PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 192


__ADS_3

Fadly baru saja keluar dari toilet. Pria dengan setelan jas abu abu itu kemudian melangkah lebar kembali menghampiri client-nya yang sedang menunggunya untuk kembali membahas tentang pekerjaan.


Mereka berada disalah satu restoran dikota bandung yang cukup terkenal saat ini.


“Maaf membuat anda menunggu lama..” Senyum Fadly setelah mendudukan kembali dirinya dikursi didepan wanita yang hampir seumuran dengan mamahnya itu.


“Oh iya... Tidak apa apa pak Fadly. Ah ya pak Fadly, tadi handphone anda berbunyi. Ada yang menelepon beberapa kali. Karena takut penting saya pun mengangkatnya. Tapi kemudian telepon-nya langsung mati sampai dua kali. Maaf saya lancang.”


Fadly segera meraih ponselnya kemudian mengecek siapa yang menelepon-nya. Senyum Fadly mengembang begitu melihat dua panggilan masuk dan beberapa panggilan tidak terjawab dari Loly.


“Oh ya bu Amanda, tidak apa apa.” Senyum Fadly kemudian.


Fadly sangat yakin Loly pasti sedang salah paham sekarang. Dan Fadly merasa senang karna dirinya tidak perlu repot repot membayar wanita untuk bersandiwara. Dan wanita didepan-nya tanpa sengaja membantu rencananya membuat Loly patah hati.


“Sampai dimana tadi kita bu?” Tanya Fadly kembali membahas tentang pekerjaan dengan wanita yang adalah seorang pengusaha tersebut.


Keduanya kemudian kembali larut dengan pekerjaan. Bayangan Loly sempat berada didepan kedua mata Fadly, namun Fadly menepisnya dan mencoba untuk kembali fokus dengan pembahasan-nya tentang gambarnya bersama wanita bernama Amanda itu.


Selesai dengan pembahasan tentang pekerjaan-nya, Fadly menyempatkan diri untuk makan siang lebih dulu sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke hotel. Fadly merasa bangga pada dirinya sendiri. Hasil kerjanya selalu memuaskan meskipun memang tidak mudah saat memprosesnya.


Begitu sampai di lobi hotel, Fadly terkejut melihat Mona dan Loly yang sedang berbicara dengan resepsionis. Saat itu juga Loly dan Mona membalikan tubuhnya dan tatapan mereka bertemu.


Kedua mata Fadly sedikit melebar begitu melihat keadaan Loly. Matanya sembab dengan lingkaran hitam yang begitu jelas disekitarnya. Wajahnya terlihat kusam tanpa make up. Loly benar benar terlihat sangat menyedihkan.


Rasa kasihan dan tidak sempat hinggap dihati Fadly namun lagi lagi Fadly berhasil menepisnya.


Fadly menghela napas kemudian melangkah mendekat pada Loly dan Mona.


“Ngapain kamu kesini Loly?” Tanya Fadly dengan penuh penekanan. Wajahnya begitu sinis menatap Loly yang juga sedang menatapnya.


“Fadly aku.. Aku hanya...”


Mona yang berada disamping Loly mengepalkan kedua tandan-nya merasa sangat geram dengan tingkah Fadly. Dimata Mona Fadly sangat kejam dan tidak berperasaan saat memperlakukan Loly.


Fadly meraih tangan Loly kemudian menariknya agar mengikutinya.


“Pak, tolong jangan kasar pada nona Loly..”


Ucapan bernada keras Mona sama sekali tidak bisa menghentikan langkah Fadly. Fadly bahkan semakin mengeratkan cengkraman tangan-nya pada pergelangan tangan Loly tanpa sedikitpun merasa khawatir Loly akan terluka dan kesakitan.


Sedangkan Loly, dia hanya diam dan terus mengikuti langkah Fadly yang kini menariknya masuk kedalam lift yang tentu saja terus diikuti oleh Mona.


“Pak Anda..”

__ADS_1


“Mona...” Loly menyentuh tangan Mona, menggenggamnya dan tersenyum menganggukan kepalanya saat Mona menatapnya. Loly meminta agar Mona tidak mengatakan apapun pada Fadly sekarang.


“Nona tapi...”


“Mona aku mohon...” Lirih Loly menatap Mona memelas.


Mona menghela napas kesal. Loly benar benar sangat lemah jika sudah berada didepan Fadly.


“Ayo.”


Saat pintu lift terbuka, Fadly kembali meraih tangan Loly mencengkeramnya dengan erat dan menariknya agar Loly kembali mengikutinya.


“Fadly aku kesini..”


“Diam !!” Bentak Fadly tanpa menoleh sedikitpun pada Loly.


Mona yang merasa geram dengan sikap Fadly langsung meraih tangan Loly membuat langkah Loly juga Fadly terhenti didepan sebuah kamar.


Fadly menoleh menatap Mona dan Loly tajam.


“Mona apa apaan kamu..” Tegur Loly pada Mona.


“Nona, tolong jangan bodoh. Kita kesini untuk memperjelas semuanya.”


Loly menghela napas pelan. Entah kenapa niat awalnya ingin memperjelas semuanya pada Fadly mendadak berubah begitu saja saat melihat Fadly.


Kedua mata Mona melebar mendengarnya. Mona benar benar tidak paham dengan sikap kedua orang didepan-nya. Loly yang terlalu diperbudak oleh cinta. Dan Fadly yang tidak punya sedikit pun rasa empati pada keadaan Loly sekarang.


“Pak Fadly.. Jangan anda pikir saya takut pada anda. Anda sudah sangat keterlaluan memperlakukan atasan saya. Anda laki laki yang tidak punya hati.”


“Mona sudah.. Tolong biarkan aku yang bicara.” Ucap Loly cepat membuat Mona langsung diam.


Mona melengos merasa kesal. Jika dirinya tidak dilibatkan mungkin Mona enggan untuk ikut campur. Tapi Fadly sudah membawa bawa dirinya masuk kedalam masalah hubungan tidak jelasnya dengan Loly. Fadly bahkan sepertinya sengaja ingin mengadu domba antara Mona dan Loly kemarin.


“Kamu, ikut aku...”


Fadly kembali menarik tangan Loly namun saat itu juga Mona menahan tangan Loly. Loly sempat ragu antara ikut dengan Fadly atau Mona.


Loly menatap Mona yan menggelengkan kepalanya kemudian menatap pada tangan Mona yang mencekal pergelangan tangan-nya.


“Mona.. Aku akan menyelesaikan-nya.” Ujar Loly tersenyum.


Mona merasa ragu. Mona takut kesempatan itu justru dimanfaatkan oleh Fadly untuk semakin menghancurkan Loly.

__ADS_1


“Mona...”


Mona kemudian melepaskan tangan Loly pelan dan membiarkan Loly yang menjauh dengan Fadly yang menarik tangan Loly.


Mona terus menatap keduanya hingga akhirnya Fadly mengajak Loly masuk kedalam kamar tempat dirinya menginap.


Fadly melepaskan cekalan tangan-nya. Tatapan-nya begitu sinis pada Loly yang berhadapan dengan-nya.


“Kenapa kamu pergi tanpa memberitahu aku Fadly? Dan kenapa kamu nggak mau mengangkat telepon dari aku. Dan tadi, siapa yang mengangkat telepon dari aku?”


Fadly tersenyum sinis kemudian melengos. Sebenarnya Fadly tidak tega melihat keadaan Loly sekarang. Loly tampak sangat kacau dengan kedua matanya yang sembab serta lingkaran hitam yang begitu jelas disekitar kedua matanya. Dan Fadly yakin itu semua pasti karna dirinya.


“Memangnya harus aku mengatakan semuanya sama kamu Loly? Memangnya kamu pikir kamu siapa?” Tanya Fadly melangkah menjauh dari Loly yang menggeleng tidak menyangka dengan apa yang Fadly pertanyakan.


“Apa maksud kamu Fadly?”


Fadly tertawa mendengar pertanyaan itu.


“Kita tidak ada hubungan apa apa. Jadi aku tidak harus mengatakan apapun yang ingin aku lakukan sama kamu Loly.”


Loly menelan ludah. Dadanya terasa seperti dihimpit oleh dua batu besar sehingga menimbulkan rasa sesak yang sangat mengganggunya bahkan sampai terasa ngilu dihatinya.


“Jadi apa artinya kedekatan kita selama ini Fadly? Apa arti perhatian dan sikap lembut kamu selama ini?” Tanya Loly dengan suara bergetar.


Fadly tersenyum. Semuanya harus dia lakukan sekarang juga.


“Semuanya tidak ada artinya bagiku Loly.” Jawabnya enteng.


Loly meringis dengan kedua mata terpejam. Jelas sudah semuanya. Fadly hanya mempermainkan-nya. Sakit dan hancur itu yang Loly rasakan saat ini. Kedua kakinya terasa lemas namun sebisa mungkin Loly tetap bertahan. Loly tidak ingin Fadly semakin merasa menang dan menertawakan kehancuran-nya. Loly harus bisa tetap terlihat kuat didepan Fadly.


Perlahan Loly membuka kembali kedua matanya. Semua itu benar benar nyata. Fadly berada tidak jauh darinya dengan posisi memunggunginya.


“Begitu?” Lirih Loly kemudian tertawa. Bersamaan dengan itu air mata menetes dari kedua matanya namun dengan cepat Loly menghapusnya.


“Oke.. Aku mengerti sekarang. Aku pergi Fadly.”


Tidak tahan dengan kesakitan-nya, Loly pun segera keluar dari kamar Fadly dengan sisa tenaga yang dia miliki. Rasa sakit membuat Loly kehilangan seluruh kekuatan-nya. Bahkan untuk sekedar berdiri Loly merasa tidak sanggup.


Mona yang dengan setia menunggu Loly langsung menoleh ketika mendengar suara pintu yang dibuka. Dengan segera Mona menghampiri Loly yang keluar dari kamar Fadly.


“Anda baik baik saja nona?” Tanya Mona khawatir.


Loly menggeleng. Detik itu juga pertahanan-nya melemah. Loly hampir saja terduduk dilantai didepan pintu kamar Fadly jika saja Mona tidak menahan-nya.

__ADS_1


“Bawa aku pergi dari sini sekarang Mona... Aku mohon..” Lirih Loly dengan suara bergetar.


“Baik, baik nona..” Angguk Mona kemudian segera memapah Loly berlalu dari depan kamar Fadly.


__ADS_2