PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 189


__ADS_3

Zahra terus menuruti instruksi dari dokter Cindy dengan Faza yang selalu ada disampingnya. Menguatkan-nya dan membisikan kata kata yang membuat Zahra semakin yakin dan semangat bahwa dirinya bisa melalui proses luar biasa itu.


Proses itu berjalan selama kurang lebih satu jam hingga akhirnya suara tangisan bayi membahana disetiap sudut ruangan bersalin Zahra.


Faza menangis terharu ketika dokter Cindy memperlihatkan dan meletakan putranya yang belum dibersihkan dan baru keluar dari rahim Zahra diatas dada Zahra yang sengaja dibuka.


Tidak jauh berbeda dengan Faza, Zahra pun merasakan hal yang sama. Zahra merasa terharu juga bangga. Perjuangan-nya tidak sia sia. Putra mereka lahir dengan selamat tanpa kurang satu apapun.


Faza tidak kuasa menahan isak tangisnya. Perjuangan Zahra benar benar terasa menekan batin Faza. Faza bahkan seperti ikut merasakan rasa sakit berlipat lipat yang sedang dirasakan oleh istrinya.


“Mas anak kita...”


“Ya sayang.. Dia sehat.. Badan-nya gendut dan pipinya gembul. Dia tampan sepertiku.” Senyum Faza mengusap peluh Zahra lembut.


Zahra tertawa tanpa bersuara. Tubuhnya terasa sangat lemas sekarang setelah berjuang melahirkan putra pertamanya.


“Terimakasih sayangku.. Kamu sangat luar biasa..” Bisik Faza kemudian mencium lama kening Zahra.


Zahra memejamkan kedua matanya mendapatkan ciuman itu dari Faza. Ini adalah yang pertama kalinya Zahra merasakan rasa sakit yang luar biasa namun langsung sirna begitu saja saat tangisan putranya membahana disetiap sudut ruangan bersalin itu. Sakit yang Zahra sendiri tidak bisa menjelaskan-nya. Sakit yang mengandung kebahagiaan tiada tara karna dibalik rasa sakit itu ada kebanggaan tersendiri bagi Zahra yang adalah seorang wanita yang detik itu juga berhasil merubah gelarnya sebagai seorang mamah.


Dokter Cindy dan para perawat yang membantu persalinan Zahra kemudian segera membersihkan Zahra juga putranya. Dan selama Zahra ditangani, Faza tidak diam saja. Faza turun tangan sendiri mengurus Zahra mulai dari memasangkan pembalut untuk Zahra sampai mengganti baju dan menyisir rambut wanitanya yang berantakan.


“Mas, kamu nggak kerja?”


Pertanyaan Zahra seperti tamparan keras untuk Faza. Pertanyaan itu seperti sedang mengingatkan Faza betapa tidak perhatian-nya Faza pada Zahra selama ini karena terus disibukan dengan urusan pekerjaan yang tidak ada habisnya.


Faza menghela napas kemudian tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


“Reyhan sudah menghandle semuanya sayang..” Jawab Faza tenang.


Zahra menganggukan kepalanya mengerti dengan jawaban Faza.


“Mas...” Panggil Zahra pelan.

__ADS_1


“Ya sayang...” Saut Faza membelai lembut kening Zahra yang sudah rapi dan sudah kembali berbaring diatas brankarnya. Zahra memang masih berada diruang bersalin karna dokter belum memindahkan-nya keruang rawat.


“Aku makasih banget yah.. Aku sudah sangat sangat merepotkan dan menyita waktu kamu..”


“Kok kamu ngomongnya gitu?” Faza mengeryit menatap tidak setuju pada apa yang Zahra katakan.


“Ya kan..”


“Dengar Zahra.. Yang baru saja kamu lahirkan adalah anak aku.. Aku suami kamu.. Jadi sudah kewajiban aku mendampingi kamu, menyemangati kamu..” Sela Faza dengan tatapan mata berkaca kaca pada Zahra.


Zahra tertawa pelan. Zahra bahagia karna Faza bisa memahami peran-nya.


“Ya mas.. Maaf..” Katanya tersenyum.


Faza berdecak. Emosi hampir menguasainya. Ucapan Zahra seperti sindiran yang lagi lagi mengena dihatinya.


Pintu ruangan terbuka memunculkan Akbar yang tersenyum sembari membawa sebuket bunga yang kemudian diikuti oleh mbak Lasmi dibelakangnya.


“Papah..” Senyum Zahra melihat papah mertuanya yang tampak begitu tampan dengan balutan jaket kulit dan piyama tidurnya.


“Bunga yang cantik untuk mamah baru yang hebat..” Kata Akbar sambil menyodorkan sebuket bunga pada Zahra.


Zahra tertawa mendengarnya. Zahra kemudian menerima bunga tersebut dan menghirup aroma wanginya.


“Makasih ya pah..” Katanya.


Faza yang melihat itu tersenyum bahagia. Papahnya sudah sepenuhnya bisa menerima Zahra sebagai menantunya meskipun papahnya juga sempat menentang hubungan-nya dengan Zahra. Tapi sekarang Akbar tampak begitu perhatian dan menyayangi Zahra sebagai anaknya sendiri.


“Papah yang harusnya berterimakasih sama kamu Zahra... Kamu sudah berjuang melahirkan cucu pertama papah. Kamu tau, papah melihatnya sebentar tadi. Dia begitu gendut dan tampan. Persis sama seperti Faza saat baru lahir dulu.”


Akbar berkata dengan sangat semangat yang membuat Zahra dan Faza tertawa.


Tidak lama kemudian dokter Cindy dan satu perawat yang tadi juga membantu proses persalinan Zahra masuk kedalam ruang bersalin. Mereka kemudian membawa Zahra untuk dipindahkan keruangan VIP yang sudah disiapkan.

__ADS_1


Setelah Zahra berada didalam ruang VIP, Makhluk kecil mungil suci itu kemudian menyusul dengan perawat yang mendorong box bayi tempatnya berbaring dengan nyaman serta kedua mata tertutup.


Faza yang memang sudah tidak sabar ingin menggendong anaknya langsung menghampiri perawat tersebut dan mengambil alih box bayi itu.


“Biar saya saja.” Katanya.


“Baik tuan..” Angguk si perawat memasrahkan bayi itu pada Faza.


Faza memposisikan box bayi itu disamping brankar Zahra. Hal itu membuat senyuman dibibir Akbar dan Zahra terus terukir. Faza terlihat sangat tidak sabar ingin menggendong putranya.


Ketika hendak meraih tubuh bayinya Faza terdiam sesaat. Faza menggaruk tengkuknya dengan wajah kebingungan.


“Pah..” Panggilnya pada Akbar.


“Ya...” Saut Akbar yang berdiri disamping kiri brankar Zahra.


“Eemm.. Ini bagaimana cara menggendongnya?” Tanya Faza yang mengundang tawa Zahra, Akbar, juga mbak Lasmi yang berada disitu.


Faza yang ditertawakan hanya bisa meringis merasa malu. Faza tidak pernah menggendong bayi yang baru lahir sebelum ini. Dan Akbar juga Zahra tau tentang hal itu sehingga keduanya bisa memakluminya.


“Biar papah ajari..” Ujar Akbar dan segera melangkah mendekat pada Faza yang berdiri didepan box bayinya.


Zahra menggeleng dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya. Kali ini Zahra merasa bangga dengan dirinya sendiri. Zahra bisa melahirkan putranya dalam keadaan baik baik saja baik dirinya maupun putranya. Itu adalah kebanggaan tersendiri yang Zahra rasakan. Jika saja tidak malu Zahra ingin memberikan piala penghargaan untuk dirinya sendiri.


Zahra terus menatap pada Faza yang sedang dibantu oleh Akbar menggendong putranya. Tiba tiba Zahra teringat akan sosok mamah mertuanya, Sinta. Zahra sama sekali tidak melihat sosok Sinta sejak tadi.


“Pah, mas...” Panggil Zahra membuat Faza dan Akbar yang sedang fokus dengan putra pertama Faza itu langsung menoleh kearahnya.


“Mamah nggak kesini?” Pertanyaan Zahra membuat senyuman dibibir Faza langsung sirna. Faza memang tidak memberitahu Sinta.


Faza menatap Akbar yang juga diam. Faza yakin papahnya juga tidak memberitahu mamahnya tentang Zahra yang melahirkan putra pertamanya siang ini.


“Eemm.. Sebentar, biar papah telepon mamah dulu.” Ujar Akbar kemudian segera merogoh saku dalam jaket kulitnya.

__ADS_1


Zahra menghela napas. Zahra berpikir mungkin Sinta memang tidak perduli dengan kelahiran cucu pertamanya.


__ADS_2