah udah.. Nggak usah marah marah sayang. Aku sama kamu kok.” Senyum Faza menenangkan Zahra.
“Tuh denger. Mas Faza maunya sama aku. Bukan sama kamu. Dasar jelangkung.”
Saat itu Fadly mendekat dan berdiri disamping Loly yang mengeram kesal karna ejekan Zahra yang menyebutnya jelangkung.
“Ly, kakak sama Zahra masuk duluan. Ini undangan untuk kalian.” Ujar Faza sambil menyerahkan undangan pada Fadly kemudian berlalu dengan merangkul mesra pinggang Zahra.
Sebelum benar benar berlalu dari hadapan Fadly dan Loly, Zahra menoleh dan memeletkan lidahnya meledek Loly yang hampir saja mengejar jika saja Fadly tidak mencekal lengan-nya.
“Jangan ganggu mereka Loly. Kamu sama aku.”
“Lepas.” Loly menghempaskan tangan-nya sampai cekalan Fadly dilengan-nya terlepas.
“Aku maunya sama mas Faza. Bukan sama kamu. Harusnya yang sama kamu itu Zahra. Bukan aku.”
“Oh begitu? Ya sudah sana masuk dan kejar kak Faza sama Zahra. Asal kamu tau Loly. Kamu tidak akan bisa masuk tanpa undangan ini.”
Fadly menunjukan undangan pernikahan Cio dan Rosa pada Loly.
“Sana kejar mereka dan kamu akan diusir dari sini oleh satpam.”
Loly mengepalkan kedua tangan-nya merasa semakin kesal. Loly benar benar tidak bisa berbuat apa apa sekarang. Merebut undangan itu dari Fadly kemudian membawanya lari itu sangat tidak mungkin karna pasti akan membuat Loly malu sendiri.
__ADS_1