PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 188


__ADS_3

Zahra menoleh ketika mendengar suara pintu yang dibuka. Dari balik itu muncul sosok Faza dengan wajah tampan-nya yang memerah serta kedua matanya yang sebab.


Zahra tersenyum tipis berusaha menutupi rasa sakit yang sedang mendera sekujur tubuhnya. Zahra tidak ingin membuat suaminya semakin khawatir padanya.


“Mas...”


“Hay sayang....” Senyum Faza meraih tangan Zahra kemudian mencium punggung tangan Zahra.


Faza tersenyum menatap wajah istrinya yang basah oleh keringat. Dengan penuh kelembutan Faza mengusap wajah cantik Zahra membersihkan-nya dari keringat yang membasahinya.


“Mas...” Dengan suara lirih Zahra kembali memanggil suaminya.


“Ya sayang...” Saut Faza lembut.


“Aku mau minta maaf sama kamu.. Aku...”


“Ssshhtt... Tidak perlu minta maaf.. Tidak ada yang perlu di maafkan sayang.. Kamu nggak salah..” Sela Faza tidak ingin mendengar alasan apapun Zahra menyalahkan dirinya sendiri.


“Mas tapi aku...”


“I love you sayang.. Aku cinta sama kamu..” Sela Faza lagi.


Zahra menghela napas. Kedua matanya menatap dalam pada Faza yang lagi lagi menyela apa yang ingin dikatakan-nya.


“Harusnya aku yang minta maaf sama kamu. Aku selalu sibuk dan hampir tidak ada waktu untuk kamu hampir setiap hari.. Aku jarang bisa ada buat kamu..”


Zahra mendesis saat kembali merasakan kontraksi hebat itu.


Faza yang melihat itu langsung diam. Faza mengepalkan kedua tangan-nya tidak tahan melihat Zahra yang kesakitan.


“Mas..” Lirih Zahra menahan rasa itu.


“Aku percaya kamu bisa melalui ini sayang.. Demi putra kita...” Bisik Faza mendekatkan wajahnya ditelinga Zahra.


Zahra tersenyum dan menganggukan kepalanya. Semuanya demi putra mereka. Zahra tidak masalah menahan rasa sakit asalkan dirinya dan Faza bisa bersama dengan putra mereka yang hampir sembilan penuh mereka nantikan.


“Sekarang biarkan aku mentransfer tenagaku untuk kamu sayang.. Apa yang harus aku lakukan?”

__ADS_1


Zahra tertawa ditengah rasa sakit yang sedang mendera tubuhnya. Ucapan Faza sedikit menggelitiknya.


“Pinggang aku mas.. Rasanya panas.” Katanya.


“Lalu apa yang harus aku lakukan untuk meredakan-nya?” Tanya Faza penuh perhatian menatap Zahra.


“Kalau mas nggak keberatan tolong usap usap pinggang aku kaya tadi ya mas..” Pinta Zahra yang langsung mendapat anggukan setuju dari Faza.


“Sedikitpun aku tidak merasa keberatan sayang...” Senyum Faza kemudian segera memposisikan dirinya duduk dibelakang Zahra yang berbaring miring diatas brankar ke arah kiri.


10 Jam bukanlah waktu yang sebentar. Selama itu pula Faza terus berada disamping Zahra, menemaninya dengan penuh rasa haru, takut, dan tentunya khawatir. Saking tegangnya Faza bahkan sama sekali tidak merasakan kebelet pipis. Padahal beberapa kali Faza menuntun Zahra yang buang air kecil. Faza menawarkan untuk menggendong Zahra saat kekamar mandi, namun Zahra menolak dengan alasan dirinya masih kuat berjalan jika hanya untuk kekamar mandi.


“Sakit mas...” Rintih Zahra setelah selesai pipis.


Faza menelan ludahnya. Mereka sedang berada didalam kamar mandi sekarang. Dan Faza baru saja membantu Zahra membersihkan jalan pipisnya.


Dengan lembut Faza menempelkan bibirnya pada bibir Zahra beberapa detik.


“Kamu perempuan hebat sayang.. Aku percaya kamu bisa..” Lirih Faza sambil merapikan anak rambut Zahra yang sedikit berantakan.


Zahra mengangguk dengan senyuman dalam tangisnya. Prosesnya menjadi seorang ibu benar benar sangat luar biasa.


“Mas...” Panggil Zahra purau.


“Ya sayang...” Saut Faza yang dengan sigap bangun dari duduknya.


“Aku haus...” Ujar Zahra.


“Ah ya sayang.. Apa kamu juga lapar?”


Zahra menggelengkan kepalanya menjawab. Zahra ingin sekali menoleh kebelakang namun rasanya tidak mungkin.


“Baik, aku akan ambilkan minuman untuk kamu.”


Faza meraih segelas air putih yang ada dimeja samping brankar Zahra kemudian meminumkan-nya dengan lembut dan penuh kasih sayang pada Zahra.


Faza tersenyum menatap Zahra yang sesekali meringis dan memejamkan kedua matanya. Faza tau berada diposisi Zahra pasti sangat tidak mudah saat ini. Nyawa sedang Zahra pertaruhkan demi kelahiran buah cinta mereka.

__ADS_1


“Mas.. Aku cinta sama kamu..” Senyum Zahra dengan wajah basah karna keringat.


Faza tertawa pelan. Dadanya terasa sangat melihat istrinya begitu lemah dan tidak berdaya diatas brankar.


“Aku tau itu sayang.. Aku juga sangat mencintai kamu.. Semangat ya sayang.. Demi anak kita.. Aku percaya kamu pasti bisa melalui ini..”


“Tentu saja. Aku kuat untuk kalian berdua. Kamu dan anak kita...” Balas Zahra lirih.


Faza tersenyum. Rasa bersalah semakin menggerogotinya. Faza merasa sangat kejam karna selama Zahra hamil dirinya terlalu disibukan oleh pekerjaan. Ditambah lagi perasaan-nya yang sempat terpaut pada wanita lain. Zahra pasti akan sangat murka jika tau. Bahkan bukan tidak mungkin Zahra meninggalkan-nya karna Faza sudah mengkhianati kesetiaan-nya.


Tapi Faza sudah bertekad. Bagaimanapun juga dirinya akan jujur pada Zahra. Apapun konsekuensinya Faza akan menanggungnya nanti.


“Sayang...”


Faza membelai lembut pipi chuby Zahra. Mereka berdua saling menatap satu sama lain dengan penuh rasa cinta.


“Anak kita.. Dia pasti akan sangat bangga jika tau perjuangan kamu yang begitu luar biasa saat ini.. Dia akan sangat menyayangi kamu..”


Zahra tersenyum.


“Mas.. Sejak aku memutuskan menerima lamaran kamu kemudian menikah itu aku sudah yakin. Aku sudah tau bahwa hari ini akan tiba.. Aku tidak pernah merasa ini semua adalah beban. Aku lebih merasa semua ini adalah takdir yang begitu indah yang Tuhan berikan pada kaum kami sebagai perempuan. Bisa melahirkan makhluk suci yang bersih dari segala dosa itu adalah anugerah dan kekuatan terindah yang Tuhan berikan. Dan Tuhan memilih kamu sebagai laki laki yang menitipkan benihnya di rahimku.. Aku sangat bersyukur dengan ini semua mas..”


Zahra berkata panjang lebar dengan sesekali meringis dan tersendat karna kontraksi yang terus saja datang mendera tubuhnya.


Faza tersenyum haru. Pengorbanan istrinya begitu besar. Bukan hanya mau menanggung baban sebagai wanita hamil. Tapi juga beban batin karna Sinta yang sering kali menekan-nya.


“Ssshh.. Ya Tuhan...”


Zahra meraih tangan Faza dan menggenggamnya erat. Saat itu juga dokter Cindy dan beberapa perawat masuk. Dokter Cindy dengan sangat lembut meminta agar Zahra berbaring terlentang untuk mengecek pembukaan Zahra.


“Bagaimana dokter?” Tanya Faza yang berdiri disamping kiri brankar Zahra.


“Pembukaan-nya sudah lengkap tuan. Nyonya Zahra akan segera melahirkan.” Jawab dokter Cindy.


Faza merasakan detak jantungnya semakin cepat bekerja diatas normalnya. Kedua kaki Faza terasa lemas begitu mendadak. Namun Faza teringat apa yang dikatakan sang papah. Dirinya ada disamping Zahra untuk menguatkan dan menyemangati Zahra, bukan untuk membuat wanitanya semakin lemah karna melihatnya yang begitu lemah dan takut.


“Tolong usahakan yang terbaik dokter..” Pinta Faza tulus.

__ADS_1


“Pasti tuan. Mari kita bantu nyonya Zahra bersama sama. Tuhan pasti akan mempermudah proses luar biasa ini.” Senyum dokter Cindy.


Semua sudah dipersiapkan. Faza duduk disamping Zahra, Menggenggam dan membisikan kata untuk menyemangati Zahra yang mulai mendapatkan instruksi dari dokter Cindy. Meskipun dengan hati dan pikiran yang kalut namun Faza tetap berusaha untuk tetap terlihat tegar dengan senyuman dibibirnya. Kedua matanya terus meneteskan air matanya. Hatinya menjerit sakit mendengar rintihan kesakitan Zahra. Faza bahkan sampai meminta pada Tuhan agar memindahkan saja segala rasa sakit yang sedang dialami Zahra pada dirinya. Dan itu adalah sesuatu yang sangat mustahil karna sejatinya seorang wanita memang mempunyai kodrat yang sama. Yaitu melahirkan buah cintanya dengan pria yang menjadi jodohnya.


__ADS_2